Chapter Sixteen
Cincin di Atas Meja
POV: Radit
Aku tidak langsung pulang setelah rapat itu.
Aku turun dari lantai tiga puluh tiga dengan lift, keluar dari lobi, dan berjalan kaki. Tidak ke parkiran motor. Tidak ke halte. Aku berjalan menyusuri trotoar Sudirman di bawah matahari pukul satu siang, dengan tas laptop di bahu dan map tipis di tangan, tanpa tujuan. Aku melewati halte busway, gedung-gedung kaca, pedagang kopi keliling dengan sepeda, sampai kakiku berhenti sendiri di depan sebuah masjid di Bendungan Hilir.
Aku masuk. Aku salat zuhur yang terlambat. Lalu aku duduk di serambi masjid sampai asar, bersandar ke tiang, menatap kipas angin yang berputar di langit-langit.
Dia cuma harga yang Kakek bayar supaya saya patuh.
Aku sudah mendengar banyak hal dari mulutnya selama tiga ratus delapan belas hari. Ini teman saya. Dia bantu-bantu di rumah. Jangan sentuh aku. Kamu bukan keluarga. Aku bisa membawa semuanya. Aku memang sudah menyiapkan diri untuk membawa semuanya, sejak malam aku menandatangani akta di kantor Pak Wiryo.
Tapi yang tadi berbeda.
Bukan karena dia mengucapkannya di depan dewan komisaris. Bukan karena Pak Gunadi berhenti tertawa dan Bu Wulan menutup mulutnya. Bukan karena malu.
Karena dia mengucapkannya tentang Kakek.
Harga yang Kakek bayar. Seolah Kakek membeliku. Seolah delapan tahun aku bekerja untuk Kakek, tiga minggu aku tidur di kursi plastik rumah sakit, malam aku memandikan jenazahnya dan mengazankannya di liang lahat, dua kali aku memohon agar dia menelepon cucunya dan dua kali dia merebut ponselku, semua itu adalah transaksi. Seolah satu-satunya alasan aku ada di hidupnya adalah karena seorang laki-laki tua yang sekarat sedang membayar sesuatu.
Dan bagian paling buruknya, bagian yang membuatku tidak bisa berdiri dari serambi masjid sampai asar, adalah aku tidak bisa membantahnya tanpa mengatakan semuanya.
Aku pulang pukul tujuh malam.
Mbok Darmi sedang di dapur. Begitu melihatku masuk lewat pintu samping, dia meletakkan centong nasinya dan menatapku lama.
“Pak Udin sudah cerita,” katanya.
Aku tidak menjawab.
“Mas mau makan?”
“Nanti, Mbok.”
Aku masuk ke kamar tamu dan menutup pintu.
Aku duduk di tepi kasur sempit yang sudah sepuluh bulan kutiduri, di kamar yang dulu milik sopir Kakek, dan menatap laci meja kecil di sampingnya.
Lalu aku membuka lemari dan mengeluarkan dua tas. Ransel dan koper kecil. Dua tas yang sama yang kubawa ke rumah ini di malam akad.
Aku tidak memutuskan untuk pergi. Tidak seperti orang yang memutuskan sesuatu. Tanganku yang memutuskan, dan aku membiarkannya.
Mengemas barang-barangku hanya butuh empat puluh menit.
Aku tidak punya banyak. Delapan kemeja kerja, empat celana, kaus-kaus, sarung, sajadah. Sepatu proyek. Buku-buku teknik sipil yang sudah lusuh. Sebuah foto Bapak dan Ibu di depan rumah Klaten, dalam bingkai plastik murahan. Batik cokelat tua yang noda kuah semurnya sudah hilang setelah direndam Mbok Darmi tiga hari.
Lalu aku membuka laci meja kecil.
Flashdisk hitam dengan selotip kertas. Untuk Luna. Hari ke-365.
Map biru tipis berisi salinan akta.
Dan satu amplop putih tertutup yang selama ini kusimpan di bawah keduanya, amplop yang tidak pernah kubuka. Di bagian depannya, dengan tulisan tangan Kakek yang miring dan bergetar, tertulis instruksi:
Dit. Kalau kamu pergi sebelum satu tahun, tinggalkan surat ini untuk Luna, bersama map biru. Jangan dibaca. Jangan dibuang. Ini perintah terakhir saya, bukan permintaan.
Aku menatap amplop itu lama sekali.
Kakek menulisnya di malam ketiga sebelum wafat. Aku ingat karena malam itu dia memintaku keluar kamar selama setengah jam, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Ketika aku kembali, amplop itu sudah tertutup dan lem di tutupnya masih basah, dan Kakek menyerahkannya kepadaku dengan tangan yang gemetar hebat.
Saya harap kamu nggak perlu, katanya. Tapi saya kenal kamu. Saya kenal dia. Kalian berdua sama keras kepalanya.
Aku tidak mau meninggalkan surat itu. Aku tidak mau meninggalkan map biru. Aku ingin pergi tanpa jejak, tanpa penjelasan, membiarkannya terus membenciku, karena benci lebih ringan dibawa.
Tapi Kakek sudah menulis perintah. Bukan permintaan.
Selama delapan tahun, aku tidak pernah sekali pun melanggar perintah Kakek.
Aku tidak akan mulai malam ini.
Aku keluar dari kamar pukul dua dini hari.
Rumah gelap. Aku membawa map biru dan amplop putih di satu tangan, dan berjalan pelan menyusuri lorong belakang menuju ruang tengah, berniat meletakkannya di meja makan.
Aku berhenti di ambang ruang tengah.
Dia tidur di sofa.
Masih memakai blazer hitam dari rapat tadi. Sepatunya tergeletak di lantai. Rambutnya yang tadi disanggul rapi sudah setengah lepas, jatuh di sisi wajahnya. Dia tidur meringkuk dengan lutut ditekuk, satu tangan di bawah pipi, seperti anak kecil yang ketiduran menunggu orang tuanya pulang.
Cahaya lampu jalan dari jendela jatuh di wajahnya.
Aku berdiri di sana lama sekali.
Ini terakhir kalinya, pikirku. Terakhir kalinya aku melihatnya seperti ini, dari jarak sedekat ini, di rumah ini.
Dia sangat cantik dalam tidurnya. Wajahnya tidak lagi keras seperti di ruang rapat tadi siang, tidak lagi dingin seperti di carport atau di pantri. Alisnya tidak berkerut. Bibirnya tidak terkatup rapat. Dalam tidur, dia terlihat seperti foto di ruang kerja Kakek, foto gadis delapan belas tahun yang tertawa sambil memegang es teh di proyek. Cantik yang lembut, cantik yang tidak sedang melawan apa pun, cantik yang sudah lama sekali tidak kulihat di wajahnya ketika dia terjaga.
Ada bekas air mata kering di sudut matanya.
Aku tidak tahu apakah itu untuk Kakek, untuk rapat tadi, atau untuk sesuatu yang lain. Aku tidak berhak tahu.
Aku mengambil selimut dari lemari linen di dekat tangga. Selimut tipis yang sama yang dulu kutitipkan lewat Mbok Darmi di malam dia tertidur di ruang kerja Kakek. Kali ini tidak ada Mbok Darmi yang bisa kutitipi. Aku membentangkannya sendiri di atas tubuhnya, pelan, dari kaki sampai bahu, tanpa menyentuhnya.
Dia bergerak sedikit. Aku membeku. Dia tidak bangun.
Lalu aku berjalan ke meja makan.
Aku meletakkan map biru di tengah meja, di depan kursi kosong Kakek. Aku meletakkan amplop putih di atasnya. Aku mengeluarkan kunci rumah dari saku, satu kunci pintu samping dan satu kunci kamar tamu, dan meletakkannya di sebelah map.
Lalu aku melepas cincin dari jari manisku.
Cincin emas putih sederhana, tanpa ukiran, yang dipilih Pak Wiryo karena tidak ada satu pun dari kami yang mau ke toko perhiasan bersama. Aku memakainya setiap hari selama tiga ratus delapan belas hari. Di kantor, di proyek, di angkringan, di bawah perancah. Tidak ada yang pernah bertanya. Tidak ada yang tahu. Di jarinya, cincin pasangannya tidak pernah ada. Aku melihatnya tergeletak di kotak beludru di meja rias kamarnya, sekali, di minggu pertama, lewat pintu yang terbuka.
Aku meletakkan cincin itu di atas map biru. Di tengah. Bunyinya sangat pelan ketika logam menyentuh karton.
Pukul empat, Mbok Darmi sudah di dapur.
Dia tidak bertanya. Dia melihat ransel di punggungku dan koper kecil di tanganku, dan wajahnya tidak terkejut. Seperti orang yang sudah menunggu ini terjadi sejak lama.
Dia sedang membungkus sesuatu di rantang biru.
“Mbok—”
“Bekal, Mas. Buat di kereta.” Suaranya bergetar. “Perkedel kentang. Sama sayur bening. Mbok bikin dari jam tiga.”
Aku meletakkan koperku dan berdiri di depannya. Mbok Darmi menutup susun terakhir rantang itu, mengunci pegangannya, dan menyodorkannya kepadaku.
Aku tidak mengambilnya.
“Rantangnya simpan di sini, Mbok.”
“Itu rantang ibunya Mas.”
“Ibu nggak akan marah.” Aku memindahkan bekalnya ke kotak plastik bekas dari lemari Mbok, dan meletakkan rantang biru yang kosong di rak, di samping cangkir-cangkir porselen bunga biru. “Biar di sini. Mungkin suatu hari ada yang butuh.”
Mbok Darmi menatap rantang itu, lalu menatapku, lalu menutup wajahnya dengan ujung kerudung dan menangis tanpa suara.
Aku memeluknya. Pertama kalinya aku memeluk Mbok Darmi. Tubuhnya kecil dan rapuh, dan dia mencengkeram punggung kemejaku dengan kedua tangan seperti tidak mau melepaskan.
“Mbok jaga Mbak Kaluna, nggih,” bisikku.
“Mbok sudah jaga dia dua puluh delapan tahun, Mas.” Suaranya teredam di bahuku. “Tapi Mbok nggak bisa jaga dia dari dirinya sendiri.”
Pak Udin sudah menunggu di depan pagar dengan mobilnya sendiri, mobil Kijang tua miliknya pribadi, bukan mobil perusahaan. Aku tidak memintanya. Mbok Darmi pasti meneleponnya.
Dia tidak bertanya. Dia memasukkan koperku ke bagasi dan membukakan pintu depan, bukan pintu belakang.
Sepanjang perjalanan ke Stasiun Gambir, pukul empat tiga puluh pagi, jalanan Jakarta kosong dan basah sisa hujan semalam. Pak Udin menyetir dengan satu tangan dan menyeka matanya dengan punggung tangan yang lain, berkali-kali, sambil pura-pura menggaruk alis.
Ponselku bergetar. Grup paguyuban.
Pak Udin: Laporan terakhir. Mas Radit pulang ke Klaten pagi ini. Kereta jam 5.45.
Dia pasti mengetiknya di lampu merah tadi.
Mas Jono: Mas. 😭
Pak Slamet: [pesan suara 1:12]
Aku tidak memutarnya. Aku tidak sanggup.
Di peron Stasiun Gambir, Pak Udin menyalamiku lama. Lalu dia memelukku dengan cara laki-laki Betawi memeluk, menepuk punggungku tiga kali dengan keras.
“Saya nggak setuju Mas pergi,” katanya. “Tapi saya ngerti.”
“Matur nuwun, Pak. Untuk semuanya.”
“Mas yang harusnya ditanya terima kasih.” Dia mundur, menyeka matanya untuk kesekian kali. “Kalau ada apa-apa, telepon saya. Saya bisa nyetir ke Klaten. Sembilan jam. Nggak apa-apa.”
Kereta berangkat pukul lima empat puluh lima.
Aku duduk di kursi dekat jendela. Jakarta bergerak mundur di luar kaca. Gedung-gedung, jembatan layang, kampung-kampung di pinggir rel yang lampunya masih menyala.
Aku mengeluarkan ponsel. Ada satu pesan dari Pak Wiryo, dikirim pukul tiga dini hari, setelah aku mengabarinya tentang flashdisk yang kutitipkan di loker kantornya semalam.
Saya terima, Mas Radit. Akan saya serahkan di hari ke-365 sesuai amanat. Hati-hati di jalan. Dan Mas, saya mau bilang satu hal yang seharusnya saya bilang dari dulu. Almarhum Bapak memilih orang yang tepat.
Aku menatap pesan itu sampai layar ponselku meredup sendiri.
Lalu aku menyandarkan kepala ke jendela kereta, memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya sejak Kakek wafat, sejak Melbourne, sejak tiga ratus delapan belas hari menahan semuanya, aku menangis.
Pelan. Tanpa suara. Dengan wajah menghadap jendela, supaya ibu-ibu di kursi sebelah tidak melihat.
Di luar, matahari mulai terbit di atas sawah-sawah Karawang, dan aku tidak bisa melihatnya karena mataku penuh.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja reading
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu