Chapter Twenty Nine
Karena Cinta atau Karena Malu
POV: Radit
Angkringan Pak Wardi buka setiap malam dari pukul tujuh sampai pukul satu, di bawah pohon trembesi di depan pasar, dengan gerobak kayu, terpal biru, dan satu bohlam kuning yang tergantung di tiang bambu.
Bu Darsih yang memberitahuku, lewat Ibu, lewat Tole, bahwa dia makan malam di sana setiap hari. Sendirian. Nasi kucing dua bungkus, tempe mendoan, dan teh jahe. Duduk di ujung bangku kayu panjang, di bawah bohlam, dengan laptop yang kadang dibuka dan kadang tidak.
Minggu malam, sehari setelah tumpeng yang miring, aku berjalan ke angkringan itu.
Aku tidak tahu kenapa. Aku sudah berdiri setengah jam di depan pagar kos Bu Darsih semalam, di bawah lampu jalan, mendengarkan enam mahasiswi dan seorang ibu kos menyanyikan lagu ulang tahun untukku tanpa aku ada di sana. Aku melihatnya meniup lilin di puncak tumpeng yang miring ke kiri, persis seperti tumpeng Mbok Darmi. Aku pergi sebelum dia sempat melihatku, karena aku tidak tahu apa yang akan kulakukan kalau dia melihatku.
Malam ini, aku masih tidak tahu. Kakiku yang membawa.
Dia ada di sana.
Duduk di ujung bangku kayu, persis seperti kata Bu Darsih. Kaus putih sederhana dan celana panjang katun. Rambut diikat rendah. Nasi kucing yang setengah dimakan di piring rotan beralas kertas minyak. Teh jahe dalam gelas belimbing.
Dia tidak melihatku datang. Dia sedang menatap tangannya sendiri di atas meja gerobak. Tangan yang penuh bekas luka kecil, kulit yang mengilap di beberapa tempat karena salep luka bakar.
Bohlam kuning di atas kepalanya membuat bayangan lembut di wajahnya.
Dan dia cantik dengan cara yang membuatku berhenti di jalan, tiga meter dari angkringan, di bawah pohon trembesi yang gelap.
Kulitnya lebih gelap sekarang. Dua bulan di bawah matahari Klaten. Ada bintik-bintik kecil di hidungnya yang tidak ada di rumah Menteng. Tidak ada riasan. Tidak ada kalung mutiara. Tangan yang dulu memegang pulpen di atas meja oval sepanjang dua belas meter sekarang penuh luka karena pisau tumpul dan minyak meletup. Dia terlihat lebih lelah, lebih kurus, lebih tua satu tahun, dan lebih jelita dari malam mana pun yang pernah kulihat di Jakarta.
Karena untuk pertama kalinya, wajahnya tidak sedang menyembunyikan apa pun.
Pak Wardi, pemilik angkringan, melihatku lebih dulu. Dia tersenyum lebar dan berteriak dengan suara yang terlalu keras.
“Mas Radit! Monggo, Mas! Duduk!”
Dia mengangkat wajah.
Matanya menemukanku di bawah pohon trembesi. Tangannya berhenti di atas meja. Gelas teh jahe di sebelahnya bergetar sedikit karena lututnya membentur kaki meja.
Aku berjalan ke angkringan dan duduk di bangku kayu di seberangnya.
Lama tidak ada yang bicara.
Pak Wardi meletakkan segelas teh jahe di depanku tanpa ditanya, lalu pura-pura sibuk membakar sate usus di tungku arang di ujung gerobak, dengan punggung menghadap kami, telinga jelas-jelas menghadap kami.
“Kamu,” katanya akhirnya. Suaranya hampir tidak terdengar. “Kemarin malam. Di depan pagar.”
“Bu Darsih cerita?”
“Bu Darsih cerita.”
“Seluruh desa ini harus berhenti cerita,” kataku.
Dia tertawa. Pendek dan basah. Lalu tawanya berhenti, dan dia menunduk ke teh jahenya.
“Tumpengnya miring,” kataku.
“Aku tahu.”
“Kayak tumpeng Mbok Darmi.”
“Aku telepon Mbok. Aku minta disebutin satu-satu isinya.” Dia memutar gelas teh jahe pelan. “Mbok nangis.”
Aku menatap tangannya yang memutar gelas. Bekas luka bakar di punggung tangan kanannya. Garis tipis bekas teriris di jari telunjuk.
“Tanganmu,” kataku.
Dia menarik tangannya ke bawah meja. Cepat, refleks, seperti anak kecil yang menyembunyikan sesuatu.
“Nggak apa-apa.”
“Itu bukan nggak apa-apa.”
“Nisa kasih salep tiap malam. Dia calon apoteker.” Dia mencoba tersenyum. “Katanya tanganku kayak tangan tukang.”
“Ibu juga bilang begitu.”
Dia mengangkat wajah cepat. “Ibumu bilang begitu? Ke kamu?”
“Ke aku. Kemarin.” Aku menatap teh jahe di depanku. “Ibu bilang, tangannya sudah kayak tangan tukang, Le. Tangan orang yang kerja. Terus Ibu diam lama. Terus Ibu bilang, bapakmu dulu tangannya juga begitu.”
Dia menutup mulutnya dengan tangan yang penuh luka.
Aku tidak berencana menanyakan ini malam ini. Aku sudah menanyakannya kepada diriku sendiri setiap malam selama dua bulan, di kamar masa kecilku dengan dinding papan, di atas perancah dengan palu di tangan, di depan rantang biru yang kubuka dan kututup kembali dua puluh enam kali. Tapi aku tidak pernah berencana mengucapkannya keras-keras.
Lalu kata-kata itu keluar sendiri.
“Kamu kembali karena cinta,” kataku pelan, “atau karena malu?”
Angkringan itu sunyi. Hanya ada desis arang di tungku Pak Wardi dan suara jangkrik dari pohon trembesi.
Dia tidak menjawab dengan cepat.
Itu yang pertama kuperhatikan. Dia tidak menjawab cinta dengan cepat, dengan mata basah dan suara yang meyakinkan, seperti yang akan dilakukan orang yang sedang berusaha menebus sesuatu. Dia tidak menjawab sama sekali selama hampir satu menit. Dia menatap teh jahenya. Dia menatap tangannya. Dia menatap bohlam kuning di atas kepala kami.
Lalu dia menatapku.
“Awalnya malu,” katanya.
Aku tidak bergerak.
“Waktu aku buka map itu,” lanjutnya. Suaranya pelan tapi jelas. “Waktu aku lihat video wisuda. Waktu Suster Ani cerita soal dua telepon. Aku malu. Malu banget sampai aku nggak bisa napas. Aku pikir aku harus ke sini karena aku nggak bisa hidup dengan rasa malu itu. Aku pikir kalau aku minta maaf, kalau aku masak, kalau aku belajar krama, rasa malunya bakal berkurang.”
Dia berhenti. Menelan ludah.
“Aku nggak mau bohong sama kamu. Nggak lagi. Jadi itu jawabannya. Awalnya malu.”
“Dan sekarang?”
Dia menatapku lama. Matanya basah, tapi suaranya tidak pecah.
“Sekarang aku nggak tahu cara berhenti,” katanya.
Aku menatapnya.
“Aku bangun jam empat pagi buat masak, dan aku nggak tahu kenapa aku melakukannya lagi. Bukan karena malu. Malunya sudah nggak sebesar dulu. Aku masak karena aku mau kamu makan. Aku nunggu di bawah pohon ketapang bukan karena aku harus. Aku nunggu karena aku mau lihat kamu turun dari perancah dengan selamat.” Suaranya mulai bergetar. “Aku belajar krama bukan supaya kamu maafin aku. Aku belajar karena aku mau ngomong sama ibumu dengan bahasa yang kamu pakai. Aku mau tahu cara kamu ngomong waktu kamu ngomong sama orang yang kamu hormati.”
Dia menekan tangannya ke atas meja.
“Aku nggak tahu kapan berubahnya. Aku nggak tahu kapan aku harus berubah jadi aku mau. Mungkin waktu Tole makan dua perkedel. Mungkin waktu ibumu nyuruh aku iris bawang. Mungkin waktu aku lihat kamu nunduk di depan rantang biru dan nggak jadi buka.” Dia menarik napas. “Aku cuma tahu sekarang aku nggak tahu cara berhenti. Dan aku nggak mau berhenti.”
Aku tidak bisa bicara.
Pak Wardi, di ujung gerobak, membakar sate usus yang sama untuk ketiga kalinya.
“Aku nggak minta kamu pulang,” lanjutnya, lebih pelan. “Aku nggak minta kamu maafin aku. Aku nggak minta kamu percaya aku. Kalau kamu bilang aku harus pergi, aku pergi. Kalau kamu bilang berhenti masak, aku berhenti masak.” Dia menatapku. “Tapi aku nggak akan berhenti nunggu. Itu aja yang nggak bisa aku janjiin.”
Aku menatap gelas teh jahe di depanku. Uapnya sudah habis. Tehnya sudah dingin.
Dua bulan aku takut dia di sini karena alasan yang salah. Dua bulan aku menolak rantang biru karena aku takut setiap suapan adalah cicilan utang yang tidak pernah kutagih.
Dan malam ini, dia tidak menjawab cinta. Dia menjawab malu. Dia menjawab dengan jujur, dengan kata yang paling tidak menyanjung dirinya sendiri, dengan kata yang bisa saja membuatku berdiri dan pergi.
Itu yang membuatku percaya.
Kalau dia menjawab cinta dengan cepat, aku akan tahu dia sedang berusaha. Tapi dia menjawab awalnya malu, dan sekarang aku nggak tahu cara berhenti, dan aku tahu persis bagaimana rasanya tidak tahu cara berhenti.
Aku sudah tidak tahu cara berhenti selama sembilan tahun.
Aku menatap piring rotan di depannya. Nasi kucing yang setengah dimakan. Satu tempe mendoan yang belum disentuh.
Aku mengulurkan tangan dan mengambil tempe mendoan itu dari piringnya.
Dia menatapku.
Aku menggigitnya. Mendoan dari gerobak Pak Wardi, tepungnya tipis dan masih sedikit hangat. Bukan masakannya. Tapi dari piringnya.
“Garang asem yang kemarin lusa,” kataku sambil mengunyah, menatap meja gerobak, tidak menatapnya. “Belimbingnya masih kebanyakan satu.”
Hening.
“Kamu,” katanya pelan, sangat pelan. “Kamu cicip?”
“Sesendok.” Aku menelan mendoan itu. “Tiap hari. Dari rantang tukang. Pak Karyo yang nyisihin buat aku, di balik ember semen. Dia bilang, Mas, rantang biru boleh ditolak, tapi masakan Mbak’e jangan.”
Dia menatapku dengan mulut sedikit terbuka.
“Tiap hari?”
“Tiap hari.”
“Selama dua puluh enam hari?”
“Dua puluh tujuh. Termasuk opor yang santannya pecah.” Aku akhirnya menatapnya. “Itu yang paling susah ditelan.”
Dia tertawa.
Tawa yang pecah di tengah, berubah menjadi tangis, lalu kembali menjadi tawa lagi, dengan wajah ditutup dua tangan yang penuh luka, di bawah bohlam kuning angkringan Pak Wardi. Bahunya bergetar. Gelas teh jahenya hampir tumpah karena lututnya membentur meja lagi.
Pak Wardi, di ujung gerobak, akhirnya membalikkan badan, meletakkan sepiring sate usus di antara kami yang tidak dipesan siapa pun, dan berkata dengan suara keras:
“Gratis! Merayakan! Nggak tahu merayakan apa, tapi merayakan!”
Aku tidak bisa menahan senyum.
Dia menurunkan tangannya dari wajah. Matanya merah, hidungnya merah, bibirnya tersenyum. Dan untuk pertama kalinya sejak dia berdiri di gerbang sekolah dengan koper dan ransel, aku membiarkan diriku menatapnya tanpa menahan apa pun.
“Mbak,” kataku.
“Hm.”
“Besok garang asemnya belimbingnya kurangin satu lagi.”
Dia mengangguk, menyeka mata dengan punggung tangan.
“Nggih,” katanya. Dengan logat Jakarta yang masih kaku. “Nggih, Mas.”
Aku menunduk ke gelas teh jahe yang sudah dingin, dan meminumnya sampai habis, supaya dia tidak melihat wajahku.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu reading
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu