Chapter Eleven

Demam Berdarah

POV: Kaluna

Aku mengira itu flu biasa.

Demam di hari Senin, yang kuatasi dengan dua butir paracetamol dan secangkir kopi hitam dari Bu Ratih. Pegal-pegal di hari Selasa, yang kuanggap akibat rapat direksi sembilan jam soal audit kontraktor Kemang. Sakit kepala di hari Rabu, di belakang mata, seperti ada orang yang menekan bola mataku dengan ibu jari dari dalam.

Hari Kamis, aku pingsan di lift kantor.

Aku tidak ingat jatuhnya. Yang kuingat hanya pintu lift terbuka di lantai tiga puluh dua, lalu lantai marmer yang tiba-tiba sangat dekat dengan wajahku, lalu suara Bu Ratih yang untuk pertama kalinya selama aku mengenalnya terdengar tidak datar sama sekali.

Ketika aku membuka mata, aku sudah di ranjang rumah sakit dengan selang infus di tangan kiri dan seorang dokter muda berkacamata yang menatap hasil laboratorium dengan dahi berkerut.

“Demam berdarah, Bu Kaluna. Trombosit Ibu dua puluh tiga ribu.”

Aku tidak tahu angka normalnya. Dari wajah dokter itu, aku tahu dua puluh tiga ribu bukan angka yang bagus.

“Kita pantau ketat. Kalau turun lagi di bawah dua puluh, kita perlu transfusi trombosit.” Dia menutup map. “Golongan darah Ibu O negatif, ya?”

“Iya.”

“Itu golongan yang langka, Bu. Stok di PMI sedang kosong. Kalau perlu, kami harus cari donor langsung.”

Aku menatap langit-langit putih. Kakek juga O negatif. Dulu, setiap tahun, Kakek mendonorkan darahnya di PMI Kramat, karena katanya golongan darah langka itu bukan hadiah, Lun, itu tanggung jawab. Aku tidak pernah ikut. Aku takut jarum.

Sekarang Kakek tidak ada, dan aku tidak tahu siapa lagi di dunia ini yang punya darah seperti kami.

Sekar datang satu jam kemudian, masih memakai celemek kerja dengan noda cat di bagian dada, dan langsung menangis di samping ranjangku.

“Kamu tahu nggak sih aku panik banget? Bu Ratih nelepon, suaranya kayak robot rusak. Aku kira kamu meninggal!”

“Aku cuma demam.”

“Trombositmu dua puluh tiga ribu! Aku sudah googling! Normalnya seratus lima puluh ribu!” Sekar menyeka hidungnya dengan ujung celemek. “Kamu itu kenapa sih nggak pernah bilang kalau sakit?”

“Aku nggak tahu kalau sakit.”

“Itu lebih parah lagi.”

Mbok Darmi datang sore harinya, diantar Pak Udin, membawa rantang. Bukan rantang biru. Rantang hijau milik Mbok sendiri. Isinya bubur sumsum dan jus jambu merah yang diperas sendiri, karena Mbok baca di grup WA, jambu merah bagus buat trombosit, Mbak.

Grup WA apa, aku tidak bertanya.

Mbok Darmi duduk di kursi di samping ranjangku dan menyuapiku bubur sumsum sesendok demi sesendok, mengabaikan protesku bahwa aku bisa makan sendiri. Dia melirik pintu kamar beberapa kali. Ke lorong. Seperti sedang menunggu seseorang.

“Siapa yang Mbok tunggu?”

“Nggak ada, Mbak.” Mbok Darmi menyendokkan bubur lagi. “Mbok cuma lihat-lihat. Pintunya bagus.”

Malamnya, Bu Ratih datang membawa laptop.

Aku sempat lega, mengira dia membawa laporan yang harus kutandatangani, sesuatu yang bisa membuatku merasa berguna di ranjang rumah sakit. Dia meletakkan laptop itu di meja samping ranjang, membukanya, dan memutarnya ke arahku.

Isinya film kartun. Film animasi tentang ikan yang mencari anaknya.

“Saya sudah download,” katanya datar. “Laporan Ibu saya tahan sampai trombosit Ibu di atas seratus ribu. Itu bukan permintaan, Bu. Itu kebijakan direksi. Saya baru buat tadi sore.”

“Bu Ratih nggak bisa bikin kebijakan direksi sendirian.”

“Saya direktur keuangan, Bu. Saya bisa bikin apa saja sendirian kalau anggarannya nol rupiah.” Dia duduk di kursi, melipat tangan, dan ikut menonton film ikan itu dengan wajah sangat serius selama dua puluh menit, sampai Mbok Darmi tertidur di sofa dan Sekar mulai menangis di bagian ikan ayahnya kehilangan istri.

Bu Ratih tidak menangis. Tapi ketika dia pamit, matanya sedikit merah, dan dia bilang itu karena AC.

Hari Jumat pagi, trombositku turun ke delapan belas ribu.

Dokter muda berkacamata itu datang dengan dua perawat dan wajah yang serius. Mereka bicara tentang transfusi, tentang donor apheresis, tentang risiko perdarahan. Aku mendengarkan dengan kepala yang terasa seperti diisi kapas. Pipi dan lenganku mulai muncul bintik-bintik merah kecil di bawah kulit.

“Kami sudah koordinasi dengan PMI dan bank darah rumah sakit lain,” kata dokter itu. “Stok O negatif masih kosong. Keluarga Ibu bisa bantu cari donor?”

Keluarga. Aku tidak punya keluarga. Aku punya Mbok Darmi, yang golongan darahnya B. Aku punya Sekar, yang golongan darahnya A dan takut jarum lebih parah dariku. Aku punya teman-teman arisan yang akan mengirim karangan bunga.

“Saya akan cari,” kataku, meskipun aku tidak tahu harus mencari ke mana.

Gilang datang pukul dua siang.

Dia masuk dengan buket mawar merah besar yang terlalu wangi untuk kamar rumah sakit, kemeja linen putih, dan wajah yang dipasang dengan ekspresi khawatir yang sangat rapi. Dia duduk di tepi ranjangku, menggenggam tanganku yang tidak diinfus, dan menatapku seperti tokoh utama di drama televisi.

“Lun. Kenapa nggak bilang dari kemarin?”

“Aku baru tahu kemarin.”

“Aku dengar dari Dinda. Dia lihat story Sekar.” Gilang menghela napas. “Aku langsung ke sini. Aku sudah tanya-tanya ke teman-teman, siapa yang O negatif. Aku sudah sebar di grup-grup.”

Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak demam ini dimulai, aku merasa sedikit lega. Seseorang mencarikan donor untukku. Seseorang peduli.

“Makasih, Lang.”

“Apa sih yang nggak buat kamu.”

Sore itu, pukul empat, perawat masuk dengan senyum lebar dan kantong plastik berisi cairan kuning pucat.

“Kabar baik, Bu. Trombositnya sudah ada. Donor apheresis, langsung dari donor O negatif. Prosesnya dua jam tadi siang di PMI, langsung diantar ke sini.”

“Dari siapa, Sus?”

Perawat itu melirik catatannya. “Donor pengganti dari keluarga, Bu. Nggak tercatat namanya di sini, cuma tertulis keluarga pasien. Ibu beruntung banget, golongan darah ini susah dicari.”

Aku menoleh ke Gilang, yang masih duduk di kursi di samping ranjang sambil memainkan ponselnya.

Gilang mengangkat wajah. Dia menatap kantong trombosit itu. Menatapku. Dan untuk sedetik, sangat sebentar, ada sesuatu di wajahnya yang mirip kebingungan.

Lalu dia tersenyum.

“Syukurlah,” katanya. “Akhirnya ketemu juga.”

Dia tidak bilang aku yang carikan. Tapi dia juga tidak bilang bukan aku. Dan aku, dengan kepala berisi kapas dan trombosit delapan belas ribu, mendengar apa yang ingin kudengar.

“Makasih, Lang,” kataku lagi, dan kali ini suaraku pecah. “Makasih banget. Aku nggak tahu harus gimana kalau nggak ada kamu.”

Gilang menggenggam tanganku lebih erat. Dia tidak mengoreksi apa pun.

Trombosit itu mengalir ke pembuluh darahku pelan-pelan, setetes demi setetes, dari kantong plastik yang tergantung di tiang infus. Kuning pucat, seperti cahaya matahari sore yang masuk lewat jendela.

Malamnya, setelah Gilang pulang dan Sekar tertidur di sofa kamar dengan mulut terbuka, aku mengunggah satu foto ke Instagram. Foto tangan Gilang menggenggam tanganku di atas selimut rumah sakit, dengan selang infus terlihat di sudut. Keterangannya: Terima kasih untuk yang selalu ada. Kamu penyelamatku. 🤍

Unggahan itu disukai empat ratus orang dalam satu jam.

Aku tidak tahu siapa saja di antara empat ratus orang itu yang membacanya. Aku tidak berpikir untuk bertanya.

Pukul sebelas malam, aku terbangun karena ingin ke kamar mandi.

Sekar masih tidur di sofa. Lampu kamar diredupkan. Aku turun dari ranjang pelan-pelan, mendorong tiang infus dengan satu tangan, dan berjalan ke kamar mandi di dekat pintu.

Pintu kamar terbuka sedikit. Dari celahnya, aku melihat lorong rumah sakit yang terang dan sepi.

Dan aku melihat seseorang di sana.

Dia berdiri di ujung lorong, di dekat jendela besar yang menghadap parkiran, membelakangiku. Kemeja kerja abu-abu yang kusut. Tas ransel di punggung. Satu tangannya memegang ponsel di telinga, tangan yang lain menggantung di sisi badan.

Lengan kemejanya digulung sampai siku. Dan di lipatan siku bagian dalam, di kulit yang pucat di bawah lampu neon lorong, ada plester bulat berwarna cokelat muda. Jenis plester yang ditempelkan perawat setelah jarum dicabut.

Aku berdiri di balik pintu dengan tangan di tiang infus.

Dia sedang bicara di telepon, sangat pelan. Aku tidak bisa mendengar kata-katanya, hanya nadanya yang rendah dan lembut, nada yang sama seperti malam dia menelepon ibunya dari teras belakang.

Lalu dia menutup telepon dan berbalik.

Aku mundur ke balik pintu sebelum dia melihatku. Jantungku berdetak terlalu keras untuk orang dengan trombosit delapan belas ribu.

Aku tidak tahu kenapa dia di sini. Mungkin Mbok Darmi yang menyuruhnya mengantar sesuatu. Mungkin dia menjenguk orang lain. Rumah sakit ini besar. Plester di lengannya bisa dari mana saja. Orang mendonorkan darah setiap hari. Orang diambil darahnya untuk cek kolesterol setiap hari.

Aku kembali ke ranjang tanpa ke kamar mandi.

Aku berbaring menatap langit-langit, menatap kantong trombosit yang sudah hampir kosong di tiang infus, dan memikirkan Gilang yang tersenyum dan berkata syukurlah, akhirnya ketemu juga.

Aku tidak memikirkan plester di lipatan siku seorang laki-laki di ujung lorong.

Aku memaksa diriku untuk tidak memikirkannya.

Ketika aku bangun pagi harinya, trombositku naik ke empat puluh satu ribu. Dokter muda berkacamata itu tersenyum untuk pertama kalinya.

Di meja samping ranjang, ada segelas jus jambu merah yang masih dingin, dengan embun di sisi gelasnya, ditutup plastik wrap dengan rapi. Sekar bersumpah bukan dia yang membelinya. Mbok Darmi belum datang.

Aku meminumnya sampai habis tanpa bertanya.