Chapter Twenty Four
Rantang Biru, Lagi
POV: Kaluna
Rantang biru itu tiba di Klaten hari Sabtu, diantar langsung oleh Pak Udin, yang menyetir sembilan jam dari Jakarta dengan Kijang tuanya.
Aku tidak memintanya. Aku bahkan tidak tahu dia akan datang. Pukul tiga sore, Bu Darsih menggedor pintu kamarku dengan suara yang bisa membangunkan seluruh pasar.
“Mbak! Ada bapak-bapak dari Jakarta! Bawa kardus! Katanya sopir!”
Pak Udin berdiri di depan pagar kos dengan kemeja batik seragam perusahaan, topi sopir di tangan, dan wajah yang sangat lelah tapi sangat bangga. Di kakinya ada satu kardus bekas mi instan yang diikat tali rafia, dan di tangan kirinya, dibungkus kain jarik dengan simpul di atas, ada rantang biru berbunga putih.
“Dari Mbok Darmi, Bu,” katanya. “Mbok bilang Ibu pasti butuh.”
Aku menerima rantang itu dengan dua tangan.
Rantang itu terasa lebih berat dari yang kuingat. Mungkin karena Mbok Darmi sudah mengisinya. Mungkin karena sekarang aku tahu umurnya dua puluh delapan tahun, bahwa itu rantang seserahan, bahwa seorang tukang batu bernama Darno makan dari rantang ini setiap siang selama sebelas tahun.
Mungkin karena aku yang pernah membuangnya ke tempat sampah.
“Pak Udin nyetir sendirian dari Jakarta?”
“Sendirian, Bu. Berangkat jam tiga pagi.” Pak Udin menunjuk kardus mi instan di kakinya. “Ini juga dari Mbok. Bumbu-bumbu. Belimbing wuluh, katanya di sini mahal. Kecap kesukaan Mas Radit. Sama ini.”
Dia mengeluarkan selembar kertas dari saku kemejanya, dilipat empat. Tulisan tangan Mbok Darmi, besar-besar dan miring, dengan ejaan yang berantakan.
RESEP GARANG ASEM YANG BENER (YG KE 8 TAPI DIBENERIN LAGI):
Ayam kampung, bukan ayam negeri, Mas Radit nggak suka yang lembek.
Belimbing wuluh jangan kebanyakan nanti kecut kayak muka Mbak waktu marah.
Cabe rawit utuh JANGAN DIPOTONG.
Jangan ditinggal main HP. Gosong.
Kalau gosong lagi jangan nangis. Mulai lagi.
Aku tertawa. Tawa yang langsung berubah menjadi sesuatu yang lain, dan aku harus menunduk dan berpura-pura membaca ulang resep itu supaya Pak Udin tidak melihat mataku.
Pak Udin pura-pura melihat ayam tetangga.
“Pak Udin mau ketemu dia?” tanyaku akhirnya. “Dia di sekolah. Bikin perpustakaan.”
Pak Udin menggeleng.
“Nggak, Bu. Nanti Mas Radit marah saya jauh-jauh ke sini.” Dia memakai topi sopirnya kembali. “Saya cuma kurir. Saya pulang sekarang. Besok pagi saya harus antar Bu Ratih rapat.”
“Pak Udin baru sampai. Istirahat dulu.”
“Saya istirahat di rest area, Bu.” Dia tersenyum. Lalu senyumnya berubah sedikit, menjadi sesuatu yang lebih serius. “Bu. Boleh saya bilang sesuatu?”
“Boleh.”
“Waktu Ibu suruh saya taruh rantang itu di tempat sampah pantri, saya nggak berani nolak. Saya cuma sopir.” Dia meremas pinggiran topinya. “Tapi waktu Mas Radit mungut rantang itu dan nyuci di wastafel, saya janji ke diri saya sendiri. Kalau suatu hari rantang itu bisa dipakai lagi dengan bener, saya yang antar. Sejauh apa pun.”
Dia mengangguk sekali kepadaku, masuk ke Kijang tuanya, dan menyetir pergi ke arah jalan raya. Sembilan jam lagi, kembali ke Jakarta.
Aku berdiri di depan pagar kos Bu Darsih dengan rantang biru di tangan dan resep Mbok Darmi di saku, dan tiga mahasiswi tetangga kos menatapku dari teras dengan mulut terbuka.
Dapur kos Bu Darsih ada di belakang, satu ruangan sempit dengan kompor gas dua tungku, satu meja kayu, dan satu rak piring plastik yang dipakai bersama oleh enam penghuni kos.
Hari Senin, pukul lima pagi, aku memasak garang asem untuk pertama kalinya di Klaten.
Aku membeli ayam kampung di pasar pukul empat tiga puluh, dari penjual yang menatapku seperti melihat hantu karena tidak ada perempuan Jakarta yang belanja ayam sepagi itu. Aku memotongnya sendiri, dengan pisau dapur kos yang tumpul, dan tanganku teriris dua kali. Aku merebusnya, menumis bumbu, memasukkan belimbing wuluh, menghitungnya satu per satu supaya tidak kebanyakan. Cabe rawit utuh. Tidak dipotong. Aku tidak memegang ponsel sama sekali.
Mahasiswi-mahasiswi kos terbangun karena wangi bawang dan berdiri di ambang pintu dapur dengan rambut berantakan.
“Mbak masak apa?”
“Garang asem.”
“Buat siapa? Banyak banget.”
“Buat tukang.”
Mereka saling melirik. Salah satunya, Nisa, mahasiswi farmasi semester lima dengan kacamata bulat, berjalan ke kompor dan mengintip ke dalam panci.
“Mbak, itu minyaknya terlalu panas buat goreng tempenya. Nanti meletup.”
Minyaknya meletup. Satu tetes menghantam punggung tanganku, dan aku menjerit, dan Nisa langsung menarik tanganku ke bawah keran.
“Air mengalir, Mbak. Lima belas menit,” katanya dengan nada calon apoteker. Lalu, setelah melihat bekas merah di kulitku: “Mbak nggak pernah masak, ya?”
“Baru belajar.”
“Buat suami?”
Aku tidak menjawab. Nisa tersenyum dan mengambil alih penggorengan tempe.
Pukul sebelas, aku membawa dua rantang ke sekolah.
Rantang biru berbunga putih, tiga susun, berisi garang asem, nasi, dan tempe goreng yang sedikit gosong di pinggir. Dan rantang hijau besar dari pasar yang kubeli kemarin, untuk para tukang.
Para tukang sedang istirahat di bawah pohon ketapang ketika aku datang. Enam orang. Pak Karyo yang paling tua, rambutnya putih dan giginya tinggal separuh. Dua anaknya yang sudah dewasa. Tiga tukang muda dari desa sebelah.
Aku meletakkan rantang hijau di atas tikar mereka.
“Bapak-bapak. Makan siang.”
Mereka menatap rantang itu. Lalu menatapku. Lalu menatap perancah di ujung halaman, tempat laki-laki itu masih memasang reng atap, tidak turun untuk istirahat.
“Dari Mbak?” tanya Pak Karyo.
“Iya.”
“Mbak yang masak?”
“Iya. Garang asem. Maaf kalau nggak enak.”
Pak Karyo membuka tutup rantang. Uap naik. Dia mencium aromanya dengan mata terpejam, lalu menyendok kuahnya ke piring plastik dan mencicipinya.
Seluruh tukang menunggu.
Pak Karyo mengunyah. Lama. Dengan wajah serius seperti juri.
“Kecut,” katanya akhirnya.
Wajahku jatuh.
“Belimbingnya kebanyakan dua biji.” Pak Karyo menyendok lagi. “Tapi ayamnya kampung. Cabe rawitnya utuh. Bumbunya meresap.” Dia menatapku dengan mata yang berkerut karena tersenyum. “Enam dari sepuluh, Mbak. Besok bisa tujuh.”
Para tukang tertawa dan mulai makan.
Aku membawa rantang biru ke kaki perancah.
Aku tidak memanggilnya. Aku tidak naik. Aku hanya meletakkan rantang itu di atas balok kayu di kaki perancah, di tempat yang sama dengan botol air mineral yang kutinggalkan minggu lalu, dan menutupinya dengan serbet kain supaya tidak dihinggapi lalat.
Lalu aku kembali ke bangku kayu di bawah pohon ketapang, membuka laptop, dan bekerja.
Dia turun pukul satu. Dia melihat rantang itu.
Dia berdiri di depannya lama. Lalu dia mengangkat serbet kain, membuka tutup susun paling atas, menatap isinya sebentar, dan menutupnya kembali. Dia meletakkan serbet di atasnya lagi, dengan sangat rapi.
Lalu dia berjalan ke warung di depan sekolah dan membeli nasi bungkus.
Rantang itu masih penuh ketika aku mengambilnya pukul empat sore.
Hari Selasa, aku memasak tempe bacem. Hari Rabu, sayur lodeh. Hari Kamis, opor ayam yang santannya pecah karena terlalu lama direbus. Hari Jumat, garang asem lagi, dengan belimbing wuluh yang kukurangi dua biji.
Setiap hari, aku membawa dua rantang. Setiap hari, rantang hijau untuk tukang kosong dalam lima belas menit. Setiap hari, rantang biru di kaki perancah dibuka, ditatap, ditutup kembali, dan tidak disentuh.
Seminggu. Dua minggu.
Tanganku penuh luka kecil. Teriris pisau tumpul. Terkena minyak meletup. Melepuh karena memegang panci tanpa lap. Nisa membelikanku salep luka bakar dari apotek tempatnya magang dan mengoleskannya setiap malam di teras kos sambil menggeleng-geleng.
“Mbak,” katanya di malam keempat belas. “Kalau suaminya nggak mau makan, kenapa Mbak masih masak?”
Aku menatap tanganku yang mengilap karena salep.
“Karena aku dulu buang masakannya,” kataku. “Rantang yang sama. Ke tempat sampah. Di depan banyak orang.”
Nisa berhenti mengoleskan salep.
“Dia masak itu jam empat pagi,” lanjutku. “Resep masakan almarhumah ibuku, yang dia tanya ke kakekku di rumah sakit. Dan aku buang tanpa buka.”
Nisa diam lama. Lalu dia melanjutkan mengoleskan salep ke punggung tanganku, lebih pelan.
“Berarti Mbak harus masak lebih lama dari dia nunggu Mbak, Mbak,” katanya. “Itu aturan saya. Saya calon apoteker, saya ngerti dosis.”
Para tukang sudah memihakku sejak minggu kedua.
Aku tahu karena Pak Karyo mulai memberi nilai setiap hari, dengan suara keras yang sengaja diarahkan ke perancah. Tempe bacem, tujuh setengah! Manisnya pas! Opor, lima! Santannya pecah, tapi niatnya sepuluh! Anak-anaknya mulai menyisihkan satu porsi dari rantang hijau setiap hari, ditaruh di piring plastik terpisah, dan meletakkannya di sebelah rantang biru, seperti dua pilihan.
Dia tidak menyentuh keduanya.
Hari kedua puluh, aku membawa perkedel kentang.
Aku tidak berani membuatnya selama dua puluh hari. Itu masakan Ibu. Itu masakan yang dia bawa ke kantorku di rantang yang sama, yang kubuang ke tempat sampah. Itu masakan paling berat di dunia untuk kubuat.
Aku membuatnya delapan biji. Kuning keemasan. Persis seperti resep yang dituturkan Kakek di ranjang rumah sakit, yang kudapat dari Mbok Darmi lewat telepon, yang kucoba tiga kali di dapur kos sampai Nisa bilang ini enak banget, Mbak, sumpah.
Aku meletakkannya di susun paling atas rantang biru. Di kaki perancah. Dengan serbet kain di atasnya.
Dan aku tidak kembali ke bangku kayu di bawah pohon ketapang.
Aku pulang ke kos. Aku tidak sanggup melihatnya membuka tutup itu, menatap perkedel kentang itu, dan menutupnya kembali.
Pukul empat sore, Tole mengetuk pintu kamar kosku.
Dia memegang rantang biru dengan dua tangan, seperti memegang piala.
“Mbak Jakarta. Ini rantangnya. Disuruh Om.”
Aku mengambilnya. Rantang itu terasa lebih ringan.
Aku membuka susun paling atas.
Delapan perkedel kentang yang kuletakkan pagi tadi tinggal enam.
Dua hilang.
Aku menatap dua ruang kosong di rantang itu, dan jantungku berhenti.
“Tole,” kataku, suaraku gemetar. “Om Radit makan?”
Tole menatapku. Menatap rantang. Menatap kakinya sendiri. Lalu wajahnya berubah menjadi wajah anak sembilan tahun yang tertangkap basah.
“Bukan Om, Mbak,” katanya pelan. “Tole yang makan. Dua. Habisnya wangi banget.”
Seluruh harapan di dadaku jatuh ke lantai semen.
Lalu Tole menambahkan, dengan suara lebih pelan lagi, sambil menatap kakinya:
“Tapi Om lihatin perkedelnya lama banget, Mbak. Terus Om bilang ke Tole, bawa ke Mbak Jakarta, bilang makasih. Terus Om duduk di bawah perancah. Terus Om nutup mata pakai tangan.” Tole mengangkat wajah. “Om kayak mau nangis, Mbak. Tapi nggak jadi.”
Aku berlutut di ambang pintu kamar kos, sejajar dengan Tole, dan memeluknya.
Tole membiarkan dirinya dipeluk dengan wajah bingung, tangan masih menggantung di sisi badan.
“Mbak Jakarta,” katanya di bahuku. “Besok bikin perkedel lagi, ya? Tole janji nggak makan. Paling satu.”
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi reading
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu