Chapter Forty Three

Epilog: Meja Nomor Satu

POV: Radit

Kartu nama itu dicetak di atas karton krem tebal, dengan huruf emas dan pinggiran yang sedikit timbul.

Aku menemukannya di meja penerima tamu, di antara dua ratus kartu nama lain yang disusun berdasarkan nomor meja. Dara, gadis dari tim EO yang sama yang dua tahun lalu memegang tablet berisi denah ballroom, menyerahkannya kepadaku dengan senyum yang sangat lebar dan mata yang sedikit basah.

“Pak Radit,” katanya. “Ini punya Bapak.”

Meja 1.

Raditya Prasetya — Suami Kaluna Adisurya.

Aku menatap kartu itu lama sekali, sampai tamu di belakangku berdeham dengan sopan.

Ballroom hotel tua di Thamrin itu masih sama. Lampu kristal yang dipasang sejak tahun sembilan puluhan. Taplak putih di meja-meja bundar. Panggung kecil di depan dengan podium kayu. Dua tahun lalu, aku berdiri di ballroom ini dengan batik cokelat tua, membaca kartu nama yang bertuliskan Meja 12, dan berjalan ke pojok kanan dekat pintu dapur hotel.

Malam ini aku memakai batik yang sama.

Luna yang memaksa. Aku sudah membeli jas baru untuk acara ini, jas abu-abu gelap yang dipilihkan Sekar di butik di Senopati. Luna melihatku memakainya di depan cermin kamar kami, menatapku lama, lalu membuka lemari dan mengeluarkan batik cokelat tua bermotif parang kecil dari gantungan yang tidak di lemari bawah karena lembap.

“Yang ini,” katanya.

“Ini batik yang dulu—”

“Aku tahu.” Dia memegangkan batik itu di depan dadaku. “Batik yang kamu pakai di pemakaman Kakek. Di wisudaku. Di meja dua belas. Di ijab ulang.” Dia tersenyum. “Malam ini dia duduk di meja satu.”

Meja satu ada di depan, paling dekat dengan panggung.

Aku duduk di sana bersama direksi, dewan komisaris, dan beberapa mitra bisnis. Pak Hendarto duduk di sebelah kiriku. Bu Wulan di sebelah kananku. Pak Gunadi, di seberang meja, menatapku sesekali dengan wajah yang tidak tahu harus menunjukkan ekspresi apa.

Kursi di sebelah kananku, di antara aku dan Bu Wulan, masih kosong. Kursi Luna. Dia sedang menyalami tamu di pintu ballroom.

Aku menoleh ke pojok kanan ballroom.

Meja dua belas masih ada di sana. Dekat pintu dapur hotel. Taplak putih yang sama.

Dan di sekelilingnya, dengan kemeja batik seragam perusahaan yang baru disetrika, duduk paguyuban Meja 12.

Pak Udin. Mas Jono. Pak Slamet dengan minyak kayu putih di saku kemejanya. Tiga sopir lain. Dan Mbok Darmi, dengan kerudung ungu pengajiannya, yang menolak duduk di mana pun selain di meja dua belas.

Luna sudah menyiapkan meja dua untuk mereka. Meja tepat di sebelah meja satu, di depan, dekat panggung. Dara sudah mencetak kartu nama mereka dengan huruf emas di atas karton krem.

Mereka menolak.

“Meja dua belas itu meja keramat, Bu,” kata Pak Udin kepada Luna kemarin sore, di dapur rumah Menteng, dengan wajah sangat serius. “Di situ paguyuban lahir. Di situ Mas Radit pertama kali duduk sama kami. Kami nggak mau pindah. Kami mau lihat Mas Radit dari situ, dari tempat yang sama, waktu dia duduk di meja satu.”

Luna tidak membantah. Dia menyuruh Dara memindahkan semua kartu nama mereka kembali ke meja dua belas.

Pak Slamet melihatku menoleh. Dia mengangkat tangannya yang gemetar dan melambai. Lalu Mas Jono melambai. Lalu Pak Udin mengangkat ponselnya, memotret ke arahku, dan aku tahu foto itu akan masuk ke grup dalam waktu tiga detik.

Luna datang ke meja satu pukul tujuh lewat lima belas.

Dia memakai gaun hitam sederhana, dengan kalung mutiara almarhumah Nenek. Gaun yang sama yang dia pakai di gala dua tahun lalu. Rambutnya disanggul rendah. Di jari manis kirinya, cincin emas putih tanpa ukiran.

Dia berjalan menyeberangi ballroom, melewati meja-meja bundar dan tamu-tamu yang menyalaminya, dan untuk satu momen, aku tidak bisa mendengar apa pun selain detak jantungku sendiri.

Dia cantik.

Aku sudah melihatnya cantik dengan seratus cara yang berbeda. Di tanah merah proyek Bekasi dengan es teh di tangan, sembilan tahun lalu, waktu aku masih anak magang di atas perancah. Di lorong hotel di Melbourne, dengan mata merah dan tangan yang menamparku. Di sofa rumah Menteng dengan blazer hitam, tertidur dalam keadaan menungguku. Di pematang sawah dengan satu kaki berlumpur. Di peron stasiun pukul lima pagi. Di tikar pandan dengan kebaya putih gading.

Malam ini, dengan gaun hitam yang sama, di ballroom yang sama, dia berjalan ke meja satu, ke arahku, dan dia cantik dengan cara yang membuatku mengerti kenapa dua tahun lalu aku hanya berani menatapnya dari meja dua belas.

Karena dari jarak sedekat ini, aku tidak akan pernah bisa berhenti.

Dia duduk di sebelahku. Tangannya menemukan tanganku di bawah taplak putih.

“Kamu lihat Meja 12?” bisiknya.

“Mereka nolak pindah.”

“Aku tahu.” Dia tersenyum. “Pak Udin bilang meja keramat.”

Pukul delapan, giliran Luna berpidato.

Dia naik ke panggung kecil di depan ballroom. Lampu sorot jatuh di wajahnya. Dia memegang podium kayu yang sama, dengan tangan yang tidak lagi gemetar.

Dia memulai. Sejarah perusahaan. Ucapan terima kasih kepada mitra. Pencapaian tahun ini. Proyek Surabaya yang selesai lebih cepat dari jadwal. Yayasan Darno Darmawan yang sudah menerima tiga ratus pendaftar di bulan pertama, kebanyakan anak-anak tukang bangunan dari Klaten, Boyolali, dan Brebes.

Lalu dia sampai di paragraf terakhir.

Paragraf tentang Kakek.

Aku menahan napas. Dua tahun lalu, di podium yang sama, suaranya berhenti di paragraf ini. Dia tidak sanggup mengucapkan nama Kakek. Seluruh ballroom harus berdiri dan bertepuk tangan untuk memberinya waktu. Dan aku, dari meja dua belas, mengirim segelas air lewat pelayan hotel, karena itu satu-satunya hal yang boleh kulakukan.

Malam ini, aku melihat tangannya di atas podium. Tenang.

“Kakek saya membangun perusahaan ini dari satu proyek rumah tipe 36 di Bekasi,” katanya.

Suaranya tidak berhenti.

“Empat puluh tahun yang lalu. Bata pertama rumah itu dipasang oleh seorang tukang batu bernama Darno. Kakek saya bilang, pasangan bata Pak Darno lurus seperti penggaris. Kakek saya bilang, kalau bukan karena bata-bata Pak Darno, Adisurya Group tidak akan pernah ada.”

Ballroom itu sunyi.

“Pak Darno meninggal dua puluh tahun yang lalu. Jatuh dari perancah, di proyek orang lain.” Luna berhenti sebentar. Bukan karena suaranya pecah. Karena dia memilih untuk berhenti. Dia menatap ke arah meja satu. Ke arahku. “Anaknya sekarang duduk di meja satu.”

Semua kepala di ballroom menoleh.

“Ini suami saya,” kata Luna, menatapku dari podium. “Raditya Prasetya. Anak Pak Darno. Insinyur sipil. Orang yang menyelamatkan proyek Kemang tanpa namanya tercatat. Orang yang menjaga kakek saya di tiga minggu terakhir hidupnya, ketika saya tidak ada. Orang yang dua tahun lalu duduk di meja dua belas, karena saya yang menaruhnya di sana.”

Dia menatap ke pojok kanan ballroom. Ke meja dua belas. Ke paguyuban yang sekarang berdiri semua, dengan Mbok Darmi di tengah mereka.

“Dan dia tidak malu duduk sama sopir,” lanjut Luna. “Saya yang seharusnya malu. Dan saya sudah belajar.”

Dia turun dari podium.

Tidak ada yang bertepuk tangan selama dua detik.

Lalu, dari pojok kanan ballroom, seseorang mulai bertepuk tangan. Pelan. Satu orang.

Pak Slamet. Dengan tangannya yang gemetar.

Lalu Pak Udin. Lalu Mas Jono. Lalu Mbok Darmi, menangis dengan kerudung ungu. Lalu seluruh meja dua belas, berdiri, bertepuk tangan. Lalu meja sebelas. Lalu Pak Karto dan mandor-mandor tua yang duduk di meja tujuh, yang dulu bekerja bersama bapakku di proyek pertama, berdiri dengan mata basah. Lalu Bu Ratih, berdiri tegak di meja satu, bertepuk tangan dengan wajah datar dan pipi yang basah. Lalu seluruh ballroom.

Persis seperti dua tahun lalu. Tapi terbalik.

Dua tahun lalu, meja dua belas berdiri untuk memberinya waktu. Malam ini, seluruh ballroom berdiri untuk memberi nama kepada orang yang dulu duduk di meja dua belas.

Luna kembali ke meja satu. Dia tidak duduk di kursinya. Dia berdiri di sebelahku, dan mengulurkan tangannya.

“Ayo,” katanya.

“Ke mana?”

“Meja dua belas. Mereka keramat. Kita harus ke sana.”

Kami duduk di meja dua belas sampai acara selesai.

Kursi tambahan dari dapur hotel, kursi plastik yang dibawakan pelayan dengan wajah bingung. Luna duduk di antara Pak Slamet dan Mbok Darmi. Aku duduk di antara Pak Udin dan Mas Jono. Pak Slamet memotong daging di piring Luna kecil-kecil tanpa ditanya, dengan tangan yang gemetar, karena dulu Mas Radit yang motongin buat saya, sekarang giliran saya.

Pukul sepuluh, kami pulang dengan Mercedes hijau tua milik Kakek, disetir Pak Udin, dengan Pak Slamet di kursi depan memegang minyak kayu putih. Luna tertidur di bahuku di kursi belakang, tempat Kakek dulu duduk.

Aku menatap lampu-lampu Thamrin lewat jendela mobil yang berembun.

Dua tahun lalu, aku menyetir motor pulang sendirian dari ballroom ini, dengan noda kuah semur di batik satu-satunya, dan satu-satunya yang kupikirkan adalah apakah dia sudah makan malam yang benar.

Malam ini, dia tertidur di bahuku. Napasnya pelan dan teratur. Tangannya menggenggam tanganku di atas jok kulit yang sudah tua. Di jari manis kirinya, cincin emas putih tanpa ukiran.

Mobil berhenti di depan rumah Menteng. Pak Udin turun dan membukakan pintu belakang.

Luna bangun, setengah sadar, dan menatap rumah besar di depan kami. Lampu teras menyala. Lampu ruang tengah menyala. Mbok Darmi, yang pulang lebih dulu dengan taksi, pasti sudah menyalakannya.

Dia menggandeng tanganku dan menarikku keluar dari mobil.

Kami berjalan ke rumah itu. Melewati carport. Melewati pintu samping di dekat garasi, pintu kecil yang selama sepuluh bulan kulewati setiap pagi dan setiap malam.

Dia tidak berhenti di sana. Dia tidak menoleh ke sana.

Dia membawaku ke pintu depan.

Pintu kayu jati besar dengan gagang kuningan yang sudah sedikit kusam. Dia membukanya. Dia menarikku masuk. Dan sebelum pintu itu menutup di belakang kami, dia berbalik dan menatapku di ambang pintu, di bawah lampu teras yang kuning, dengan gaun hitam dan mata yang masih mengantuk.

“Selamat datang di rumah, Mas,” katanya.

Aku menatapnya.

Dulu, di luar rumah ini, aku bukan siapa-siapa. Teman. Asisten. Orang yang bantu-bantu. Harga yang Kakek bayar. Laki-laki di kamar belakang yang masuk lewat pintu samping, yang duduk di meja dua belas, yang namanya tidak tercatat di laporan dan di struk PMI.

Malam ini, aku berdiri di ambang pintu depan, dengan batik cokelat tua yang sama, dan perempuan yang dulu menamparku menggandeng tanganku masuk.

Di luar rumah, aku dulu bukan siapa-siapa.

Di mana pun dia berdiri sekarang, di situ aku pulang.

— Tamat —