Chapter Six

Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi

POV: Radit

Aku lupa ulang tahunku sendiri.

Itu bukan pertama kali. Tahun lalu aku juga lupa, karena hari itu Kakek baru menjalani kemoterapi pertamanya dan aku menghabiskan dua belas jam di kursi plastik ruang tunggu RS Medistra, mengisi formulir asuransi dan menelepon dokter. Tahun sebelumnya aku ingat, tapi hanya karena Kakek memanggilku ke ruang kerjanya pukul lima sore dan menyodorkan amplop berisi tiket kereta ke Klaten. Pulang. Ibumu pasti masak.

Tahun ini, Ibu yang mengingatkan.

Pukul lima pagi, sebelum azan subuh, ponselku bergetar. Pesan suara dari Klaten.

“Le. Sugeng ambal warsa. Ibu sudah masak sayur lodeh, tapi kamu nggak di sini, jadi Ibu makan sama Tole. Tole nanya kenapa Om Radit nggak pulang. Ibu bilang Om lagi kerja. Le, kamu makan yang bener, ya. Jangan mikirin orang lain terus. Pikirin dirimu juga sekali-sekali.”

Aku mendengarkan pesan itu tiga kali sambil duduk di tepi kasur di kamar tamu dekat dapur, lalu berangkat kerja.

Hari itu biasa saja. Aku mengecek gambar kerja jembatan penyeberangan di Cawang. Aku makan siang nasi rames di warteg dekat kantor. Dimas, rekan kerjaku, tidak tahu hari ini ulang tahunku, dan aku tidak memberitahunya.

Paguyuban Meja 12 tahu.

Aku tidak tahu bagaimana mereka tahu. Pukul sepuluh pagi, grup itu meledak.

Pak Udin: SELAMAT ULANG TAHUN MAS RADIT 🎂🎂🎂

Mas Jono: Panjang umur Mas! Kapan traktir angkringan?

Pak Slamet: [pesan suara 0:47]

Pesan suara Pak Slamet berisi empat puluh tujuh detik dia menyanyikan Selamat Ulang Tahun dengan suara bergetar dan nada yang sama sekali tidak berhubungan dengan lagu aslinya, diiringi tepuk tangan cucunya di latar belakang. Aku memutarnya di toilet kantor supaya tidak ada yang melihatku menyeka mata.

Pak Udin: Mas, dari mana kami tahu? Dari KTP Mas yang fotokopinya ada di Pak Wiryo. Saya yang lihat waktu ambil berkas. Hehe.

Mas Jono: Pak Udin intel.

Pak Udin: Intel paguyuban.

Pukul enam sore, Pak Udin mengirim pesan pribadi. Bukan di grup.

Mas, Bu Kaluna malam ini ke pesta ulang tahun Pak Gilang. Di rooftop di Senopati. Saya yang antar. Pulang mungkin malam.

Aku menatap pesan itu.

Nggak apa-apa, Pak, balasku. Hati-hati nyetirnya.

Mas tahu Bu Kaluna tahu hari ini ulang tahun Mas? Mbok Darmi sudah bilang tadi pagi.

Aku tidak membalas yang itu.

Aku pulang pukul tujuh. Rumah gelap, kecuali lampu dapur.

Aku masuk lewat pintu samping, seperti biasa, dan berhenti di ambang pintu dapur.

Di meja kayu kecil dekat kompor, meja tempat Mbok Darmi biasa mengupas bawang dan tempat aku makan setiap malam, ada tumpeng.

Tumpeng kecil. Tingginya tidak sampai sejengkal, dicetak dengan corong dari daun pisang yang dilipat Mbok Darmi sendiri. Nasi kuningnya sedikit miring ke kiri. Di sekelilingnya, lauk-lauk kecil ditata dengan sangat hati-hati di atas daun pisang. Telur rebus dibelah dua. Tempe kering. Perkedel kentang, dua biji. Urap sayur. Ayam goreng satu potong, paha, karena Mbok Darmi tahu aku suka paha.

Di puncak tumpeng, ada lilin kecil bergaris-garis, jenis yang dijual sepuluh ribu satu pak di minimarket.

Mbok Darmi berdiri di sebelah meja dengan daster batik dan kerudung terbaiknya, kerudung ungu yang biasanya dia pakai hanya untuk pengajian. Tangannya memegang korek api.

“Selamat ulang tahun, Mas Radit,” katanya.

Aku tidak bisa bicara.

“Mbok nggak bisa bikin kue.” Mbok Darmi menyalakan lilin dengan tangan sedikit gemetar. “Jadi Mbok bikin tumpeng. Kecil. Mbok tahu Mas nggak suka yang besar-besar.”

Aku berjalan ke meja dan duduk di kursi plastik.

Lilin itu menyala, api kecilnya bergoyang karena angin dari pintu dapur yang masih terbuka. Mbok Darmi duduk di seberangku, seperti setiap malam, dan menatapku dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

“Tiup, Mas. Doa dulu.”

Aku memejamkan mata. Aku tidak tahu harus berdoa apa. Aku tidak pernah tahu harus berdoa apa untuk diriku sendiri. Jadi aku berdoa untuk Ibu di Klaten, untuk Tole, untuk Pak Slamet yang tangannya gemetar, untuk Mbok Darmi dengan kerudung ungunya.

Lalu, tanpa bisa kucegah, untuk perempuan yang sedang di rooftop di Senopati dan sudah tahu hari ini ulang tahunku.

Semoga dia makan malam yang benar.

Aku meniup lilin.

Mbok Darmi bertepuk tangan pelan, dua kali, seperti tepuk tangan di pengajian. Lalu dia memotong puncak tumpeng dan meletakkannya di piringku.

“Mbok sudah makan?”

“Belum. Mbok nunggu Mas.”

Kami makan berdua di meja kecil dekat kompor. Mbok Darmi bercerita tentang ulang tahun Mbak Kaluna waktu kecil, ketika almarhumah ibunya masih hidup dan rumah ini penuh balon. Tentang Kakek yang selalu memesan kue tart tiga tingkat dan menyuruh semua sopir ikut makan. Tentang tahun pertama setelah ibu Mbak Kaluna wafat, ketika Mbak Kaluna, umur sembilan, tidak mau keluar kamar di hari ulang tahunnya, dan Kakek duduk di depan pintu kamarnya sampai malam, membacakan dongeng dari balik pintu.

“Mas mirip Bapak,” kata Mbok Darmi tiba-tiba.

Aku berhenti mengunyah.

“Duduk di depan pintu,” lanjut Mbok Darmi pelan. “Nggak masuk. Cuma nunggu.”

Aku menunduk ke piring.

Pukul delapan, ponselku bergetar. Video call dari Klaten.

Wajah Tole memenuhi layar. Keponakanku, sembilan tahun, anak almarhumah kakak perempuanku, dengan gigi depan yang ompong dan rambut yang dipotong sendiri oleh Ibu dengan hasil yang meragukan.

“OM RADIT! SELAMAT ULANG TAHUN!”

“Matur nuwun, Le.”

“Tole mau nyanyi!”

Tole menyanyikan Selamat Ulang Tahun dengan suara yang jauh lebih fals dari Pak Slamet, sambil berjoget di depan kamera, dan di belakangnya aku melihat Ibu duduk di kursi rotan, tersenyum dan menyeka mata dengan ujung kerudung. Mbok Darmi ikut bertepuk tangan di sebelahku. Tole melihat Mbok Darmi di layar dan langsung bertanya dengan keras, “Itu siapa, Om? Istrinya Om?”

Mbok Darmi tertawa sampai terbatuk.

“Bukan, Le. Itu Mbok Darmi.”

“Terus istrinya Om mana?”

Hening sedetik.

“Lagi pergi,” kataku.

“Ke mana?”

“Ke pesta.”

Tole menatapku lewat layar dengan wajah bingung yang sangat jujur, wajah seorang anak sembilan tahun yang belum belajar bahwa ada pertanyaan yang sebaiknya tidak ditanyakan.

“Kok ulang tahun Om ditinggal ke pesta lain?”

Ibu mengambil ponsel dari tangan Tole. Wajahnya memenuhi layar sekarang. Dia tidak bertanya apa pun. Dia hanya menatapku dengan mata seorang ibu yang sudah tahu jawabannya.

“Le,” katanya. “Kamu sudah makan?”

“Sudah, Bu. Mbok Darmi bikinin tumpeng.”

Ibu menatap Mbok Darmi lewat layar. Dua perempuan tua dari dua kota berbeda, saling menatap dalam diam, dan aku tidak tahu apa yang mereka sampaikan satu sama lain, tapi Ibu mengangguk pelan dan berkata, “Matur nuwun, Mbok.”

“Sami-sami, Bu,” jawab Mbok Darmi.

Pukul sebelas lewat dua puluh, aku mendengar mobil masuk ke garasi.

Aku masih di dapur, mencuci piring. Mbok Darmi sudah tidur. Sisa tumpeng kubungkus daun pisang dan kumasukkan ke kulkas.

Pintu depan terbuka. Langkah sepatu hak di lantai marmer ruang tengah. Langkah yang sedikit tidak stabil, seperti orang yang terlalu lama berdiri atau terlalu banyak tertawa.

Dia melewati pintu dapur.

Pintu dapur terbuka, lampunya menyala, dan aku berdiri di depan wastafel dengan tangan basah. Dia pasti melihatku. Dia pasti melihat daun pisang di meja kecil dan lilin bergaris yang sudah dibuang ke tempat sampah di sudut, dengan sumbu hitam yang masih berbau.

Dia tidak menoleh.

Dia berjalan melewati pintu dapur dengan gaun hitam selutut dan sepatu hak di tangan kanan. Rambutnya digerai, sedikit berantakan karena angin rooftop. Wajahnya diterangi lampu dapur sesaat, satu detik, ketika dia lewat.

Dia cantik. Dia selalu cantik, tapi malam itu ada sesuatu yang lain. Riasannya sedikit luntur di sudut mata, pipinya merah karena udara malam atau sesuatu yang lain, dan bibirnya terkatup rapat seperti orang yang sedang menahan sesuatu. Cantik yang lelah. Cantik yang pulang dari pesta tapi tidak terlihat seperti orang yang baru bersenang-senang.

Dia naik tangga. Pintu kamarnya menutup.

Aku menyelesaikan cucian piringku.

Ponselku bergetar sekali lagi, pukul sebelas lewat tiga puluh. Bukan dari Klaten, bukan dari paguyuban. Notifikasi Instagram. Dinda, teman SMA Mbak Kaluna, mengunggah foto. Aku tidak mengikuti akun Dinda, tapi Pak Udin pernah mengirimkan tangkapan layarnya dengan pesan Mas, ini cewek yang suka bikin story soal Mas, dan sejak itu algoritma entah bagaimana menyodorkannya kepadaku.

Foto di rooftop. Lampu-lampu kota di belakang. Gilang memeluk bahu Mbak Kaluna dari samping, keduanya tersenyum ke kamera. Keterangannya: Birthday boy & the CEO 🥂 #oldflame.

Aku menatap foto itu lama.

Lalu aku mematikan ponsel, meletakkannya terbalik di meja kecil, dan menatap daun pisang yang tersisa.

Jangan mikirin orang lain terus, kata Ibu tadi pagi. Pikirin dirimu juga sekali-sekali.

Aku mencoba. Aku benar-benar mencoba, duduk sendirian di dapur rumah orang lain pada pukul setengah dua belas malam di hari ulang tahunku yang ketiga puluh dua.

Yang bisa kupikirkan hanyalah apakah dia sudah makan malam yang benar di pesta itu, atau cuma minum.

Aku membuka kulkas, mengeluarkan sepotong perkedel dari sisa tumpeng, membungkusnya dengan kertas minyak, dan meletakkannya di meja makan besar di ruang tengah. Di depan kursinya, bukan di kursi kosong Kakek. Tanpa catatan apa pun.

Paginya, perkedel itu sudah tidak ada.

Aku tidak tahu apakah dia memakannya atau membuangnya. Aku memutuskan untuk tidak mencari tahu.