Chapter Twenty Three
Nggih, Mbak
POV: Radit
Ibu tahu sebelum aku sampai di rumah.
Tentu saja Ibu tahu. Tole berlari dari sekolah ke rumah, tiga ratus meter, dalam waktu yang pasti memecahkan rekor kelasnya, dan berteriak di teras sebelum aku sempat menuruni perancah. Bu Darsih menelepon Ibu sepuluh menit kemudian. Mas Agus ojek menceritakannya di pangkalan ojek, dan pangkalan ojek adalah pusat penyebaran informasi paling efektif di seluruh Kecamatan Karanganom.
Ketika aku pulang pukul lima sore, Ibu sedang duduk di teras di depan mesin jahitnya, tapi tidak menjahit. Kain batik yang setengah jadi tergeletak di pangkuannya. Tangannya diam.
“Le,” katanya.
“Nggih, Bu.”
“Dia di kos Bu Darsih.”
“Nggih.”
Ibu menatapku. Dia sudah menatapku seperti itu sejak dua minggu lalu, sejak aku turun dari kereta di Stasiun Klaten pukul tiga sore dengan dua tas dan wajah yang menurut Ibu kayak orang habis ditinggal mati dua kali. Aku menceritakan semuanya malam itu. Semuanya. Melbourne, rumah sakit, akta, kamar sopir, rantang di tempat sampah, meja dua belas, harga yang Kakek bayar. Ibu mendengarkan sampai pukul dua pagi tanpa memotong sekali pun.
Lalu Ibu berdiri, masuk ke kamarnya, dan menutup pintu, dan aku mendengarnya menangis sampai subuh.
Paginya, Ibu memasak sayur lodeh dan tidak menyebut nama perempuan itu lagi.
“Kamu mau dia di sini?” tanya Ibu sekarang.
Aku tidak menjawab.
Ibu mengambil kain batik dari pangkuannya, merapikannya, dan meletakkannya di atas mesin jahit.
“Ibu nggak akan nyuruh kamu apa-apa, Le. Kamu sudah tiga puluh dua. Kamu tahu hatimu sendiri.” Dia berdiri. “Tapi Ibu mau bilang satu hal. Ibu nggak akan masak buat dia. Ibu nggak akan nyapa dia di pasar. Ibu nggak akan pura-pura nggak tahu apa yang dia lakuin ke anak Ibu.”
“Bu—”
“Itu hak Ibu, Le.” Suaranya bergetar. “Kamu boleh maafin dia. Kamu boleh apa saja. Tapi Ibu yang melahirkan kamu. Ibu boleh sakit hati.”
Dia masuk ke dalam rumah.
Selama seminggu, dia datang ke sekolah setiap hari.
Tidak untuk bicara. Dia tidak pernah lagi berdiri di gerbang dan memanggil namaku. Dia datang pukul sebelas, setelah selesai rapat video dari kamar kosnya, menurut laporan Bu Darsih yang disampaikan lewat Ibu yang disampaikan lewat Tole. Dia duduk di bangku kayu di bawah pohon ketapang, di sudut halaman yang paling teduh, dengan laptop di pangkuan dan topi kain lebar yang dia beli di pasar.
Dia bekerja. Membalas email, rapat video dengan kamera mati, membaca dokumen. Sesekali dia mendongak dan menatap ke arah perancah. Lalu dia menunduk lagi ke laptop.
Dia tidak mendekat. Dia tidak mengajakku bicara. Dia tidak membawa apa pun.
Dia hanya ada di sana.
Hari ketiga, matahari pukul dua siang menembus celah daun ketapang dan jatuh tepat di wajahnya. Dia tidak pindah. Dia hanya menarik topi kainnya lebih rendah, miring ke satu sisi, dan terus mengetik.
Dari atas perancah, aku melihat pipinya mulai memerah. Hari keempat, hidungnya ikut memerah. Hari kelima, ada garis terbakar matahari di tengkuknya, di antara kerah kemeja dan rambut yang dia ikat tinggi supaya tidak gerah. Kulit Jakarta yang tidak terbiasa dengan matahari Klaten.
Dan dia tetap cantik.
Mungkin bahkan lebih cantik dari di ballroom, dari di rumah sakit, dari di lantai tujuh proyek Kemang. Cantik yang sama sekali tidak dia usahakan. Rambut yang diikat asal, topi kain yang miring, kemeja katun yang lengannya digulung, hidung yang merah karena matahari. Dia duduk di bangku kayu di bawah pohon ketapang di halaman SD Negeri di sebuah desa di Klaten, jauh dari kursi Kakek dan meja oval sepanjang dua belas meter, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia terlihat seperti seseorang yang tidak sedang berperang dengan apa pun.
Aku memaku reng terlalu keras. Pakunya bengkok. Aku harus mencabutnya dan memaku ulang.
“Mas,” kata Pak Karyo, tukang tua di bawah perancah, sambil terkekeh. “Kalau mau lihat, turun saja. Paku nggak salah apa-apa.”
Aku tidak turun.
Hari keenam, pukul dua siang, ada sebotol air mineral dingin di kaki perancah.
Embunnya masih menetes. Botol itu diletakkan di atas balok kayu, di tempat yang pasti kulihat ketika turun. Pak Karyo menunjuknya dengan dagu sambil tersenyum lebar.
“Dari Mbak’e, Mas.”
Aku menoleh ke bangku kayu di bawah pohon ketapang. Dia sedang menatap laptop, pura-pura sangat sibuk, tapi telinganya merah.
Aku mengambil botol itu. Aku tidak membukanya.
“Nggih, Mbak,” kataku ke arah bangku itu, cukup keras untuk terdengar. “Matur nuwun.”
Sopan. Berjarak. Seperti yang selalu kuucapkan di rumah Menteng.
Dia mengangguk tanpa mengangkat wajah. Aku melihat bahunya turun sedikit, seperti seseorang yang baru saja menerima jawaban yang sudah dia duga tapi tetap berharap salah.
Botol itu kuletakkan di samping ember semen. Sampai sore, aku tidak meminumnya, dan tidak bisa berhenti meliriknya.
Tole adalah masalah.
Tole, keponakanku yang berumur sembilan tahun, memutuskan dalam waktu dua hari bahwa Mbak Jakarta adalah orang paling menarik yang pernah datang ke Desa Karanganom. Dia mendatangi bangku kayu itu setiap jam istirahat, duduk di sebelahnya, dan bertanya semua hal.
Di Jakarta ada sawah nggak? Mbak pernah naik pesawat? Kenapa hidung Mbak merah? Kenapa Mbak nggak ngomong sama Om Radit?
Aku mendengar pertanyaan terakhir itu dari atas perancah. Seluruh halaman mendengarnya. Tole tidak pernah belajar bicara pelan.
Aku tidak mendengar jawabannya. Dia menjawab sangat pelan, menunduk ke arah Tole, dan Tole mengangguk dengan wajah serius.
Malamnya, di meja makan, Tole menyampaikan laporannya.
“Om. Mbak Jakarta bilang dia nggak ngomong sama Om karena dia takut Om pergi lagi.”
Ibu berhenti menyendok nasi.
Aku menatap piringku.
“Terus Tole bilang, Om nggak akan pergi, Om kan lagi bikin perpustakaan, belum selesai.” Tole mengunyah tempe dengan puas. “Terus Mbak Jakarta senyum. Tapi senyumnya kayak mau nangis. Mbak Jakarta aneh, Om.”
Hari kelima, Mbok Darmi mengirim pesan.
Mbok Darmi tidak pernah mengirim pesan. Mbok Darmi menelepon, karena menurutnya mengetik di layar ponsel bikin matanya pedas. Tapi malam itu, pukul sembilan, sebuah pesan dari nomor Mbok Darmi masuk, dengan ejaan yang berantakan dan banyak titik.
Mas. Mbok mau lapor. Mbak Luna belajar masak garang asem sebelum berangkat. Gosong 6 kali. Yang ke 7 keasinan. Yang ke 8 lumayan. Mbak Luna nangis waktu yang ke 8 lumayan. Mbok juga nangis. Sekian laporan Mbok. Jangan bilang Mbok yang lapor.
Aku membaca pesan itu di kamarku, kamar masa kecilku di rumah Ibu dengan dinding papan dan poster tim sepak bola yang sudah menguning.
Gosong enam kali.
Aku membayangkan dia di dapur rumah Menteng. Di depan kompor enam tungku, memakai celemek, dengan Mbok Darmi di sebelahnya. Perempuan yang dulu menuang teh ke wastafel di depanku, memasak garang asem delapan kali, menangis ketika yang kedelapan lumayan.
Aku tidak tahu harus merasakan apa.
Aku tertawa. Pelan. Sendirian di kamar masa kecilku. Lalu tawa itu berhenti, dan aku duduk di tepi kasur menatap dinding papan, dan sesuatu yang sudah kutahan sejak dia berdiri di gerbang sekolah dengan koper dan ransel naik ke tenggorokanku.
Aku takut.
Bukan takut dia pergi. Aku sudah siap dia pergi. Aku sudah siap sejak malam akad, sejak akta di kantor Pak Wiryo, sejak tiga ratus delapan belas hari yang kuhitung satu per satu.
Aku takut dia tinggal karena alasan yang salah.
Dia sudah membaca map biru. Dia sudah tahu tentang Melbourne, tentang rumah sakit, tentang darah, tentang kartu-kartu latihan. Tentu saja dia datang. Siapa pun akan datang setelah tahu semua itu. Siapa pun akan merasa bersalah. Siapa pun akan merasa berutang.
Dan aku tidak mau menjadi utang.
Dan sekarang dia di sini, di kos Bu Darsih yang kamar mandinya pakai gayung, dengan hidung terbakar matahari dan garang asem yang gosong enam kali, dan aku tidak tahu apakah dia di sini karena dia ingin, atau karena dia merasa harus.
Kalau dia tetap benci kamu, lepaskan, kata Kakek.
Dia tidak benci aku lagi. Itu yang membuatku takut. Karena aku tahu cara menghadapi kebenciannya. Aku sudah berlatih sepuluh bulan.
Aku tidak tahu cara menghadapi rasa bersalahnya.
Hari ketujuh, sore hari, aku melihatnya di pasar.
Aku sedang membeli paku dan semen di toko bangunan di ujung pasar. Dia ada di lapak sayur di seberang jalan, di depan seorang ibu penjual tempe, dengan dompet di tangan dan wajah yang sangat bingung.
Ibu penjual tempe bicara bahasa Jawa dengan cepat, menyebut harga dalam krama yang dicampur ngoko. Dia menjawab dengan bahasa Indonesia yang terlalu formal. Ibu penjual tempe mengulang. Dia mengangguk, mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu, dan ibu penjual tempe menatap uang itu seperti melihat uang mainan, karena tempe tiga papan harganya sembilan ribu dan tidak ada kembalian.
Dia berdiri di sana dengan uang lima puluh ribu di tangan, tidak tahu harus berbuat apa, dengan topi kain miring dan hidung merah, dan tiga ibu-ibu lain yang antre di belakangnya mulai berbisik.
Kakiku sudah bergerak setengah langkah ke arah jalan.
Aku berhenti.
Aku bisa menyeberang dan membayar tempe itu dalam tiga puluh detik. Itu yang selalu kulakukan. Menyelesaikan masalahnya sebelum dia sadar ada masalah.
Tapi kalau aku menyeberang sekarang, dia akan berterima kasih. Dan dia akan merasa berutang lagi. Satu lagi. Ditambahkan ke tumpukan yang sudah setinggi gunung.
Aku berdiri di depan toko bangunan dengan kantong paku di tangan, dan aku tidak menyeberang.
Di seberang jalan, dia menunduk ke dompetnya. Dia mencari-cari. Lalu dia mengeluarkan sesuatu. Uang receh, koin-koin perak, yang dia hitung satu per satu di telapak tangannya dengan dahi berkerut, sambil bergumam angka-angka dalam bahasa Indonesia. Lima ratus. Seribu. Seribu lima ratus.
Ibu penjual tempe menunggu dengan sabar. Tiga ibu-ibu di belakangnya juga menunggu.
Delapan ribu lima ratus. Kurang lima ratus.
Dia mendongak dengan wajah putus asa.
Ibu penjual tempe tertawa, mengibaskan tangan, dan berkata sesuatu yang membuat ibu-ibu di belakangnya ikut tertawa. Lalu dia mengambil koin-koin itu dari telapak tangannya, memasukkan tiga papan tempe ke kantong plastik, dan menambahkan satu papan lagi.
Dia menatap kantong plastik itu. Empat papan tempe untuk delapan ribu lima ratus.
“Matur nuwun, Bu,” katanya.
Logatnya kaku. Pengucapannya salah. Huruf t di matur terlalu tajam, seperti orang Jakarta yang menirukan bahasa Jawa dari film.
Tapi ibu penjual tempe tersenyum lebar.
Dia berbalik dengan kantong tempe di tangan, dan matanya menemukan mataku di seberang jalan.
Kami saling menatap. Di antara kami, sepeda motor dan becak dan gerobak sayur lewat. Debu pasar. Suara pedagang. Ayam yang lepas dari kandang.
Dia tidak tersenyum. Dia tidak melambai. Dia hanya menatapku dengan wajah merah karena matahari dan malu, dan mengangkat kantong plastik berisi tempe itu sedikit, seperti menunjukkan sesuatu yang baru saja berhasil dia lakukan sendiri.
Aku mengangguk. Sekali.
Lalu dia berjalan pulang ke arah kos Bu Darsih, dan aku berdiri di depan toko bangunan sampai dia menghilang di tikungan.
“Mas,” kata penjaga toko bangunan di belakangku. “Pakunya mau dibayar sekarang atau mau dilihatin terus?”
Malam itu, aku mengetik pesan untuk Mbok Darmi. Mengetik, menghapus, mengetik lagi.
Mbok. Laporan diterima. Dia beli tempe di pasar hari ini. Kurang lima ratus. Ibu penjualnya kasih bonus satu papan.
Aku menatap pesan itu lama. Lalu aku menambahkan satu baris.
Dia bilang matur nuwun. Salah ucap. Tapi dia bilang.
Aku mengirimnya sebelum bisa berubah pikiran.
Balasan Mbok Darmi datang tiga menit kemudian. Bukan teks. Pesan suara, empat detik. Isinya hanya suara Mbok Darmi tertawa sambil menangis.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak reading
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu