Chapter Twenty One
Melati di Hari Jumat
POV: Kaluna
Aku belum pernah ke makam Kakek.
Hampir sebelas bulan, kalau dihitung dari hari aku menginjakkan kaki lagi di Jakarta. Aku tidak pernah sekali pun pergi ke TPU Karet Bivak.
Aku punya banyak alasan. Rapat direksi. Proyek Kemang. Audit kontraktor. Arisan. Aku bilang kepada Mbok Darmi bahwa aku akan pergi di akhir pekan, lalu akhir pekan berikutnya, lalu Lebaran, lalu setelah Lebaran. Aku memesan nisan granit hitam dari Melbourne lewat telepon, sebelum pulang, dan aku tidak pernah melihatnya terpasang. Aku tidak tahu siapa yang memasangnya. Aku tidak pernah bertanya.
Alasan sebenarnya hanya satu. Aku tidak sanggup berdiri di depan makam Kakek dan menyadari bahwa itu satu-satunya cara yang tersisa untuk bertemu dengannya, dan aku sudah melewatkan cara-cara lain.
Jumat pagi, pukul lima tiga puluh, aku berdiri di depan gerbang TPU Karet Bivak.
Langit masih abu-abu. Lampu jalan belum padam. Pedagang bunga tabur sudah menggelar dagangannya di trotoar, di atas terpal plastik, dengan ember-ember berisi mawar merah, mawar putih, kenanga, dan melati yang wanginya menyebar sampai ke tengah jalan.
Aku tidak tahu harus membeli apa. Aku tidak tahu bunga apa yang Kakek suka. Aku tidak pernah bertanya itu juga.
Perempuan tua yang menjaga lapak paling ujung menatapku. Rambutnya putih semua, diikat sanggul kecil, dengan kebaya lusuh dan kain jarik. Dia menatap blazerku, sepatuku, wajahku yang pasti terlihat seperti orang yang tidak tidur.
“Bunga, Mbak?”
“Iya, Bu. Saya... saya nggak tahu mau yang mana.”
“Buat siapa?”
“Kakek saya.”
Perempuan tua itu memiringkan kepala. “Makamnya di blok mana?”
Aku menyebutkan blok dan nomor yang kubaca dari surat keterangan pemakaman di map biru. Perempuan tua itu terdiam sebentar. Lalu matanya membesar sedikit.
“Pak Darmawan?”
“Ibu kenal?”
“Saya nggak kenal Bapaknya, Mbak. Saya kenal yang tiap Jumat ke sana.” Dia mengambil segenggam melati dari ember, membungkusnya dengan daun pisang, dan menambahkan segenggam lagi. “Mas-mas tinggi, pakai helm motor. Dari pertama Bapak dimakamkan, tiap Jumat jam enam pagi, beli melati. Melati saja, nggak mau yang lain. Katanya Bapaknya suka melati.”
Tanganku berhenti di tengah gerakan mengambil dompet.
“Jumat kemarin Masnya nggak datang,” lanjut perempuan tua itu, menyerahkan bungkusan daun pisang kepadaku. “Tapi melatinya tetap ada. Ada mas-mas lain yang beli. Kurus, pakai seragam sopir. Katanya dititipin.” Dia menatapku lebih lama. “Mbak ini istrinya Mas yang tinggi itu?”
Aku tidak bisa menjawab.
Perempuan tua itu menolak uangku. “Sudah dibayar, Mbak,” katanya. “Masnya bayar di muka. Tiga bulan. Katanya buat jaga-jaga kalau dia nggak bisa datang.”
Makam Kakek ada di blok yang teduh, di bawah pohon kamboja tua yang batangnya meliuk dan bunganya putih dengan bagian tengah kuning. Aku berjalan menyusuri jalan setapak di antara nisan-nisan dengan bungkusan melati di tangan, membaca nomor-nomor blok, sampai aku melihatnya.
Nisan granit hitam. Sederhana. Seperti yang kupesan dari Melbourne lewat telepon, dengan suara yang tidak tidur berhari-hari.
Darmawan Adisurya. Bin Soemitro.
Di bawah nama itu, tanggal lahir dan tanggal wafat. Dan di bawahnya lagi, satu baris yang tidak pernah kupesan.
Bapak bagi banyak orang.
Aku berlutut di tanah yang masih basah oleh embun.
Makam itu bersih. Tidak ada daun kering. Tidak ada rumput liar. Pinggiran keramiknya disikat sampai warna putihnya terlihat jelas. Seseorang merawatnya setiap minggu. Dengan tangan yang sangat telaten.
Dan di atas tanah makam, di depan nisan, ada melati.
Segar. Masih basah. Ditabur rapi membentuk garis lurus dari kaki makam sampai ke nisan, seperti seseorang yang menaburkannya dengan penggaris di dalam kepala.
Seseorang sudah datang pagi ini. Sebelum aku.
“Mbak?”
Aku menoleh.
Mas Jono berdiri di jalan setapak tiga meter di belakangku. Sopir direktur operasional, anggota paguyuban Meja 12, yang anaknya baru dipanggil wawancara kerja berkat CV yang ditulis di tisu. Dia memakai seragam sopir perusahaan dan memegang sapu lidi kecil di satu tangan dan ember plastik di tangan lain. Wajahnya pucat seperti orang yang tertangkap basah mencuri.
“Bu Kaluna,” katanya cepat. “Maaf, Bu. Saya... saya cuma bersihin. Saya nggak...”
“Mas Jono yang tabur melatinya?”
Dia menunduk. Meremas gagang sapu lidi.
“Iya, Bu. Mas Radit titip. Sebelum pulang ke Klaten, dia telepon saya. Katanya tiap Jumat tolong ke sini, beli melati di Mbok Sum, tabur, sapu sedikit. Katanya jangan sampai Bapak sendirian.”
Aku menatap melati di atas tanah makam.
“Dia bayar Mas Jono?”
“Nggak, Bu. Saya nggak mau dibayar.” Mas Jono mengangkat wajah. Matanya merah. “Dia nulis CV anak saya di tisu, Bu. Anak saya sekarang kerja di pabrik di Cikarang. Gaji pertamanya bulan lalu. Anak saya beliin saya sepatu.” Dia menunjuk sepatu hitam di kakinya, masih baru, masih mengilap. “Saya nggak akan ambil uang Mas Radit. Saya ke sini tiap Jumat sampai dia balik.”
Sampai dia balik.
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
Mas Jono tidak berkata apa-apa lagi. Dia meletakkan sapu lidi dan ember di samping makam, mundur beberapa langkah, dan berdiri di jalan setapak dengan kepala tertunduk, menunggu. Seperti para sopir di Meja 12 yang berdiri lebih dulu untuk bertepuk tangan ketika suaraku berhenti di podium.
Aku menaburkan melati yang kubawa di samping melati yang sudah ada. Tanganku gemetar, dan taburanku tidak lurus. Melatinya jatuh berantakan, tidak rapi seperti garis yang dibuat Mas Jono, tidak rapi seperti yang pasti dibuat laki-laki itu setiap Jumat selama sepuluh bulan.
Lalu aku duduk di tanah. Di samping nisan. Tidak peduli blazerku, tidak peduli tanah basah yang meresap ke celana kainku.
“Kek,” kataku.
Suaraku pecah di kata pertama.
“Kek, maaf. Aku baru datang. Sepuluh bulan. Aku nggak pernah datang. Aku pesan nisan dari jauh dan aku nggak pernah lihat siapa yang pasang. Aku pikir...” Napasku tersendat. “Aku pikir kalau aku nggak datang, Kakek belum benar-benar pergi.”
Pohon kamboja di atas kami bergoyang. Satu bunga jatuh di pangkuanku.
“Aku marah sama Kakek. Aku baru tahu kemarin. Kakek yang rebut ponselnya. Dua kali. Kakek yang bohong salah pencet. Kakek yang milih wisudaku.” Aku menekan bunga kamboja di pangkuanku dengan jari-jari yang dingin. “Aku marah, Kek. Aku marah banget. Tapi aku ngerti. Aku ngerti kenapa Kakek lakuin itu. Kakek kenal aku. Kakek tahu aku nggak akan balik.”
Aku menarik napas yang gemetar.
“Tapi Kek, bukan itu yang paling bikin aku sakit.” Air mataku jatuh ke atas melati. “Yang paling bikin aku sakit itu, selama ini aku benci orang yang salah. Dan dia biarin. Dia biarin aku benci dia. Karena dia tahu, kalau aku nggak benci dia, aku bakal benci diriku sendiri.”
Aku menatap nisan granit hitam itu.
“Dan dia benar, Kek. Sekarang aku benci diriku sendiri. Aku benci tanganku yang nampar dia. Aku benci mulutku yang bilang ini teman saya. Aku benci aku yang ketawa waktu teman-temanku niru logatnya. Aku benci aku yang buang rantang ibunya. Aku benci aku yang bilang dia harga yang Kakek bayar.” Suaraku hilang. “Aku benci semuanya, Kek. Dan ternyata Kakek benar juga. Rasanya jauh lebih berat.”
Lama aku duduk di sana. Matahari naik. Langit berubah dari abu-abu ke biru pucat. Mas Jono masih berdiri di jalan setapak, tidak bergerak, seperti penjaga.
Akhirnya aku mengusap wajahku dengan punggung tangan. Aku menyentuh nisan Kakek, permukaan granit yang dingin dan halus, di baris yang tidak pernah kupesan.
Bapak bagi banyak orang.
“Kakek,” bisikku. “Siapa yang nulis ini?”
Tentu saja aku tahu jawabannya.
Aku berdiri. Lututku kotor oleh tanah basah. Aku menoleh ke Mas Jono.
“Mas Jono. Dia di Klaten, kan? Di rumah ibunya?”
Mas Jono mengangguk pelan. “Iya, Bu. Pak Udin punya alamatnya. Desa Karanganom. Dekat SD yang atapnya dia benerin.”
“Mas Jono tahu kereta ke Klaten jam berapa aja?”
Mas Jono menatapku. Lama. Lalu, pelan-pelan, sesuatu berubah di wajahnya. Seperti seseorang yang sudah menunggu sangat lama untuk mendengar pertanyaan itu.
“Banyak, Bu,” katanya. Suaranya bergetar. “Tiap hari ada. Paling pagi jam enam kurang seperempat. Dari Gambir.”
Sama dengan kereta yang dia naiki.
Aku pulang ke rumah Menteng pukul delapan pagi dengan lutut kotor dan wajah yang bengkak.
Mbok Darmi sedang di dapur. Dia menoleh ketika aku masuk lewat pintu samping. Pintu samping, bukan pintu depan. Aku tidak tahu kenapa aku memilihnya. Kakiku yang membawa.
Mbok Darmi melihat lututku yang kotor oleh tanah makam. Dia melihat bunga kamboja yang masih kugenggam. Dia tidak bertanya ke mana aku pergi.
“Mbok,” kataku.
“Dalem, Mbak.”
“Ajarin aku masak.”
Mbok Darmi meletakkan sendok sayur di atas tutup panci. Pelan.
“Masak apa, Mbak?”
Aku menatap rak di seberang ruangan. Rantang biru berbunga putih di samping cangkir-cangkir porselen bunga biru. Rantang yang kubuang ke tempat sampah pantri. Rantang yang dia pungut, cuci di wastafel pantri di depan empat staf, dan bawa pulang. Rantang yang dia tinggalkan di sini, mungkin suatu hari ada yang butuh.
“Semua yang dia suka,” kataku. “Garang asem. Tempe bacem. Sayur lodeh. Opor. Semuanya. Yang selama ini Mbok salah masak.”
Mbok Darmi menatapku lama.
Lalu wajahnya, wajah tua yang penuh garis yang sudah melihatku tumbuh dari bayi, perlahan berubah. Matanya basah, tapi bibirnya tersenyum. Senyum yang belum pernah kulihat sejak Kakek wafat.
Dia mengambil celemek kedua dari gantungan di balik pintu dapur. Celemek lama berwarna biru pudar, dengan gambar bunga yang sudah hampir hilang. Celemek almarhumah Ibu.
Dia mengikatkannya di pinggangku sendiri, dari belakang, dengan simpul yang sangat kencang.
“Kita mulai dari garang asem, Mbak,” katanya. “Yang paling susah. Biar Mbak tahu rasanya salah masak berkali-kali.”
Aku mengangguk.
Malam itu, aku mencoret kalender yang baru, yang menghitung hari sejak dia pergi.
Angka tujuh.
Di bawahnya, dengan spidol merah yang sama, aku menulis sesuatu yang belum pernah kutulis di kalender mana pun.
Klaten. Secepatnya.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat reading
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu