Chapter Twenty Two
Kos Bu Darsih
POV: Kaluna
Bu Ratih meletakkan kopi di mejaku lagi pada hari Senin.
Pukul delapan pagi. Cangkir putih yang sama, kopi hitam yang sama, diletakkan di sudut kanan mejaku dengan gerakan yang sama. Sepuluh hari tanpa kopi, dan pagi itu kopinya kembali, tanpa penjelasan.
Aku menatap cangkir itu. Lalu menatap Bu Ratih.
“Saya mau kerja dari kantor cabang Jogja, Bu,” kataku. “Empat bulan. Mungkin lebih.”
Bu Ratih tidak menunjukkan ekspresi apa pun. “Untuk alasan bisnis, Bu?”
“Bukan.”
Dia diam sebentar. Lalu dia mengangguk sekali, pelan.
“Rapat direksi bisa lewat video. Tanda tangan bisa digital. Proyek Surabaya bisa saya pegang sementara.” Dia membalik halaman buku catatannya seperti sedang membaca daftar belanja. “Kantor cabang Jogja punya satu ruangan kosong di lantai dua. AC-nya rusak, tapi jendelanya menghadap sawah. Bapak dulu suka ruangan itu.”
“Makasih, Bu Ratih.”
Dia sudah di ambang pintu ketika dia berhenti.
“Bu Kaluna.”
Aku menunggu.
“Klaten dari Jogja empat puluh menit naik motor,” katanya, tanpa menoleh. “Kalau naik mobil kantor, satu jam karena macet di Prambanan. Saya sarankan motor.”
Dia keluar. Aku duduk di kursi Kakek dan meminum kopi hitam itu sampai habis, dan rasanya lebih pahit dari biasanya, dan aku tidak peduli.
Aku naik kereta pukul lima empat puluh lima dari Gambir hari Rabu.
Kereta yang sama. Gerbong yang mungkin sama. Aku tidak tahu nomor kursinya, jadi aku tidak bisa duduk di kursi yang sama, tapi aku memilih kursi dekat jendela di sisi kiri, karena Pak Udin bilang dia selalu duduk di sisi kiri supaya bisa melihat matahari terbit di Karawang.
Aku melihat matahari terbit di Karawang. Sawah-sawah yang berkabut, bangau putih yang berdiri di pematang, langit yang berubah dari ungu ke oranye ke kuning pucat. Aku tidak menangis. Aku sudah memutuskan di malam terakhir di rumah Menteng, setelah garang asem keenam yang gagal dan Mbok Darmi yang tertawa sampai terbatuk, bahwa aku tidak akan menangis lagi di depan siapa pun sampai aku pantas untuk menangis.
Aku membawa satu koper. Satu ransel. Dan satu kantong kain berisi celemek biru pudar milik almarhumah Ibu, yang dilipat Mbok Darmi dengan sangat rapi.
Pak Udin mengantarku ke stasiun. Di peron, dia memberiku selembar kertas.
Desa Karanganom, RT 03 RW 05. Rumah cat hijau, ada pohon mangga, ada mesin jahit di teras. SD Negeri 2 Karanganom di ujung jalan, 300 meter.
Di bawahnya, dengan tulisan tangan Pak Udin yang besar-besar:
Bu, jangan bilang dari saya. Saya cuma sopir.
Klaten panas.
Bukan panas Jakarta yang lembap dan berbau knalpot. Panas yang kering dan terang, yang membuat semua warna terlihat lebih tajam. Langit biru sekali. Sawah hijau sekali. Debu jalan cokelat keemasan di bawah matahari pukul dua siang.
Tukang ojek yang mengantarku dari stasiun bernama Mas Agus, dan dia bicara bahasa Jawa yang cepat dengan logat yang membuatku menangkap mungkin satu dari lima kata. Ketika aku menyebut SD Negeri 2 Karanganom, dia menoleh dengan senyum lebar.
“Oh, sekolahe Mas Radit!”
“Mas kenal?”
“Sedaya tiyang ngertos, Mbak. Semua orang tahu. Mas Radit yang benerin atap. Sekarang lagi bikin perpustakaan.” Mas Agus menyalakan motor. “Mbak sinten? Saudaranya?”
Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu jawabannya.
Sekolah itu kecil. Enam ruang kelas berjajar dalam satu baris panjang, dengan dinding yang dicat kuning cerah dan atap baja ringan yang masih baru, berkilau perak di bawah matahari. Halaman depannya tanah lapang dengan tiang bendera dan dua pohon ketapang besar. Di ujung kanan, di sebelah ruang kelas enam, ada bangunan baru yang masih setengah jadi. Dinding bata merah tanpa plester, rangka atap kayu, perancah bambu.
Dan di atas perancah bambu itu, dengan kaus abu-abu lusuh, topi kain yang sudah pudar, dan sarung tangan kerja, dia sedang memasang reng atap.
Aku berdiri di gerbang sekolah dengan koper di satu tangan dan ransel di punggung, dan aku tidak bisa bergerak.
Tiga belas hari. Itu yang tertulis di kalender spidol merah semalam. Tiga belas hari sejak dia pergi. Rasanya seperti tiga belas tahun.
Dia terlihat lebih kurus. Kulitnya lebih gelap terbakar matahari. Ada cambang tipis di rahangnya yang belum dicukur. Dia bekerja dengan gerakan yang tenang dan terampil, memaku reng ke kasau dengan tiga pukulan palu yang presisi, seperti tangannya sudah melakukannya ribuan kali.
Seorang tukang tua di bawah perancah melihatku lebih dulu. Dia menyenggol kaki perancah dengan ujung sandal dan berteriak sesuatu dalam bahasa Jawa.
Dia menoleh ke bawah. Ke arah yang ditunjuk tukang tua itu.
Ke gerbang sekolah.
Palu di tangannya berhenti di udara.
Dia turun pelan-pelan.
Tidak cepat. Tidak buru-buru. Dia melepas sarung tangannya satu per satu dan memasukkannya ke saku celana, melepas topinya dan mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan, lalu berjalan menyeberangi halaman sekolah yang berdebu ke arah gerbang. Para tukang di bawah perancah berhenti bekerja dan menonton. Anak-anak yang sedang bermain di bawah pohon ketapang berhenti berlari.
Dia berhenti dua meter di depanku. Jarak yang sopan.
“Mbak.”
Satu kata. Suaranya serak, seperti sudah lama tidak dipakai.
“Mbak ngapain di sini?”
Aku membuka mulut. Aku sudah menyiapkan kalimat ini selama sembilan jam di kereta. Aku sudah menulisnya di ponsel, menghapusnya, menulisnya lagi. Aku sudah berlatih di depan cermin kamar mandi kereta yang goyang. Semua kalimat yang sudah kusiapkan hilang begitu saja ketika aku melihat wajahnya dari dekat.
“Aku sudah buka map-nya,” kataku.
Dia diam.
“Surat Kakek. Akta. Struk PMI. Kartu-kartu latihan.” Suaraku mulai bergetar. Aku menekannya. Aku sudah berjanji tidak menangis. “Aku sudah ke Pak Wiryo. Ke Suster Ani. Ke makam Kakek. Aku sudah lihat video wisuda. Kamu di barisan belakang.”
Rahangnya mengeras. Matanya berpindah dariku ke tanah di antara kami.
“Aku ke sini,” kataku, “buat minta maaf.”
Dia tidak langsung menjawab. Matahari pukul dua siang memantul di atap seng gedung perpustakaan yang belum jadi. Di belakangnya, para tukang pura-pura sibuk mengaduk semen.
“Mbak nggak perlu minta maaf,” katanya akhirnya. Pelan dan sangat sopan.
“Aku perlu.”
“Nggak, Mbak.” Dia mengangkat wajahnya dan menatapku. Matanya tenang. Terlalu tenang, seperti air yang dalam. “Mbak nggak salah. Mbak nggak tahu. Itu bukan salah Mbak. Itu yang Bapak mau. Saya juga mau begitu. Jadi Mbak nggak perlu minta maaf, dan Mbak nggak perlu ke sini.”
“Radit—”
Itu pertama kalinya aku menyebut namanya langsung kepadanya. Selama sepuluh bulan, aku tidak pernah memanggilnya dengan nama. Aku menyebutnya dia, orang itu, teman saya. Tidak pernah Radit.
Dia mendengarnya. Aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya, sesuatu yang sangat cepat, yang langsung dia tekan kembali.
“Mbak pulang saja,” katanya. “Saya antar ke stasiun. Kereta sore ke Jakarta masih ada jam empat.”
“Aku nggak akan pulang.”
“Mbak—”
“Aku nggak akan pulang,” ulangku. “Aku kerja dari kantor cabang Jogja. Empat bulan. Aku sudah izin ke Bu Ratih. Aku nggak minta kamu maafin aku. Aku nggak minta kamu pulang. Aku nggak minta apa-apa.” Aku menelan ludah. “Aku cuma mau ada di sini.”
Dia menatapku lama.
Lalu dia menghela napas, panjang dan berat, dan mengalihkan pandangan ke perancah di belakangnya.
“Saya harus kerja, Mbak,” katanya. “Atapnya harus selesai sebelum musim hujan.”
Dia berbalik dan berjalan kembali ke perancah. Dia memakai sarung tangannya lagi, satu per satu. Dia memanjat. Dia mengambil palu.
Tiga pukulan. Satu reng terpasang.
Dia tidak menoleh lagi.
Kos Bu Darsih ada di belakang pasar, empat ratus meter dari sekolah.
Mas Agus yang menunjukkannya, setelah aku bertanya di mana ada tempat tinggal yang bisa disewa bulanan. Kos putri, Mbak. Murah. Bu Darsih galak tapi baik.
Bu Darsih ternyata perempuan bertubuh besar dengan suara yang bisa terdengar sampai ke ujung pasar, daster bunga-bunga, dan rol rambut di kepala yang tidak pernah dia lepas. Dia menatapku dari atas sampai bawah, menatap koper dan sepatuku, dan mengerutkan dahi.
“Mbak dari Jakarta?”
“Iya, Bu.”
“Kerja di mana?”
“Jogja.”
“Kenapa ngekos di Klaten?”
Aku tidak menjawab. Bu Darsih menatapku lebih lama, lalu matanya menyipit.
“Sampeyan istrinya Mas Radit, ya?”
Aku tidak tahu bagaimana dia tahu. Aku mulai curiga seluruh Klaten punya grup WhatsApp sendiri.
“Sebulan empat ratus ribu,” kata Bu Darsih tanpa menunggu jawabanku. “Kamar mandi di luar, dipakai bareng. Air dari sumur pakai pompa, kalau mati listrik ya nimba. Jam sepuluh malam pagar dikunci. Nggak boleh bawa laki-laki.” Dia berhenti. “Kecuali suami. Tapi suaminya harus bawa buku nikah.”
Kamarku tiga kali tiga meter. Kasur busa tipis di atas dipan kayu. Satu lemari plastik. Satu kipas angin kecil yang berderit setiap kali berputar. Jendela kecil yang menghadap kandang ayam tetangga.
Malam pertama, aku tidak bisa tidur karena panas.
Malam pertama, pukul tiga pagi, ayam jago tetangga berkokok tepat di bawah jendelaku, dengan volume yang tidak masuk akal untuk hewan seukuran itu. Aku terlonjak dari kasur busa dan hampir jatuh ke lantai semen.
Malam pertama, pukul lima pagi, aku antre kamar mandi di belakang tiga mahasiswi yang menatapku seperti melihat alien, karena aku membawa tas perlengkapan mandi berukuran sebesar koper kecil.
Kamar mandinya tidak punya pancuran. Ada bak air semen dan gayung plastik hijau.
Aku berdiri di depan bak itu dengan gayung di tangan selama dua menit penuh, tidak tahu harus mulai dari mana. Air sumurnya sangat dingin. Ketika gayung pertama menyentuh punggungku, aku menjerit, dan dari luar kamar mandi terdengar tawa para mahasiswi yang menunggu.
Pukul enam pagi, aku duduk di teras kos dengan rambut basah dan wajah yang masih merah karena malu, menatap jalan desa yang mulai ramai oleh orang-orang berangkat ke pasar.
Seorang anak laki-laki kecil berhenti di depan pagar kos.
Umurnya mungkin sembilan tahun. Seragam merah putih yang sedikit kebesaran. Gigi depan ompong. Rambut yang dipotong dengan hasil yang meragukan. Dia menatapku dengan mata bulat yang sangat penasaran.
Aku mengenali wajah itu. Dari layar ponsel, dari video call di hari ulang tahun yang kulewatkan, di kamar sopir di rumah Menteng, yang tidak pernah kulihat sendiri tapi diceritakan Mbok Darmi berkali-kali.
“Mbak,” kata anak itu. “Mbak dari Jakarta, ya?”
“Iya.”
“Mbak yang istrinya Om Radit?”
Aku menatapnya. Anak itu menatapku balik dengan kejujuran yang menakutkan.
“Iya,” kataku. Suaraku hampir tidak keluar.
Anak itu mengangguk, puas, seperti detektif yang kasusnya terpecahkan. Lalu dia memiringkan kepala.
“Kok Mbak baru datang? Om Radit sudah pulang dua minggu.”
Dia tidak menunggu jawabanku. Dia melambaikan tangan, berbalik, dan berlari ke arah sekolah sambil berteriak kepada teman-temannya di ujung jalan, dengan suara yang pasti terdengar sampai ke perancah bambu di ujung sana:
“MBAK JAKARTA SUDAH DATANG!”
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih reading
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu