Chapter Twenty Six
Teras Bu Sumarni
POV: Kaluna
Rumah cat hijau dengan pohon mangga dan mesin jahit di teras ternyata hanya dua ratus meter dari kos Bu Darsih.
Aku sudah melewatinya setiap hari selama sebulan. Setiap pagi ke pasar, setiap siang ke sekolah, setiap sore pulang. Aku melihat mesin jahit tua merek Singer di teras itu, dengan kain batik setengah jadi yang terlipat di atasnya. Aku melihat pohon mangga yang buahnya masih kecil dan hijau. Aku melihat perempuan kecil berkerudung cokelat yang duduk di depan mesin jahit itu setiap pagi, menginjak pedal dengan irama yang teratur.
Aku tidak pernah berhenti. Aku tidak pernah berani.
Sampai hari Senin setelah Pak Wiryo pulang ke Jakarta.
Aku berdiri di depan pagar bambu rumah itu pukul delapan pagi, dengan rantang hijau berisi tempe bacem di satu tangan, dan jantung yang berdetak seperti genderang.
Bu Sumarni sedang menjahit. Dia mendengar langkahku di jalan berbatu dan mengangkat wajah.
Dia mengenaliku. Tentu saja. Aku mencium tangannya di malam akad, di atas karpet bekas tahlilan. Dia menatapku waktu itu dengan mata yang sangat lembut.
Pagi ini, matanya tidak lembut.
Kakinya berhenti di pedal mesin jahit. Bunyi tek-tek-tek berhenti. Hening, kecuali suara ayam di kebun belakang dan sepeda motor yang lewat di jalan.
“Assalamualaikum, Bu,” kataku.
“Waalaikumsalam.”
Dia tidak berdiri. Dia tidak menyuruhku masuk. Dia menatapku dari balik mesin jahit dengan wajah yang tidak menunjukkan apa pun, persis seperti wajah anaknya di ruang rapat lantai tiga puluh tiga.
“Saya... saya mau ketemu Ibu,” kataku. “Kalau Ibu berkenan.”
Bu Sumarni menatap rantang hijau di tanganku. Lalu menatapku lagi.
“Duduk di situ,” katanya. Dia menunjuk bangku kayu panjang di ujung teras, di samping pot-pot tanaman cabai. “Saya selesaikan jahitan dulu.”
Lalu dia menunduk dan kembali menjahit.
Tek-tek-tek-tek.
Aku duduk di bangku kayu itu dengan rantang di pangkuan.
Satu jam.
Bu Sumarni menjahit tanpa sekali pun menoleh ke arahku. Dia menyelesaikan satu sisi kain batik, membaliknya, menjahit sisi yang lain. Dia memotong benang dengan gunting kecil. Dia mengukur sesuatu dengan pita ukur kuning yang tergantung di lehernya. Dia memasang benang baru di jarum mesin jahit, menjilat ujung benang dengan bibirnya, memasukkannya ke lubang jarum pada percobaan pertama.
Aku tidak bergerak. Aku tidak mengeluarkan ponsel. Aku tidak berkata apa-apa.
Matahari bergerak. Bayangan pohon mangga yang tadinya menutupi bangku kayu itu perlahan bergeser, dan pukul sembilan, sinar matahari jatuh tepat di bahuku. Pukul sembilan tiga puluh, di wajahku.
Aku tidak pindah.
Tole muncul pukul sembilan lewat empat puluh, dengan seragam merah putih dan tas sekolah di punggung, karena hari ini sekolahnya masuk siang. Dia berhenti di ambang pintu rumah, melihatku di bangku kayu, melihat neneknya di mesin jahit, dan wajahnya menunjukkan kebingungan yang sangat jujur.
“Mbak Jakarta? Kok di situ?”
“Lagi nunggu, Le,” kata Bu Sumarni tanpa mengangkat wajah.
“Nunggu apa, Mbah?”
“Nunggu Mbah selesai jahit.”
Tole menatap kain batik di mesin jahit. Lalu menatapku. Lalu menatap neneknya lagi.
“Kan Mbah jahitnya bisa sampai sore.”
“Ya sudah. Berarti nunggunya sampai sore.”
Tole membuka mulut, menutupnya, lalu berjalan ke bangku kayu dan duduk di sebelahku. Dia menatap rantang hijau di pangkuanku dengan penuh minat.
“Mbak bawa apa?”
“Tempe bacem.”
“Tole boleh satu?”
“Nggak boleh,” kata Bu Sumarni dari mesin jahit.
Tole cemberut. Lalu dia mengeluarkan buku tulis dari tasnya dan mulai mengerjakan PR matematika di pangkuannya, di sebelahku, di bawah matahari pagi, seperti sedang menemaniku menjalani hukuman.
Ayam jago tetangga, yang aku yakin adalah ayam jago yang sama yang berkokok di bawah jendela kosku setiap pukul tiga pagi, berjalan masuk ke halaman lewat celah pagar bambu. Dia mendekati bangku kayu. Dia menatapku dengan satu mata yang bulat dan kuning. Lalu dia mematuk ujung sepatuku.
Aku tidak bergerak.
Dia mematuk lagi. Lebih keras.
“Itu Jago,” kata Tole tanpa mengangkat wajah dari PR-nya. “Dia nggak suka orang Jakarta.”
“Kenapa?”
“Nggak tahu. Dulu Om Radit pulang dari Jakarta juga dipatuk.”
Pukul sepuluh, Bu Sumarni berhenti menjahit.
Dia melipat kain batik itu dengan sangat rapi, meletakkannya di atas mesin jahit, dan menutup mesin jahit dengan kain penutup bermotif bunga. Lalu dia berdiri, berjalan ke ujung teras, dan duduk di kursi rotan di seberang bangku kayu.
Tole menutup buku tulisnya. Bu Sumarni menatapnya. Tole membuka buku tulisnya lagi, berdiri, dan masuk ke rumah dengan langkah pelan. Pintu tidak ditutup sepenuhnya. Aku melihat bayangan kepalanya di balik pintu.
Bu Sumarni menatapku.
“Mbak sudah dua jam di situ,” katanya. Bahasa Indonesianya halus, dengan logat Jawa yang lembut. “Kenapa nggak pulang?”
“Karena Ibu nyuruh saya nunggu.”
“Kalau saya nyuruh Mbak nunggu sampai sore?”
“Saya nunggu sampai sore.”
Bu Sumarni menatapku lama. Matahari jatuh di wajahku. Keringat menetes dari pelipisku.
“Anak saya pulang dua bulan lalu,” katanya akhirnya. “Turun dari kereta jam tiga sore. Bawa dua tas. Tas yang sama yang dia bawa waktu berangkat ke Jakarta, nikah sama Mbak.”
Aku menunggu.
“Anak saya pulang dengan mata seperti itu,” lanjut Bu Sumarni, dan suaranya mulai bergetar. “Mata yang saya nggak pernah lihat. Waktu bapaknya meninggal, dia masih SMP, dia nangis tiga hari, tapi matanya nggak seperti itu. Waktu dia nggak lulus seleksi beasiswa pertama, matanya juga nggak seperti itu.”
Dia menatapku.
“Mbak tahu mata seperti apa?”
Aku menggeleng. Suaraku tidak bisa keluar.
“Mata orang yang sudah nggak berharap apa-apa,” kata Bu Sumarni. “Mata orang yang sudah selesai.”
Aku menunduk. Rantang hijau di pangkuanku terasa sangat berat.
“Dia cerita semuanya ke saya. Malam itu. Sampai jam dua pagi.” Bu Sumarni melipat tangannya di pangkuan. “Teh di wastafel. Kamar sopir. Ini teman saya. Rantang saya di tempat sampah.” Dia berhenti. “Rantang itu seserahan saya, Mbak. Bapaknya Radit bawa makan siang pakai rantang itu sebelas tahun. Saya kasih ke Radit waktu dia berangkat kuliah. Supaya dia ingat makan.”
“Saya tahu, Bu,” bisikku. “Saya tahu sekarang.”
“Waktu dia cerita soal rantang itu, dia nggak nangis. Dia nggak marah. Dia cuma bilang, rantangnya selamat, Bu, masih tiga susun.” Bu Sumarni menekan ujung kerudung ke matanya. “Anak saya dibuang rantangnya, dan yang dia pikirkan cuma rantangnya selamat.”
Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku sudah berjanji tidak akan menangis di depan siapa pun sampai aku pantas, dan aku belum pantas, dan aku menangis di bangku kayu di teras rumah cat hijau, di bawah matahari pukul sepuluh pagi, di depan ibu dari laki-laki yang kusakiti.
Bu Sumarni tidak menghiburku. Dia hanya menunggu.
Ketika tangisku reda, dia bertanya dengan suara pelan:
“Mbak ke sini mau apa?”
Aku mengusap wajahku dengan punggung tangan. Tanganku yang penuh luka bakar minyak dan bekas teriris pisau tumpul. Bu Sumarni melihatnya. Aku melihat matanya berhenti di punggung tanganku sesaat.
“Saya mau belajar, Bu,” kataku.
“Belajar apa?”
“Apa saja yang Ibu mau ajarkan.” Aku menarik napas yang gemetar. “Masak. Bahasa Jawa. Cara... cara jadi orang yang nggak buang rantang orang lain.”
“Kenapa bahasa Jawa?”
Aku menatap pot-pot tanaman cabai di sebelah bangku.
“Karena saya pernah menertawakan bahasanya, Bu,” kataku. “Di depan teman-teman saya. Mereka menirukan logatnya, dan saya ikut ketawa. Terus malamnya saya dengar dia telepon Ibu. Pakai krama. Pelan banget. Dan itu bahasa paling lembut yang pernah saya dengar.” Suaraku pecah lagi. “Saya mau belajar bahasa yang dia pakai buat bicara sama Ibu. Supaya saya tahu apa yang saya tertawakan.”
Bu Sumarni tidak menjawab untuk waktu yang lama.
Lalu dia berdiri. Dia berjalan ke dalam rumah. Dia tidak menyuruhku masuk. Dia tidak menyuruhku pulang.
Aku duduk di bangku kayu, tidak tahu apakah percakapan ini sudah selesai.
Lima menit kemudian, Bu Sumarni keluar lagi. Dia membawa cobek batu, ulekan, dan piring kecil berisi cabai rawit, bawang merah, bawang putih, tomat, terasi, dan garam.
Dia meletakkan semuanya di atas meja kecil di depanku.
“Sambal bawang,” katanya. “Kesukaan Radit sejak kecil. Bikin.”
Aku menatap cobek batu itu. Aku belum pernah mengulek sambal. Mbok Darmi selalu mengulek sambal di dapur rumah Menteng, dan aku hanya memakannya.
Aku mengambil ulekan.
Cobek itu berat dan permukaannya kasar. Aku memasukkan cabai, bawang, dan mulai mengulek dengan gerakan yang kulihat dari Mbok Darmi. Ulekan itu meleset. Cabai rawit meloncat keluar dari cobek dan jatuh ke lantai teras. Aku memungutnya. Aku mencoba lagi. Cobek itu bergeser di atas meja karena aku menekannya terlalu keras.
Tole muncul di ambang pintu, menahan tawa.
Bu Sumarni duduk di kursi rotan dan menonton tanpa ekspresi.
Lima belas menit kemudian, ada sesuatu di cobek itu yang mungkin bisa disebut sambal. Teksturnya kasar, cabainya tidak hancur rata, ada potongan bawang yang masih utuh. Aku menambahkan terasi dan garam.
Bu Sumarni mengambil sendok kecil dan mencicipinya.
Dia mengunyah. Wajahnya tidak berubah.
“Keasinan,” katanya. “Terasinya nggak dibakar dulu. Cabainya nggak hancur. Tomatnya kebanyakan.”
Aku menunduk.
Bu Sumarni meletakkan sendok kecil di piring. Dia berdiri, mengambil cobek dan ulekan, dan membawanya ke dalam rumah.
Di ambang pintu, dia berhenti. Dia tidak menoleh.
“Besok jam delapan,” katanya. “Bawa terasi sendiri. Yang di pasar, lapak paling ujung, Mbok Painem. Bilang buat Bu Marni. Terasinya dibakar dulu sebelum diulek.”
Lalu dia masuk.
Aku duduk di bangku kayu dengan tangan yang pedas karena cabai dan mata yang perih karena sesuatu yang lain. Tole berlari keluar dan duduk di sebelahku, berbisik keras-keras dengan wajah gembira:
“Mbak Jakarta! Mbah nyuruh balik besok!”
“Iya.”
“Mbah nggak pernah nyuruh orang balik! Pak RT aja kemarin diusir!”
Aku tertawa, basah, sambil menyeka mata dengan punggung tangan yang pedas, yang langsung membuat mataku semakin perih. Tole tertawa melihatku mengerjap-ngerjap kesakitan. Ayam jago bernama Jago mematuk sepatuku lagi.
Rantang hijau berisi tempe bacem masih di bangku kayu.
Aku meninggalkannya di sana ketika pulang. Aku tidak tahu apakah Bu Sumarni akan memakannya atau membuangnya.
Sore itu, ketika aku lewat lagi dalam perjalanan pulang dari sekolah, rantang hijau itu sudah tidak ada di bangku. Di tempatnya, ada rantang hijau yang sama, sudah dicuci bersih, diletakkan terbalik di atas tiang pagar bambu, seperti yang dilakukan orang desa kalau mengembalikan wadah makanan tetangga.
Di dalamnya, sebuah kantong plastik kecil berisi terasi.
Terasi dari lapak paling ujung, milik Mbok Painem. Sudah dibakar.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni reading
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu