Chapter Thirty

Marahlah

POV: Kaluna

Sejak malam di angkringan Pak Wardi, dia makan dari rantang biru.

Tidak di depanku. Tidak pernah di depanku. Aku meletakkan rantang itu di kaki perancah pukul sebelas seperti biasa, dengan serbet kain di atasnya, lalu kembali ke bangku di bawah pohon ketapang. Pukul satu, dia turun. Dia membawa rantang itu ke balik gedung perpustakaan yang belum selesai, ke tempat yang tidak bisa kulihat dari bangku kayu.

Pukul empat, Tole mengembalikan rantang itu ke kos. Kosong. Dicuci. Susun paling atas selalu berisi selembar kertas kuning kecil dengan tulisan tangan yang tegak dan rapi.

Belimbingnya pas.

Tempenya kurang garam sedikit.

Perkedelnya kayak buatan Ibu.

Yang terakhir itu membuatku duduk di lantai kamar kos selama satu jam, memegang kertas kuning itu, tidak tahu apakah dia maksud ibunya atau ibuku.

Seminggu berlalu seperti itu. Kertas kuning setiap hari. Kami bicara di bawah pohon ketapang, sebentar, tentang hal-hal kecil. Atap perpustakaan yang hampir selesai. Tole yang dapat nilai sembilan di ulangan matematika. Pak Karyo yang lututnya sakit. Dia memanggilku Mbak. Dia tersenyum, kadang-kadang. Dia sopan, selalu.

Dan itu masalahnya.

Dia terlalu sopan. Dia terlalu tenang. Dia memaafkanku tanpa pernah sekali pun mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan. Dia mencicipi masakanku dan menulis kertas kuning, dan aku tahu, dengan cara yang tidak bisa kujelaskan, bahwa di bawah semua kesopanan itu ada sesuatu yang belum pernah keluar.

Sepuluh bulan dia menelan semuanya. Teh di wastafel. Kamar sopir. Rantang. Ini teman saya. Meja dua belas. Logatnya yang kutertawakan. Jangan sentuh aku. Darahnya yang kuterima dengan terima kasih untuk orang lain. Harga yang Kakek bayar.

Dia menelan semuanya, dan tidak pernah sekali pun memuntahkannya kembali kepadaku.

Kamis sore, perpustakaan itu selesai.

Pak Karyo dan para tukang pulang pukul lima, setelah memasang papan nama kayu di atas pintu dengan cat putih yang masih basah: PERPUSTAKAAN SD NEGERI 2 KARANGANOM. Tole dan tiga temannya berlarian di dalam ruangan kosong yang masih berbau semen dan cat, berteriak-teriak untuk mendengarkan gema suara mereka sendiri, sampai Bu Kepala Sekolah mengusir mereka pulang.

Dia tetap di sana. Dia sedang memeriksa sambungan rak kayu di dinding, memastikan semuanya kuat untuk menahan buku-buku yang akan datang minggu depan, sumbangan dari sebuah yayasan di Jogja.

Aku berdiri di ambang pintu perpustakaan.

Matahari sore masuk lewat jendela-jendela besar di sisi barat, membuat debu semen yang melayang di udara berkilau seperti serbuk emas. Ruangan itu kosong kecuali rak-rak kayu yang baru dipasang dan bau cat yang masih menyengat.

“Bagus,” kataku.

Dia menoleh. Dia tidak terkejut melihatku. Dia sudah terbiasa.

“Matur nuwun, Mbak.”

Aku masuk. Aku berdiri di tengah ruangan, di antara rak-rak kosong, dengan sinar matahari jatuh di bahuku.

“Aku mau minta sesuatu,” kataku.

Dia meletakkan obeng di rak. Dia menunggu.

“Marahlah.”

Dia menatapku. Wajahnya tidak berubah.

“Mbak?”

“Marahlah sama aku,” ulangku. Suaraku bergetar. “Kamu nggak pernah marah. Sepuluh bulan, kamu nggak pernah marah sekali pun. Aku tuang tehmu ke wastafel, kamu cuci cangkirnya. Aku buang rantang ibumu, kamu cuci rantangnya. Aku taruh kamu di meja sopir, kamu bilang saya nggak malu duduk sama sopir. Aku bilang kamu harga yang Kakek bayar, kamu bilang permisi.” Aku menarik napas. “Kamu nggak pernah marah. Dan aku nggak bisa hidup dengan itu.”

“Saya nggak marah, Mbak.”

“Bohong.”

“Saya nggak—”

“Bohong.” Suaraku naik. Gema memantul di dinding perpustakaan yang kosong. “Kamu bilang ke Pak Wiryo, benci lebih ringan dibawa daripada rasa bersalah. Kamu bawa kebencianku sepuluh bulan. Kamu pikir aku nggak tahu kamu bawa yang lain juga? Kamu pikir aku nggak tahu kamu nelan semuanya?”

Dia diam.

“Marahlah,” kataku lagi, lebih pelan. “Aku nggak minta kamu maafin aku. Aku minta kamu marah. Bilang apa yang aku lakuin ke kamu. Semuanya. Pakai suaramu sendiri. Jangan nggih, Mbak. Jangan saya nggak apa-apa. Aku mau dengar.”

Dia menatapku lama sekali.

Lalu dia membuang pandangan ke jendela. Rahangnya mengeras. Tangannya, yang tadi tenang di sisi rak kayu, mengepal.

“Mbak nggak tahu apa yang Mbak minta,” katanya. Suaranya rendah.

“Aku tahu.”

“Mbak nggak tahu.”

“Aku tahu. Tolong.”

Hening panjang. Debu semen melayang di cahaya matahari sore. Di luar, suara anak-anak di jalan desa, motor yang lewat, ayam yang berkotek.

Lalu dia berbalik menghadapku.

“Pipi kiri saya,” katanya.

Aku membeku.

“Melbourne. Kamar hotel nomor 1407. Saya baru turun dari pesawat sembilan jam, transit di Denpasar, belum tidur dua hari.” Suaranya pelan, tapi setiap kata keluar dengan sangat jelas, seperti dia sudah menyusunnya di dalam kepala selama setahun. “Saya baru memandikan jenazah Bapak. Saya baru mengazankan Bapak di liang lahat. Saya baru menyalami lima puluh tukang satu per satu di gerbang makam. Saya duduk di barisan paling belakang auditorium dan nangis waktu nama Mbak dipanggil, karena Bapak seharusnya ada di sana. Lalu saya ketuk pintu kamar Mbak dengan bunga melati, karena Bapak suka melati. Dan Mbak tampar saya.”

Napasku berhenti.

“Saya nggak marah waktu itu,” lanjutnya. “Saya ngerti. Mbak baru kehilangan Bapak. Saya pikir, biar. Biar saya yang kena.”

Dia maju satu langkah.

“Tapi Mbak nggak berhenti di situ.”

Suaranya mulai naik.

“Malam akad. Mbak tuang teh yang Mbok Darmi siapin ke wastafel, di depan saya, pelan-pelan, sampai habis. Mbak suruh saya tidur di kamar sopir. Saya tidur di sana sepuluh bulan. Mbak tahu kenapa saya lewat pintu samping? Karena saya pikir Mbak nggak mau lihat saya lewat pintu depan rumah Bapak.”

Dia maju lagi.

“Mbak kenalin saya teman. Di depan teman-teman Mbak. Dua kali. Mbak bilang saya bantu-bantu di rumah. Mbak ketawa waktu mereka niru logat saya. Logat yang saya pakai buat ngomong sama ibu saya. Mbak ketawa, Kaluna.”

Namaku. Bukan Mbak. Namaku, lengkap, diucapkan dengan suara yang pecah.

“Mbak buang rantang ibu saya ke tempat sampah. Di depan empat orang. Rantang yang dipakai bapak saya sebelas tahun. Saya pungut dari sampah dan saya cuci di wastafel pantri, dan Mbak lewat di belakang saya dan nggak noleh.” Dia menarik napas yang gemetar. “Mbak taruh saya di meja sopir. Saya nggak malu duduk sama sopir. Tapi Mbak tahu kenapa saya duduk di sana? Karena Mbak yang taruh. Mbak sengaja. Mbak mau saya tahu di mana tempat saya.”

Air mata mulai jatuh di wajahnya. Dia tidak menyekanya.

“Mbak sakit. Trombosit delapan belas ribu. Saya donor dua jam, jarum di lengan, bibir kesemutan. Saya tunggu di ujung lorong rumah sakit. Dan saya dengar Mbak bilang ke laki-laki lain, makasih, aku nggak tahu harus gimana kalau nggak ada kamu.” Suaranya pecah sepenuhnya. “Darah saya, Kaluna. Darah saya di badan Mbak. Dan Mbak unggah foto tangan orang lain.”

Aku tidak bergerak. Aku tidak menunduk. Aku menatapnya, dan aku membiarkan setiap kata itu menghantamku.

“Saya tangkap Mbak di perancah. Tangan saya sobek kena kawat. Dan Mbak bilang di depan belasan tukang, jangan pernah sentuh aku lagi. Bapak saya jatuh dari perancah, Kaluna. Bapak saya meninggal jatuh dari perancah. Dan saya tangkap Mbak supaya Mbak nggak jatuh, dan Mbak bentak saya.”

Dia menekan kedua tangannya ke wajah. Lalu menurunkannya.

“Dan di ruang rapat.” Suaranya hampir tidak keluar sekarang. “Dia cuma harga yang Kakek bayar. Mbak bilang Bapak beli saya. Delapan tahun saya kerja buat Bapak. Tiga minggu saya tidur di kursi plastik. Dua kali saya mohon supaya Bapak telepon Mbak, dua kali Bapak rebut HP-nya dari tangan saya. Saya mandikan Bapak. Saya azankan Bapak. Dan Mbak bilang Bapak beli saya. Di depan semua orang yang kenal Bapak.”

Dia menangis sekarang. Bukan tangis yang tenang. Tangis yang keluar dari tempat yang sangat dalam, yang sudah ditahan terlalu lama, yang mengguncang bahunya dan membuat suaranya tersendat di setiap kata.

“Saya bukan harga,” katanya. “Saya bukan teman. Saya bukan orang yang bantu-bantu. Saya juga manusia. Saya juga sakit. Saya juga capek. Saya juga...” Dia berhenti. Menekan dadanya dengan kepalan tangan. “Saya juga pengin dipilih. Sekali saja. Bukan ditolak. Bukan diusir ke kamar belakang. Dipilih.”

Ruangan itu sunyi.

Dia berdiri di tengah perpustakaan yang kosong, dengan wajah basah dan bahu yang terguncang, di bawah cahaya matahari sore yang mulai berubah oranye. Laki-laki yang tidak pernah marah. Laki-laki yang menelan semuanya.

Aku tidak membela diri.

Aku tidak bilang aku nggak tahu. Aku tidak bilang aku lagi berduka. Aku tidak bilang Kakek yang minta kamu diam. Semua itu benar, dan semua itu tidak penting. Yang penting adalah dia akhirnya mengatakannya, dengan suaranya sendiri, dan aku harus mendengarnya sampai habis.

Aku berdiri di depannya dan menerima semuanya.

“Iya,” kataku.

Dia menatapku dengan mata merah.

“Iya. Semuanya. Aku yang lakuin.” Suaraku gemetar, tapi aku tidak berhenti. “Pipi kirimu. Teh di wastafel. Kamar sopir. Teman. Logatmu. Rantang ibumu. Meja dua belas. Darahmu. Perancah. Harga yang Kakek bayar. Aku yang lakuin. Semuanya. Nggak ada alasan yang bisa bikin itu jadi nggak apa-apa.”

Air mataku jatuh. Aku membiarkannya.

“Kamu bilang benci lebih ringan dibawa daripada rasa bersalah,” kataku. “Kamu benar. Rasa bersalah ini berat banget. Lebih berat dari apa pun yang pernah aku bawa. Aku bangun jam tiga pagi karena nggak bisa tidur. Aku lihat tanganku dan aku ingat tangan ini yang nampar kamu.”

Aku menarik napas.

“Tapi rasa bersalah ini punya aku. Bukan punya kamu. Kamu sudah bawa kebencianku sepuluh bulan. Kamu nggak perlu bawa yang ini juga.”

Aku menatapnya langsung.

“Rasa bersalah ini berat. Biar aku yang bawa.”

Dia menatapku. Lama sekali.

Lalu dia duduk. Di lantai semen perpustakaan yang masih berdebu, bersandar ke rak kayu yang baru dipasang, dengan lutut ditekuk dan kepala tertunduk di antara kedua tangan. Bahunya masih bergetar, tapi pelan sekarang. Seperti badai yang perlahan berhenti.

Aku tidak menyentuhnya. Aku tidak berhak.

Aku duduk di lantai juga. Di seberangnya, satu meter jauhnya, bersandar ke rak kayu yang lain. Kami duduk di sana, di perpustakaan yang belum punya buku, sementara cahaya matahari berubah dari oranye ke merah ke ungu, dan debu semen di udara perlahan turun ke lantai.

Kami tidak bicara.

Kami tidak perlu bicara.

Ketika lampu jalan di luar jendela mulai menyala, dia mengangkat kepalanya. Matanya bengkak. Wajahnya lelah. Tapi ada sesuatu yang berbeda di sana, sesuatu yang tidak ada selama setahun aku mengenalnya.

Wajahnya terlihat ringan.

Seperti seseorang yang baru saja meletakkan tas yang sangat berat, yang sudah terlalu lama dibawa, sampai dia lupa bahwa bahunya bisa tidak sakit.

“Kaluna,” katanya. Suaranya serak.

“Hm.”

“Makasih.” Dia menyeka wajahnya dengan punggung tangan. “Sudah minta saya marah.”

Aku tertawa, basah, di lantai perpustakaan yang berdebu.

“Itu kalimat paling aneh yang pernah aku dengar.”

“Saya tahu.” Dia tersenyum. Kecil, lelah, nyata. “Saya juga nggak nyangka bakal ngomong itu.”