Chapter Forty

Kursi Kakek

POV: Radit

Kamar tamu dekat dapur sudah tidak ada ketika kami pulang ke Menteng.

Maksudku, kamarnya masih ada. Dinding, pintu, jendela kecil yang menghadap area cuci belakang. Tapi kasur sempit yang kutiduri sepuluh bulan sudah diangkat. Lemari kayu tua sudah dipindah. Meja kecil di samping kasur, tempat mesin tik Kakek dulu berdiri, sudah tidak ada.

Sebagai gantinya, ada rak-rak kayu yang dipasang dari lantai sampai langit-langit. Toples-toples kaca berisi bumbu, dengan label tulisan tangan Mbok Darmi yang besar-besar dan miring. Kunyit. Lengkuas. Belimbing wuluh (JANGAN KEBANYAKAN). Terasi dari Mbok Painem Klaten (KIRIMAN BU SUMARNI). Di sudut ruangan, ada kursi rotan dan meja kecil dengan mesin jahit tua yang sudah diperbaiki.

“Ruang bumbu,” kata Mbok Darmi dengan bangga, berdiri di ambang pintu dengan tangan di pinggang. “Sama ruang jahit. Bu Sumarni bilang Mbok harus belajar jahit. Katanya pembantu yang nggak bisa jahit kancing itu kurang lengkap.”

“Mbok bisa jahit?”

“Belum.” Mbok Darmi menatap mesin jahit itu dengan wajah penuh tekad. “Tapi Bu Sumarni ngajarin lewat video call. Tiap Selasa sama Kamis. Tole yang pegang HP-nya.”

Aku berdiri di ambang pintu kamar yang dulu kamarku, menatap toples-toples bumbu dan mesin jahit, dan aku tidak bisa berkata apa-apa.

Luna menggenggam tanganku.

“Mbok yang mutusin sendiri,” katanya pelan. “Mbok bilang, kamar ini sudah cukup lama jadi kamar orang yang disuruh tinggal di belakang. Sekarang biar jadi kamar yang wangi.”

Mbok Darmi sudah berbalik ke dapur. Tapi aku melihat dia menyeka matanya dengan ujung kerudung.

Barang-barangku dipindahkan ke kamar Luna di lantai atas.

Kamar utama. Kamar yang selama sepuluh bulan tidak pernah kulihat bagian dalamnya kecuali sekilas lewat pintu yang terbuka di minggu pertama, ketika aku melihat kotak beludru berisi cincin di meja rias. Kamar dengan jendela besar yang menghadap taman depan dan pohon kamboja tua di sudut halaman.

Luna mengosongkan separuh lemarinya untukku. Separuh meja rias. Separuh rak buku. Dia memindahkan semua barangnya ke satu sisi dengan sangat rapi, dan menempelkan kertas kuning kecil di setiap ruang kosong yang dia sediakan.

Buat kemeja Mas.

Buat buku teknik sipil Mas.

Buat batik cokelat (jangan ditaruh di lemari bawah, nanti lembap).

Aku membaca kertas-kertas kuning itu satu per satu. Tulisan tangannya miring dan sedikit tidak rapi, tulisan tangan perempuan yang terbiasa mengetik di laptop dan baru belajar menulis catatan untuk orang lain.

Aku menyimpan semua kertas kuning itu. Di dompet. Di antara struk PMI dan plester yang sudah kulipat kecil.

Makan malam pertama di rumah Menteng sebagai suami istri yang sebenarnya terjadi hari Kamis malam.

Mbok Darmi memasak garang asem, tempe bacem, sayur lodeh, dan opor ayam. Semuanya sekaligus. Dia bilang ini menu salah masak terakhir, untuk merayakan bahwa dia tidak akan pernah salah masak lagi.

Meja makan jati panjang dengan dua belas kursi. Kursi Kakek di ujung, kosong, seperti setahun lalu.

Luna sudah duduk di kursi di sebelah kanan kursi Kakek. Kursinya selama ini. Dan aku berdiri di ambang ruang makan, tidak tahu harus duduk di mana. Selama sepuluh bulan, aku makan di meja kecil dekat kompor. Aku tidak pernah sekali pun duduk di meja jati ini.

Luna berdiri.

Dia berjalan ke ujung meja. Dia memegang sandaran kursi Kakek, kursi kayu jati dengan ukiran sederhana dan bantalan kulit yang sudah sedikit pudar, dan menariknya keluar dari bawah meja.

Dia menatapku.

“Duduk, Mas,” katanya.

Aku tidak bergerak.

“Luna, itu kursi Bapak.”

“Aku tahu.”

“Aku nggak bisa duduk di situ.”

“Kenapa?”

Aku menatap kursi itu. Kursi tempat Kakek duduk setiap malam selama empat puluh tahun. Tempat dia membaca koran, menandatangani dokumen, menuliskan resep perkedel kentang untuk menantunya. Tempat yang seharusnya sekarang milik cucunya, CEO Adisurya Group, pemilik rumah ini.

“Itu bukan tempatku,” kataku.

Luna tidak melepaskan sandaran kursi itu.

“Kakek bilang kamu orang yang tepat,” katanya pelan. “Di surat. Di rekaman. Pak Wiryo bilang begitu juga. Kakek milih kamu buat jaga aku. Kakek percaya kamu lebih dari siapa pun.” Matanya basah. “Kalau ada orang yang pantas duduk di kursi ini, itu kamu.”

Aku berjalan ke ujung meja. Aku berdiri di depan kursi Kakek.

Lalu aku menggeleng.

“Aku nggak mau duduk sendirian di situ,” kataku.

Dia menatapku.

Aku menarik kursi di sebelah kanan kursi Kakek, kursi yang selama ini dia duduki, dan memindahkannya. Pelan. Ke ujung meja. Ke sebelah kursi Kakek. Sehingga di ujung meja jati panjang itu, sekarang ada dua kursi yang berdampingan, bukan satu.

“Kita duduk di sini,” kataku. “Berdua. Kakek di tengah-tengah kita. Kayak dulu, waktu dia milih kita buat satu sama lain.”

Luna menutup mulutnya dengan tangan.

Dari ambang pintu dapur, terdengar bunyi panci jatuh.

“MBOK!” teriak Luna tanpa menoleh.

“Maaf, Mbak! Tangan Mbok licin!” Suara Mbok Darmi pecah. “Opornya selamat! Pancinya yang jatuh!”

Kami duduk berdampingan di ujung meja. Dua kursi. Kursi Kakek tetap di tengah, sedikit ditarik ke belakang, kosong, tapi tidak lagi terasa seperti kekosongan. Lebih seperti tempat seseorang yang sedang keluar sebentar dan akan segera kembali.

Mbok Darmi menyajikan makan malam dengan mata merah, dan ketika selesai, dia tidak kembali ke dapur. Dia berdiri di sudut ruang makan, ragu-ragu.

Luna menatapnya. Lalu menunjuk kursi di sebelah kiri kursi Kakek.

“Mbok. Duduk.”

“Mbak, Mbok kan—”

“Duduk, Mbok. Rumah yang bener nggak punya meja kecil di dekat kompor.”

Mbok Darmi duduk. Pertama kalinya, kata Luna kemudian, dalam tiga puluh tahun.

Hari Senin, aku ke kantor Adisurya.

Bukan sebagai komisaris. Aku menolak lagi ketika Bu Ratih mengusulkannya untuk kedua kali, dan Luna tidak memaksa. Aku datang sebagai konsultan struktur untuk proyek ekspansi Surabaya, dengan kontrak resmi atas nama kantor konsultanku di Tebet. Kali ini dengan namaku di setiap halaman laporan.

Bu Ratih menemuiku di lift sebelum rapat, dengan tas kulit di tangan dan wajah datar seperti biasa.

“Mas Radit,” katanya. “Saya mau laporan. Tidak resmi.”

“Laporan apa, Bu?”

“Evaluasi kepemimpinan yang diminta tiga komisaris setelah RUPS. Sudah selesai.” Dia menekan tombol lift dengan sangat tenang. “Keputusannya bulat. Bu Kaluna tetap. Saham naik lagi empat persen setelah proyek Surabaya diumumkan, lebih tinggi dari sebelum RUPS. Analis yang dulu menulis CEO terlalu emosional sekarang menulis CEO dengan integritas.” Dia berhenti. “Dan Pak Gunadi menyampaikan permintaan maaf tertulis kepada Bu Kaluna. Tiga halaman. Saya yang mengetikkan karena tulisan tangannya jelek.”

Aku tidak bisa menahan senyum.

“Bu Ratih menikmati itu?”

“Sangat, Mas,” katanya datar. Pintu lift terbuka. “Silakan.”

Luna menjemputku di lobi lantai dasar.

Seorang laki-laki paruh baya dengan setelan jas mahal sedang berdiri di depan meja resepsionis. Mitra baru dari Surabaya, kata Luna nanti. Dia melihat Luna keluar dari lift dan langsung berjalan mendekat dengan senyum bisnis yang lebar.

“Bu Kaluna! Akhirnya ketemu langsung. Saya Hartono, dari Wijaya Properti.”

Luna menjabat tangannya. Lalu dia berbalik ke arahku, yang berdiri setengah langkah di belakangnya dengan tas laptop dan helm proyek oranye di tangan, dan menggandeng tanganku.

“Pak Hartono,” katanya, dengan suara yang jelas dan tenang. “Ini suami saya. Raditya Prasetya. Dia yang akan mereview struktur proyek kita di Surabaya.”

Pak Hartono menatapku. Menatap helm proyek oranye di tanganku. Menatap tangan kami yang bergandengan di lobi gedung kantor, di depan resepsionis dan satpam dan tiga karyawan yang sedang menunggu lift.

“Oh,” katanya. “Oh! Pak Raditya. Yang di video RUPS itu?”

Luna tersenyum.

“Yang itu,” katanya.

Malam itu, paguyuban Meja 12 mengadakan kopdar di angkringan Tanah Abang.

Luna ikut.

Dia duduk di tikar di bawah terpal biru, di antara Pak Udin dan Mas Jono, makan nasi kucing dan sate usus dengan tangan, minum kopi jos yang dimasukkan arang membara. Dia tidak mengeluh soal tikar yang kotor. Dia tidak mengeluh soal nyamuk. Dia tertawa ketika Pak Slamet menceritakan kisah Kakek dan tukang becak yang terguling untuk kelima kalinya.

Pak Slamet menatapnya lama dari seberang tikar. Lalu dia menepuk lutut Luna dengan tangannya yang gemetar.

“Bu Kaluna,” katanya. “Boleh saya panggil Mbak Luna?”

“Boleh, Pak.”

“Mbak Luna.” Pak Slamet tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. “Mbak duduk di tikar kayak almarhum Bapak. Bapak dulu juga duduk di tikar kalau kopdar sama kami. Nggak pernah mau dikasih kursi.”

Luna menunduk.

Aku duduk di sebelahnya, di tikar yang sama, di bawah terpal biru yang sama, dengan kopi jos yang sama. Lampu-lampu Tanah Abang berpendar kuning di belakangnya. Asap dari tungku arang naik pelan. Rambutnya diikat asal. Ada sedikit noda kecap di sudut bibirnya dari sate usus.

Dia sangat cantik. Di sini, di angkringan di bawah terpal biru, di antara para sopir yang setahun lalu duduk bersamaku di meja dua belas, dia lebih cantik daripada di ballroom mana pun. Karena dia duduk di tempat yang dulu dia pakai untuk menghinaku, dan mengubahnya menjadi tempat dia pulang.

Aku mengusap noda kecap di sudut bibirnya dengan ibu jari.

Dia menoleh, kaget. Pak Udin dan Mas Jono bersiul serempak. Pak Slamet tertawa sampai terbatuk-batuk.

“Lapor,” kata Pak Udin keras-keras, mengangkat ponselnya. “Lapor ke grup.”

“Jangan, Pak.”

“Terlambat, Mas. Sudah terkirim.”