Chapter Fifteen
Harga yang Kakek Bayar
POV: Kaluna
Rapat gabungan direksi dan dewan komisaris diadakan setiap kuartal di ruang rapat lantai tiga puluh tiga, ruangan dengan meja kayu oval sepanjang dua belas meter dan jendela kaca yang menghadap seluruh Jakarta.
Kakek dulu menyebut ruangan itu akuarium. Katanya, semua orang di dalamnya berenang berputar-putar, saling mengintip, menunggu siapa yang pertama kali kehabisan napas.
Hari itu, hari ke-tiga ratus delapan belas, aku yang kehabisan napas.
Agenda rapat ada dua belas poin. Laporan keuangan kuartal tiga. Hasil audit kontraktor Kemang. Progres proyek Bekasi. Rencana ekspansi ke Surabaya. Aku sudah menyiapkan semuanya selama dua minggu, tidur empat jam semalam, membaca setiap angka sampai hafal. Aku masuk ke ruangan itu pukul sembilan pagi dengan blazer hitam dan rambut disanggul rapi, dan aku siap.
Aku tidak siap untuk poin nomor sebelas.
Poin nomor sembilan adalah presentasi review struktur clubhouse Bekasi dari konsultan independen. Bu Ratih yang mengundang konsultannya hadir langsung, katanya supaya komisaris bisa bertanya.
Aku tahu siapa yang akan datang. Aku melihat namanya di daftar undangan kemarin sore, dan aku menghabiskan sepanjang malam memikirkan apakah aku harus mencoretnya.
Aku tidak mencoretnya. Itu kesalahan pertama.
Dia masuk pukul sebelas, memakai kemeja putih dan celana kain abu-abu, membawa laptop dan satu map tipis. Tangan kanannya sudah tidak diperban. Hanya ada bekas luka memanjang di telapaknya, merah muda dan baru menutup, yang terlihat ketika dia menyalakan proyektor.
Dia presentasi selama lima belas menit.
Aku tidak pernah melihatnya presentasi. Aku tidak pernah melihatnya bekerja selain di bawah perancah di Bekasi, dari kejauhan. Dia bicara dengan suara tenang dan jelas, tanpa jargon yang tidak perlu, menjelaskan kesalahan sambungan rangka atap clubhouse dengan gambar yang sederhana sampai Pak Hendarto, komisaris tertua yang biasanya tertidur di poin kedelapan, membuka mata dan mencondongkan badan ke depan.
Ketika dia selesai, ruangan itu diam beberapa detik. Lalu Pak Hendarto bertepuk tangan. Pelan, dua kali.
“Mas Radit,” katanya. “Bapak dulu bilang Mas ini tangan kanannya. Sekarang saya ngerti kenapa.”
Dia mengangguk sopan dan mulai mematikan proyektor.
Lalu Bu Ratih berdiri.
Poin nomor sebelas di agenda tertulis: Usulan pengisian kursi komisaris independen (kosong sejak wafatnya Bapak Darmawan Adisurya). Aku membaca poin itu kemarin dan mengira Bu Ratih akan mengusulkan salah satu nama dari daftar headhunter yang sudah kukirim bulan lalu.
“Saya ingin mengusulkan satu nama,” kata Bu Ratih, dengan suara datar yang sama yang dia pakai untuk membacakan neraca. “Raditya Prasetya.”
Ruangan itu diam.
Dia berhenti di tengah gerakan menutup laptop. Dia menoleh ke Bu Ratih dengan wajah terkejut yang tidak dia sembunyikan, terkejut yang nyata.
“Bu Ratih—”
“Saya belum selesai, Mas.” Bu Ratih tidak menatapnya. Bu Ratih menatap meja oval dan semua wajah di sekelilingnya. “Mas Radit bekerja dengan almarhum Bapak delapan tahun. Lima tahun sebagai project engineer, tiga tahun sebagai asisten pribadi. Tidak ada orang di ruangan ini yang lebih memahami cara berpikir Bapak. Dan saya punya alasan lain, yang tidak bisa saya sampaikan di forum ini, tapi akan saya pertanggungjawabkan secara pribadi kepada siapa pun yang meminta.”
“Saya setuju,” kata Pak Hendarto.
“Saya juga,” kata Bu Wulan, komisaris lain, yang dulu teman sekolah almarhumah Nenek.
Satu per satu, kepala-kepala di sekitar meja oval mengangguk. Tiga. Empat. Lima.
Aku duduk di kursi Kakek di ujung meja, kursi yang terlalu besar dan terlalu dingin, dan merasakan ruangan itu berputar.
Mereka memilihnya. Seperti Kakek memilihnya. Dewan komisaris yang meragukanku sejak hari pertama, yang memanggilku Bu Kaluna dengan nada orang dewasa yang menyembunyikan keraguan, yang mengecek ulang setiap angkaku, mengangguk satu per satu untuk laki-laki yang sudah merebut tiga minggu terakhir hidup Kakekku.
Lalu Pak Gunadi, komisaris yang paling suka bercanda, tertawa kecil dan berkata dengan nada ringan:
“Lho, bukannya Mas Radit ini suaminya Bu Kaluna? Kenapa nggak dari dulu? Ini kan jadi urusan keluarga.”
Beberapa orang tertawa. Tawa yang ramah, tawa basa-basi ruang rapat.
Semua mata menoleh kepadaku.
Dan aku merasakan sesuatu yang sudah kutahan selama tiga ratus delapan belas hari naik ke tenggorokanku. Semua malam di kamar ini sendirian. Semua ulang tahun tanpa Kakek. Kartu dengan bulan sabit yang patah. Plester di lengan yang tidak kutanyakan. Perkedel yang kumakan dalam gelap. Telapak tangan berdarah yang dibalut sendiri di teras. Satu detik di papan perancah ketika aku tidak ingin bergerak.
Semua itu, dan ketakutan yang tidak bisa kusebut namanya, bahwa ruangan ini, Kakek, dan seluruh dunia lebih memercayainya daripadaku.
Aku berdiri.
“Dia bukan suami saya,” kataku.
Suaraku terdengar jelas di ruangan yang tiba-tiba hening. Sangat jelas. Terlalu jelas.
“Dia cuma harga yang Kakek bayar supaya saya patuh.”
Tidak ada yang bergerak.
Pak Gunadi berhenti tertawa. Bu Wulan menutup mulutnya dengan tangan. Pak Hendarto menatapku dengan mata tua yang tiba-tiba sangat sedih. Bu Ratih tidak menoleh ke arahku. Dia menatap ujung meja oval, ke tempat laki-laki itu berdiri di samping proyektor yang sudah mati.
Aku menatapnya juga.
Dia tidak bergerak. Wajahnya tidak berubah. Tidak ada rahang yang mengeras, tidak ada mata yang menyipit, tidak ada apa-apa. Wajah yang sama yang dia tunjukkan di restoran Senopati, di carport rumah Tasya, di depan tempat sampah pantri. Wajah yang selama ini kuanggap tenang, dan baru sekarang, di ruang rapat ini, di bawah cahaya putih dari jendela kaca, aku melihatnya untuk apa adanya.
Itu bukan wajah orang yang tenang.
Itu wajah orang yang sedang menahan seluruh tubuhnya supaya tidak runtuh.
Dia menutup laptopnya. Pelan. Dia memasukkannya ke tas. Dia merapikan map tipisnya. Semuanya dengan gerakan yang sangat hati-hati, terlalu hati-hati, seperti seseorang yang takut kalau dia bergerak terlalu cepat, sesuatu di dalam dirinya akan pecah.
Lalu dia menatap Bu Ratih.
“Matur nuwun, Bu Ratih,” katanya. Suaranya sangat pelan, tapi di ruangan yang hening itu, semua orang mendengarnya. “Saya tidak bersedia.”
Dia menatap para komisaris satu per satu dan membungkuk sedikit.
“Mohon maaf sudah mengganggu waktu Bapak Ibu. Permisi.”
Dia berjalan ke pintu. Dia tidak menatapku sekali pun.
Pintu ruang rapat menutup di belakangnya dengan bunyi klik yang sangat pelan.
Rapat dilanjutkan.
Aku tidak tahu bagaimana. Seseorang membacakan poin nomor dua belas. Seseorang menyetujui sesuatu. Aku duduk kembali di kursi Kakek dan menatap kertas agenda di depanku, dan huruf-hurufnya menjadi tidak berarti, dan aku mendengar suaraku sendiri berulang-ulang di kepalaku.
Dia cuma harga yang Kakek bayar.
Rapat berakhir pukul satu. Para komisaris keluar tanpa menatapku. Pak Hendarto berhenti di sampingku sebentar, menepuk bahuku dua kali dengan tangan yang berat, dan pergi tanpa berkata apa pun. Itu lebih buruk dari dimarahi.
Bu Ratih yang terakhir.
Dia membereskan dokumen-dokumennya dengan gerakan lambat dan teliti, seperti biasa. Ketika semuanya sudah masuk ke tas kulitnya, dia berdiri di seberang meja oval, menatapku.
“Bu Kaluna,” katanya.
“Bu Ratih, saya—”
“Saya sudah dua puluh tahun bekerja di perusahaan ini, Bu. Saya tidak pernah sekali pun bicara di luar urusan pekerjaan dengan keluarga Adisurya.” Suaranya tetap datar. Tapi tangannya, yang memegang tali tas kulit, gemetar. “Hari ini saya akan melanggar itu satu kali.”
Aku menunggu.
“Ibu tidak tahu apa yang barusan Ibu ucapkan,” katanya. “Dan saya berdoa, demi Ibu, suatu hari Ibu tidak akan tahu. Karena kalau Ibu tahu, Ibu tidak akan bisa memaafkan diri Ibu sendiri.”
Dia keluar dari ruang rapat.
Aku sendirian di akuarium. Di kursi Kakek. Di depan meja oval sepanjang dua belas meter dan jendela kaca yang menghadap seluruh Jakarta, yang siang itu berwarna abu-abu karena polusi dan awan yang menggantung rendah.
Aku tidak menangis.
Aku duduk di sana sampai pukul tiga sore, sampai office boy mengetuk pintu dengan sopan untuk membersihkan ruangan, dan aku tidak menangis sama sekali.
Aku hanya terus mendengar bunyi klik pintu itu. Pelan. Sangat pelan. Seperti pintu yang ditutup oleh seseorang yang tidak akan kembali.
Malam itu, aku tidak pulang ke rumah sampai pukul sebelas.
Aku duduk di mobil di parkiran basement kantor dengan mesin menyala dan Pak Udin yang tidak bertanya apa-apa, menatap dinding beton di depan. Pukul sepuluh, aku menyuruh Pak Udin pulang dan memesan taksi. Aku tidak sanggup duduk di mobil yang sama dengan orang yang pernah mendengar laki-laki itu disebut Mas dengan nada sayang.
Ketika taksi berhenti di depan rumah Menteng, semua lampu mati.
Kecuali satu. Lampu kecil di lorong belakang, dekat dapur, dari celah bawah pintu kamar tamu.
Aku masuk lewat pintu depan. Aku berjalan ke ruang tengah dalam gelap. Aku tidak naik ke kamarku.
Aku duduk di sofa ruang tengah, di depan meja makan jati panjang dan kursi kosong Kakek, dan menatap cahaya kecil di ujung lorong belakang.
Aku menunggu dia keluar. Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak tahu apa yang akan kukatakan kalau dia keluar. Maaf, mungkin. Atau sesuatu yang lebih buruk, karena itu satu-satunya hal yang kutahu cara mengucapkannya kepadanya.
Dia tidak keluar.
Pukul satu, mataku terpejam di sofa, dan cahaya kecil itu masih menyala.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar reading
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu