Chapter Four
Meja Nomor Dua Belas
POV: Kaluna
Ulang tahun ke-35 Adisurya Group seharusnya dirayakan Kakek.
Dia sudah merencanakannya sejak tahun lalu. Aku tahu karena aku menemukan catatannya di laci ruang kerja, ditulis dengan pulpen tinta biru di buku agenda kulit: HUT ke-35. Ballroom yang sama dengan HUT ke-25. Undang semua mandor lama. Undang sopir-sopir. Jangan ada pidato lebih dari lima menit, orang lapar.
Aku mengikuti semuanya. Ballroom yang sama di hotel tua di Thamrin, dengan lampu kristal yang dipasang sejak tahun sembilan puluhan. Mandor-mandor lama diundang, beberapa datang dari Surabaya dan Medan dengan kemeja batik terbaik mereka. Sopir-sopir perusahaan diundang dan diberi meja sendiri. Pidatoku kutulis ulang tiga kali sampai panjangnya tepat empat menit lima puluh detik.
Satu hal yang tidak ada di catatan Kakek adalah denah tempat duduk.
“Pak Radit di meja berapa, Bu?” tanya Dara dari tim EO dua hari sebelum acara, sambil memegang tablet berisi denah ballroom. “Mau saya taruh di meja keluarga sama Ibu?”
Aku menatap denah itu. Meja satu untuk keluarga dan direksi. Meja dua sampai sebelas untuk mitra, investor, mandor senior. Meja dua belas di pojok dekat pintu dapur hotel, untuk sopir dan ajudan.
“Meja dua belas,” kataku.
Dara mengerjap. “Meja dua belas itu meja sopir, Bu.”
“Saya tahu.”
Dara menatapku. Menatap tabletnya. Lalu, dengan wajah orang yang memutuskan untuk tidak mempertanyakan keputusan pemberi kerja, dia menyeret ikon nama Raditya Prasetya ke lingkaran di pojok kanan bawah denah.
Bu Ratih melihat denah final keesokan harinya. Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatap pojok kanan bawah denah itu selama tiga detik, lalu menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca, lalu kembali ke laporan keuangannya.
Malam gala, aku memakai gaun hitam dengan potongan sederhana dan kalung mutiara Nenek.
Aku berdiri di pintu ballroom bersama direksi, menyalami tamu satu per satu. Mandor-mandor tua mencium tanganku dan menangis menyebut nama Kakek. Mitra-mitra bisnis menyalamiku dengan genggaman yang menguji. Para sopir datang bersama, enam orang dengan kemeja batik seragam perusahaan, dipimpin Pak Udin yang membusungkan dada seperti komandan pasukan.
Dia datang pukul tujuh lewat lima, sendirian.
Batik cokelat tua dengan motif parang kecil. Batik yang terlalu sederhana untuk ballroom ini, tapi dipakai dengan sangat rapi, kerahnya disetrika tegak, lengannya pas di pergelangan. Rambutnya disisir ke belakang. Tanpa helm motor kali ini. Untuk pertama kalinya sejak akad, dia terlihat seperti laki-laki yang bisa saja duduk di meja mana pun di ballroom ini.
Dia menyalami Bu Ratih. Menyalami direktur-direktur lain. Lalu dia sampai di depanku.
“Selamat ulang tahun perusahaannya, Mbak.”
Aku mengangguk. Tidak menjabat tangannya. Dia tidak mengulurkan tangan.
Dia berjalan ke meja penerima tamu untuk mengambil kartu tempat duduknya. Aku melihatnya dari sudut mata. Aku melihat Dara menyerahkan kartu itu dengan wajah tidak enak. Aku melihat dia membacanya.
Meja 12.
Dia berdiri di sana sebentar. Lalu dia berbalik dan berjalan kembali ke arahku, menunggu sampai tamu yang sedang kusalami pergi.
“Mbak,” katanya, cukup pelan supaya hanya aku yang mendengar.
“Kenapa? Nggak suka mejanya?”
Dia menatap kartu di tangannya. Lalu menatapku. Wajahnya tenang. Suaranya juga tenang. Tapi ada sesuatu di matanya yang untuk pertama kalinya tidak tunduk.
“Saya bukan sopir Mbak,” katanya. “Tapi saya nggak malu duduk sama sopir.”
Dia menyelipkan kartu itu ke saku batiknya dan berjalan ke pojok kanan ballroom, ke meja dua belas, dekat pintu dapur hotel.
Aku berdiri di pintu ballroom dengan senyum yang mendadak terasa kaku di wajahku.
Seharusnya itu kemenangan kecil. Seharusnya aku merasa puas melihatnya duduk di pojok, di antara para sopir, jauh dari meja keluarga, jauh dari panggung, jauh dari semua hal yang menurutku dia rebut dari Kakek.
Aku tidak merasa puas.
Sepanjang malam, meja dua belas menjadi meja paling ramai di seluruh ballroom.
Aku tidak tahu bagaimana itu terjadi. Dalam lima belas menit, Pak Udin sudah tertawa terbahak sambil menepuk-nepuk bahunya. Dalam tiga puluh menit, Mas Jono, sopir direktur operasional yang biasanya pendiam, sudah bercerita dengan tangan bergerak-gerak penuh semangat. Pak Slamet, sopir paling tua yang sudah mengantar Kakek selama dua puluh tahun dan yang tangannya sekarang sering gemetar, kesulitan memotong daging di piringnya. Laki-laki itu menarik piring Pak Slamet ke depannya, memotong dagingnya kecil-kecil, dan mengembalikannya tanpa berkata apa-apa, seperti hal paling biasa di dunia.
Pak Slamet menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Aku melihat semua itu dari meja satu, di antara direksi dan investor yang membicarakan suku bunga. Aku melihatnya sambil pura-pura mendengarkan. Aku melihatnya terlalu sering, sampai Bu Ratih yang duduk di sebelahku meletakkan garpunya.
“Meja dua belas kelihatannya seru, Bu.”
“Saya nggak lihat.”
“Ibu sudah lihat empat belas kali.” Bu Ratih mengambil garpunya lagi. “Saya hitung. Saya akuntan.”
Sekar datang terlambat, seperti biasa, dengan gaun hijau tosca dan rambut yang masih sedikit basah. Dia duduk di sebelahku, mencium pipiku, lalu langsung bertanya dengan suara yang terlalu keras, “Mana dia?”
Aku tidak menjawab. Sekar mengikuti arah pandang yang tidak sengaja kuberikan dan menemukan pojok kanan ballroom.
“Meja dua belas,” katanya pelan. “Lun.”
“Jangan mulai.”
Sekar tidak mulai. Dia malah berdiri, mengambil gelas sirupnya, dan berjalan ke meja dua belas seperti tamu yang tersesat. Dia berdiri di sana lima menit. Tertawa dua kali. Menjabat tangan Pak Slamet dengan dua tangan.
Ketika kembali, wajahnya aneh.
“Kamu tahu dia lagi ngapain di sana?”
“Makan.”
“Dia lagi bantuin Mas Jono bikin CV buat anaknya yang baru lulus SMK. Di tisu. Pakai pulpen pinjaman dari waiter.” Sekar duduk dan menatapku. “Orang yang ngincar warisan, Lun, biasanya duduk dekat investor. Bukan bikin CV di tisu buat anak sopir.”
Pukul delapan, giliranku berpidato.
Aku naik ke panggung kecil di depan ballroom. Lampu sorot menyilaukan mataku. Aku bisa melihat seluruh ruangan dari sini. Meja-meja bundar dengan taplak putih, wajah-wajah yang menatap ke arahku, lampu kristal yang dipasang Kakek.
Aku memulai. Sejarah perusahaan. Ucapan terima kasih kepada mitra. Visi lima tahun ke depan. Semuanya lancar sampai aku sampai di paragraf terakhir, paragraf yang kutulis tentang Kakek.
Kakek saya membangun perusahaan ini dari satu proyek rumah tipe 36 di Bekasi—
Suaraku berhenti.
Aku tidak merencanakannya. Aku sudah membaca paragraf itu dua puluh kali di depan cermin tanpa masalah. Tapi di panggung ini, di bawah lampu kristal yang dipasang Kakek, di depan mandor-mandor tua yang menangis menyebut namanya, kata-kata itu tersangkut di tenggorokanku dan tidak mau keluar.
Hening. Dua ratus orang menunggu. Aku memegang podium terlalu kuat. Aku membuka mulut. Tidak ada suara.
Lalu, dari pojok kanan ballroom, seseorang berdiri dan bertepuk tangan.
Pelan. Satu orang. Lalu Pak Udin berdiri. Lalu Mas Jono. Lalu Pak Slamet, dengan tangan gemetar. Lalu seluruh meja dua belas berdiri dan bertepuk tangan, dan meja sebelas ikut berdiri, dan mandor-mandor tua ikut berdiri, dan dalam sepuluh detik, seluruh ballroom berdiri dan bertepuk tangan untuk Kakek, untuk nama yang tidak sanggup kuucapkan.
Tepuk tangan itu memberiku waktu. Aku menarik napas. Aku menyeka sudut mataku dengan ujung jari, cepat, berharap lampu sorot menyembunyikannya.
Ketika aku menunduk ke podium, ada segelas air di sana.
Aku tidak melihat siapa yang meletakkannya. Seorang pelayan hotel berbisik dari samping panggung, “Dari meja dua belas, Bu,” lalu menghilang.
Aku meminum air itu. Lalu aku menyelesaikan pidatoku.
Setelah acara resmi selesai dan musik mulai diputar, Gilang muncul di sebelahku dengan dua gelas sirup.
Gilang Mahardika. Mantan pacarku dua tahun lalu, investor muda di salah satu mitra kami, tampan dengan cara yang terlalu sadar diri. Kami putus baik-baik karena aku pindah ke Melbourne, dan sejak pemakaman Kakek, dia sering mengirim pesan dengan nada yang terlalu perhatian.
“Pidatonya bagus,” katanya. “Bagian yang berhenti itu juga bagus. Dramatis.”
“Itu bukan drama.”
“Aku tahu.” Dia tersenyum. “Mau dansa?”
Aku menoleh ke arah meja dua belas. Laki-laki itu sedang tertawa bersama Pak Udin, memegang secangkir kopi. Dia tidak melihat ke arahku.
“Mau,” kataku.
Aku berdansa dengan Gilang di tengah ballroom, dekat sekali dengan meja dua belas, dan aku tertawa terlalu keras pada lelucon Gilang yang tidak lucu. Aku memastikan tawaku terdengar sampai ke pojok kanan ruangan.
Ketika aku melirik ke meja dua belas, kursinya kosong.
Dia sedang di pintu dapur hotel, membantu Pak Slamet berjalan ke toilet, satu tangan menopang siku orang tua itu dengan sabar.
Dia tidak melihatku berdansa sama sekali.
Kami pulang dengan mobil terpisah. Aku dengan Pak Udin, dia dengan motornya.
Pukul sebelas malam, aku turun ke dapur untuk mengambil air, dan menemukan Mbok Darmi di area cuci belakang, merendam sesuatu di ember.
Batik cokelat tua bermotif parang kecil. Ada noda besar di bagian dada, kuah semur yang sudah mengering menjadi cokelat gelap.
“Kenapa itu, Mbok?”
Mbok Darmi tidak menoleh. “Pak Slamet numpahin kuah semur, Mbak. Tangannya gemetar. Mas Radit bilang nggak apa-apa, terus bantuin Pak Slamet makan sampai habis.” Dia menggosok noda itu dengan sabun batang. “Ini batik satu-satunya, Mbak. Dibeliin ibunya buat wisuda S1.”
Aku berdiri di ambang pintu area cuci.
“Mbok,” kataku. “Kenapa Mbok selalu cerita soal dia ke aku?”
Mbok Darmi berhenti menggosok. Dia menoleh, menatapku dengan mata tua yang sudah melihatku tumbuh dari bayi.
“Karena Mbak nggak pernah nanya,” katanya pelan. “Jadi Mbok yang cerita.”
Aku naik ke kamar dan mencoret angka 41 di kalender merah.
Tanganku tidak ragu malam itu. Aku memastikan tanganku tidak ragu. Aku menekan spidol merah itu sampai kertasnya hampir robek.
Tapi aku tidak bisa berhenti memikirkan segelas air di podium, dan siapa yang pertama kali berdiri untuk bertepuk tangan.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas reading
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu