Chapter Three
Rantang Biru
POV: Radit
Rantang itu sudah berumur dua puluh delapan tahun.
Tiga susun, email biru muda dengan gambar bunga kecil warna putih di setiap tingkat, pegangan besinya sedikit penyok di satu sisi karena pernah jatuh dari boncengan sepeda waktu aku kelas empat SD. Ibu membelinya di Pasar Klaten untuk seserahan pernikahannya sendiri, lalu memakainya untuk mengantar makan siang ke proyek tempat Bapak bekerja sebagai tukang batu, setiap hari, selama sebelas tahun, sampai Bapak tidak ada.
Ketika aku berangkat ke Jakarta untuk kuliah, Ibu memasukkan rantang itu ke koperku, dibungkus kain jarik.
Biar kamu inget makan, katanya. Dan biar kamu inget, orang yang dikirimi makan itu orang yang dipikirin.
Pukul empat tiga puluh pagi, aku sudah di dapur rumah Menteng.
Dapur ini besar, dengan kompor enam tungku dan lemari yang tingginya sampai ke langit-langit, tapi aku hanya memakai satu tungku dan satu wajan kecil, karena aku tidak mau ada suara yang naik ke lantai atas. Mbok Darmi sudah bangun, tentu saja. Mbok Darmi bangun sebelum ayam di rumah ini, kalau rumah ini punya ayam.
“Mas Radit mau masak apa?”
“Perkedel kentang, Mbok. Sama sayur bening bayam.”
Mbok Darmi berhenti mengupas bawang. Dia menatapku lama, dan matanya mulai basah.
“Itu masakan almarhumah Ibu,” katanya pelan. “Ibunya Mbak Luna.”
“Bapak yang cerita,” kataku. Aku menyebut Kakek dengan Bapak, seperti sejak SMA, seperti seluruh penerima beasiswa yayasan menyebutnya. “Di rumah sakit. Waktu Bapak sudah susah makan, Bapak cerita soal masakan yang paling dia kangenin. Katanya perkedel kentang buatan menantunya. Katanya Mbak Kaluna dulu makan empat biji sekaligus waktu kecil, sampai nggak mau makan nasi.”
Mbok Darmi menyeka matanya dengan ujung kerudung. “Mbak Luna sudah nggak pernah makan siang, Mas. Sejak pulang dari Australia. Pak Udin bilang tiap hari cuma kopi, kopi, kopi.”
“Makanya,” kataku.
Aku mengupas kentang. Aku merebusnya, menghaluskannya dengan garpu, mencampurnya dengan bawang goreng, seledri, dan sedikit pala, seperti resep yang dituturkan Kakek dengan suara terengah di ranjang rumah sakit pukul dua pagi, ketika obat penahan sakitnya sudah tidak bekerja dan beliau butuh sesuatu untuk dibicarakan selain sakit. Aku membentuk perkedel satu per satu. Mencelupnya di kocokan telur. Menggorengnya sampai kuning keemasan.
Sayur bening bayam dengan jagung manis dan sedikit temu kunci. Sambal terasi yang tidak terlalu pedas, karena Kakek bilang cucunya tidak tahan pedas tapi selalu pura-pura tahan.
Aku menata semuanya di rantang biru. Nasi di susun paling bawah. Sayur di tengah, dengan tutup yang kurapatkan supaya kuahnya tidak tumpah. Perkedel dan sambal di susun paling atas.
“Mbok,” kataku. “Nanti kalau Pak Udin anter ke kantor, bilang aja dari Mbok.”
Mbok Darmi menatapku dengan alis terangkat.
“Mbok bisa bilang dari Mbok,” katanya perlahan. “Tapi Mbok nggak janji muka Mbok bisa bohong. Muka Mbok ini sudah enam puluh tahun nggak pernah bisa bohong, Mas.”
Ternyata bukan muka Mbok Darmi yang membongkarnya. Rantangnya.
Aku tidak berencana ke kantor Adisurya hari itu. Tapi Bu Ratih meneleponku pukul sepuluh pagi, dari nomor pribadinya, dengan suara datar yang dia pakai kalau sedang panik.
“Mas Radit. Proyek Kemang. Ada retak rambut di kolom lantai tujuh. Kontraktornya bilang aman. Saya nggak percaya kontraktornya.”
“Ibu mau saya lihat?”
“Saya mau Mas lihat diam-diam. Lewat konsultan Mas. Tanpa nama Mas di laporan.” Bu Ratih diam sebentar. “Bu Kaluna nggak perlu tahu Mas yang lihat.”
Aku mengambil gambar kerja proyek itu dari kantor Bu Ratih di lantai tiga puluh pukul dua belas. Saat menunggu lift turun, aku melewati pantri lantai tiga puluh dua.
Pintunya kaca. Aku melihat Pak Udin di dalam, memegang rantang biru dengan dua tangan, berdiri di depan Mbak Kaluna.
Aku seharusnya terus berjalan. Aku tidak terus berjalan.
Dia menatap rantang itu. Dia mengenalinya. Tentu saja dia mengenalinya. Rantang biru dengan bunga putih itu sudah tiga minggu ada di rak dapur rumah Menteng, di samping cangkir-cangkir porselen bunga biru milik almarhumah Nenek.
“Dari Mbok Darmi, Bu,” kata Pak Udin dengan suara terlalu keras. “Katanya Ibu harus makan.”
Mbak Kaluna membuka tutup susun paling atas. Perkedel kentang. Delapan biji, kuning keemasan.
Wajahnya berubah. Sesaat saja. Sesuatu yang retak di matanya, sesuatu yang mengenali, dan mungkin ingat dapur ibunya, pukul dua belas siang, ketika dia berumur tujuh tahun dan makan empat perkedel sekaligus.
Lalu wajahnya mengeras.
Dia menoleh, melewati bahu Pak Udin, dan menemukanku di balik pintu kaca.
Mata kami bertemu. Tiga detik.
Lalu dia mengangkat rantang itu, seluruhnya, ketiga susunnya, dan memasukkannya ke tempat sampah besar di sudut pantri. Bukan isinya. Rantangnya juga. Semuanya. Bunyinya keras, email beradu dengan plastik tempat sampah, tutup susun paling atas terlepas dan perkedel berjatuhan di antara bungkus kopi saset dan tisu bekas.
Empat staf yang sedang membuat kopi di pantri membeku.
“Saya nggak makan makanan dari orang yang saya nggak kenal,” katanya, ke arah Pak Udin, tapi cukup keras untuk menembus pintu kaca.
Lalu dia keluar dari pantri lewat pintu yang lain, sepatu haknya berbunyi tajam di lantai marmer, dan menghilang ke ruangannya.
Aku masuk ke pantri.
Pak Udin menatapku dengan wajah pucat, seperti orang yang baru menyaksikan kecelakaan. Para staf berpura-pura sangat sibuk dengan cangkir mereka.
Aku berjongkok di depan tempat sampah. Aku mengambil rantang biru itu, susun demi susun. Susun paling bawah masih tertutup rapat; nasinya selamat. Susun tengah tumpah, kuah sayur bening membasahi bagian dalam tempat sampah. Susun paling atas kosong, perkedelnya berserakan.
Aku memungut perkedel-perkedel itu satu per satu dan membuangnya dengan benar ke tempat sampah organik. Lalu aku membawa ketiga susun rantang ke wastafel pantri.
“Maaf ngerepotin, Mas,” kataku kepada office boy yang berdiri di dekat wastafel dengan mulut terbuka. “Saya pinjam wastafelnya sebentar.”
Aku mencuci rantang itu dengan sabun cuci piring pantri, dengan spons kuning yang sudah tipis. Aku menggosok bagian dalamnya sampai bersih, membilasnya, mengeringkannya dengan tisu dapur. Pegangannya yang penyok. Bunga putihnya yang sedikit pudar. Dua puluh delapan tahun.
Tidak ada yang bicara. Hanya bunyi air.
Ketika selesai, aku menumpuk ketiga susun itu, mengunci pegangannya, dan mengangguk kepada para staf yang masih membeku.
“Permisi.”
Di lift, aku menatap rantang di tanganku, dan pantulan wajahku di dinding baja lift.
Aku tidak marah. Itu yang aneh. Aku sudah menyiapkan diri untuk marah selama tiga minggu, sejak malam akad, sejak teh yang dituang ke wastafel. Aku sudah menyiapkan diri untuk merasakan sesuatu yang panas dan pahit. Tapi yang ada di dadaku bukan marah.
Yang ada adalah wajahnya di detik pertama. Sebelum mengeras. Ketika dia membuka tutup rantang dan melihat perkedel kentang, dan sesuatu di matanya mengenali, dan untuk satu detik saja, dia bukan CEO yang dingin. Dia anak tujuh tahun yang rindu ibunya.
Dan meskipun dia sedang membuang rantang ibuku ke tempat sampah di depan empat orang, dia tetap perempuan paling cantik di ruangan itu. Rambutnya diikat tinggi, rahangnya mengeras karena marah, matanya berkilat basah, dan aku membenci diriku sendiri karena masih bisa memperhatikan itu.
Ponselku bergetar di saku. Ibu, dari Klaten.
Le, rantangnya dipakai? Jangan sampai ilang lho, itu rantang seserahan Ibu.
Aku tertawa sendiri di dalam lift. Tawa yang pendek dan aneh, sampai seorang karyawan yang masuk di lantai dua puluh menatapku dengan curiga.
Dipakai, Bu, balasku. Aman.
Pak Udin menungguku di parkiran basement, berdiri di samping mobil hitam Mbak Kaluna dengan topi sopir di tangan, meremasnya seperti orang yang menunggu kabar dari ruang operasi.
“Mas,” katanya. “Maaf. Saya yang bilang dari Mbok Darmi. Saya nggak nyangka Bu Kaluna langsung tahu.”
“Bukan salah Bapak.”
“Tapi rantangnya, Mas—”
“Rantangnya selamat.” Aku mengangkatnya sedikit. “Lihat. Masih tiga susun.”
Pak Udin menatap rantang itu, lalu menatapku. Dia sudah menjadi sopir keluarga ini selama enam belas tahun, sejak Mbak Kaluna masih memakai seragam SMP. Dia yang mengantar Kakek ke rumah sakit di malam pertama, dan dia yang menjemputku di sana setiap subuh untuk mandi dan ganti baju sebelum kembali lagi.
“Saya tahu siapa yang jagain Bapak tiap malam di rumah sakit, Mas,” katanya pelan. “Saya tahu. Bu Kaluna nggak tahu. Tapi saya tahu.”
Aku menepuk bahunya, dan tidak bisa mengatakan apa pun.
Malam itu, Mbok Darmi menemukanku di dapur, mengeringkan rantang biru untuk kedua kalinya meskipun sudah kering.
“Pak Udin cerita,” katanya pelan.
“Nggak apa-apa, Mbok.”
“Mas.” Suaranya bergetar. “Kenapa Mas nggak bilang aja ke Mbak Luna? Semuanya. Biar dia tahu.”
Aku meletakkan rantang di rak, di samping cangkir-cangkir porselen bunga biru.
“Belum waktunya, Mbok.”
Mbok Darmi menatapku lama. Lalu dia menghela napas, panjang dan berat, dan kembali ke kamarnya tanpa berkata apa-apa.
Di kamar tamu dekat dapur, aku membuka laci meja kecil di samping kasur.
Ada dua benda di sana, terbungkus kain jarik yang sama dengan kain yang dulu membungkus rantang di koperku.
Sebuah flashdisk kecil berwarna hitam, disegel dengan selotip kertas. Di atas selotip itu, tulisan tangan yang miring dan bergetar, tulisan tangan yang kukenal lebih baik daripada tulisanku sendiri: Untuk Luna. Hari ke-365.
Dan sebuah map biru tipis, berisi satu salinan akta yang ditandatangani di kantor Pak Wiryo dua hari sebelum akad.
Aku tidak membuka keduanya. Aku hanya memastikan keduanya masih di sana, seperti setiap malam, lalu menutup laci dan berbaring menatap langit-langit kamar yang dulu ditempati sopir almarhum Kakek.
Tiga ratus empat puluh tiga hari lagi.
Aku menghitungnya bukan karena ingin pergi. Aku menghitungnya karena itu batas waktu yang Bapak berikan. Satu tahun untuk menjaga seseorang yang membenciku, dan setelah itu, melepaskannya dengan baik.
Di atas, di lantai dua, aku mendengar langkah kakinya mondar-mandir. Bolak-balik, bolak-balik, seperti orang yang tidak bisa tidur.
Aku berharap, setidaknya, dia sudah makan malam.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru reading
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu