Chapter Seven
Logat
POV: Kaluna
Perkedel itu kumakan pukul dua pagi, berdiri di depan meja makan dalam gelap, dengan gaun pesta yang belum kuganti.
Aku tidak berencana memakannya. Aku turun untuk mengambil air, karena kepalaku berdenyut setelah tiga gelas sampanye yang terus diisi Gilang, dan perkedel itu ada di sana. Dibungkus kertas minyak. Di depan kursiku. Tanpa catatan apa pun.
Aku tahu dari mana asalnya. Mbok Darmi sudah memberitahuku tadi pagi, dengan suara sangat pelan sambil meletakkan kopi, bahwa hari ini ulang tahun Mas Radit yang ketiga puluh dua. Aku bilang oh. Lalu aku pergi ke pesta Gilang dan berdiri di rooftop selama empat jam, tertawa pada lelucon yang tidak lucu, berfoto dengan tangan Gilang di bahuku, dan tidak bisa berhenti memikirkan apakah ada orang di dunia ini yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada laki-laki di kamar belakang.
Ternyata ada. Daun pisang dan lilin bergaris di tempat sampah dapur menjawabnya.
Perkedel itu dingin. Rasanya persis seperti buatan Ibu.
Aku memakannya sampai habis di dalam gelap, lalu meremas kertas minyaknya dan membuangnya jauh-jauh di dasar tempat sampah, di bawah bungkus-bungkus lain, supaya tidak ada yang tahu.
Dua minggu kemudian, Tasya mengadakan arisan.
Arisan Tasya bukan arisan biasa. Arisan Tasya diadakan di rumahnya di Pondok Indah dengan katering dari restoran Jepang, photo booth di halaman belakang, dan dua belas perempuan yang semuanya memakai gaun dari butik Mira. Aku ikut sejak SMA karena Ibu dulu ikut arisan ibu-ibu mereka, dan setelah Ibu wafat, aku tidak tahu cara berhenti.
Sepanjang arisan, topik yang paling banyak dibicarakan bukan kocokan, bukan butik Mira, bukan liburan Tasya ke Jepang. Topiknya aku.
“Jadi suamimu itu kerja di mana sih, Lun?” tanya Rara, teman yang baru bergabung tahun ini, sambil memotong sushi dengan sumpit.
“Konsultan.”
“Konsultan apa?”
“Struktur. Bangunan.”
“Oh, kayak tukang?”
Beberapa orang tertawa. Aku tidak mengoreksi. Aku tidak tahu harus mengoreksi apa, karena aku sendiri tidak tahu apa pekerjaannya di kantor kecil di Tebet itu, dan aku tidak pernah bertanya.
Dinda menyodorkan ponselnya ke tengah meja. Foto dari belakang, laki-laki dengan helm motor keluar dari restoran Senopati. Asisten keluarga Adisurya, ganteng-ganteng serius. Unggahan itu sudah dilihat dua puluh ribu orang.
“Banyak yang DM aku nanyain dia,” kata Dinda. “Kalau kamu nggak mau, buat aku aja, Lun.”
Semua tertawa lagi. Aku ikut tersenyum, dan senyumku terasa seperti topeng yang terlalu ketat di wajah.
Masalahnya dimulai pukul sembilan malam, ketika mobilku tidak bisa dinyalakan.
Pak Udin sedang cuti karena anaknya menikah di Purwakarta. Sopir pengganti sudah pulang. Aku berdiri di carport rumah Tasya dengan ponsel di tangan, mencoba memesan taksi daring, dan aplikasi menunjukkan waktu tunggu empat puluh lima menit karena hujan.
Aku menelepon Mbok Darmi untuk mengabari bahwa aku akan pulang terlambat.
Lima belas menit kemudian, mobil sedan tua berwarna hijau tua berhenti di depan pagar rumah Tasya.
Mercedes tahun 1992 milik Kakek. Mobil yang sudah delapan bulan tidak dikeluarkan dari garasi rumah Menteng, yang dulu dipakai Kakek setiap Jumat untuk ke masjid dan setiap Minggu untuk ke proyek, yang tidak pernah boleh disetir siapa pun kecuali Pak Slamet.
Dan laki-laki itu yang menyetirnya.
Dia turun dari mobil dengan payung hitam besar. Kaus polo abu-abu dan celana kain, rambut sedikit basah. Dia membuka payung dan berjalan ke carport, berhenti di depanku dengan jarak sopan.
“Mbok Darmi bilang mobil Mbak mogok,” katanya. “Pak Slamet bilang aku boleh pakai mobil Bapak. Dia yang kasih kuncinya.”
Aku menatapnya. Menatap mobil Kakek di depan pagar, lampu depannya menyala lembut di bawah hujan.
Di belakangku, pintu rumah Tasya terbuka. Suara tawa. Langkah-langkah sepatu hak.
“Lun! Taksinya sudah dateng?” Tasya muncul di ambang pintu dengan segelas minuman, diikuti Mira, Dinda, dan dua teman lain. Mereka berhenti ketika melihat siapa yang berdiri di carport.
“Eh.” Dinda tersenyum lebar, senyum yang sangat kukenal. “Asisten ganteng.”
“Mas yang waktu itu di Senopati, kan?” Mira mengangkat alis. “Yang anterin map.”
Mereka semua menatapku. Menunggu.
Aku bisa saja bilang yang sebenarnya. Hujan turun deras, aku lelah, dan laki-laki ini datang menjemputku dengan mobil Kakek dalam hujan, tanpa diminta. Aku bisa bilang suamiku, dan pulang.
“Ini teman saya, Radit,” kataku. “Dia bantu-bantu di rumah.”
Hujan terus turun. Payung di tangannya tidak bergerak.
“Malam, Mbak-mbak,” katanya sopan.
“Ooh, malam, Mbak-mbak.” Dinda menirukan dengan nada Jawa yang dibuat-buat, medok dan berlebihan, menekan setiap konsonan. “Lucu banget logatnya. Dari mana, Mas? Jawa Tengah?”
“Klaten, Mbak.”
“Klaten, Mbak,” ulang Dinda dengan logat yang sama, dan teman-teman di belakangnya tertawa. Tasya menutup mulutnya dengan tangan. Mira ikut menirukan. “Monggo, nggih, Mbak.” Dua perempuan lain ikut tertawa lebih keras.
Dan aku tertawa juga.
Aku tidak merencanakannya. Tawaku keluar begitu saja, ikut arus, seperti refleks yang sudah terlatih bertahun-tahun di arisan ini, di mana siapa pun yang tidak ikut tertawa menjadi bahan tertawaan berikutnya. Aku tertawa, pendek, menutup mulut dengan punggung tangan.
Dia menatapku.
Hanya sedetik. Mata gelapnya menemukan mataku di antara wajah-wajah yang tertawa. Tidak ada marah di sana. Tidak ada kecewa. Tidak ada apa-apa, dan justru tidak ada apa-apa itu yang membuat tawaku mati di tenggorokan.
“Mari, Mbak,” katanya kepadaku. “Payungnya.”
Dia mengulurkan payung dan memegangnya di atas kepalaku, berdiri di sampingku dengan bahu kirinya di luar payung, di bawah hujan. Kami berjalan ke mobil Kakek. Dia membukakan pintu belakang untukku, seperti sopir.
Aku masuk. Dia menutup pintu dan berjalan memutar ke kursi pengemudi.
Lewat kaca jendela yang basah, aku melihat Dinda masih menirukan sesuatu dan teman-temanku masih tertawa di ambang pintu rumah Tasya.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada yang bicara.
Mobil Kakek berbau sama seperti delapan bulan lalu. Kulit jok yang tua, minyak kayu putih, dan sesuatu yang manis dari pengharum mobil berbentuk pohon cemara yang tergantung di kaca spion. Pengharum yang sama, yang tidak pernah diganti Kakek selama sepuluh tahun meskipun wanginya sudah hampir habis.
Aku duduk di kursi belakang, di tempat Kakek dulu duduk. Di depanku, di kursi pengemudi, bahu kirinya basah kuyup dari bahu sampai siku.
Dia menyetir dengan sangat hati-hati. Jauh lebih pelan dari Pak Udin. Mengerem lembut di setiap lampu merah, menghindari setiap genangan. Dia menyetir mobil ini seperti menyetir sesuatu yang tidak boleh lecet sedikit pun.
Di tengah jalan, tanpa menoleh, dia memutar kenop AC dan menurunkannya dua tingkat. Aku baru sadar aku menggigil. Lengan gaun arisanku basah karena cipratan hujan di carport. Dia tidak bertanya. Dia hanya tahu. Aku mengeratkan lenganku dan berpura-pura tidak menyadari bahwa dia sendiri duduk dengan bahu kiri basah kuyup, di bawah sisa embusan udara dingin yang dia kecilkan untukku.
Di lampu merah Pondok Indah, aku hampir mengatakan sesuatu.
Aku tidak tahu apa. Maaf, mungkin. Atau bahumu basah. Atau kenapa kamu yang jemput. Kata-kata itu berkumpul di ujung lidahku, dan aku menatap tengkuknya dari kursi belakang, dan aku membuka mulut.
Lampu berubah hijau. Mobil bergerak. Kata-kata itu hilang.
Malam itu, aku tidak bisa tidur.
Pukul setengah dua belas, aku turun ke dapur untuk mengambil air yang tidak kubutuhkan. Lampu dapur mati. Tapi pintu samping terbuka sedikit, dan dari teras kecil di luar, tempat Mbok Darmi biasa menjemur pakaian, terdengar suara.
Suaranya. Pelan sekali. Sedang menelepon.
Aku berhenti di dapur yang gelap.
“...nggih, Bu. Sampun dhahar. Mboten, mboten sakit. Namung kesel sekedhik.”
Aku tidak mengerti semua kata-katanya. Bahasa Jawaku hanya sebatas yang diajarkan Mbok Darmi waktu aku kecil: matur nuwun, monggo, nggih. Tapi aku mengerti nadanya.
Nadanya sangat lembut. Lembut dengan cara yang belum pernah kudengar dari siapa pun. Setiap kata diucapkan pelan, berhati-hati, dengan irama yang naik-turun seperti air yang mengalir di sungai kecil. Bukan logat yang ditirukan Dinda di carport, berlebihan dan dibuat-buat untuk ditertawakan. Ini bahasa yang dipakai seorang anak untuk bicara dengan ibunya. Bahasa yang menempatkan ibunya lebih tinggi dari dirinya sendiri dalam setiap kata kerja.
“...Ibu ampun kuwatir. Kula mboten napa-napa. Ingkang penting Ibu sehat.”
Hening. Ibunya mengatakan sesuatu di seberang telepon.
Lalu dia tertawa. Pelan. Tawa yang tidak pernah kudengar di rumah ini.
“Nggih, Bu. Mangke kula wangsul. Mbenjang Lebaran.”
Aku berdiri di dapur yang gelap dengan gelas kosong di tangan, dan sesuatu di dadaku terasa sangat tidak nyaman. Seperti ada batu kecil di dalam sepatu yang tidak bisa dikeluarkan.
Aku tertawa tadi. Di carport. Aku tertawa ketika Dinda menirukan bahasa ini, bahasa yang dia pakai untuk bicara dengan ibunya, bahasa yang begitu lembut sampai membuatku ingin duduk di lantai dapur dan mendengarkannya sampai pagi.
Aku naik ke kamar sebelum dia selesai menelepon.
Di kamar, aku membuka laci meja. Kertas kuning dari halaman empat belas masih di sana. Di sebelahnya, sekarang, ada satu benda lain yang kumasukkan dua minggu lalu tanpa tahu kenapa: kertas minyak bekas pembungkus perkedel, yang ternyata tidak kubuang ke dasar tempat sampah. Kuambil lagi. Kulipat kecil. Kusimpan.
Aku menatap dua benda itu.
Lalu aku menutup laci dengan keras, mengambil spidol merah, dan mencoret angka 81 di kalender.
Masih dua ratus delapan puluh empat hari. Aku tidak akan menyerah karena perkedel dan bahasa Jawa.
Aku tidak akan.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat reading
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu