Chapter Thirty Five
Pipi Kiri
POV: Radit
Ternyata berhenti bilang saya jauh lebih susah daripada berhenti bilang Mbak.
Satu minggu setelah Luna pindah ke rumah Ibu, aku sudah tergelincir dua puluh tiga kali. Aku tahu angka pastinya karena Luna menghitungnya. Dengan spidol merah. Di kalender bank yang dulu dia pakai untuk menghitung hari sejak aku pergi, yang sekarang ditempel di dinding dapur Ibu dengan selotip.
Setiap kali aku bilang saya, dia mencoret satu garis kecil di kotak tanggal hari itu.
“Saya mau ke sekolah sebentar,” kataku hari Senin pagi.
Dia mengangkat spidol merah tanpa menoleh dari wajan.
“Aku. Aku mau ke sekolah sebentar.”
Dia menurunkan spidol. “Telat. Sudah kecoret.”
“Kamu nggak lihat.”
“Aku dengar.” Dia mengaduk tumis kangkung dengan wajah sangat puas. “Dendanya satu kerupuk.”
Sistem denda itu dibuat Tole. Setiap kali aku bilang saya kepada Luna, aku harus memberikan satu kerupuk dari piringku kepada Tole. Dalam seminggu, Tole sudah mengumpulkan dua puluh tiga kerupuk dan menjadi anak paling bahagia di Desa Karanganom. Ibu bilang kalau begini terus, Tole akan sakit gigi sebelum aku lancar bicara.
“Om,” kata Tole hari Selasa, dengan mulut penuh kerupuk. “Om sengaja ya? Biar Tole dapat kerupuk?”
“Nggak.”
“Soalnya Om bilang saya terus kalau ada kerupuk udang.”
Luna tertawa sampai harus berpegangan pada meja dapur.
Rumah Ibu berubah dalam satu minggu.
Bukan karena barang. Luna hanya membawa satu koper, satu ransel, celemek almarhumah ibunya, cobek batu, dan rantang biru. Tapi rumah ini terasa berbeda. Ada suara langkah lain di lantai semen. Ada sandal katun putih yang sudah jadi cokelat di rak dekat pintu, di sebelah sandal Ibu dan sandal Tole. Ada dua suara perempuan di dapur pukul lima pagi. Satu suara tegas memberi instruksi dalam krama, satu suara lagi menjawab nggih, Bu dengan logat Jakarta yang pelan-pelan semakin luwes.
Ada tawa. Lebih banyak dari sebelumnya.
Kamar almarhumah Mbak Ningsih, kakakku, ada di sebelah kamarku, dipisahkan dinding papan yang sudah berumur tiga puluh tahun. Luna tidur di sana. Ibu yang mengatur, tanpa diskusi, pada malam pertama.
“Kalian sudah nikah,” kata Ibu sambil membentangkan seprai bersih di kasur kamar Mbak Ningsih. “Ibu tahu. Ada buku nikahnya. Bu Darsih sudah periksa.” Dia meluruskan sudut seprai. “Tapi kalian belum pernah jadi suami istri. Kalian setahun jadi orang asing yang tinggal serumah. Ibu mau kalian mulai dari awal. Pelan-pelan. Yang bener.”
Luna menatap Ibu dengan mata basah.
“Nggih, Bu.”
“Jangan nggih aja. Ngerti nggak?”
“Ngertos, Bu.”
Ibu tersenyum ke seprai. “Nah. Itu baru bener.”
Dinding papan antara kamarku dan kamar Mbak Ningsih sangat tipis. Aku tidak pernah menyadarinya sampai minggu itu. Aku bisa mendengar Luna membalik badan di kasur. Aku bisa mendengar dia bergumam dalam tidurnya, sesekali, kata-kata yang tidak jelas. Satu malam, aku mendengarnya mengulang-ulang kata krama yang sedang dia hafalkan, berbisik ke dirinya sendiri dalam gelap. Dhahar, nedha, mangan. Dhahar, nedha, mangan.
Aku tidur dengan senyum di wajah setiap malam, seperti orang bodoh.
Hari Sabtu sore, Tole memaksa kami ke sawah untuk menerbangkan layangan.
Dia membuat layangan itu sendiri dari bambu dan kertas minyak warna merah, dengan ekor panjang dari tali rafia. Dia bilang layangan ini harus diterbangkan oleh Mbak Jakarta, karena Mbak Jakarta belum pernah main layangan, dan itu menurutnya adalah tragedi terbesar dalam sejarah umat manusia.
Sawah di belakang SD Negeri 2 Karanganom sore itu berwarna emas. Padi yang ditanam ketika Luna pertama kali datang sudah tinggi, hijau kekuningan, bergoyang pelan ditiup angin dari arah Merapi. Langit biru pucat dengan awan tipis yang bergerak cepat. Matahari sudah condong ke barat, dan cahayanya jatuh miring di atas hamparan padi, membuat semuanya terlihat seperti lukisan.
Luna memegang gulungan benang. Tole memegang layangan, berlari di pematang, melepaskannya ke udara.
Layangan itu naik setengah meter. Lalu jatuh ke sawah.
Tole memungutnya, mengibaskan air, dan mencoba lagi. Naik satu meter. Jatuh lagi.
“Mbak Jakarta tariknya salah!” teriak Tole dari ujung pematang.
“Salah gimana?”
“Kalau layangannya naik, Mbak tarik! Kalau turun, Mbak ulur!”
“Itu kebalik, kan?”
“Nggak kebalik! Mbak yang kebalik!”
Percobaan keenam, layangan merah itu akhirnya naik. Angin menangkapnya, dan dia meluncur ke atas dengan cepat, ekor rafia berkibar, makin tinggi, makin kecil, sampai menjadi titik merah di langit biru.
Luna menjerit kegirangan. Dia memegang gulungan benang dengan dua tangan, kepalanya mendongak, matanya menyipit karena silau, dan dia tertawa. Tawa yang keras dan lepas dan sangat bahagia, seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat sesuatu terbang karena dirinya.
Tole melompat-lompat di pematang. “NAIK! NAIK! MBAK JAKARTA BISA!”
Aku berdiri di pematang di belakangnya, menatapnya.
Cahaya matahari sore jatuh di wajahnya dari samping. Rambutnya yang diikat rendah tertiup angin, beberapa helai lepas dan menempel di pipinya. Kulitnya kecokelatan sekarang, bukan kulit Jakarta lagi. Ada bintik-bintik kecil di hidungnya. Tangannya yang memegang gulungan benang penuh bekas luka kecil yang sudah memudar.
Dia sangat cantik. Cantik dengan cara yang membuatku ingin menghentikan waktu. Cantik seperti cahaya emas yang jatuh di atas padi pada sore hari, yang hanya ada selama beberapa menit sebelum matahari tenggelam, dan kalau kamu tidak melihatnya, kamu akan menyesal seumur hidup.
Aku melihatnya. Aku tidak mau menyesal lagi.
Tole akhirnya pulang ketika azan magrib terdengar dari masjid desa, membawa layangan merahnya dengan bangga, berlari di pematang sambil berteriak kepada siapa pun yang mendengar bahwa layangannya terbang paling tinggi.
Kami berdua tertinggal di pematang. Matahari sudah hampir tenggelam di balik gunung di barat. Langit berubah dari emas ke oranye ke merah muda.
Luna menggulung benang layangan yang tersisa di gulungan. Pelan. Tangannya sedikit gemetar.
“Radit,” katanya tanpa menoleh.
“Hm.”
“Boleh aku tanya sesuatu?”
“Boleh.”
Dia berhenti menggulung. Dia menatap gulungan benang di tangannya.
“Pipi kirimu,” katanya pelan. “Masih sakit?”
Aku membeku.
Dia berbalik dan menatapku. Matanya basah. Di bawah cahaya senja, aku bisa melihat setiap garis di wajahnya, setiap bekas lelah dan air mata dari bulan-bulan terakhir.
“Waktu di perpustakaan,” lanjutnya, “kamu bilang pipi kiri saya. Pertama kali kamu bilang. Aku nggak bisa berhenti mikirin itu. Setiap malam. Setiap kali aku lihat tanganku.”
“Sudah nggak sakit,” kataku. “Sudah lama.”
“Bohong.”
“Luna—”
“Kamu bilang saya,” katanya dengan senyum kecil yang gemetar. “Waktu itu. Kamu bilang saya, jadi itu masih sakit. Kamu cuma bilang saya kalau ada yang masih sakit.”
Aku tidak bisa menjawab.
Dia meletakkan gulungan benang di atas pematang. Dia melangkah mendekat. Satu langkah. Lalu satu lagi, sampai dia berdiri sangat dekat di depanku, di pematang sawah yang sempit, di bawah langit yang mulai ungu.
Dia mengangkat tangannya.
Tangan kanannya. Tangan yang menamparku di lorong hotel di Melbourne.
Dia menyentuh pipi kiriku. Pelan sekali. Ujung jarinya dingin karena angin sore, telapaknya kasar karena ulekan dan pisau dapur. Dia menyentuhnya seperti menyentuh luka yang belum sepenuhnya sembuh, dengan sangat hati-hati, seperti takut menyakitinya lagi.
“Ini,” bisiknya. “Ini yang aku tampar.”
Aku tidak bergerak. Aku tidak bisa bergerak.
Lalu dia berjinjit, dan menempelkan bibirnya di pipi kiriku.
Di tempat yang sama. Tepat di tempat telapak tangannya mendarat malam itu, di lorong hotel yang sepi, lebih dari empat ratus hari yang lalu.
Bibirnya hangat. Dia menahannya di sana lama. Satu detik. Dua. Tiga. Seperti dia sedang mencoba menghapus sesuatu, atau menggantinya dengan sesuatu yang lain.
Aku memejamkan mata.
Ketika dia menarik diri, wajahnya masih sangat dekat. Napasnya bergetar di dekat rahangku. Matanya menatapku dengan pertanyaan yang tidak dia ucapkan.
Dan aku, yang selama sembilan tahun tidak pernah berani berharap, yang selama setahun tidur di kamar sopir dan masuk lewat pintu samping, yang mengulurkan tangan hanya ketika dia jatuh, untuk pertama kalinya tidak menunggu dia jatuh.
Aku menangkup wajahnya dengan kedua tangan.
Dan aku menciumnya.
Pelan. Sangat pelan. Seperti seseorang yang sudah menunggu sembilan tahun dan tidak ingin terburu-buru di detik terakhir. Bibirnya lembut dan sedikit asin karena air mata yang entah milik siapa, milikku atau miliknya. Tangannya naik dan menggenggam kerah kemejaku. Angin sore bertiup di atas sawah, membuat padi di sekeliling kami berbisik seperti ribuan suara kecil.
Itu ciuman pertama kami.
Setahun lebih menikah. Satu buku nikah. Satu akad di atas karpet bekas tahlilan. Satu kamar sopir dan satu kamar di lantai atas. Satu peron stasiun pukul lima pagi.
Dan ciuman pertama kami terjadi di pematang sawah di Klaten, saat magrib, dengan bekas lumpur di sepatu katunnya dan gulungan benang layangan di kakinya.
Ketika kami berpisah, keningnya bersandar di keningku. Kami berdua bernapas berat. Dia tertawa pelan, gemetar, dan aku merasakan tawanya di wajahku.
“Itu,” bisiknya, “jauh lebih bagus dari tamparan.”
Aku tertawa. Tawa yang pecah dan basah, dengan kening masih menempel di keningnya.
Lalu, dari arah rumpun padi di ujung pematang, terdengar suara yang sangat keras.
“OM! MBAK!”
Kami membeku.
Tole berdiri di ujung pematang, sepuluh meter jauhnya, dengan layangan merah di tangan dan mulut terbuka lebar. Dia ternyata kembali untuk mengambil gulungan benang yang tertinggal. Dia ternyata sudah berdiri di sana entah sejak kapan.
“TOLE LIHAT!” teriaknya dengan suara yang pasti terdengar sampai ke masjid desa. “OM CIUM MBAK JAKARTA!”
Lalu dia berbalik dan berlari ke arah desa, sangat cepat, sandal jepitnya berbunyi plak-plak-plak di pematang, sambil terus berteriak kepada seluruh Kecamatan Karanganom.
“MBAH! MBAH! OM CIUM MBAK JAKARTA DI SAWAH!”
Luna menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Aku menatap langit yang sudah ungu, dan tertawa sampai harus duduk di pematang.
Malam itu, saat makan malam, Ibu meletakkan sepiring tempe goreng di tengah meja dengan wajah tanpa ekspresi.
Dia duduk. Dia mengambil nasi. Dia menatap Luna, yang wajahnya masih merah sejak magrib. Lalu menatapku.
“Le,” katanya dengan nada sangat datar. “Kalau mau cium istrimu, jangan di sawah Pak Lurah. Nanti padinya malu, nggak mau berbuah.”
Tole tersedak kerupuk.
Luna menyembunyikan wajahnya di balik tangan.
Dan aku, untuk pertama kalinya dalam hidupku, tertawa terbahak-bahak di meja makan Ibu sampai air mataku keluar, sementara Ibu menyendok sayur lodeh dengan wajah sangat serius, dan sudut bibirnya bergerak naik, sedikit saja, dan tidak bisa dia tahan.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri reading
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu