Chapter Thirty Seven

Ijab Ulang

POV: Kaluna

Kebaya itu sudah dijahit sejak hari pertama aku duduk di teras.

Ibu memberitahuku tiga hari sebelum ijab ulang, ketika dia memanggilku ke kamarnya dan membuka lemari kayu tua yang pintunya berderit. Di dalamnya, tergantung di hanger kayu dan dibungkus kain putih tipis, ada kebaya kutubaru berwarna putih gading dengan bordir bunga melati kecil di sepanjang kerah dan ujung lengan. Kain jariknya batik tulis berwarna cokelat tua dengan motif parang kecil.

Motif yang sama dengan batik satu-satunya milik Radit.

“Ini kain yang Ibu jahit waktu kamu pertama kali duduk di bangku itu,” kata Ibu pelan, sambil merapikan lipatan jarik di hanger. “Ibu nggak tahu kenapa. Ibu marah sama kamu. Ibu bikin kamu nunggu dua jam di bawah matahari. Tapi tangan Ibu milih kain ini, dan Ibu jahit terus, setiap pagi, setiap kali kamu datang bawa terasi.”

Aku tidak bisa bicara.

“Ibu pikir, mungkin tangan Ibu sudah tahu duluan apa yang hati Ibu belum mau akui.” Ibu tersenyum kecil. “Coba. Kalau kebesaran, Ibu kecilin. Kamu kurus banget sekarang.”

Kebaya itu pas. Tidak kebesaran. Tidak kekecilan. Pas, seperti diukur dengan pita kuning yang tergantung di leher Ibu setiap hari, padahal Ibu tidak pernah sekali pun mengukurku.

“Ibu ngukur dari mana?” tanyaku dengan suara bergetar.

“Dari mata.” Ibu menyentuh bahuku, merapikan kerah kebaya. “Ibu sudah tiga bulan lihat kamu di bangku itu. Di dapur. Di sawah. Mata Ibu sudah hafal.”

Ijab ulang diadakan hari Sabtu pagi, di ruang tamu rumah cat hijau.

Bukan di gedung. Bukan di masjid besar. Di ruang tamu kecil dengan kursi kayu dan foto-foto di dinding, tempat Ibu dan almarhum bapaknya Radit dulu menikah, tiga puluh lima tahun lalu, di atas tikar pandan yang sama, yang Ibu keluarkan dari gudang dan jemur tiga hari supaya wanginya kembali.

Tamu-tamu mulai berdatangan pukul tujuh pagi.

Mbok Darmi tiba hari Jumat malam bersama Sekar, Bu Ratih, dan Pak Wiryo, naik kereta yang sama yang dulu dinaiki Radit. Mbok Darmi langsung masuk ke dapur Ibu, berdiri di samping Ibu di depan kompor, dan kedua perempuan tua itu memasak bersama sampai tengah malam tanpa perlu berkenalan, seperti dua orang yang sudah saling kenal seumur hidup lewat satu laki-laki yang sama.

Paguyuban Meja 12 tiba pukul enam pagi dengan mobil elf sewaan.

Mereka berangkat dari Jakarta pukul sembilan malam, sebelas orang, termasuk Pak Udin yang menyetir, Mas Jono, Pak Slamet, tiga sopir lain dengan istri-istri mereka, dan anak Mas Jono yang sekarang kerja di pabrik di Cikarang. Pak Slamet turun dari elf dengan wajah pucat kehijauan dan langsung duduk di bangku kayu di teras, bangku tempat aku dulu menunggu dua jam, dengan minyak kayu putih di hidungnya.

“Mabuk, Mas,” katanya kepada Radit dengan suara lemah. “Sembilan jam. Pak Udin nyetirnya kayak dikejar polisi.”

“Saya nyetir delapan puluh, Pak,” protes Pak Udin.

“Delapan puluh di tikungan Brebes!”

Nisa, Rara, dan Wulan datang dari kos Bu Darsih dengan kebaya pinjaman dan wajah sangat bersemangat. Bu Darsih sendiri datang tanpa rol rambut untuk pertama kalinya dalam sejarah, dengan rambut disanggul rapi dan kebaya ungu, dan dia menolak mengakui bahwa dia ke salon.

Pak Karyo datang dengan dua anaknya dan seluruh tukang yang membangun perpustakaan. Pak Wardi dari angkringan datang membawa dua termos besar teh jahe. Mas Agus dari pangkalan ojek datang dengan tiga tukang ojek lain, karena katanya saya yang pertama antar Mbak dari stasiun, saya harus jadi saksi.

Ruang tamu kecil itu tidak muat. Tamu-tamu meluber ke teras, ke halaman, ke bawah pohon mangga. Ibu-ibu tetangga berdiri di balik pagar bambu, menonton. Jago si ayam jago berjalan mondar-mandir di antara kaki para tamu dengan wajah sangat tidak senang.

Penghulu dari KUA kecamatan tiba pukul sembilan.

Aku duduk di kamar almarhumah Mbak Ningsih, kamar yang selama tiga minggu ini menjadi kamarku, dengan kebaya putih gading dan jarik cokelat tua. Sekar sedang merapikan sanggulku. Bu Ratih berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat, menatapku dengan mata yang sangat merah.

“Bu Ratih,” kataku. “Ibu nangis?”

“Nggak, Bu.” Dia menyedot hidungnya. “Debu. Rumah ini banyak debu sawah.”

Sekar menyematkan untaian melati di sanggulku. Melati segar, dipetik pagi tadi oleh Tole dari kebun tetangga, dengan izin, katanya.

Lalu Tole masuk ke kamar, memakai kemeja batik kecil yang dijahitkan Ibu, membawa buket bunga di kedua tangannya.

Melati dan mawar putih. Dirangkai dengan pita kain putih sederhana.

Aku menatap buket itu, dan napasku berhenti.

Melati dan mawar putih. Buket yang sama dengan yang dia letakkan di lantai depan pintu kamar hotelku di Melbourne, setelah aku menamparnya. Buket dari Kakek. Buket yang tidak pernah kupungut, yang mungkin diambil petugas kebersihan hotel keesokan paginya dan dibuang.

“Om yang rangkai,” kata Tole dengan bangga. “Tadi subuh. Om bilang Mbak pernah nggak sempat terima buket ini. Jadi Om bikin lagi.”

Aku menerimanya dengan kedua tangan yang gemetar.

Sekar memalingkan wajah ke jendela. Bu Ratih menyedot hidungnya lagi dan mengulang kalimat tentang debu sawah.

Aku keluar dari kamar dengan buket melati dan mawar putih di tangan.

Ruang tamu langsung hening.

Dia duduk di atas tikar pandan di tengah ruangan, di depan meja kecil tempat penghulu meletakkan buku dan map. Dia memakai kemeja batik cokelat tua bermotif parang kecil. Batik satu-satunya. Batik yang dibelikan ibunya untuk wisuda S1, yang dia pakai di pemakaman Kakek, di barisan paling belakang auditorium Melbourne, di meja dua belas ballroom hotel di Thamrin, dan di lantai ruang tamu ini, hari ini.

Dia menoleh ketika aku keluar.

Dan dia membeku.

Aku melihatnya dengan sangat jelas. Bahunya menegang. Bibirnya sedikit terbuka. Matanya bergerak dari wajahku ke kebaya putih gading ke buket di tanganku, lalu kembali ke wajahku, dan berhenti di sana, dan tidak bergerak lagi.

Pak Slamet, di teras, berbisik keras kepada Pak Udin, Din, dia lupa napas.

Aku duduk di sebelahnya di atas tikar pandan.

Dia tidak menoleh ke arahku. Dia menatap lurus ke depan, ke penghulu, dengan wajah yang sangat serius dan telinga yang sangat merah.

“Kamu cantik banget,” bisiknya tanpa menoleh, cukup pelan supaya hanya aku yang dengar.

“Kamu bilang itu ke penghulu?”

“Aku nggak berani lihat kamu,” bisiknya. “Nanti aku lupa lafaznya.”

Ijab kabul itu diucapkan dalam satu tarikan napas.

Sama seperti setahun lalu, di atas karpet bekas tahlilan di rumah Menteng. Suaranya rendah dan sangat jelas, tanpa satu kata pun yang tersendat.

Tapi kali ini aku mendengarnya.

Setahun lalu aku tidak mendengar apa-apa. Aku duduk di seberang meja akad dengan kebaya almarhumah ibuku yang terlalu longgar di pinggang, menatap ke arah lain, menunggu semuanya selesai. Hari ini, aku duduk di sebelahnya, dan aku mendengar setiap kata. Getaran kecil di suaranya di tengah kalimat. Tarikan napas pendek sebelum namaku.

Kaluna Adisurya binti Haryo Adisurya.

Ayahku. Yang tidak sempat melihatku menikah dua kali.

“Sah?” tanya penghulu.

“SAH!”

Bukan dua saksi yang menjawab. Seluruh ruang tamu. Seluruh teras. Seluruh halaman di bawah pohon mangga. Paguyuban Meja 12, tukang-tukang Pak Karyo, mahasiswi kos, tukang ojek, Bu Darsih, Pak Wardi, ibu-ibu tetangga di balik pagar bambu. Semuanya berteriak bersamaan, begitu keras sampai Jago si ayam jago kabur terbirit-birit ke kebun belakang.

Tole melompat-lompat. Mbok Darmi dan Ibu berpelukan di ambang pintu dapur, dua-duanya menangis. Pak Wiryo melepas kacamatanya dan mengelapnya dengan sapu tangan, lama sekali.

Aku menoleh kepadanya.

Dia akhirnya menatapku. Matanya basah. Dia tersenyum. Senyum yang sama dengan senyumnya di foto Instagram SD Negeri 2 Karanganom, berjongkok di tengah anak-anak dengan kaus lusuh dan topi kain. Senyum orang yang tidak sedang menahan apa pun.

“Istriku,” katanya.

Hanya satu kata. Di depan semua orang.

Malam itu, setelah semua tamu pulang atau tidur, setelah paguyuban Meja 12 tidur di tikar di teras karena elf mereka berangkat lagi pukul lima pagi, setelah Mbok Darmi dan Ibu akhirnya berhenti mencuci piring pukul sebelas malam, setelah Tole tertidur di sofa ruang tamu dengan kemeja batik kecil yang belum diganti, aku berdiri di depan pintu kamarnya.

Kamar masa kecilnya. Dengan dinding papan yang sudah berumur tiga puluh tahun dan poster tim sepak bola yang menguning. Pintu kayu dengan kunci tua yang harus diputar dua kali.

Pintunya terbuka sedikit. Lampu di dalamnya menyala redup.

Aku mengetuk.

“Masuk,” katanya.

Dia duduk di tepi kasur, masih memakai kemeja batik cokelat tua, dengan lengan digulung sampai siku. Dia berdiri ketika aku masuk. Selalu berdiri.

Aku menutup pintu di belakangku. Aku tidak menguncinya.

Kami berdiri di kamar kecil itu, saling menatap, seperti dua orang yang baru bertemu. Dan dalam satu cara yang sangat aneh, memang begitu. Setahun lebih kami menikah, dan ini pertama kalinya kami berada di kamar yang sama, dengan pintu tertutup, sebagai suami dan istri.

“Kita nggak harus apa-apa malam ini,” katanya pelan. “Kamu capek. Seharian. Kalau kamu mau tidur aja...”

“Kamu mau?” tanyaku.

Dia diam.

Aku melihat semua yang terjadi di wajahnya. Kebiasaan lama. Setahun menahan diri, sembilan tahun tidak berani berharap. Insting untuk bilang terserah kamu, yang penting kamu. Semua itu berbaris di matanya.

Lalu dia menarik napas, dan menyingkirkan semuanya.

“Aku mau,” katanya. Suaranya serak. “Kamu?”

Aku melangkah mendekat. Satu langkah. Lalu satu lagi, sampai aku berdiri tepat di depannya, cukup dekat untuk merasakan napasnya.

“Aku mau,” kataku.

Dia mengangkat tangan dan menyentuh pipiku. Pelan. Seperti di pematang sawah. Seperti di teras Kakek. Ujung jarinya menyusuri rahangku, turun ke leher, ke kerah kebaya putih gading yang dijahit ibunya dengan tangan.

Aku meraih tangannya di kerahku dan menahannya di sana.

Lalu aku berjinjit dan mencium pipi kirinya. Lalu bibirnya.

Dia mengulurkan tangan ke belakangku, ke saklar lampu di dinding papan.

Klik.

Gelap.

Hanya cahaya bulan yang masuk lewat jendela kecil di atas kasur. Bulan sabit. Tipis dan miring di langit Klaten, belum selesai, masih tumbuh.