Chapter Thirty Six
Melamar Lagi
POV: Kaluna
Dia masuk lewat pintu depan.
Aku tahu itu terdengar seperti hal kecil. Pintu depan rumah Menteng hanyalah pintu kayu jati besar dengan ukiran sederhana dan gagang kuningan yang sudah sedikit kusam, pintu yang setiap hari dilewati Mbok Darmi, Pak Udin, tukang kebun, dan tamu-tamu yang datang untuk urusan perusahaan.
Tapi selama sepuluh bulan, dia tidak pernah melewatinya.
Sabtu pagi, pukul sembilan, Pak Udin menjemput kami di Stasiun Gambir dengan mobil Mercedes hijau tua milik Kakek, yang sudah dicuci sampai mengilap di kedua sisinya. Pak Slamet duduk di kursi depan sebelah Pak Udin, memakai batik terbaiknya, dan menolak duduk di belakang karena saya mau lihat muka Mas Radit dari depan. Sepanjang perjalanan dari Gambir ke Menteng, Pak Slamet menoleh ke belakang setiap lima menit dan tersenyum lebar tanpa berkata apa-apa, sampai Radit bertanya apakah ada sesuatu di wajahnya.
“Ada, Mas,” kata Pak Slamet. “Muka orang yang sudah pulang.”
Mobil berhenti di carport. Radit turun lebih dulu, membukakan pintu untukku. Lalu dia berdiri di depan rumah itu dengan ransel di punggung, menatap pintu jati besar, dan tidak bergerak.
Aku tahu apa yang dia pikirkan. Pintu samping ada di kiri, di dekat garasi. Pintu kecil yang selama sepuluh bulan dia lewati setiap pagi dan setiap malam, mendorong motornya pelan-pelan supaya suaranya tidak membangunkan siapa pun.
Aku mengambil tangannya.
“Lewat depan,” kataku. “Ibu bilang rumah yang benar nggak punya pintu samping.”
Dia menatapku. Lalu dia menatap pintu jati itu lagi.
Pintu itu terbuka sebelum kami sempat menyentuhnya.
Mbok Darmi berdiri di ambang pintu dengan kerudung ungu pengajiannya dan daster batik terbaiknya, dan dia tidak berkata apa-apa sama sekali. Dia hanya menatap Radit. Lama sekali. Lalu dia melangkah keluar, memeluknya, dan menangis di dadanya dengan suara yang sangat keras untuk perempuan sekecil itu.
“Mas,” katanya berkali-kali. “Mas. Mas pulang.”
Radit memeluknya balik. Aku melihat bahunya bergetar.
Di belakang Mbok Darmi, di ruang tengah, ada Sekar dengan ponsel di tangan yang jelas-jelas sedang merekam. Ada Bu Ratih, berdiri tegak dengan tas kulit di tangan dan mata yang terlihat sangat merah untuk seseorang yang mengaku tidak pernah menangis. Ada Pak Wiryo, duduk di sofa dengan kacamata tebalnya, tersenyum.
Dan di luar pagar, di trotoar Menteng, berdiri berjajar seperti barisan upacara, ada Mas Jono, Pak Udin yang baru turun dari mobil, dan tiga sopir lain dari paguyuban Meja 12, semuanya memakai kemeja batik seragam perusahaan, semuanya bertepuk tangan.
Tetangga sebelah, seorang ibu tua yang sedang menyiram tanaman, menatap barisan sopir itu dengan wajah sangat bingung.
Radit masuk lewat pintu depan dengan Mbok Darmi masih menempel di lengannya.
Siang itu, kami ke makam Kakek.
Berdua. Pak Udin mengantar, tapi dia menunggu di mobil, di luar gerbang TPU Karet Bivak. Mas Jono menunggu di lapak bunga Mbok Sum, dan Mbok Sum menolak uang kami sama sekali.
“Masnya sudah bayar sampai tahun depan,” katanya, lalu menambahkan dengan suara pelan sambil menatapku. “Dan Mbaknya sekarang taburnya sudah lurus. Mas Jono yang cerita.”
Kami membawa dua bungkus melati. Satu untukku, satu untuknya.
Makam Kakek bersih seperti biasa. Melati segar dari Jumat kemarin masih ada di atas tanah, sedikit layu, tertabur rapi membentuk garis lurus dari kaki makam sampai ke nisan. Pohon kamboja di atasnya sedang berbunga lebat.
Bapak bagi banyak orang.
Kami menaburkan melati berdua. Aku di sisi kiri makam, dia di sisi kanan. Taburan kami bertemu di tengah, di depan nisan, membentuk satu garis yang lurus.
Lalu dia berlutut di depan nisan granit hitam itu.
Aku berdiri di sebelahnya. Aku tidak berlutut. Aku merasa ini bukan saatku.
Dia diam lama. Tangannya menyentuh pinggiran keramik makam, membersihkan sehelai daun kamboja kering yang jatuh di sana. Lalu dia bicara dengan suara sangat pelan, dalam bahasa Jawa yang lembut, bahasa yang dia pakai untuk bicara dengan ibunya.
Aku tidak mengerti semuanya. Tiga bulan belajar krama dengan Tole dan Bu Sumarni hanya cukup untuk menangkap mungkin separuhnya.
Tapi aku mengerti beberapa kata.
Bapak. Nyuwun pangapunten. Pak, mohon maaf.
Kula sampun kesupen janji. Saya sudah melanggar janji.
Setahun mboten cekap. Setahun tidak cukup.
Lalu satu kalimat panjang yang dia ucapkan dengan suara bergetar, yang aku tidak mengerti sama sekali, sampai di ujungnya ada dua kata yang aku tahu.
Kula nyuwun.
Saya minta.
Dia menunduk sampai dahinya hampir menyentuh nisan. Lama. Pohon kamboja di atas kami bergoyang ditiup angin, dan beberapa bunga putih jatuh, satu di bahunya, satu di rambutku.
Ketika dia berdiri, matanya merah. Dia menatapku.
“Aku minta izin,” katanya. “Ke Bapak.”
“Izin apa?”
Dia tidak menjawab. Dia hanya mengambil tanganku dan menggandengnya keluar dari makam, melewati jalan setapak di antara nisan-nisan, ke gerbang tempat Pak Udin menunggu.
Malam itu, dia melamarku di teras belakang rumah Menteng.
Teras tempat Kakek dan almarhumah Nenek dulu duduk setiap sore dengan dua cangkir porselen bermotif bunga biru. Mbok Darmi sudah menyiapkan dua cangkir itu di meja kecil, berisi teh melati yang masih mengepul. Dua cangkir yang sama yang ada di meja makan di malam akad. Satu cangkir yang kutuang ke wastafel di depannya.
Hari ini, kedua cangkir itu penuh.
Aku tidak tahu dia akan melamar. Aku pikir kami hanya akan minum teh. Aku duduk di bangku kayu dengan cangkir di tangan, menatap anggrek di pot yang mulai berbunga lagi setelah Mbok Darmi menyiramnya setiap pagi selama setahun, dan dia duduk di sebelahku.
Lalu dia berdiri.
Dia berdiri di depanku, di teras yang diterangi lampu taman kuning, dan mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja batiknya. Kotak beludru kecil berwarna biru tua.
Aku mengenalinya. Kotak itu dari meja riasku di lantai atas. Kotak tempat aku menyimpan dua cincin emas putih tanpa ukiran, cincinku yang tidak pernah kupakai dan cincinnya yang dia tinggalkan di atas map biru.
“Kamu ambil dari kamarku?” tanyaku.
“Mbok Darmi yang ambil,” katanya. “Aku nggak masuk kamarmu. Belum.”
Belum.
Pipiku terasa panas.
Dia membuka kotak itu. Dua cincin di atas beludru biru tua, berdampingan, berkilau di bawah lampu taman.
“Luna,” katanya.
Suaranya bergetar. Tangannya yang memegang kotak itu juga.
“Pertama kali kita nikah, aku nggak melamar kamu. Kamu nggak dilamar siapa pun. Kamu cuma dikasih tahu lewat wasiat. Nggak ada yang nanya kamu mau atau nggak.” Dia menarik napas. “Cincin ini dipilih Pak Wiryo, karena nggak ada satu pun dari kita yang mau ke toko perhiasan bareng. Kamu nggak pernah pakai cincinmu sehari pun. Aku pakai punyaku diam-diam sepuluh bulan, dan aku taruh di atas meja waktu aku pergi.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
“Aku nggak mau pernikahan kita kayak gitu,” lanjutnya. “Aku mau kamu dilamar. Aku mau kamu ditanya. Aku mau kamu punya pilihan yang nggak dibuat orang lain buat kamu.”
Dia berlutut di depanku. Satu lutut di lantai teras keramik yang dingin.
“Kaluna Adisurya,” katanya. “Maukah kamu menikah denganku? Lagi. Yang bener, kali ini.”
Dari balik jendela dapur, terdengar bunyi gelas jatuh. Lalu suara Mbok Darmi yang menjerit tertahan. Lalu suara Sekar berbisik keras, Mbok, jangan berisik, aku lagi rekam!
Dari balik pagar samping, di gang sempit antara rumah Menteng dan rumah tetangga, terdengar suara bisik-bisik beberapa laki-laki dewasa. Pak Udin. Mas Jono. Pak Slamet. Mereka jelas-jelas bersembunyi di sana. Pak Slamet jelas-jelas sedang menahan batuk.
Dia tidak menoleh ke arah mana pun. Dia hanya menatapku, berlutut di lantai teras, dengan kotak beludru biru tua di tangan yang gemetar.
Aku menurunkan tanganku dari mulut.
“Kamu minta lagi,” kataku. Suaraku pecah.
“Iya.”
“Dua kali dalam sebulan.”
“Iya.” Dia tersenyum, kecil dan sangat gugup. “Aku lagi latihan.”
Aku tertawa. Tawa yang langsung berubah menjadi tangis, lalu kembali menjadi tawa lagi.
“Iya,” kataku. “Iya. Aku mau. Yang bener, kali ini.”
Dia mengambil cincinku dari kotak beludru. Tangannya gemetar begitu hebat sampai dia butuh dua kali percobaan untuk menyelipkannya di jari manis kiriku. Cincin itu pas. Sedikit longgar, karena tanganku lebih kurus dari setahun lalu, tapi pas.
Pertama kali aku memakainya.
Lalu aku mengambil cincinnya dari kotak beludru. Cincin yang dia pakai diam-diam selama sepuluh bulan, dengan ukiran tanggal akad kami di bagian dalam. Aku menyelipkannya di jari manis kirinya. Tanganku juga gemetar.
Pertama kali aku memasangkannya.
Dia berdiri. Dia menarikku berdiri dari bangku kayu. Kami berdiri di teras Kakek di bawah lampu taman, dengan dua cincin di jari kami dan dua cangkir teh melati yang mulai dingin di meja kecil di sebelah kami.
Dia menangkup wajahku dengan kedua tangan.
Dan dia menciumku.
Tidak seperti di pematang sawah, pelan dan hati-hati, seperti seseorang yang masih belum yakin dia boleh. Ciuman ini lebih dalam, lebih pasti, lebih lama. Tangannya di rahangku, jari-jarinya di rambut di belakang telingaku. Tanganku menggenggam kerah batiknya, menariknya lebih dekat. Seperti dua orang yang tahu mereka punya seluruh waktu di dunia, dan memutuskan untuk tidak membuang satu detik pun lagi.
Dari balik jendela dapur, Mbok Darmi menangis keras. Dari balik pagar samping, Pak Slamet akhirnya batuk, panjang dan keras, diikuti bisikan panik Mas Jono, Pak, Pak, nanti ketahuan!, diikuti Pak Udin yang terang-terangan bertepuk tangan.
Kami tidak berhenti.
Ketika akhirnya kami berpisah, napasku berantakan, wajahku basah, dan dia tertawa pelan dengan kening menempel di keningku.
“Paguyuban di balik pagar,” bisiknya.
“Aku tahu.”
“Sekar lagi rekam dari dapur.”
“Aku tahu.”
“Mbok Darmi pecahin gelas.”
“Aku tahu.” Aku tertawa ke dadanya. “Biarin.”
Dia memelukku. Erat, di teras Kakek, di bawah lampu taman yang kuning. Dari dalam rumah, aku mendengar Bu Ratih berkata dengan suara sangat datar kepada seseorang, saya sudah bilang dari tadi pagi, jangan taruh gelas di pinggir meja kalau mau ngintip.
Malam itu, kami memutuskan.
Ijab ulang. Tajdid nikah. Di Klaten, di rumah Ibu, di depan orang-orang yang benar. Tiga minggu lagi.
Dan sebelum tidur, di kamarku di lantai atas, dengan cincin di jari manis kiriku dan dia di kamar tamu di lantai bawah, bukan di kamar sopir dekat dapur, karena Mbok Darmi sudah memindahkan semua barangnya ke kamar tamu yang besar di depan, aku mengambil kalender meja dari laci.
Bukan kalender merah. Bukan kalender bank.
Kalender baru. Kosong.
Aku membuka halaman bulan depan, mencari tanggal tiga minggu dari hari ini, dan melingkarinya dengan spidol merah.
Bukan silang. Lingkaran.
Untuk pertama kalinya, aku menghitung hari menuju sesuatu, bukan menuju akhir.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi reading
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu