Chapter Eight
Kartu dari Kakek
POV: Kaluna
Kakek selalu mengetik kartu ulang tahunku dengan mesin tik.
Mesin tik Olympia hijau tua yang dia beli di Pasar Baru tahun 1979, dengan tuts yang berbunyi tak-tak-tak keras dan pita tinta yang harus diganti di toko khusus di Jalan Sabang. Kakek memakainya untuk segala hal penting: surat kontrak pertama perusahaan, surat lamaran untuk Nenek, surat izin waktu Ayah mau kuliah di Bandung. Dan setiap tahun, sejak aku lahir, satu kartu ulang tahun untukku.
Kartunya selalu sama. Karton putih tebal ukuran kartu pos, dimasukkan ke amplop krem dengan inisial D.A. di pojok. Diketik rapi, tanpa satu pun salah ketik, karena Kakek akan membuang kartu itu dan mengetik ulang dari awal kalau ada satu huruf yang meleset. Di bagian bawah, tidak ada tanda tangan. Hanya gambar kecil yang Kakek buat sendiri dengan pulpen tinta biru.
Bulan sabit.
Karena namaku Kaluna, dan Kakek selalu bilang Luna itu bulan, dan bulan yang paling cantik adalah bulan sabit, karena dia belum selesai, masih tumbuh.
Selama dua puluh tujuh tahun, kartu itu diletakkan di meja makan pada pagi hari ulang tahunku, di samping piring sarapanku. Bahkan dua tahun terakhir, ketika aku di Melbourne, kartu itu tetap datang. Dikirim lewat pos, tiba tepat di hari ulang tahunku, dengan prangko Indonesia yang ditempel miring karena tangan Kakek mulai gemetar.
Tahun ini, aku tidak berharap apa-apa.
Pagi ulang tahunku yang kedua puluh delapan, aku turun pukul tujuh. Aku sudah memutuskan semalam bahwa hari ini akan menjadi hari biasa. Kantor. Rapat. Pulang. Tidur. Sekar sudah memaksaku makan malam bersama, dan aku setuju hanya karena Sekar mengancam akan datang ke kantor membawa band marching kalau aku menolak.
Mbok Darmi sudah di dapur. Kopi sudah di meja.
Dan di samping piring sarapanku, ada amplop krem.
Aku berhenti di ambang ruang makan.
Amplop krem. Inisial D.A. di pojok kiri atas, dicetak dengan stempel karet yang sama dengan yang dipakai Kakek selama empat puluh tahun. Diletakkan miring, tepat di samping piring, dengan sudut amplop menyentuh tepi tatakan cangkir. Persis seperti setiap tahun.
“Mbok.”
Suaraku tidak terdengar seperti suaraku sendiri.
Mbok Darmi muncul di ambang pintu dapur. Dia menatap amplop itu, lalu menatapku. Matanya sudah basah.
“Itu dari Bapak, Mbak.”
“Kakek sudah nggak ada.”
“Bapak titip. Sebelum...” Mbok Darmi menelan ludah. “Bapak titip ke Pak Wiryo. Pak Wiryo yang antar kemarin sore. Katanya harus ditaruh di meja makan pagi ini, kayak biasa.”
Aku duduk. Tanganku tidak bisa berhenti gemetar ketika aku membuka amplop itu.
Karton putih tebal. Ketikan mesin tik, hurufnya sedikit tidak rata, beberapa huruf a lebih tebal dari yang lain karena tuts a di mesin tik Kakek memang selalu terlalu keras.
Luna,
Dua puluh delapan. Kakek tidak menyangka akan menulis angka setinggi itu. Kakek masih ingat kamu umur tujuh, makan empat perkedel dan menolak nasi.
Tahun ini Kakek tidak bisa duduk di meja makan dan melihat wajahmu waktu membaca kartu ini. Maaf. Kakek sudah berusaha keras supaya bisa. Tidak berhasil.
Kakek mau minta satu hal. Kamu boleh marah sama Kakek karena pergi duluan. Kamu boleh marah sama dunia. Tapi jangan marah sama orang yang datang karena Kakek tidak bisa datang. Mereka cuma menjalankan permintaan orang tua yang keras kepala.
Makan yang benar. Tidur yang cukup. Jangan terlalu lama berduka. Kakek sudah tua, Kakek sudah puas. Yang belum selesai cuma kamu, dan kamu masih tumbuh.
Selamat ulang tahun, bulan sabitku.
Di bawahnya, gambar bulan sabit dengan pulpen tinta biru.
Gemetar. Jauh lebih gemetar dari tahun-tahun sebelumnya. Garisnya putus di tengah, lalu disambung lagi dengan goresan kedua yang tidak terlalu tepat, seperti seseorang yang menggambarnya dengan tangan yang sudah sangat lemah, yang harus berhenti di tengah dan mengumpulkan tenaga sebelum melanjutkan.
Aku menatap bulan sabit yang patah itu, dan semua yang kutahan selama tiga bulan runtuh sekaligus.
Aku menangis di meja makan. Bukan menangis diam-diam seperti di ruang kerja Kakek. Menangis seperti anak kecil, dengan suara, dengan bahu yang terguncang dan tangan yang menutup mulut tanpa hasil. Mbok Darmi berdiri di belakangku dan memeluk kepalaku, mengelus rambutku seperti waktu aku berumur sembilan tahun dan tidak mau keluar kamar di hari ulang tahunku.
Kakek menyiapkan ini. Di rumah sakit. Di minggu-minggu ketika aku tidak tahu dia sakit. Dia menyiapkan kartu ulang tahunku, mengetiknya dengan mesin tik, menggambar bulan sabit dengan tangan yang hampir tidak bisa memegang pulpen.
Aku tidak sempat mengucapkan terima kasih. Aku tidak sempat mengucapkan apa pun.
Butuh waktu lama sampai aku bisa bernapas normal lagi. Mbok Darmi membuatkan teh manis hangat dan duduk di sebelahku sampai aku menghabiskannya.
Lalu aku membaca kartu itu lagi. Kali ini lebih pelan.
Jangan marah sama orang yang datang karena Kakek tidak bisa datang.
Aku membaca kalimat itu tiga kali. Siapa yang datang? Pak Wiryo, yang mengantar kartu ini? Mbok Darmi? Ibu-ibu pengajian? Kalimat itu terasa seperti ditujukan kepada seseorang, dan aku tidak mau tahu kepada siapa.
Aku melipat kartu itu, memasukkannya ke amplop, dan memasukkan amplop itu ke dalam tas.
Satu hal menggangguku sepanjang hari.
Mesin tik Kakek.
Kakek dirawat di rumah sakit selama tiga minggu terakhir. Mesin tik Olympia itu berat, hampir sepuluh kilo. Dia tidak mungkin mengetik kartu ini di rumah. Seseorang pasti membawa mesin tik itu ke rumah sakit.
Di kantor, Bu Ratih meletakkan kopi hitam di mejaku pukul delapan pagi seperti biasa. Di sebelahnya ada sebuah kalkulator keuangan baru, masih dalam kotak, dengan pita merah kecil yang diikat sangat rapi.
“Selamat ulang tahun, Bu,” katanya datar. “Kalkulator Ibu yang lama tombol tujuhnya macet. Saya perhatikan.”
Aku menatap kalkulator itu, lalu menatapnya. “Makasih, Bu Ratih.”
Dia sudah setengah berbalik ke pintu ketika dia berhenti.
“Bapak dulu selalu kasih kartu jam tujuh pagi,” katanya tanpa menoleh. “Tahun ini Ibu sudah dapat?”
“Sudah.”
Bu Ratih mengangguk sekali, sangat pelan, dengan cara yang membuatku merasa dia tahu sesuatu yang tidak kuketahui. Lalu dia keluar tanpa berkata apa-apa lagi.
Pukul delapan malam, setelah makan malam yang dipaksakan Sekar di restoran Italia di Kemang, dengan kue tart yang dinyanyikan sepuluh pelayan dengan suara yang menyakiti telinga, aku pulang dan naik ke ruang kerja Kakek.
Aku membuka kunci pintunya. Aku menyalakan lampu meja.
Meja kerja Kakek masih seperti yang kutinggalkan terakhir kali. Buku agenda kulit. Tempat pulpen. Kacamata baca dalam kotaknya. Foto Nenek dalam bingkai perak.
Mesin tik Olympia hijau tua itu tidak ada.
Tempatnya kosong. Di pojok kanan meja, ada bekas persegi yang sedikit lebih terang dari sekitarnya, tempat mesin tik itu duduk selama empat puluh tahun dan melindungi kayu di bawahnya dari sinar matahari.
Aku memeriksa lemari. Rak buku. Kolong meja. Gudang di lantai bawah. Tidak ada.
Aku tidak bertanya kepada siapa pun. Aku tidak mau tahu jawabannya.
Malam itu aku tidur dengan kartu Kakek di bawah bantal.
Dan paginya, entah kenapa, aku bangun dengan marah. Marah kepada sesuatu yang tidak bisa kusebut. Marah karena menangis di meja makan seperti anak kecil. Marah karena kalimat di kartu itu terus terngiang di kepalaku. Marah karena aku sempat, sebentar saja di restoran Italia ketika sepuluh pelayan bernyanyi, berpikir tentang laki-laki di kamar belakang dan bertanya-tanya apakah dia tahu hari ini ulang tahunku.
Dia tahu. Tentu saja dia tahu. Dia tahu segalanya tentang Kakek, tentang rumah ini, tentang hidup yang seharusnya hanya milikku.
Aku turun pukul enam, lebih pagi dari biasanya, dan menemukannya di carport. Dia sedang mengelap mobil Mercedes hijau tua milik Kakek dengan kain kanebo, pelan-pelan, sebelum berangkat kerja dengan motornya.
“Jangan sentuh mobil itu lagi.”
Dia berhenti. Kain kanebo di tangannya menggantung.
“Jangan sentuh mobil Kakek. Jangan sentuh barang-barang Kakek. Apa pun.” Suaraku keras, terlalu keras untuk pukul enam pagi. “Kamu bukan keluarga. Kamu nggak berhak.”
Dia menatapku. Di bawah lampu carport yang masih menyala, wajahnya terlihat lelah, lebih lelah dari biasanya.
“Mobilnya debu, Mbak,” katanya pelan. “Pak Slamet bilang Bapak nggak suka mobilnya kotor.”
“Aku bilang jangan sentuh.”
Dia melipat kain kanebo itu menjadi persegi kecil yang rapi. Lalu dia meletakkannya di atas kap mobil, dengan sangat hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang bukan miliknya.
“Nggih, Mbak.”
Dia mendorong motornya keluar lewat pintu samping, menyalakan mesinnya di jalan, dan pergi.
Aku berdiri di carport, menatap mobil Kakek yang separuh bersih dan separuh berdebu. Bagian kiri mengilap. Bagian kanan masih kusam. Seperti sesuatu yang dihentikan di tengah jalan.
Aku tidak merasa menang.
Aku tidak pernah merasa menang. Itu yang paling membuatku marah.
Malamnya, Mbok Darmi menyajikan makan malam untukku di meja makan besar. Garang asem ayam, dengan belimbing wuluh dan cabai rawit utuh, kuahnya asam dan segar.
Aku menatap mangkuk itu.
“Mbok, aku nggak pesan garang asem.”
“Mbok salah masak, Mbak,” kata Mbok Darmi tanpa menatapku, sambil meletakkan sendok. “Maaf. Mbok sudah tua. Suka lupa.”
Aku tidak tahu, waktu itu, bahwa garang asem adalah masakan kesukaan laki-laki di kamar belakang. Aku tidak tahu bahwa Mbok Darmi akan salah masak lagi, dan lagi, setiap kali aku menyakitinya.
Aku hanya tahu garang asem itu enak sekali, dan aku menghabiskannya sendirian, di meja jati panjang dengan dua belas kursi, di depan kursi kosong Kakek, sementara dari dapur terdengar bunyi sendok di piring dan suara Mbok Darmi bertanya pelan, “Mas, sudah makan?”
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek reading
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu