Chapter Twenty Eight
Ulang Tahun yang Ditebus
POV: Kaluna
“Tole, Om Radit ulang tahunnya tanggal berapa?”
Tole berhenti mengunyah tempe goreng biaya pelajaran hari ini. Dia menatapku dengan mata bulat, lalu menatap langit-langit teras kos, menghitung dengan jari.
“Sembilan belas Agustus.”
Hari ini tanggal empat belas Juli.
Sebelas bulan lalu. Hari aku pergi ke pesta Gilang di rooftop Senopati, berdiri empat jam dengan tangan Gilang di bahuku, dan berfoto untuk unggahan Dinda. Birthday boy & the CEO. Hari ketika Mbok Darmi memakai kerudung ungu pengajiannya dan membuat tumpeng kecil yang miring ke kiri, dan dia meniup lilin bergaris di meja kayu kecil dekat kompor.
“Kenapa, Mbak?” tanya Tole.
“Nggak apa-apa.”
“Mbak mau kasih kado?”
“Sudah lewat, Le.”
“Kan bulan depan ulang tahun lagi, Mbak.”
“Yang bulan depan, aku belum tentu boleh ikut,” kataku. “Yang kemarin, aku yang buang.”
Tole menatapku dengan wajah yang tidak mengerti kenapa ulang tahun yang sudah lewat tidak bisa dirayakan.
“Ulang tahun Tole juga sudah lewat,” katanya. “Tapi Mbah tetap bikin bubur merah putih tiap bulan di tanggal yang sama. Katanya buat selamatan. Biar Tole selamat terus.”
Aku menatapnya.
“Tiap bulan?”
“Tiap bulan. Tanggal tujuh.” Tole mengambil tempe goreng terakhir di piring. “Jadi Om Radit juga bisa. Tanggal sembilan belas. Lima hari lagi.”
Aku belajar membuat tumpeng dari Bu Sumarni.
Aku tidak memberitahunya untuk siapa. Aku hanya bertanya di dapur, sambil mengiris bawang merah yang sekarang sudah lumayan tipis, bagaimana cara membuat nasi kuning yang tidak bantat dan cara mencetak tumpeng yang tidak miring.
Bu Sumarni berhenti mengaduk. Dia menoleh dan menatapku lama. Lalu dia kembali ke wajannya.
“Nasinya diaron dulu. Santannya jangan pakai santan kemasan, peras sendiri. Kunyitnya dibakar sebentar biar wangi.” Dia berhenti. “Cetakannya dari daun pisang, bukan dari plastik. Kalau dari plastik, nanti miring.”
“Tumpeng yang miring itu jelek ya, Bu?”
“Nggak jelek.” Bu Sumarni mengaduk sayur pelan. “Tapi orang yang bikin tumpeng miring biasanya orang yang bikinnya sendirian, nggak ada yang bantu megangin cetakannya.”
Aku teringat tumpeng kecil Mbok Darmi yang miring ke kiri.
Bu Sumarni memberiku selembar daun pisang yang sudah dilayukan di atas api, dan tidak bertanya apa-apa lagi.
Tanggal sembilan belas Juli jatuh di hari Sabtu.
Aku bangun pukul tiga pagi, sebelum ayam jago tetangga berkokok, untuk pertama kalinya mendahului ayam jago itu. Aku memeras santan sendiri dari kelapa parut yang kubeli di pasar kemarin sore. Aku membakar kunyit sebentar di atas api kompor kos. Aku mengaron beras, mengukus, membuka tutup dandang pinjaman Bu Darsih dengan sangat hati-hati, berdoa supaya tidak bantat.
Tidak bantat. Untuk pertama kalinya dalam hidupku.
Aku melipat daun pisang menjadi corong, seperti yang diajarkan Bu Sumarni. Aku mengisinya dengan nasi kuning, menekannya pelan, membaliknya di atas tampah kecil yang kupinjam dari Nisa.
Tumpengnya miring.
Sedikit. Ke kiri. Karena tidak ada yang memegangi cetakannya.
Aku menatapnya lama, lalu memutuskan untuk tidak membetulkannya.
Aku menata lauknya di sekeliling tumpeng. Telur rebus dibelah dua. Tempe kering. Perkedel kentang, dua biji. Urap sayur. Ayam goreng satu potong. Paha, karena Mbok Darmi pernah bilang di telepon bahwa dia suka paha.
Persis seperti tumpeng Mbok Darmi. Karena aku menelepon Mbok Darmi kemarin malam dan memintanya menyebutkan satu per satu, dan Mbok Darmi menyebutkannya sambil menangis, dan menutup telepon dengan Mbak, Mbok bangga.
Di puncak tumpeng, aku menancapkan lilin.
Lilin kecil bergaris-garis, warna merah dan putih, jenis yang dijual sepuluh ribu satu pak di minimarket. Aku membelinya di minimarket depan pasar kemarin sore, dan kasir minimarket bertanya buat ulang tahun siapa, Mbak?, dan aku tidak bisa menjawab.
Pukul enam sore, ketika aku keluar untuk membuang kulit kelapa, ada sesuatu yang tergantung di tiang pagar bambu kos.
Kantong plastik kecil. Di dalamnya, satu toples kaca berisi serundeng kelapa yang masih hangat, dan selembar daun pisang cadangan yang sudah dilayukan, dilipat rapi.
Tidak ada catatan. Tidak perlu ada catatan. Hanya ada satu orang di desa ini yang tahu aku sedang membuat tumpeng, dan dia tidak pernah bertanya untuk siapa.
Aku menaburkan serundeng itu di sekeliling tumpeng yang miring.
Pukul tujuh malam, aku meletakkan tumpeng itu di meja kecil di teras kos.
Aku tidak mengundang siapa pun.
Aku tidak mengirim pesan kepadanya. Aku tidak meminta Tole menyampaikan apa pun. Aku tidak berjalan ke rumah cat hijau dan berdiri di depan pagar bambu. Ini bukan untuk dia. Dia tidak perlu tahu. Ini untuk ulang tahun yang kulewatkan, untuk pesta yang kudatangi padahal seharusnya aku tidak datang, untuk dapur rumah Menteng dan meja kayu kecil di dekat kompor tempat dia meniup lilin bersama Mbok Darmi sementara aku tertawa di rooftop.
Ini untuk aku yang terlambat. Supaya aku ingat bagaimana rasanya.
Aku menyalakan lilin dengan korek api. Tanganku gemetar. Korek pertama mati karena angin malam. Korek kedua menyala.
Api kecil itu bergoyang di puncak tumpeng yang miring.
Aku duduk di depan meja kecil, sendirian di teras kos, dan menatapnya.
“Selamat ulang tahun,” kataku pelan, kepada kursi plastik kosong di seberang meja. “Yang ketiga puluh dua. Terlambat sebelas bulan.”
Suaraku pecah di kata terlambat.
“Maaf aku pergi ke pesta orang lain.”
Pintu kamar kos di sebelahku terbuka.
Nisa keluar dengan kaus kebesaran dan rambut dicepol, diikuti dua mahasiswi lain, Rara dan Wulan. Mereka melihat tumpeng di meja. Melihat lilin. Melihatku sendirian di depannya dengan mata basah.
Mereka tidak bertanya. Nisa berjalan ke meja, duduk di lantai teras di sebelahku, dan mulai bernyanyi. Pelan. Dengan suara yang sedikit sumbang.
“Selamat ulang tahun, kami ucapkan...”
Rara dan Wulan ikut duduk dan ikut bernyanyi. Lalu pintu kamar lain terbuka, dan dua mahasiswi lagi keluar. Lalu Bu Darsih muncul dari pintu belakang dengan daster bunga-bunga dan rol rambut, membawa sepiring kerupuk udang dan wajah yang mencoba terlihat galak tapi gagal total.
Mereka semua bernyanyi. Untuk laki-laki yang tidak ada di sana. Untuk ulang tahun yang sudah lewat sebelas bulan. Untuk perempuan Jakarta yang mereka lihat memasak setiap pagi dengan tangan penuh luka.
Ketika lagu selesai, Nisa menyenggol bahuku. “Tiup, Mbak. Doa dulu.”
Aku memejamkan mata.
Aku tidak tahu harus berdoa apa. Lalu aku tahu.
Semoga dia makan malam yang benar hari ini.
Aku meniup lilin.
Mereka bertepuk tangan. Bu Darsih meletakkan kerupuk udang di meja dan berkata dengan suara keras yang tidak cocok dengan matanya yang merah, “Ya sudah! Dimakan! Nasinya jangan dibuang-buang!”
Aku memotong puncak tumpeng. Aku tidak memakannya. Aku meletakkannya di piring kecil, menutupnya dengan daun pisang, dan menyisihkannya di sudut meja.
Lalu aku membagi sisa tumpeng itu untuk semua orang di teras kos Bu Darsih.
Pukul sembilan, ponselku bergetar.
Gilang. Aku hampir tidak mengangkatnya. Tapi sesuatu membuatku menekan tombol hijau.
“Lun.” Suara Gilang terdengar berbeda. Tidak ada nada percaya diri yang biasa. “Aku nggak lama. Aku cuma mau bilang. Aku sudah koreksi.”
“Koreksi apa?”
“Unggahan kamu. Yang di rumah sakit. Aku komentar di situ, publik, bilang bukan aku yang donor. Aku bilang donornya suami kamu.” Dia diam sebentar. “Dinda marah. Tasya marah. Mereka bilang aku bikin malu kamu. Aku bilang yang bikin malu itu aku diam berbulan-bulan.”
Aku tidak bisa bicara.
“Lun,” katanya. “Kamu sekarang di mana?”
“Klaten.”
“Ngapain?”
Aku menatap tumpeng yang tinggal setengah di meja, mahasiswi-mahasiswi yang tertawa di teras, Bu Darsih yang memaksa Nisa mengambil ayam goreng.
“Belajar,” kataku.
Gilang diam lama. Lalu dia tertawa pelan, tawa yang terdengar sedikit sedih.
“Kamu kayak orang lain sekarang, Lun.”
“Iya,” kataku. “Semoga.”
Pukul sepuluh, Bu Darsih mengunci pagar kos dan berhenti di depan pintu kamarku.
“Mbak,” katanya pelan. Pelan sekali untuk ukuran Bu Darsih, sampai aku hampir tidak mengenali suaranya. “Tadi jam tujuh, waktu Mbak nyalain lilin. Ada yang berdiri di depan pagar.”
Aku menatapnya.
“Masnya. Yang tinggi itu. Pakai jaket. Berdiri di bawah lampu jalan, setengah jam, nggak masuk.” Bu Darsih membetulkan salah satu rol rambutnya. “Waktu anak-anak nyanyi, dia nunduk. Waktu Mbak tiup lilin, dia pergi.”
Aku berdiri di ambang pintu kamar kos tanpa bisa bergerak.
“Saya nggak manggil,” lanjut Bu Darsih. “Saya kira Mbak nggak mau.”
Dia berjalan pergi ke kamarnya di belakang, dan aku tetap berdiri di ambang pintu, menatap pagar kos yang sudah terkunci dan lampu jalan di depannya yang menyala kuning, menerangi trotoar kosong.
Pukul sepuluh lewat lima belas, seseorang mengetuk jendela kamarku.
Tole. Dengan jaket kebesaran dan sandal jepit, berdiri di luar pagar yang sudah terkunci, memanjat sedikit supaya kepalanya terlihat di atas pagar bambu.
“Mbak Jakarta,” bisiknya keras-keras. “Tole disuruh Om.”
Aku membuka jendela.
“Om bilang apa?”
Tole mengerutkan dahi, berusaha mengingat kata-kata yang dititipkan kepadanya persis seperti aslinya.
“Om titip,” katanya. “Jangan tidur kemalaman.”
Hanya itu. Tole melambaikan tangan dan berlari pulang dalam gelap, sandal jepitnya berbunyi plak-plak-plak di jalan berbatu.
Aku menutup jendela.
Aku duduk di tepi kasur busa, di kamar tiga kali tiga meter, dengan piring kecil berisi puncak tumpeng yang masih tertutup daun pisang di pangkuanku.
Jangan tidur kemalaman.
Aku memakan puncak tumpeng itu pelan-pelan, sendirian, dan aku tidur pukul sepuluh lewat tiga puluh. Bukan karena aku mengantuk. Karena dia memintanya.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus reading
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu