Chapter Thirty Nine
Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
POV: Kaluna
Aku merencanakan bulan madu kami seperti merencanakan ekspansi ke Surabaya.
Spreadsheet. Tiga tab. Tab pertama: anggaran. Tab kedua: jadwal per jam. Tab ketiga: daftar hal-hal yang belum pernah dilakukan suamiku seumur hidupnya, yang kususun berdasarkan wawancara rahasia dengan Ibu, Tole, Mbok Darmi, dan paguyuban Meja 12.
Daftarnya panjang. Naik pesawat untuk liburan, bukan untuk urusan kerja atau mengantar kabar duka. Menginap di hotel yang bukan hotel transit. Berenang di laut. Melihat matahari terbenam tanpa sedang memasang reng atap. Sarapan di tempat tidur. Dipijat. Tidak melakukan apa pun selama satu hari penuh.
Yang terakhir, kata Ibu, belum pernah sejak dia umur dua belas.
Masalah pertama muncul ketika aku menunjukkan tiket pesawat kepadanya.
“Jakarta–Labuan Bajo,” katanya, membaca layar ponselku. “Lima hari empat malam. Kapal phinisi dua malam.” Dia menatapku. “Berapa ini?”
“Bukan urusanmu.”
“Luna.”
“Bulan madu itu tanggung jawab istri. Aku sudah tanya Ibu.”
“Ibu nggak bilang begitu.”
“Ibu bilang terserah kalian. Itu artinya aku menang.”
Dia mengerutkan dahi. Dia mengeluarkan ponselnya sendiri dan menggulir sesuatu, dan aku tahu persis apa yang dia cari.
“Akta,” katanya. “Poin tiga. Aku nggak boleh menerima fasilitas atau pemberian materi dalam bentuk apa pun dari kamu.”
Aku sudah menunggu momen ini selama seminggu.
Aku mengambil ponselku, menekan satu nomor, dan menyalakan pengeras suara.
“Halo, Mbak Kaluna.” Suara Pak Wiryo, pelan dan teratur seperti biasa.
“Pak Wiryo, suami saya mau tanya soal akta pelepasan hak.”
Hening sebentar. Lalu Pak Wiryo berdeham dengan nada yang sangat jelas sedang menahan senyum.
“Mas Radit,” katanya. “Akta itu sudah dibatalkan. Kemarin lusa. Mbak Kaluna mengajukan pembatalan, dan Mas sudah tanda tangan.”
Radit menatap ponselku.
“Saya nggak tanda tangan apa-apa, Pak.”
“Mas tanda tangan, Mas. Di rumah Bu Sumarni, hari Kamis sore. Mbak Kaluna bilang itu formulir pendaftaran perpustakaan untuk yayasan buku di Jogja. Mas tanda tangan tanpa baca.” Pak Wiryo berhenti. “Saya sudah tiga puluh tahun jadi notaris, Mas. Saya sudah bilang ke Mbak Kaluna itu nggak etis. Mbak Kaluna bilang, Pak, dia juga nggak etis waktu tanda tangan akta itu tanpa tanya saya. Saya nggak bisa membantah.”
Radit menatapku.
Aku menatapnya balik dengan wajah paling polos yang kumiliki.
“Konsultan dibayar untuk kreatif,” kataku.
Dia membuka mulut. Menutupnya. Lalu dia menutup wajahnya dengan dua tangan, dan bahunya bergetar, dan aku tidak tahu apakah dia marah atau tertawa sampai dia menurunkan tangannya dan aku melihat matanya basah karena tertawa.
“Kamu,” katanya. “Kamu bohongin aku pakai perpustakaan.”
“Perpustakaannya beneran ada. Formulirnya juga beneran ada. Aku cuma tumpuk dua kertas.”
Pak Wiryo, di pengeras suara, terbatuk sangat panjang.
Labuan Bajo dari jendela pesawat terlihat seperti sesuatu yang tidak nyata.
Laut berwarna biru kehijauan seperti kaca botol, dengan pulau-pulau cokelat keemasan yang muncul di tengahnya seperti punggung naga yang sedang tidur. Bukit-bukit gundul dengan rumput kering. Garis pantai putih. Langit biru sekali, tanpa awan.
Dia duduk di kursi dekat jendela. Aku yang memilihkannya. Dia menempelkan dahinya di kaca jendela pesawat sejak lima belas menit sebelum mendarat dan tidak bergerak sama sekali.
“Mas,” kataku.
“Hm.”
“Kamu kayak Tole.”
“Tole belum pernah naik pesawat.”
“Makanya.”
Dia tidak menjawab. Dia terus menatap laut di bawah, dan aku melihat pantulan wajahnya di kaca jendela. Wajah laki-laki tiga puluh dua tahun yang sudah pernah naik pesawat ke Melbourne, transit di Denpasar, dengan tiket termurah, untuk mengantarkan kabar kematian. Yang belum pernah naik pesawat hanya untuk melihat sesuatu yang indah.
Kapal phinisi kami berlayar pukul tiga sore.
Kapal kayu dengan dua tiang layar putih, dek yang dipernis mengilap, dan satu kabin kecil dengan jendela bundar yang menghadap laut. Awak kapalnya empat orang, dipimpin seorang kapten bernama Pak Daeng yang berkulit sangat gelap dan tersenyum sangat lebar.
Masalah kedua muncul ketika kapal berhenti di dekat Pulau Kanawa untuk snorkeling.
Air di sana sangat jernih sampai aku bisa melihat terumbu karang berwarna-warni dan ikan-ikan kecil berwarna biru elektrik dari atas dek. Aku sudah memakai baju renang dan kacamata selam. Aku berdiri di ujung tangga kapal, siap melompat.
Dia berdiri di dek dengan pelampung oranye di tangan dan wajah yang sangat pucat.
“Mas?”
“Aku nggak bisa renang.”
Aku menatapnya.
“Sama sekali?”
“Di Klaten nggak ada laut, Luna.” Dia memegang pelampung oranye itu seperti memegang perisai. “Ada kali. Kali di belakang rumah Ibu dalamnya selutut. Aku bisa jalan di kali. Aku nggak bisa renang di laut.”
Pak Daeng, di belakang kemudi, tertawa sangat keras.
Aku tidak tertawa. Aku memikirkan daftar di tab ketiga spreadsheet-ku. Berenang di laut. Ibu yang menyebutkannya, dengan wajah sedih. Dia nggak pernah renang, Nduk. Nggak ada yang ngajarin. Bapaknya meninggal sebelum sempat ngajak dia ke pantai.
Aku turun ke tangga kapal, masuk ke air yang dingin dan jernih, dan mengulurkan tangan ke arahnya.
“Pakai pelampungnya,” kataku. “Turun. Pegang tanganku.”
“Luna—”
“Kamu tangkap aku di perancah,” kataku. “Kamu tangkap aku di pematang. Sekarang giliranku. Aku nggak akan lepas.”
Dia menatap tanganku yang terulur dari air laut. Lama sekali.
Lalu dia memakai pelampung oranye itu, mengikat talinya dengan sangat teliti seperti insinyur memeriksa sambungan baja, dan turun dari tangga kapal. Satu anak tangga. Dua. Tiga. Air laut menyentuh pinggangnya, dadanya, lehernya. Dia menggenggam tanganku begitu kuat sampai jari-jariku sakit.
“Dingin,” katanya dengan suara tegang.
“Lihat ke bawah.”
“Aku nggak mau lihat ke bawah.”
“Lihat, Mas. Pakai kacamatanya.”
Dia memakai kacamata selam dengan tangan yang gemetar. Dia menunduk, perlahan, wajahnya masuk ke permukaan air.
Lalu dia membeku.
Aku menunggu. Lima detik. Sepuluh detik.
Dia mengangkat wajahnya dari air. Kacamata selamnya berembun. Mulutnya terbuka. Air laut menetes dari rambutnya.
“Luna,” katanya. “Ada ikan biru.”
“Aku tahu.”
“Banyak. Ikan biru banyak banget. Ada yang kuning. Ada yang belang. Karangnya warna ungu.” Dia menatapku dengan wajah seorang anak yang baru pertama kali melihat sesuatu. “Ini ada di sini dari dulu? Dari aku kecil?”
“Dari dulu.”
Dia menunduk lagi ke air. Kali ini lebih lama. Tangannya masih menggenggam tanganku, tapi tidak sekuat tadi.
Kami mengapung di sana selama satu jam. Dia dengan pelampung oranye, aku di sebelahnya, tangan kami bertaut di permukaan air. Setiap beberapa menit, dia mengangkat wajahnya dan melaporkan ikan baru yang dia lihat, dengan detail seorang insinyur menulis laporan teknis. Ikan kuning, panjang sekitar lima belas senti, sirip belakangnya belang hitam. Karang bentuk otak, diameter kira-kira satu meter.
Pak Daeng memotret kami dari dek. Dia mengirim fotonya ke ponselku malam itu: dua kepala di permukaan laut biru kehijauan, satu dengan pelampung oranye, tangan bertaut, di bawah langit sore yang keemasan.
Aku mengirim foto itu ke grup keluarga yang baru dibuat Tole, berisi Ibu, Mbok Darmi, Tole, Sekar, dan entah bagaimana Pak Udin. Nama grupnya KELUARGA OM RADIT DAN MBAK JAKARTA.
Dalam satu menit, Ibu membalas.
Le. Kamu renang?
Lalu satu pesan lagi, satu menit kemudian.
Bapakmu pasti seneng.
Pagi harinya, kami mendaki bukit Pulau Padar sebelum matahari terbit.
Dia membawa dua botol air, satu handuk kecil, dan payung lipat, karena dia insinyur dan insinyur selalu menyiapkan skenario terburuk. Di puncak, ketika matahari muncul dan tiga teluk di bawah kami berubah warna dari abu-abu ke biru ke merah muda, dia tidak memotret. Dia hanya berdiri di sebelahku dengan napas terengah dan mulut sedikit terbuka.
“Bapakku pasti suka ini,” katanya pelan.
Aku menggenggam tangannya, dan kami berdiri di sana sampai matahari naik penuh.
Malam kedua, di kapal yang berlabuh di teluk kecil dekat Pulau Padar, hujan turun.
Hujan tropis yang tiba-tiba dan deras, mengetuk dek kayu, membuat permukaan laut berbintik-bintik. Awak kapal sudah tidur di kabin depan. Hanya ada kami berdua di kabin kecil dengan jendela bundar, dengan satu lampu minyak yang bergoyang mengikuti ombak.
Hari itu, sesuai tab ketiga spreadsheet-ku, dia tidak melakukan apa pun selama satu hari penuh.
Dia sarapan di tempat tidur, roti bakar dan kopi yang kubawakan dari dapur kapal, dan dia menatap nampan itu seperti menatap benda asing. Dia membiarkanku memijat bahunya di dek, di bawah matahari pagi, dan dia mengerang pelan ketika ibu jariku menemukan simpul di antara tulang belikatnya, simpul yang mungkin sudah ada di sana sejak dia menyalami lima puluh tukang di gerbang makam. Dia tidur siang di dek, di bawah tenda kain, dengan kepala di pangkuanku.
Dia tidak membuka laptop. Dia tidak memeriksa gambar kerja. Dia tidak bertanya apakah ada yang perlu dibantu.
Malam ini, di kabin kecil, dia menatapku dalam cahaya lampu minyak yang bergoyang.
“Luna.”
“Hm.”
“Aku nggak pernah nggak ngapa-ngapain seharian.”
“Aku tahu. Ibu bilang.”
“Rasanya aneh.” Dia tersenyum kecil. “Kayak... kayak orang yang boleh.”
Aku mengulurkan tangan dan menyentuh pipinya. Pipi kirinya.
“Kamu boleh,” kataku. “Mulai sekarang, kamu boleh. Nggak ngapa-ngapain. Minta sesuatu. Capek. Marah. Dimanja. Semuanya boleh.”
Dia memejamkan mata dan menempelkan wajahnya di telapak tanganku.
Di luar, hujan mengetuk dek. Ombak menggoyang kapal pelan-pelan, seperti ayunan. Lampu minyak bergoyang.
Dia membuka mata dan menatapku. Pertanyaan yang sama ada di matanya, pertanyaan yang sekarang sudah tidak perlu dia ucapkan, karena aku sudah tahu jawabannya, dan dia sudah tahu jawabanku.
Aku meniup lampu minyak itu.
Dalam gelap, hanya ada suara hujan dan ombak, dan tawanya yang pelan di dekat telingaku ketika kapal bergoyang terlalu keras dan kepalaku membentur dinding kabin yang rendah.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada reading
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu