Chapter Forty One
Satu Tahun Saja
POV: Kaluna
Flashdisk hitam itu kusimpan di laci meja rias selama delapan bulan.
Di dalam kotak beludru biru tua, tempat dua cincin kami dulu tergeletak berdampingan sebelum akhirnya dipakai. Selotip kertasnya sudah tidak ada, kukelupas dengan kuku di kamar kos Bu Darsih. Tapi tulisan tangan Kakek masih ada di permukaan plastik hitamnya, samar dan sedikit luntur, karena selama delapan bulan aku mengusapnya dengan ibu jari setiap kali membuka laci itu.
Untuk Luna. Hari ke-365.
Satu menit lima puluh detik. Bagian terakhir rekaman yang belum pernah kudengar.
Bagian terakhir rekaman ini bukan buat kamu, Lun. Ini buat Radit. Kalau dia ada di sebelahmu waktu kamu dengar ini, putar terus. Kalau dia nggak ada, berhenti di sini. Tunggu sampai dia ada.
Aku menunggu.
Bukan karena tidak ada kesempatan. Dia ada di sebelahku setiap malam sejak ijab ulang. Di kamar masa kecilnya di Klaten. Di kabin kapal phinisi di Labuan Bajo. Di kamar utama rumah Menteng, dengan separuh lemari yang sekarang penuh kemeja kerja dan batik cokelat tua yang tidak boleh ditaruh di lemari bawah karena lembap.
Aku menunggu karena aku ingin memilih harinya.
Hari itu datang di bulan Juni. Hari Sabtu.
Dua tahun sejak akad pertama kami, di atas karpet bekas tahlilan, empat puluh hari setelah Kakek wafat. Dua tahun sejak aku menuang teh ke wastafel di depannya dan mencoret angka satu di kalender merah.
Aku tidak memberitahunya bahwa ini hari jadi. Aku tidak yakin dia ingat. Selama ini, tanggal itu bukan tanggal yang ingin diingat siapa pun.
Pukul delapan malam, setelah makan malam di ujung meja jati dengan dua kursi berdampingan dan kursi Kakek di tengah, aku menggandengnya naik ke lantai dua.
Ke ruang kerja Kakek.
Ruangan itu tidak lagi dikunci. Aku membukanya sehari setelah kami pulang dari Labuan Bajo, menyuruh Mbok Darmi membersihkan debu, dan membuka jendela-jendelanya supaya udara masuk. Buku agenda kulit Kakek masih di meja. Kacamata baca dalam kotaknya. Foto Nenek dalam bingkai perak.
Dan di pojok kanan meja, di atas bekas persegi yang sedikit lebih terang dari sekitarnya, mesin tik Olympia hijau tua itu sudah kembali ke tempatnya.
Dia berhenti di ambang pintu.
“Ruang kerja Bapak,” katanya pelan.
“Aku tahu.”
“Kamu bilang aku nggak perlu masuk ke sini.”
Kalimatku. Di malam akad. Ruang kerja Kakek dikunci. Kamu nggak perlu masuk ke sana.
“Aku salah,” kataku. “Kamu yang paling perlu masuk ke sini.”
Aku menariknya masuk. Aku mendudukkannya di kursi kerja Kakek. Kursi kulit cokelat tua yang sudah retak di sandaran tangan, yang masih menyisakan bau minyak kayu putih samar. Dia duduk di sana dengan wajah tidak nyaman, seperti orang yang duduk di kursi yang bukan miliknya.
Aku mengeluarkan flashdisk hitam dari saku dasterku.
Dia melihatnya. Wajahnya berubah.
“Luna—”
“Kakek bilang tunggu sampai kamu ada di sebelahku.” Aku membuka laptop di atas meja Kakek, di sebelah mesin tik. “Aku sudah nunggu delapan bulan, Mas. Aku mau dengar sama kamu.”
“Itu buat kamu. Aku nggak pernah dengar. Itu bukan—”
“Bagian terakhirnya buat kamu.” Aku memasukkan flashdisk ke laptop. “Kakek yang bilang. Satu menit lima puluh detik. Kakek bilang itu satu-satunya hal yang dia minta buat kamu.”
Dia menatap layar laptop. Lalu menatapku.
Aku menarik kursi kayu dari sudut ruangan dan duduk di sebelahnya. Bahu kami bersentuhan.
Aku memutar rekaman itu dari menit sepuluh lewat empat puluh detik.
Bunyi mesin monitor rumah sakit. Bip. Bip. Bip. Napas berat dan terputus-putus.
Lalu suara Kakek.
“Dit.”
Dia membeku di sebelahku. Seluruh tubuhnya.
“Kalau kamu dengar ini, berarti Luna ada di sebelahmu. Berarti kamu sudah berani minta. Atau dia yang berani datang. Saya nggak tahu yang mana. Dua-duanya bagus.”
Kakek tertawa pelan, lalu batuk.
“Saya cuma mau bilang satu hal. Pakai bahasa yang bener.”
Lalu Kakek berbicara dalam bahasa Jawa.
Krama inggil. Bahasa paling halus yang pernah kudengar dari mulut Kakek, yang tidak pernah kudengar sekali pun selama dua puluh delapan tahun aku hidup bersamanya, karena Kakek selalu bicara denganku dalam bahasa Indonesia.
Aku tidak mengerti semuanya. Delapan bulan belajar dengan Tole dan Ibu masih belum cukup untuk krama inggil yang diucapkan dengan suara terengah dari ranjang rumah sakit.
Tapi aku mengerti cukup banyak.
Matur nuwun, Le. Terima kasih, Nak.
Tigang minggu wonten kursi plastik. Tiga minggu di kursi plastik.
Martabak endhog. Martabak telur. Kakek tertawa lagi di bagian ini.
Mesin tik.
Kalih telepon ingkang kula rebut. Dua telepon yang saya rebut. Nyuwun pangapunten. Mohon maaf.
Lalu Kakek kembali ke bahasa Indonesia, dengan suara yang lebih pelan, seperti dia sudah sangat lelah.
“Saya cuma minta satu tahun saja, Dit. Satu tahun saja. Kalau kamu dengar ini sama Luna, berarti kamu kasih lebih. Saya tahu kamu akan kasih lebih. Kamu anak Darno.”
Di sebelahku, dia menutup mulutnya dengan tangan.
“Kamu bilang kamu cuma anak tukang batu. Kamu salah, Le. Kamu anak Darno, yang pasang bata pertama rumah pertama Adisurya. Kamu nggak pernah numpang di keluarga ini. Keluarga ini yang berdiri di atas bata bapakmu.”
Dia menunduk. Bahunya bergetar.
“Jaga cucu saya. Dan biarkan dia jaga kamu juga. Jangan cuma kamu yang jaga. Itu permintaan terakhir saya. Saya sudah minta Luna, sekarang saya minta kamu.”
Jeda panjang. Bunyi monitor. Bunyi napas.
“Matur nuwun, Le. Saya bangga.”
Rekaman berhenti.
Layar laptop menunjukkan durasi berakhir. Dua belas menit tiga puluh detik.
Ruang kerja Kakek sunyi. Hanya ada bunyi jangkrik dari taman di luar jendela yang terbuka, dan napasnya yang tersendat di sebelahku.
Dia menangis.
Di kursi kerja Kakek, dengan wajah ditutup kedua tangan, bahu terguncang, suara yang keluar dari tempat yang sangat dalam. Bukan seperti di perpustakaan, ketika dia berteriak dan menangis karena marah. Bukan seperti di peron, ketika dia menangis di rambutku karena lega.
Ini tangisan seorang anak laki-laki yang baru saja mendengar ayahnya bilang saya bangga.
Aku memeluknya.
Aku berdiri dari kursi kayu, berdiri di samping kursi kerja Kakek, dan memeluk kepalanya ke dadaku. Tanganku di rambutnya. Tanganku yang lain di punggungnya, mengusap pelan, bolak-balik, seperti cara Ibu mengusap punggungku di halaman rumah cat hijau di malam listrik padam.
Dia memelukku balik. Lengannya melingkar di pinggangku, wajahnya terbenam di daster batik yang kubeli di Pasar Klaten, dan dia menangis lama sekali.
Aku tidak berkata apa-apa. Aku tidak perlu.
Kakek sudah mengatakan semuanya.
Mbok Darmi mengetuk pintu ruang kerja pukul sembilan.
Dia membawa nampan dengan dua cangkir porselen bunga biru berisi teh melati. Dia melihat kami. Dia melihat laptop yang terbuka di meja Kakek. Dia melihat wajah Radit yang basah, wajahku yang basah.
Dia tidak bertanya apa-apa. Dia meletakkan nampan di meja, di sebelah mesin tik Olympia, dan menatap foto Nenek dalam bingkai perak lama sekali.
Lalu dia berkata dengan suara sangat pelan:
“Bapak sudah ngomong, ya?”
Aku mengangguk.
Mbok Darmi tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Dia mengusap kepala Radit sekali, pelan, seperti mengusap kepala anak kecil, lalu keluar dari ruang kerja dan menutup pintu.
Lima menit kemudian, ponselku bergetar. Panggilan video dari Klaten.
Wajah Tole memenuhi layar, dengan rambut berdiri dan mulut belepotan sesuatu berwarna merah dan putih.
“Mbak Jakarta! Om! Mbah masak bubur merah putih!”
Di belakangnya, Ibu duduk di kursi rotan di teras, memegang mangkuk kecil.
“Bubur merah putih?” tanya Radit dengan suara yang masih serak. “Buat apa, Bu?”
Ibu menatap kami lewat layar. Lama. Lalu dia tersenyum.
“Selamatan, Le,” katanya. “Dua tahun lalu kamu nikah di Jakarta, Ibu nggak sempat bikin bubur. Ibu waktu itu sedih. Sekarang Ibu nggak sedih lagi.” Dia mengangkat mangkuknya sedikit. “Jadi Ibu bikin. Telat dua tahun. Nggak apa-apa. Yang penting dibikin.”
Radit menunduk ke bahuku. Aku merasakan dia tersenyum di sana.
“Matur nuwun, Bu,” kataku.
Pengucapanku, kata Ibu kemudian, sudah tidak seperti orang Jakarta lagi.
Kami minum teh melati di ruang kerja Kakek sampai pukul sepuluh.
Dia duduk di kursi kerja Kakek. Aku duduk di lantai di sebelahnya, bersandar ke kakinya, dengan kepala di lututnya. Dia memainkan rambutku dengan jari-jarinya, pelan, tanpa sadar.
“Luna,” katanya setelah lama diam. Suaranya masih serak.
“Hm.”
“Hari ini tanggal berapa?”
Aku diam.
“Aku ingat,” katanya pelan. “Dua tahun. Karpet bekas tahlilan. Teh di wastafel.”
Aku menutup mata.
“Aku kira kamu nggak mau ingat hari ini,” kataku.
“Dulu nggak.” Jari-jarinya berhenti di rambutku. “Sekarang mau.”
“Kenapa?”
Dia membungkuk dan mencium puncak kepalaku.
“Karena hari ini Bapak bilang dia bangga,” katanya. “Jadi hari ini hari yang baik.”
Malam itu, sebelum tidur, aku mengambil kalender meja dari laci di kamar kami.
Bukan kalender merah dari dua tahun lalu. Bukan kalender bank yang menghitung hari sejak dia pergi. Kalender baru yang kumulai sejak lamaran di teras Kakek, yang hanya punya lingkaran, tidak pernah silang.
Aku membuka halaman bulan Juni dan melingkari tanggal hari ini dengan spidol merah.
Di bawah lingkaran itu, aku menulis dengan huruf kecil:
Kakek bilang bangga.
Lalu aku membalik dua halaman ke bulan Agustus, dan melingkari tanggal sembilan belas.
Ulang tahunnya yang ketiga puluh tiga.
Yang ini tidak akan kulewatkan.
- 1 Empat Puluh Hari
- 2 Ini Teman Saya
- 3 Rantang Biru
- 4 Meja Nomor Dua Belas
- 5 Benci Lebih Ringan
- 6 Ulang Tahun yang Dirayakan Mbok Darmi
- 7 Logat
- 8 Kartu dari Kakek
- 9 Proyek yang Retak
- 10 Mbok Salah Masak
- 11 Demam Berdarah
- 12 Plester di Lengan
- 13 Tangga Perancah
- 14 Hal yang Tidak Cocok
- 15 Harga yang Kakek Bayar
- 16 Cincin di Atas Meja
- 17 Rumah yang Tiba-tiba Besar
- 18 Isi Map Biru
- 19 Foto dari Barisan Belakang
- 20 Dua Panggilan Satu Detik
- 21 Melati di Hari Jumat
- 22 Kos Bu Darsih
- 23 Nggih, Mbak
- 24 Rantang Biru, Lagi
- 25 Hari Ketiga Ratus Enam Puluh Lima
- 26 Teras Bu Sumarni
- 27 Krama
- 28 Ulang Tahun yang Ditebus
- 29 Karena Cinta atau Karena Malu
- 30 Marahlah
- 31 Sawah Gelap
- 32 Ini Suami Saya
- 33 Yang Ditunggu Pulang
- 34 Luna
- 35 Pipi Kiri
- 36 Melamar Lagi
- 37 Ijab Ulang
- 38 Dindingnya Tipis
- 39 Bulan Madu yang Belum Pernah Ada
- 40 Kursi Kakek
- 41 Satu Tahun Saja reading
- 42 Kartu dari Istrimu
- 43 Epilog: Meja Nomor Satu