Chapter Twenty

Dua Panggilan Satu Detik

POV: Kaluna

Ponsel Kakek masih ada di laci meja kerjanya.

Ponsel lipat tua berwarna perak, model yang sudah tidak diproduksi sejak sepuluh tahun lalu, dengan tombol-tombol angka yang hurufnya sudah pudar karena terlalu sering ditekan. Kakek menolak ganti ponsel pintar sampai akhir. Katanya ponsel itu cuma untuk menelepon, dan dia tidak butuh benda yang bisa memotret makanan.

Aku menemukannya malam itu, setelah pulang dari kantor Pak Wiryo. Aku mengisi baterainya dengan charger yang masih tergulung rapi di laci yang sama, karena Kakek selalu menggulung kabel dengan karet gelang, dan menunggu sampai layarnya yang kecil menyala.

Aku membuka riwayat panggilan.

Daftarnya pendek. Kakek tidak banyak menelepon di minggu-minggu terakhirnya. Pak Wiryo. Bu Ratih. Pak Karto. Nomor rumah sakit. Mbok Darmi, setiap pagi pukul tujuh, empat atau lima menit, mungkin menanyakan apakah anggrek di teras sudah disiram.

Dan di antara mereka, dua baris yang membuatku berhenti.

Luna 🌙 — Panggilan keluar — 0:01.

Luna 🌙 — Panggilan keluar — 0:01.

Dua kali. Satu detik. Pukul tiga lewat dua belas dini hari waktu Jakarta, dan pukul dua lewat empat puluh dini hari, enam hari kemudian.

Aku ingat dua panggilan itu.

Aku ingat karena aku terbangun pukul enam pagi waktu Melbourne, dan ada notifikasi panggilan tak terjawab dari Kakek di layar ponselku. Dua kali, dalam dua minggu yang berbeda. Dan dua kali, aku menelepon balik dengan jantung berdebar, takut ada sesuatu yang terjadi, dan dua kali Kakek mengangkat dengan suara yang terdengar sangat biasa.

Lho, Lun. Kakek salah pencet. Kakek lagi belajar video call, tangan Kakek kegedean buat tombol kecil.

Suaranya sedikit serak. Aku menanyakannya. Dia bilang batuk sedikit karena AC kantor. Dia bilang dia sehat. Dia bilang aku harus fokus ke tesis, jangan mikirin Kakek, Kakek sudah tua, Kakek bisa jaga diri.

Dia sedang di rumah sakit. Dengan selang oksigen. Dua kali.

Dan dua kali dia berbohong kepadaku dengan suara yang sangat tenang, karena dia tidak mau aku pulang.

Aku pergi ke RS Medistra keesokan paginya.

Aku tidak tahu siapa yang harus kucari. Aku hanya tahu Kakek dirawat di sana tiga minggu, di lantai delapan, di ruang perawatan paliatif yang namanya tidak pernah disebutkan siapa pun kepadaku. Aku berdiri di meja perawat lantai delapan dengan blazer kantor dan mata bengkak, dan bertanya apakah ada perawat yang dulu merawat pasien bernama Darmawan Adisurya.

Perawat muda di meja itu menatapku sesaat. Lalu dia menoleh ke belakang dan memanggil seseorang.

“Suster Ani! Ada keluarga Pak Darmawan!”

Suster Ani berumur sekitar lima puluh tahun, dengan seragam putih yang disetrika sangat rapi dan wajah ramah yang penuh garis tawa. Dia berjalan dari ujung lorong, melihatku, dan berhenti.

Matanya membesar.

“Ya Allah,” katanya pelan. “Kamu Luna.”

Aku mengangguk.

“Cucunya. Yang di Australia.” Suster Ani menatapku dari ujung kepala sampai kaki, seperti mencocokkan sesuatu dengan bayangan di kepalanya. “Bapak sering banget cerita soal kamu. Tiap pagi. Tiap kali Suster ganti infus, Bapak cerita. Luna sudah sidang. Luna dapat nilai bagus. Luna wisuda dua minggu lagi.”

Dia mengajakku ke ruang istirahat perawat di ujung lorong, ruangan kecil dengan dispenser air, sofa yang sudah kempis, dan jendela yang menghadap atap-atap gedung di Jalan Sudirman. Dia membuatkan teh manis dalam gelas plastik dan duduk di sebelahku.

“Bapak itu pasien paling bandel di lantai ini,” kata Suster Ani sambil tersenyum ke gelas tehnya. “Bubur rumah sakit nggak mau. Bilangnya kayak lem kertas. Tiap malam minta martabak telur. Dan tiap malam, ada yang selundupin martabak telur ukuran kecil, dibungkus kantong kresek hitam, dimasukin lewat tas ransel.” Dia tertawa pelan. “Suster pura-pura nggak lihat. Dokter juga pura-pura nggak lihat. Satu lantai pura-pura nggak lihat.”

Aku tidak perlu bertanya siapa yang menyelundupkannya.

“Kamu mau tahu soal Bapak?” tanyanya lembut.

“Saya mau tahu soal telepon,” kataku. “Dua telepon. Jam tiga pagi. Satu detik.”

Suster Ani diam lama.

Lalu dia meletakkan gelas tehnya sendiri di meja dan menatap jendela.

“Suster yang jaga malam itu,” katanya. “Dua-duanya.”

Aku menunggu.

“Malam pertama, kondisi Bapak drop. Saturasinya turun. Dokter jaga sampai datang dua kali. Mas Radit...” Dia berhenti, menatapku. “Kamu kenal Mas Radit?”

“Kenal,” kataku. Suaraku nyaris tidak keluar.

“Mas Radit nunggu di kursi plastik itu,” Suster Ani menunjuk ke arah lorong, “tiga minggu. Pagi berangkat kerja, sore balik, tidur di kursi, subuh dijemput sopir buat mandi dan ganti baju, balik lagi. Tiga minggu. Suster sampai hafal jam berapa dia datang.”

Dia menarik napas.

“Malam itu, setelah Bapak stabil, Mas Radit berdiri di samping ranjang. Suster lagi ganti cairan infus. Mas Radit bilang ke Bapak, Pak, saya telepon Mbak Kaluna, nggih. Dia harus tahu. Bapak langsung marah. Suster belum pernah lihat Bapak marah. Bapak bilang jangan, keras, sampai batuk-batuk. Bapak bilang Luna lagi sidang, Luna nggak boleh diganggu, Luna sudah kehilangan bapak ibunya, Luna nggak boleh kehilangan wisudanya juga.”

Aku menggenggam gelas plastik sampai teh di dalamnya hampir tumpah.

“Mas Radit diam. Tapi malam itu, jam tiga, waktu Bapak tidur, Suster lihat dia ambil ponsel Bapak dari meja. Ponsel lipat yang jadul itu. Dia pencet nomor kamu. Suster lihat dia berdiri di dekat jendela, nunggu nyambung.” Suster Ani tersenyum sedih. “Bapak bangun. Entah dari mana, padahal Bapak sudah lemas sekali. Bapak ulurkan tangan, ambil ponsel itu dari tangan Mas Radit, dan matikan. Satu detik.”

Satu detik.

“Bapak bilang ke Mas Radit, pelan banget, Suster sampai harus mendekat buat dengar. Bapak bilang, Dit. Ini permintaan saya. Bukan perintah. Permintaan. Jangan telepon dia. Biar dia selesai dulu.”

Suster Ani mengusap matanya dengan ujung jari.

“Mas Radit keluar kamar. Duduk di kursi plastik di lorong. Suster lihat dia nangis. Laki-laki segede itu, nangis di kursi plastik rumah sakit jam tiga pagi.”

Aku tidak bisa bicara. Aku tidak bisa bernapas.

“Malam kedua, enam hari kemudian, sama,” lanjut Suster Ani. “Bapak drop lagi, lebih parah. Dokter bilang ke Mas Radit, waktunya mungkin tidak banyak. Mas Radit ambil ponsel Bapak lagi. Kali ini dia nggak nunggu Bapak tidur. Dia berdiri di samping ranjang dan bilang ke Bapak, Pak, maaf, saya telepon Mbak Kaluna sekarang. Dan dia pencet.”

“Dan Kakek...”

“Bapak ambil lagi. Satu detik.” Suster Ani menggeleng pelan. “Tapi kali ini Bapak nggak marah. Bapak pegang tangan Mas Radit, lama, dan Bapak nangis. Bapak bilang, Dit, kalau dia pulang sekarang, dia nggak akan pernah selesai. Dia akan pulang, lihat saya begini, dan dia akan tinggal di sini, dan dia nggak akan balik lagi ke sana. Saya kenal cucu saya. Biar dia selesai. Biar dia punya satu hal yang utuh. Nanti, setelah saya nggak ada, dia boleh marah. Dia boleh marah sama saya. Atau...”

Suster Ani berhenti.

“Atau apa?”

Suster Ani menatapku lama sekali. Matanya basah.

“Bapak bilang, atau dia boleh marah sama kamu, Dit. Kalau itu lebih ringan buat dia.”

Ruang istirahat perawat itu sunyi. Dispenser air berbunyi blub pelan. Di luar jendela, matahari pagi memantul di atap-atap gedung Sudirman.

Dan Mas Radit, kata Suster Ani, menjawab satu kata.

Nggih, Pak.

Aku tidak ingat apa yang terjadi setelah itu.

Aku ingat Suster Ani memelukku. Aku ingat perawat muda dari meja depan datang membawa tisu. Aku ingat menangis di sofa yang kempis di ruang istirahat perawat lantai delapan, di rumah sakit tempat Kakek menghabiskan tiga minggu terakhirnya tanpa aku, dan aku tidak bisa berhenti.

Karena semuanya sekarang jatuh di tempat yang benar, dan tempat itu adalah aku.

Kakek yang memilih. Kakek yang melarang. Kakek yang merebut ponsel. Kakek yang berbohong salah pencet dengan suara serak dari ranjang rumah sakit. Kakek yang memilih wisudaku daripada kepulanganku. Kakek yang memutuskan aku lebih baik tidak tahu, tidak pamit, tidak menggenggam tangannya untuk terakhir kali.

Dan aku marah. Untuk pertama kalinya sejak Kakek wafat, aku marah kepada Kakek. Marah yang begitu besar sampai dadaku sakit. Kakek nggak berhak. Kakek nggak berhak milihin aku. Aku mau pulang. Aku lebih mau pulang daripada wisuda. Aku mau ada di sana. Kenapa Kakek pikir selembar ijazah lebih penting dari—

Lalu kemarahan itu berbalik.

Seperti ombak yang menghantam karang dan kembali ke arah yang sama sekali lain, menghantam tempat aku berdiri.

Karena Kakek benar. Kakek kenal aku. Kalau aku pulang, aku tidak akan pernah kembali ke Melbourne. Aku akan duduk di samping ranjang itu, dan setelah Kakek wafat, aku akan tinggal di rumah Menteng, dan tesisku akan terbengkalai, dan aku tidak akan pernah berjalan di panggung itu dengan selempang ungu.

Kakek tahu. Kakek tahu aku akan memilih dia, dan dia tidak mau aku memilih dia. Dia mau aku memilih diriku sendiri.

Dan aku tidak ada di sana.

Aku tidak menggenggam tangannya. Aku tidak mendengar suaranya untuk terakhir kali kecuali suara serak yang berbohong salah pencet. Aku tidak ada di sana ketika dia drop, ketika dokter datang dua kali, ketika dia memegang tangan orang lain dan menangis.

Aku tidak ada.

Laki-laki itu yang ada. Di kursi plastik. Tiga minggu. Memegang ponsel lipat jadul dua kali, dan dua kali ponsel itu direbut darinya, dan dua kali dia keluar kamar dan menangis sendirian di lorong.

Lalu dia menjawab nggih, Pak, dan membawa semua itu di pundaknya, dan terbang ke Melbourne dengan batik satu-satunya, dan menerima tamparanku, dan tinggal di kamar sopir, dan tidak pernah sekali pun berkata bukan aku yang memilih ini.

Karena kalau dia berkata begitu, aku akan tahu bahwa Kakek yang memilih.

Dan kalau aku tahu Kakek yang memilih, aku akan bertanya kenapa aku tidak cukup penting untuk dipanggil pulang.

Dan pertanyaan itu, Radit tahu, akan menghancurkanku lebih dari kebencian mana pun.

Benci lebih ringan dibawa daripada rasa bersalah.

Dia benar. Ya Tuhan, dia benar. Rasa bersalah ini lebih berat dari apa pun yang pernah kubawa. Lebih berat dari Melbourne. Lebih berat dari pemakaman yang terlewat. Lebih berat dari rumah besar yang kosong.

Dan dia sudah membawanya untukku. Sepuluh bulan. Diam-diam.

Suster Ani mengantarku sampai ke lift.

Sebelum pintu lift menutup, dia menahan pintunya dengan tangan dan menatapku.

“Luna,” katanya. “Satu hal lagi. Hari terakhir, Bapak sudah susah bicara. Tapi Bapak masih sempat bilang ke Suster, waktu Mas Radit lagi keluar beli makan. Bapak bilang, Sus, kalau nanti cucu saya ke sini, bilang ke dia: Radit itu orang baik. Jangan sampai dia nyesel terlambat tahu.”

Pintu lift menutup.

Aku turun delapan lantai sendirian, menatap pantulan wajahku di dinding baja lift yang mengilap, dan wajah itu adalah wajah seorang perempuan yang sudah terlambat.