Chapter Nine
Rumah Kecil yang Belum Ada
POV: Aurelia
Raka menjadi lebih diam setelah ulang tahun Nenek.
Tidak jauh berbeda sampai orang lain menyadarinya.
Aku menyadarinya.
Pesannya tetap dibalas.
Telepon malam tetap ada.
Dia masih menjemputku kalau sempat.
Masih mencium keningku sebelum aku turun dari motor.
Tetapi ada jeda kecil setiap kali aku menyebut keluargaku.
Jeda yang sebelumnya tidak ada.
Aku membencinya.
Jadi aku melakukan sesuatu yang menurut Tasha sangat tidak dewasa.
Aku menculik pacarku.
“Masuk.”
Raka berdiri di depan mobilku.
“Ke mana?”
“Rahasia.”
“Kenapa semua date kamu rahasia?”
“Supaya kamu enggak kabur.”
“Aku ada freelance.”
“Laptop bawa?”
“Iya.”
“Berarti bisa kerja.”
Dia menatapku.
Aku membuka pintu penumpang.
“Masuk.”
Akhirnya dia menurut.
Aku membawa kami ke sebuah toko furnitur besar.
Raka berhenti begitu melihat papan nama.
“Lia.”
“Apa?”
“Kita ngapain?”
“Lihat-lihat.”
“Furnitur?”
“Iya.”
“Kamu mau beli?”
“Enggak.”
“Terus?”
Aku menggenggam tangannya.
“Survei.”
Dia langsung tahu.
Ekspresinya berubah.
“Survei satu responden?”
“Sekarang dua.”
Kami melewati bagian kamar tidur lebih dulu.
Aurelia berhenti di depan lemari dua pintu.
“Ini enggak cukup.”
“Buat siapa?”
“Dua orang.”
“Aku punya empat kemeja.”
“Dan aku punya kehidupan.”
Aku tertawa.
Dia membuka lemari display.
“Minimal ini.”
“Lia, itu empat pintu.”
“Exactly.”
“Rumah kecil, lemari kerajaan.”
“Prioritas.”
Aku membayangkan barang-barangnya memenuhi tempat yang bahkan belum ada.
Anehnya, bayangan itu membuatku tersenyum.
Kami mencoba sofa yang terlalu empuk.
Raka tenggelam sampai hampir tidak bisa berdiri.
Aku tertawa begitu keras sampai seorang pegawai melihat.
“Jangan beli ini,” katanya.
“Kenapa?”
“Kalau pulang kerja capek, aku enggak akan bangun lagi.”
“Kita?”
Dia berhenti.
Aku sengaja tidak membantu.
“Kamu bilang kita.”
“Slip.”
“Enggak bisa ditarik.”
Dia berdiri.
Aku mengejarnya ke bagian meja makan.
Ada meja kayu kecil untuk empat orang.
Aku duduk.
“Ini.”
“Apa?”
“Cukup.”
“Buat?”
“Rumah kecil.”
Raka menatapku.
Aku menunjuk kursi di depannya.
Dia duduk.
“Empat kursi,” katanya.
“Dua buat tamu.”
“Siapa?”
“Tasha.”
“Satu lagi?”
Aku berpikir.
“Dion.”
“Kamu bahkan belum pernah ketemu Dion.”
“Katanya dia suka makan gratis.”
“Valid.”
Kami tersenyum.
Aku membayangkan sesuatu yang sangat biasa.
Raka pulang kerja.
Aku duduk di meja ini.
Ada dua piring.
Mungkin apartemennya panas.
Mungkin kami bertengkar soal siapa yang lupa membeli sabun.
Bayangan itu tidak terasa seperti kehilangan sesuatu.
Justru terasa seperti mendapat.
“Aku serius waktu itu,” kataku.
Raka menatapku.
“Soal apa?”
“Aku enggak nunggu kamu punya semuanya.”
Dia mengusap permukaan meja.
“Lia.”
“Aku tahu kamu enggak suka ngomongin ini.”
“Bukan.”
“Terus?”
Dia menghela napas.
“Aku cuma enggak mau kamu membuat masa depan versi murah supaya aku nyaman.”
Aku terdiam.
“Versi murah?”
“Maksudku—”
“Enggak. Jelasin.”
Raka menutup mata sebentar.
“Aku tahu hidupmu sekarang seperti apa.”
“Terus?”
“Kalau nanti sama aku dan semuanya berubah…”
“Berubah jadi apa?”
“Lebih susah.”
Aku menatapnya.
Akhirnya.
Itu yang selama ini ada di kepalanya.
“Raka.”
“Hm?”
“Aku bukan barang mahal yang harus dipelihara.”
Dia hampir tersenyum.
“Aku serius.”
“Aku tahu.”
“Aku bisa kerja.”
“Aku tahu.”
“Aku bisa naik motor.”
“Dengan sangat mengganggu pengemudi.”
“Aku bisa makan nasi goreng pinggir jalan.”
“Pedas enggak bisa.”
Aku menendang kakinya di bawah meja display.
Dia tertawa.
Ketegangan pecah sedikit.
Aku meraih tangannya.
“Kalau suatu hari hidup sama kamu lebih susah, itu masalah aku juga.”
Dia menatap jemari kami.
“Bukan cuma kamu yang memutuskan.”
Aku mengangkat tangannya dan menaruhnya di dadaku.
“Kalau nanti ada masalah, kita ngomong.”
Raka menatap tanganku.
“Bukan kamu pulang sendiri terus bikin spreadsheet.”
Dia tertawa pendek.
“Aku enggak selalu bikin spreadsheet.”
“Kamu bikin spreadsheet buat milih laptop.”
“Itu keputusan penting.”
“Aku serius.”
Senyumnya hilang.
“Iya.”
“Janji?”
Dia menatapku.
“Janji.”
Kalimat itu membuatnya diam.
Aku tidak tahu bahwa tujuh tahun kemudian aku akan mengingat kalimat itu lebih jelas daripada hampir semua hal lain.
Saat itu aku cuma ingin dia mendengarnya.
Kami pulang ke kos Raka membawa dua gelas minuman murah dari food court.
Dia bekerja.
Aku berbaring di kasur sambil membaca.
Sekitar satu jam kemudian laptopnya ditutup.
“Capek?” tanyaku.
“Lumayan.”
“Ke sini.”
“Kenapa?”
“Ke sini.”
Dia mendekat.
Aku menarik tangannya sampai dia duduk di tepi kasur.
“Tidur.”
“Aku harus—”
“Lima menit.”
Aku menepuk pahaku.
Raka menatapku curiga.
“Apa?”
“Pillow service.”
“Paha kamu?”
“Premium.”
Dia akhirnya merebahkan kepala.
Aku menyisir rambutnya dengan jari.
Matanya menutup.
Lima menit berubah menjadi dua puluh.
Aku tidak membangunkannya.
Wajah Raka ketika tidur selalu terlihat lebih muda. Tidak ada alis kanan turun. Tidak ada ekspresi menghitung. Tidak ada senyum yang dipakai untuk meyakinkan orang bahwa semuanya baik-baik saja.
Aku menunduk dan mencium keningnya.
Matanya terbuka.
“Kamu nyolong.”
“Bayaran pillow service.”
Tangannya naik ke belakang leherku dan menarikku turun.
Ciumannya membuatku kehilangan keseimbangan.
Aku menahan dada Raka.
Dia tertawa kecil di dekat bibirku.
“Sekarang siapa yang nyolong?”
“Kompensasi.”
Aku mencium dia lagi.
Kali ini lebih lambat.
Tangannya menetap di pinggangku. Aku bisa merasakan napasnya berubah ketika jarak kami hilang.
Saat kami berpisah, dahiku tetap menempel pada dahinya.
“Lia.”
“Hm?”
“Kalau aku lama?”
Aku tahu apa yang dia maksud.
Aku menyentuh pipinya.
“Aku enggak ke mana-mana.”
Dia memejamkan mata.
Aku mengira itu cukup.
Sebelum dia bangun, Raka meraih tanganku.
“Kalau nanti aku jadi nyebelin soal ini, ingetin.”
“Soal apa?”
“Merasa harus beresin semuanya sendiri.”
Aku tersenyum.
“Dengan senang hati.”
“Jangan terlalu senang.”
“Aku akan bikin alarm.”
Dia menutup mata lagi.
Aku tidak tahu bahwa suatu hari nanti aku akan benar-benar harus mengingatkan janji itu kepadanya.
Dan bahwa saat hari itu datang, kami sudah kehilangan tujuh tahun.
Malam itu kami memesan makan, berebut selimut tipis, dan berdebat tentang film.
Setelah film selesai, hujan turun deras.
Aku berdiri dekat jendela kos.
“Kalau enggak reda?”
“Tidur sini.”
Aku menoleh.
Raka yang tadi terlihat santai mendadak sadar apa yang baru dia katakan.
Aku mengangkat alis.
“Berani?”
“Di lantai.”
Aku tertawa.
“Aku tahu.”
“Jangan mulai.”
“Aku belum mulai.”
Hujan akhirnya mengecil sebelum tengah malam.
Sedikit mengecewakan.
Aku tidak mengatakan bagian terakhir.
Sebelum pulang, aku berdiri di pintu kos.
Raka memegang tanganku.
“Aku suka hari ini,” katanya.
“Furniturnya?”
“Kamu.”
Aku tersenyum.
“Bagus.”
“Jangan gede kepala.”
“Terlambat.”
Dia menciumku sekali lagi.
Aku pulang dengan perasaan ringan.
Di meja kamarku, brosur furnitur yang diam-diam kuambil masih ada di dalam tas. Aku mengeluarkannya dan melingkari meja empat kursi tadi dengan pulpen.
Di sampingnya kutulis:
Yang ini.
Konyol.
Kami bahkan belum tahu akan tinggal di kota mana.
Tetapi malam itu masa depan terasa seperti sesuatu yang bisa disentuh, dipilih dari katalog, lalu dibangun pelan-pelan bersama.
Aku melipat brosur itu dan menyimpannya di laci.
Aku pulang dengan perasaan ringan.
Di mobil, Tasha menelepon.
“Gimana penculikannya?”
“Berhasil.”
“Korban masih hidup?”
“Sayangnya.”
Raka yang berdiri di luar jendela mendengar dan mengetuk kaca.
Aku menurunkannya.
“Tasha?”
“Iya.”
“Bilang korban menuntut ganti rugi.”
Aku menyampaikan.
Tasha tertawa dari speaker. “Kiss aja, Rak.”
Raka langsung menatapku.
Aku tersenyum manis.
“Sudah.”
Dia membeku.
Aku menaikkan kaca sebelum dia bisa membalas dan tertawa sepanjang mobil keluar dari gang.
Beberapa menit kemudian ponselku berbunyi.
Pengkhianat.
Aku membalas.
Pacar.
Aku tidak tahu bahwa di kepala Raka, rumah kecil yang kubayangkan bukan hanya sebuah harapan.
Perlahan, rumah itu mulai berubah menjadi sesuatu yang dia takut tidak mampu memberikannya.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada reading
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk