Chapter Thirty Seven
Jangan Pergi, Bicara
POV: Aurelia
Board meeting hari Jumat berlangsung tiga jam.
Tidak ada yang mati.
Itu sudah kemenangan.
Papa duduk di ujung meja.
Om Vincent dua kursi dariku.
Raka hadir sebagai CTO Nara bersama Maya.
Kami mempresentasikan opsi regional rollout empat setengah bulan dengan automatic stop criteria.
Pertanyaan datang bertubi-tubi.
“Kenapa tidak nasional?”
“Berapa revenue yang tertunda?”
“Kalau competitor bergerak dulu?”
Raka menjawab bagian teknis.
Aku bagian bisnis.
Untuk pertama kalinya sejak proyek ini bermasalah, aku tidak mencoba menjawab semuanya sendiri.
Ketika pertanyaan masuk wilayah Raka, aku diam.
Ketika masuk wilayahku, dia diam.
Sederhana.
Aneh bahwa kami perlu tujuh tahun dan satu pertengkaran untuk belajar pembagian kerja.
Vincent mencoba sekali lagi.
“Kalau bulan pertama stabil, bisa percepat?”
Raka tidak langsung menolak.
Dia melihatku.
Bukan meminta izin.
Memastikan kami membaca situasi yang sama.
Aku berkata, “Review setelah region kedua. Bukan otomatis accelerate.”
Raka mengangguk.
“Technically acceptable.”
Papa mengetuk meja.
“Baik.”
Akhirnya board setuju.
Dengan syarat review bulanan.
Om Vincent tidak terlihat senang.
Tapi dia mengangguk.
Setelah meeting, Papa memanggilku.
Raka menunggu di luar.
“Aurelia.”
“Iya, Pa?”
“Kamu bagus.”
Aku menatapnya.
Papa jarang memberi pujian langsung.
“Terima kasih.”
Ia menutup folder.
“Dan Raka benar soal risiko.”
Aku menunggu.
“Om Vincent tidak akan suka.”
“Aku tahu.”
“Tidak masalah.”
Papa merapikan dokumen.
“Kamu tahu kenapa saya setuju?”
“Karena proposalnya bagus?”
“Itu satu.”
“Yang lain?”
“Kamu tidak mencoba menyenangkan semua orang.”
Aku hampir tertawa karena itulah persis penyakit tiga hari terakhirku.
“Baru belajar.”
Papa menatapku.
“Teruskan.”
Aku hampir tersenyum.
Kemudian Papa berkata, “Minggu depan ajak Raka makan.”
Aku mengangkat alis.
“Papa sendiri yang undang.”
“Saya sudah.”
Benar.
Gala.
Aku lupa.
“Takut?” tanyaku.
Papa menatapku.
“Sedikit.”
Aku tertawa.
Mungkin semua laki-laki dalam hidupku akhirnya belajar kata yang sama.
Di luar, Raka berdiri dekat jendela.
“Gimana?”
“Papa takut.”
“Apa?”
“Enggak penting.”
Kami berjalan ke lift.
Tanganku mencari tangannya.
Raka menggenggam.
“Board approved.”
“Gue dengar.”
“Terima kasih.”
“Buat?”
“Enggak membiarkan aku menang sendiri.”
Dia menatapku.
“Kalimat aneh.”
“Kamu ngerti.”
“Iya.”
Malamnya kami di apartemen Raka.
Tidak merayakan dengan restoran.
Kami pesan ayam goreng.
Aku duduk di lantai dengan kaus Raka.
Phase 3 ternyata terjadi tanpa deklarasi.
Ada tiga bajuku di lemarinya sekarang.
Raka pura-pura tidak tahu.
Kami makan sambil menonton berita.
Ponselnya berbunyi berkali-kali.
Dia membalik layar.
Aku melihat.
“Kerja?”
“Iya.”
“Angkat.”
“Enggak urgent.”
“Yakin?”
“Iya.”
Progress.
Aku mengambil ayam terakhir.
Raka menatap.
“Punya gue.”
“Relationship tax.”
“Tidak ada.”
“Sekarang ada.”
Dia mencoba merebut.
Aku lari.
Dua puluh detik kemudian dia menangkapku dekat sofa.
Kami jatuh duduk sambil tertawa.
Aku masih memegang ayam.
“Menyerah?”
“Tidak.”
“Lia.”
“Tidak.”
Raka menciumku.
Curang.
Tanganku melemah.
Dia mengambil ayam.
Aku menatap tidak percaya.
“Manipulasi.”
“Strategy.”
“Aku putus.”
Kalimat itu keluar sebagai bercanda.
Kami berdua langsung diam.
Bekas luka punya telinga sendiri.
Aku meletakkan tangan di pipinya.
“Bercanda.”
“Aku tahu.”
“Sorry.”
Raka mencium telapak tanganku.
“Gue tahu.”
Kami duduk sebentar.
Kemudian aku berkata, “Aku enggak suka kata itu sekarang.”
“Gue juga.”
“Ban?”
“Ban.”
Relationship rule delapan.
Tidak menggunakan breakup sebagai lelucon.
Aku menulisnya.
Raka membaca dari bahuku.
“Rule kita makin banyak.”
“Karena dua orangnya susah.”
“Bisa refactor?”
“Tidak.”
“Bad architecture.”
“Stable legacy system.”
Dia tertawa.
“Jangan sebut hubungan kita legacy.”
“Kenapa? Sudah tujuh tahun.”
“Technically ada downtime.”
Aku memukul dadanya.
Dia tertawa lebih keras.
Tidak menggunakan breakup sebagai lelucon.
Aku mencatat di ponsel.
Raka tertawa.
Beberapa saat kemudian aku bersandar di dadanya.
“Raka.”
“Hm?”
“Kalau nanti kita berantem lagi?”
“Pasti.”
Aku mengangkat kepala.
“Romantis.”
“Realistis.”
Aku memukul dadanya.
Dia tertawa.
Kemudian serius.
“Kalau gue butuh space, gue bilang.”
“Terus?”
“Gue kasih waktu kapan balik bicara.”
Aku mengangguk.
“Kalau aku?”
“Sama.”
“Kalau salah satu pengin kabur?”
Raka menatapku.
Aku menunggu.
“Jangan pergi,” katanya.
“Terus?”
“Bicara.”
Sederhana.
Itulah yang seharusnya kami lakukan tujuh tahun lalu.
Aku menyandarkan kepala lagi.
“Deal.”
Raka mengusap rambutku.
“Lia.”
“Hm?”
“Gue bangga sama lo.”
Aku mengangkat kepala.
“Board?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Lo bilang salah semalam.”
Aku memukul dadanya.
“Romantis banget.”
“Sulit.”
Aku tertawa.
Kemudian berkata, “Aku juga bangga.”
“Karena?”
“Kamu minta dua menit dan balik.”
Raka diam.
Dia mengerti.
Bagi orang lain, itu mungkin tidak berarti apa-apa.
Bagi kami, dua menit dan sebuah pintu yang tidak ditutup adalah perkembangan tujuh tahun.
“Deal.”
Sebelum tidur di condo malam itu, aku membuka note rules kami.
Ada delapan sekarang.
Di bawahnya, aku menambahkan satu baris tanpa nomor:
Kita bukan lawan.
Aku screenshot dan kirim ke Raka.
Balasannya datang:
Never were.
Aku menatap dua kata itu.
Benar.
Bahkan ketika kami paling saling menyakiti, kami tidak pernah benar-benar menjadi musuh.
Masalahnya dulu kami terlalu muda untuk tahu bahwa cinta tidak cukup kalau dua orang terus mencoba menyelamatkan satu sama lain sendirian.
Ponselku berbunyi lagi.
Raka:
Besok breakfast?
Aku:
No work talk 30 menit.
Dia:
Deal.
Aku tersenyum.
Kami mungkin akan mengulang kesalahan kecil.
Mungkin masih ada hari ketika aku mencoba mengendalikan semuanya atau Raka kembali menutup diri.
Growth ternyata bukan garis lurus.
Tapi sekarang kami punya jalan pulang ke percakapan.
Sekarang kami belajar sesuatu yang lebih sulit.
Menjadi tim.
Malam itu ayam terakhir akhirnya kami bagi dua. Raka mengeluh bagianku lebih besar. Aku bilang relationship tax. Dia bilang audit diperlukan. Kami tertawa. Krisis selesai bukan dengan kemenangan salah satu pihak, tetapi dengan makan malam dingin yang tetap kami habiskan bersama.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara reading
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk