Chapter Thirteen
Nama yang Tidak Pernah Hilang
POV: Aurelia
Aku sudah tahu Raka adalah CTO Nara selama tiga minggu.
Tiga minggu seharusnya cukup untuk menyiapkan diri.
Ternyata tidak.
“Bu Aurelia?”
Aku mengangkat kepala dari tablet.
Asistenku, Niken, berdiri di pintu ruang kerja.
“Mobil sudah siap.”
“Lima menit.”
Dia mengangguk dan pergi.
Aku menatap slide terakhir presentasi.
Nara Technologies.
Nama perusahaan itu tidak asing. Tidak mungkin asing bagi siapa pun yang bekerja di retail digital.
Nama CTO-nya juga tidak asing.
Raka Adinata.
Pertama kali tim menyebutnya, aku mengira salah dengar.
Kemudian profilnya muncul di layar.
Foto formal.
Rambut lebih pendek.
Wajah lebih matang.
Tatapan yang sama.
Aku pergi ke toilet dan muntah.
Setelah itu aku kembali ke meeting dan menyelesaikan presentasi.
Aku sudah dua puluh delapan tahun.
Aku bukan gadis dua puluh satu tahun yang menelepon seseorang dua puluh delapan kali sampai suaranya habis.
Setidaknya itulah yang terus kukatakan.
Tujuh tahun tidak berhenti hanya karena Raka pergi.
Aku lulus.
Masuk Wijaya Group.
Bertengkar dengan Papa hampir setiap minggu selama tahun pertama.
Pindah dari rumah selama delapan bulan hanya untuk membuktikan aku bisa.
Kemudian pulang bukan karena kalah, tetapi karena Mama sakit dan aku lelah menjadikan setiap keputusan sebagai perang.
Aku belajar membaca laporan yang dulu membuatku bosan.
Belajar negosiasi.
Belajar memecat orang.
Belajar bahwa menjadi anak pemilik perusahaan tidak membuat orang otomatis menghormatimu; kadang justru membuat mereka menunggu kamu gagal.
Aku gagal beberapa kali.
Lalu berhenti gagal dengan cara yang sama.
Sekarang aku memimpin strategic development.
Papa tidak memberiku jabatan itu.
Setidaknya tidak seluruhnya.
Aku bekerja untuk bagian yang bisa kuklaim sendiri.
Aku juga pernah berkencan.
Yang pertama seorang konsultan yang disukai Mama. Baik, pintar, sabar. Hubungan kami berakhir ketika dia mendapat tawaran di Singapura dan berkata, “Kalau kamu serius, ikut.”
Kalimatnya biasa.
Aku mendengar: pilih.
Aku tidak ikut.
Yang kedua seorang pengusaha yang sudah kukenal dari circle lama. Kami bertahan hampir setahun. Dia tidak pernah meminta aku meninggalkan apa pun.
Justru itu yang membuatku sadar masalahnya bukan mereka.
Setiap kali dia terlambat membalas pesan, ada bagian memalukan dalam diriku yang bersiap ditinggalkan.
Aku mengakhirinya sebelum kecemasanku berubah menjadi hukuman untuk orang yang tidak bersalah.
Dua kali cukup serius untuk dikenalkan ke Mama.
Tidak ada yang jahat.
Tidak ada yang kurang.
Masalahnya ada padaku.
Setiap kali seseorang berkata, “Percaya sama aku,” bagian kecil dalam diriku selalu bertanya:
Sampai kapan?
Aku membenci Raka karena meninggalkan pertanyaan itu.
Aku juga membenci diriku karena tujuh tahun kemudian namanya masih bisa membuat tanganku dingin.
Di mobil, Niken membaca rundown.
“Dari Nara, Pak Dion, Bu Maya, dan Pak Raka akan hadir.”
Pak Raka.
Aku hampir tertawa.
“Bu?”
“Lanjut.”
“Technical discovery dua jam. Setelah itu dinner tentative.”
“Dinner enggak perlu.”
“Baik.”
Aku melihat keluar jendela.
Gedung Nara muncul di antara gedung-gedung lain.
Tinggi.
Modern.
Logo besar di depan.
Aku pernah membaca artikel tentang perjalanan mereka.
Tiga founder.
Dion Pratama, Maya Kurniawan, Raka Adinata.
Raka jarang diwawancara. Ketika diwawancara, jawabannya pendek.
Sangat Raka.
Aku tahu estimasi saham founder.
Tahu penghargaan yang dia dapat.
Tahu perusahaan luar negeri pernah mencoba merekrutnya.
Aku pernah membuka satu wawancara Raka tengah malam.
Interviewer bertanya apa motivasinya membangun Nara.
Raka menjawab, “Saya suka membangun sesuatu yang berguna.”
Hanya itu.
Aku menonton bagian tersebut tiga kali, mencari sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Tidak ada pesan rahasia.
Tidak ada penyesalan untuk mantan pacar.
Aku menutup videonya dan membenci diriku sendiri.
Semua informasi itu tidak memberiku jawaban untuk satu pertanyaan:
Kenapa tujuh tahun lalu dia tidak pernah datang kembali?
Lobi Nara ramai.
Resepsionis menyambut kami dan mempersilakan naik.
Di lift, Kevin yang ikut sebagai perwakilan unit retail berdiri di sampingku.
“Lo oke?”
Aku menoleh.
“Kenapa enggak?”
“Lia.”
“Aku kerja.”
Kevin mengangkat kedua tangan.
“Okay.”
Dia sudah jauh lebih dewasa daripada anak tiga puluh tahun yang masih kadang kupanggil idiot.
Beberapa tahun lalu dia meminta maaf tentang cara dia memperlakukan Raka.
Aku bilang orang yang perlu mendengar bukan aku.
Sekarang mungkin dia akan mendapat kesempatan.
Pintu lift terbuka.
Kami dibawa ke ruang rapat.
Dion menyambut lebih dulu.
Aku pernah bertemu dengannya di acara industri, tetapi tidak pernah bicara lama.
“Mbak Aurelia.”
“Pak Dion.”
“Maya.”
Kami berjabat tangan.
Aku duduk.
Kursi di seberangku kosong.
Aku tahu milik siapa.
Lima menit.
Tiga.
Satu.
Pintu terbuka.
Raka masuk.
Semua persiapan tiga minggu hilang.
Dia lebih tinggi daripada yang kuingat.
Atau mungkin hanya pembawaannya.
Kemeja putih tanpa dasi. Jam sederhana. Tidak ada sesuatu yang berteriak kaya atau sukses.
Dia tidak perlu.
Dion berhenti bicara.
Kevin membeku.
Raka melihat seluruh meja.
Kemudian matanya sampai padaku.
Tujuh tahun runtuh menjadi satu detik.
Aku melihat motor tua.
Kos panas.
Tangannya di pinggangku.
Taman.
Itu sudah enggak penting.
Dadaku sakit.
Aku berdiri karena semua orang berdiri.
Raka berjalan mendekat.
Tangannya terulur.
Profesional.
Aku menatap tangan itu.
Tangan yang dulu kugenggam di bawah meja keluargaku.
Aku menyambutnya.
Hangat.
Sama.
“Selamat siang, Bu Aurelia.”
Bu Aurelia.
Aku hampir menamparnya saat itu juga.
Tangannya masih menggenggam tanganku secara profesional.
Tidak lebih lama daripada perlu.
Tetapi kulitku mengenali sentuhan itu sebelum pikiranku sempat melarang.
Aku melepaskan lebih dulu.
Sebaliknya aku tersenyum.
“Selamat siang, Pak Raka.”
Mata Dion bergerak di antara kami.
Maya pura-pura membuka laptop.
Kevin sepertinya ingin menghilang.
Kami duduk.
Presentasi dimulai.
Dan aku menemukan sesuatu yang lebih menyebalkan daripada Raka meninggalkanku tujuh tahun lalu.
Raka sekarang sangat bagus dalam pekerjaannya.
Dia tidak mendominasi ruangan.
Tidak perlu.
Ketika bicara, semua orang berhenti.
Ketika tim kami mengusulkan timeline yang terlalu optimistis, dia menjelaskan risikonya tanpa merendahkan siapa pun.
Ketika engineer junior Nara salah menjawab, Raka tidak memotong. Dia membiarkan orang itu selesai lalu memperbaiki dengan dua kalimat.
Aku memperhatikannya terlalu banyak.
Dia hampir tidak melihatku.
Itu membuatku marah lebih banyak daripada seharusnya.
Meeting selesai dua jam kemudian.
Orang-orang berdiri.
Aku menutup tablet.
Raka bicara dengan Kevin.
Kevin terlihat kaku.
Aku mendekat.
“Pak Raka.”
Dia menoleh.
Aku benci betapa mudahnya tubuhku mengingat wajah itu.
“Ya, Bu Aurelia?”
Sengaja.
Pasti sengaja.
“Kita perlu bicara.”
“Untuk scope integrasi, Maya bisa—”
“Bukan soal integrasi.”
Dion mendadak sangat tertarik pada layar.
Raka diam.
“Lima menit,” kataku.
Tatapannya berubah sedikit.
Bukan CTO.
Raka.
Hanya sesaat.
“Baik.”
Aku berjalan lebih dulu ke ruang kecil di samping.
Tujuh tahun lalu dia pergi sebelum aku selesai bicara.
Kali ini tidak.
Aku menutup pintu setelah dia masuk.
Tanganku berada di gagang pintu beberapa detik.
Aku bisa membuka lagi.
Memanggil Niken.
Mengatakan percakapan personal tidak pantas dilakukan di jam kerja.
Versi diriku yang sekarang tahu semua cara profesional untuk menghindari situasi sulit.
Sayangnya perempuan dua puluh satu tahun di dalam diriku sudah menunggu tujuh tahun.
Aku berbalik.
Kemudian berbalik.
Raka berdiri dua meter dariku.
Terlalu jauh.
Selalu terlalu jauh.
Aku sudah menyiapkan puluhan kalimat selama tiga minggu.
Tidak satu pun keluar.
Yang keluar justru namanya.
“Raka.”
Untuk pertama kalinya hari itu, dia tidak punya jawaban cepat.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang reading
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk