Chapter Forty One
Tempat yang Kalau Kamu Datang
POV: Raka
Sabtu pagi, Aurelia mengirim pesan jam tujuh lewat tiga.
Dress code?
Aku membalas:
Nyaman.
Heels?
Jangan.
Gaun?
Lia.
Tiga titik muncul.
Ini mencurigakan.
Aku menatap kotak kecil di meja.
Sangat mencurigakan.
Dion sudah menelepon dua kali sejak bangun.
Maya mengirim:
Don't overengineer it.
Ibu mengirim doa, lalu lima menit kemudian mengirim:
Jangan lupa cincin.
Seolah ada kemungkinan aku lupa benda yang sudah tiga minggu membuatku mengecek saku setiap dua jam.
Aku memasukkan kotak itu ke jaket.
Kemudian mengeluarkannya lagi.
Terlalu terlihat.
Masuk tas.
Terlalu jauh.
Kembali ke saku.
Aku seorang CTO yang pernah memimpin incident dengan jutaan transaksi terdampak.
Tiga minggu lalu aku bahkan membuat spreadsheet cincin.
Maya menemukannya.
Dia menatap kolom cut, setting, durability, Lia likelihood to hate it lalu berkata, “Lo mau nikah atau procurement?”
Spreadsheet itu kuhapus.
Akhirnya aku memilih cincin yang sederhana karena saat melihatnya aku langsung bisa membayangkan di tangan Aurelia.
Dion bilang itu pertama kalinya aku membuat keputusan besar tanpa dashboard.
Hari ini satu kotak kecil berhasil membuat tanganku dingin.
Aku menjemput Aurelia jam sembilan.
Dia turun memakai jeans, blouse putih, sneakers, dan ekspresi curiga.
“Ke mana?”
“Masuk.”
“Raka.”
“Historical tradition.”
“Rahasia kamu biasanya bahaya.”
“Fitnah.”
Dia masuk.
Aku mulai mengemudi.
Sepuluh menit.
“Ke mana?”
“Belum.”
Dua puluh menit.
“Raka.”
“Lia.”
Tiga puluh menit.
Dia melihat jalan dan akhirnya sadar.
“Toko furnitur?”
Aku tersenyum.
“Bukan.”
“Ini arah—”
“Aku tahu.”
Aku membawa kami ke kompleks apartemen baru beberapa blok dari taman tempat dulu kami bicara soal masa depan.
Bukan gedung paling mewah.
Bukan penthouse.
Aurelia menatapku ketika kami masuk parkiran.
“Kita ngapain?”
“Lihat tempat.”
“Tempat apa?”
Aku mematikan mesin.
“Naik dulu.”
Unitnya belum penuh furnitur.
Hanya sofa kecil, meja makan kayu empat kursi, dan beberapa kardus.
Aurelia berhenti di pintu.
Aku melihat wajahnya.
Matanya langsung jatuh ke meja.
Empat kursi.
“Raka.”
“Hm?”
“Kamu…”
“Gue beli beberapa bulan lalu.”
Dia menoleh cepat.
“Beberapa bulan?”
“Sebelum kita balikan.”
Wajahnya berubah.
Aku langsung menjelaskan.
“Bukan buat lo.”
“Wow. Romantis.”
“Dengar dulu.”
Dia tertawa kecil sambil menghapus mata yang mulai basah.
“Gue beli karena apartemen lama terasa kayak kantor yang punya kasur.”
“Accurate.”
“Terus waktu pilih meja…”
Aku melihat empat kursi itu.
“Gue ingat.”
Aurelia berjalan mendekat dan menyentuh permukaannya.
“Yang di toko dulu?”
“Bukan meja yang sama.”
“Aku tahu.”
Aurelia menarik satu kursi.
“Dua buat kita.”
Dia menunjuk dua lainnya.
“Tasha.”
“Kenapa Tasha?”
“Dia dulu masuk daftar.”
“Dion.”
“Kamu bahkan waktu itu belum kenal Dion.”
“Sekarang kenal.”
Kami tertawa.
Tujuh tahun lalu pembicaraan ini hanya permainan dua anak muda di toko furnitur.
Sekarang nama-nama di kursi kosong itu benar-benar bagian hidup kami.
“Bukan meja yang sama.”
“Aku tahu.”
“Tapi cukup mirip.”
Dia duduk di salah satu kursi.
Aku duduk di seberang.
Posisi yang sama seperti tujuh tahun lalu ketika dia berkata hidup yang lebih susah seharusnya menjadi masalah kami berdua.
“Aku pernah simpan brosurnya,” katanya.
Aku membeku.
“Apa?”
“Dari toko itu.”
“Serius?”
“Di box.”
Aku tertawa tidak percaya.
“Kita berdua sakit.”
“Sedikit.”
Aku mengajaknya melihat ruangan lain.
Kamar utama.
Ruang kerja.
Balkon.
Satu kamar kosong.
Aurelia berdiri di tengahnya.
“Ini buat apa?”
“Belum tahu.”
“Walk-in closet.”
“Tidak.”
“Phase 10.”
“Lia.”
Dia tertawa.
Kemudian berhenti.
“Kenapa kamu bawa aku ke sini?”
Akhirnya.
Aku menarik napas.
“Karena gue mau pindah.”
“Okay.”
“Dan gue enggak mau tempat ini jadi apartemen gue.”
Aurelia diam.
Aku melanjutkan.
“Gue juga enggak mau bilang pindah ke sini sekarang kalau lo belum siap.”
Matanya mulai basah lagi.
“Raka.”
“Gue cuma mau lo ikut mutusin.”
Rule kami.
Tidak mengambil keputusan yang berdampak hubungan sendirian.
“Apa?”
“Furnitur. Lemari kerajaan. Tanaman yang bakal lo bunuh.”
“Aku sudah lebih baik.”
“Debatable.”
Dia memukul lenganku sambil menangis.
Aku menggenggam tangannya.
“Gue pengin ini jadi tempat kita.”
“Tapi condo aku?”
“Enggak harus dijual.”
“Furniture?”
“Pilih bareng.”
“Lokasi?”
“Kalau lo enggak suka, kita cari tempat lain.”
Aurelia menatapku.
Aku sengaja menyebut semua jalan keluar.
Bukan karena ragu.
Karena dulu aku selalu datang membawa keputusan final yang kubungkus sebagai pengorbanan.
Sekarang aku ingin dia melihat pintunya tetap terbuka.
“Jadi kamu belum decide?”
“Gue decide mau hidup sama lo. Alamatnya kita decide bareng.”
Air matanya jatuh lagi.
“Gue pengin ini jadi tempat kita.”
Aurelia menatapku.
“Tempat yang kalau aku datang…”
Suaranya pecah.
Aku mengangguk.
“…aku enggak perlu pulang lagi.”
Kalimat umur dua puluh dua.
Kembali.
Tapi kali ini aku tidak sedang menawarkan mimpi yang belum mampu kubangun.
Aku juga tidak sedang menawarkan rumah sebagai bukti kelayakan.
Aku menawarkan keputusan bersama.
Aurelia memelukku begitu keras sampai aku hampir kehilangan keseimbangan.
“Bodoh.”
“Iya.”
“Tujuh tahun.”
“Iya.”
“Aku benci kamu.”
“Historical data disagrees.”
Dia tertawa di dadaku.
Kami kembali ke ruang makan.
Tanganku masuk saku.
Kotaknya masih ada.
Jantungku langsung mempercepat lagi.
Aurelia sedang berdiri dekat jendela.
Aku memanggil.
“Lia.”
Dia menoleh.
Aku tidak berlutut langsung.
Aku berdiri di depannya dulu.
“Gue punya satu pertanyaan lagi.”
Ekspresinya berubah.
Dia tahu.
Sial.
“Raka…”
“Jangan jawab sebelum gue selesai.”
Air matanya sudah jatuh.
Aku tertawa gugup.
“Gue pernah mikir menikahi lo waktu umur dua puluh dua.”
“Aku tahu.”
“Survei satu responden.”
Dia tertawa sambil menangis.
“Diam.”
“Sorry.”
Aku mengambil kotak.
Tangannya menutup mulut.
“Dulu gue pikir sebelum minta lo tinggal, gue harus punya semuanya.”
Aku melihat ruangan.
“Sekarang gue punya jauh lebih banyak dari yang pernah gue bayangin. Dan ternyata bukan itu alasan gue berani nanya.”
Aku menggenggam tangannya.
“Gue berani karena sekarang gue tahu kalau takut, gue bisa bilang. Kalau kita berantem, kita bisa balik bicara. Kalau salah, kita enggak harus pergi.”
Aurelia menangis tanpa mencoba menghapus.
“Gue enggak janji hidup sama gue bakal selalu gampang.”
“Bagus.”
Aku tersenyum.
“Tapi gue janji lo enggak akan harus menebak apakah gue masih ada.”
Aku berlutut.
Membuka kotak.
“Aurelia Wijaya, mau nikah sama gue?”
Aku sudah latihan kalimat lebih panjang.
Semua hilang.
Ternyata nama dan pertanyaan itu cukup.
Aurelia menatap cincin.
Kemudian aku.
Tangannya gemetar.
Aku ikut gemetar.
Untuk satu detik, rasa takut lama datang.
Bagaimana kalau—
Aku menghentikannya.
Ini pilihannya.
Aku akan menerima jawaban.
Apa pun.
“Aurelia Wijaya, mau nikah sama gue?”
Dia tidak menjawab.
Lima detik.
Sepuluh.
“Lia.”
“Aku lagi menikmati.”
Aku tertawa tidak percaya.
“Serius?”
“Tujuh tahun. Boleh.”
“Jawab.”
Dia ikut berlutut di depanku.
Sangat Aurelia.
Kedua tangannya memegang wajahku.
“Iya.”
Aku menutup mata.
Dia menciumku sebelum cincin sempat kupasang.
Aku hampir menjatuhkan kotaknya.
“Cincin,” kataku di dekat bibirnya.
“Nanti.”
“Lia.”
Dia tertawa dan menciumku lagi.
Akhirnya aku berhasil memasang cincin.
Aurelia melihat tangannya.
“Bagus.”
“Cuma bagus?”
“Nilai sebelas.”
Aku tertawa.
Dia memelukku.
Di belakang kami ada meja empat kursi.
Satu kamar kosong.
Terlalu banyak keputusan yang belum dibuat.
Untuk pertama kalinya, itu tidak menakutkan.
Ponsel Aurelia berbunyi.
Tasha.
Aurelia mengangkat video tanpa peringatan.
Wajah Tasha muncul.
“GIMANA?”
Aku menatap Aurelia.
“Lo sudah bilang?”
“Sedikit.”
“Pengkhianat.”
Aurelia menunjukkan cincin.
Tasha menjerit begitu keras speaker pecah.
Dion masuk ke video dari sisi lain.
Ternyata mereka bersama.
Aku menutup wajah.
“Semua orang tahu?”
“Bu Ratih juga,” kata Dion.
“Ibu gue?”
“Helena juga,” kata Tasha.
Aku menatap tunanganku.
Dia tersenyum sangat manis.
“Surprise?”
Aku tertawa.
Rencana rahasia paling buruk dalam sejarah.
Tapi jawabannya iya.
Itu satu-satunya bagian yang penting.
Karena kali ini tidak ada satu orang yang harus membangun masa depan sendirian.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang reading
- 42 Pulang Yuk