Chapter One
Perempuan yang Salah Naik Motor
POV: Raka
Aku tahu Aurelia sedang marah dari cara dia berdiri di depan minimarket.
Bukan karena ekspresinya. Dari jarak dua puluh meter, ekspresinya hampir tidak kelihatan. Aku tahu karena kedua tangannya terlipat di depan dada, ujung sepatunya mengetuk trotoar, dan seorang laki-laki yang baru keluar dari minimarket menoleh kepadanya dua kali sebelum hampir menabrak tiang iklan.
Aku menghentikan motor di depannya dan mengangkat visor.
“Hai.”
“Hai?”
Nada suaranya tenang. Lebih berbahaya.
Aku melihat jam. Tujuh lewat empat puluh tiga.
“Macet.”
“Kamu bilang berangkat jam enam.”
“Aku memang berangkat jam enam.”
“Dari kantor yang jaraknya empat kilometer?”
Aku mengeluarkan helm cadangan dari pengait motor. “Kalau kamu mengucapkannya seperti itu, kedengarannya memang buruk.”
“Memang buruk.”
Aku turun dan membungkuk sedikit.
“Yang Mulia Aurelia Wijaya, hamba memohon pengampunan atas keterlambatan empat puluh tiga menit.”
Bibir kirinya bergerak.
“Kamu hampir ketawa.”
“Aku masih marah.”
“Marahnya sambil naik motor, ya? Kita makin telat.”
“Siapa yang bikin telat?”
Aku menyodorkan helm.
Dia mengambilnya, tetapi tidak langsung memakai.
“Kamu enggak akan bantu?”
“Bantu apa?”
Aurelia menunjuk gaunnya.
Aku memandang rok krem yang panjangnya di bawah lutut, lalu menatapnya lagi.
“Kamu sendiri yang bilang mau dijemput.”
“Aku enggak bilang naik motor.”
Aku melihat kendaraan yang sedang kududuki.
“Oh.”
Dia memukul lenganku pelan.
“Jangan sok lucu.”
Aku tertawa, lalu menahan motor saat dia naik menyamping.
Sebelum aku sempat duduk, tangannya menarik kerah kemejaku.
Aku membeku.
“Kamu setrika sendiri?”
“Iya.”
“Kelihatan.”
“Itu pujian?”
“Bukan.”
Jarak wajah kami terlalu dekat untuk percakapan soal setrika. Aku mencium parfumnya. Ringan, sedikit manis. Bukan parfum formal yang biasa dia pakai untuk acara keluarga.
“Kamu bisa mundur sedikit?”
“Kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
Aurelia mengangkat mata.
Sudut bibirnya naik.
“Deg-degan?”
“Enggak.”
Dia malah maju setengah langkah.
“Lia. Orang lihat.”
Dia melirik dua anak SMA yang buru-buru menunduk ke ponsel, lalu kembali kepadaku.
“Aku cuma merapikan kerah pacarku.”
“Kerahku sudah rapi.”
“Sekarang iya.”
Aku menarik helmnya turun sampai menutupi wajah.
“Naik.”
Tawa kecil terdengar dari balik visor.
Lima menit pertama perjalanan berlangsung damai.
Pada lampu merah pertama, sebuah sedan hitam berhenti di samping kami. Kaca belakang turun.
Seorang perempuan paruh baya memandang Aurelia.
“Lia?”
Aurelia menoleh.
“Oh, Tante.”
“Kamu naik motor?”
Tatapan perempuan itu pindah dari Aurelia ke motorku, lalu kepadaku.
Aku tahu tatapan itu.
Bukan kasar. Lebih seperti orang yang baru melihat sesuatu di tempat yang tidak seharusnya.
Lampu berubah hijau.
Aurelia melambaikan tangan.
“Duluan, Tante!”
Aku langsung jalan.
Beberapa detik kemudian kedua tangannya melingkari pinggangku.
“Lia.”
“Apa?”
“Dari tadi enggak pegangan.”
“Sekarang takut jatuh.”
“Kita jalan tiga puluh kilometer per jam.”
Pelukannya merapat.
“Makanya takut.”
Aku menghela napas.
“Ini disengaja, ya?”
“Aku pacarmu.”
“Aku juga sadar.”
“Bagus.”
Aku memasukkan gigi.
Dia menyandarkan dagu ke bahuku.
Motor di depan mengerem dan aku ikut mengerem. Tubuhnya menempel lebih dekat.
Aku menarik napas panjang.
“Kalau kamu terus begini, kita benar-benar telat.”
“Bukannya dari awal juga sudah telat?”
Perempuan ini.
Warung nasi goreng yang kupilih tidak punya pendingin udara, valet, atau meja yang benar-benar rata.
Aurelia duduk tanpa protes.
Seorang pelayan yang membawa teh menoleh kepadanya terlalu lama sampai hampir menjatuhkan gelas.
Aku menahan senyum.
“Apa?” tanya Aurelia.
“Enggak ada.”
“Kenapa senyum?”
“Enggak senyum.”
“Kamu bohong.”
Aku mengambil menu.
Aurelia menopang dagu.
“Mikir apa?”
“Kamu.”
Jawabanku keluar terlalu cepat.
Dia berkedip.
Aku juga.
Lalu senyumnya muncul perlahan.
“Oh?”
Aku pura-pura membaca menu.
“Mau pesan apa?”
“Jangan ganti topik.”
“Nasi goreng kambing katanya bagus.”
Dia mengambil menu dari tanganku.
“Katanya mikirin aku.”
“Sekilas.”
“Bohong.”
“Kok tahu?”
“Kalau kamu mikir serius, alis kananmu turun.”
Refleks aku menyentuh alis.
Dia tertawa puas.
Pelayan datang.
Aurelia memesan nasi goreng kambing pedas.
Aku langsung menyela.
“Jangan pedas.”
Dia menatapku.
“Aku bisa makan pedas.”
“Kemarin makan seblak level dua matamu berair.”
“Asap.”
“Seblaknya enggak berasap.”
Pelayan menahan senyum.
Aurelia menatapku tajam.
Aku berkata, “Sambalnya dipisah aja, Pak.”
Pelayan pergi.
“Aku wanita dewasa.”
“Umur dua puluh satu bukan argumentasi.”
“Pacarmu wanita dewasa.”
“Itu kalimat yang mengkhawatirkan kalau diucapkan begitu.”
Tangannya berhenti.
Mata Aurelia menyipit nakal.
“Kamu kepikiran apa?”
Aku salah mengambil sendok.
Dia tertawa.
Di bawah meja, ujung sepatunya menyentuh pergelangan kakiku.
Aku menggeser kaki.
Dia mengikuti.
“Kakimu.”
“Kenapa kakiku?”
“Nempel.”
Dia melihat ke bawah seolah baru sadar.
“Oh.”
Tidak dipindahkan.
“Lia.”
“Pacaran sama kamu banyak aturannya.”
“Aku enggak bikin aturan.”
“Enggak boleh dekat, enggak boleh pegangan, enggak boleh sentuh kaki.”
“Yang terakhir jelas pelanggaran.”
“Undang-undang mana?”
“Undang-undang Raka.”
“Nah. Bikin aturan.”
Aku menyerah.
Dia tersenyum seperti baru memenangkan sidang.
Setelah makan kami membeli kopi dan es krim di minimarket.
Aurelia memaksaku memilih rasa.
“Cookies and cream.”
Dia mengambil kotaknya dan tersenyum.
“Masih ingat.”
“Sayangnya.”
“Pacar lumayan.”
“Nilai?”
“Tujuh.”
“Kenapa tujuh?”
“Terlambat.”
“Kejam.”
Kami duduk di bangku luar.
Aurelia menyodorkan es krim.
Aku menolak.
Dia menjilatnya sendiri, dan aku melakukan kesalahan dengan melihat satu detik terlalu lama.
“Raka.”
“Hm?”
“Kamu barusan lihat apa?”
“Mobil.”
“Mobilnya di kiri.”
Aku sedang melihat kanan.
Aurelia mendekat.
Ada sedikit es krim di sudut bibirnya.
“Bersihin,” katanya.
“Kamu punya tangan.”
“Tapi aku penasaran kamu bakal ngapain.”
Aku mengambil tisu dan menyentuh sudut bibirnya.
Tatapannya turun ke bibirku.
Ketika aku hendak mundur, dia menangkap pergelangan tanganku.
“Nilaimu naik.”
“Delapan?”
“Sembilan setengah.”
“Kurang setengah?”
“Masih bisa diperbaiki.”
Beberapa menit kemudian kepalanya bersandar di bahuku.
Semua godaan tadi seolah hilang.
“Aku kangen.”
“Kita ketemu empat hari lalu.”
“Empat hari itu lama.”
“Kita teleponan tiap malam.”
“Telepon enggak bisa begini.”
Dia merapat.
Aku menggenggam tangannya.
“Aku juga kangen.”
Dia diam.
Aku tahu dia tersenyum.
“Sabtu kosong?”
“Kenapa?”
“Makan malam. Di rumahku.”
Aku menoleh.
“Mama, Papa, Om Vincent, mungkin Kevin.”
Aku memandang jalan.
“Aku sedang menghitung kemungkinan pura-pura sakit.”
“Raka.”
“Bercanda.”
Dia mencubit tanganku.
Aku menggenggamnya lebih kuat.
“Aku datang.”
Wajahnya langsung cerah.
“Jam tujuh.”
“Aku akan datang jam enam.”
“Jangan sok.”
“Enam tiga puluh.”
“Jam tujuh.”
Aku berdiri dan mengambil helm.
Aurelia masih duduk.
Aku menahan tangannya sebelum dia mengambil helm.
“Lia.”
“Hm?”
“Kalau nilai sepuluh itu apa?”
Matanya turun ke bibirku.
“Kamu yang cari tahu.”
Aku menariknya sedikit mendekat.
“Kalau begitu tutup mata.”
Untuk pertama kalinya malam itu dia kehilangan balasan.
Pipinya memerah tipis, tetapi dia menurut.
Aku mencium bibirnya lembut.
Singkat.
Ketika aku mundur, jemarinya sudah mencengkeram kemejaku.
“Bonus,” kataku.
Dia membuka mata.
“Oh.”
Aku langsung tahu aku baru membuat kesalahan.
Di motor, pelukannya lebih erat daripada sebelumnya.
“Sabtu jangan terlambat.”
“Iya.”
“Pakai kemeja yang bagus.”
“Ini bagus.”
“Yang lebih bagus.”
“Aku cuma punya tiga.”
“Aku tahu.”
Aku menoleh sedikit.
“Kok tahu?”
“Jalan.”
Aku tertawa dan membawa motor masuk ke arus malam.
Di lampu merah berikutnya, tangannya masih melingkar di pinggangku.
“Raka.”
“Hm?”
“Kalau Sabtu nanti mereka aneh, jangan dipikirin.”
Aku menoleh sedikit. “Aneh gimana?”
“Ya… aneh.”
“Kamu membantu sekali.”
Dia mencubit sisi pinggangku.
“Aduh.”
“Aku serius.”
Aku tersenyum kecil. “Aku juga. Santai aja.”
Dia diam beberapa detik, lalu pelukannya mengendur sedikit.
Aku tidak tahu kenapa kalimat sesederhana itu terasa seperti janji. Mungkin karena aku belum pernah masuk lebih jauh ke dunianya selain menunggu di depan pagar, mengantar pulang, atau bertemu teman-temannya satu-dua kali.
Sabtu akan berbeda.
Aku akan duduk di meja makan keluarganya.
Untuk pertama kalinya, hubungan kami bukan hanya milik kami berdua.
Saat itu dunia kecil kami terasa cukup: aku, dia, kopi murah, motor tua, dan satu Sabtu yang belum terjadi.
Aku belum tahu bahwa suatu hari nanti, aku sendiri yang akan melepaskan tangan yang malam itu memeluk pinggangku begitu erat.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor reading
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk