← Tujuh Tahun untuk Kembali

Chapter Twenty Six

Sekali Lagi

POV: Aurelia

Aku tidak tidur setelah Raka bilang masih mencintaiku.

Bukan karena sedih.

Karena otakku menyebalkan.

Jam satu pagi aku membuka chat.

Tidak mengetik.

Jam dua, pesan masuk.

Raka:

Tidur.

Aku langsung membalas.

Stalker.

Online status.

Matikan.

Tidur.

Aku tersenyum ke bantal.

Good night.

Lama.

Good night, Lia.

Aku memeluk ponsel seperti idiot.


Besok sore Raka menjemputku.

Dengan mobil.

Aku berdiri di depan lobby condo dan menatap kendaraan hitam itu.

“Motor mana?”

“Sudah dijual enam tahun lalu.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

“Aku cuma mau protes.”

Dia membuka pintu.

“Masuk.”

Aku duduk.

Interiornya bagus.

Mahal.

Tetapi tidak ada aroma mobil baru atau aksesori berlebihan. Ada charger tiga jenis di konsol.

Tentu.

Aku mengambil salah satunya.

“Kamu masih bawa semua.”

“Preparedness.”

Aku tersenyum.

“Ke mana?”

“Date.”

Aku menoleh cepat.

“First?”

“Technically?”

“Jangan teknis.”

“Second first.”

Aku tertawa.

“Bodoh.”

“Lo yang nanya.”

Ada bunga kecil di cup holder.

Aku mengambilnya.

“Ini buat aku?”

Raka terlihat sedikit tidak nyaman.

“Katanya date.”

Aku menatap bunga sederhana itu.

Bukan bouquet mahal.

Satu tangkai.

Sangat Raka.

Aku menciumnya.

“Nilai sebelas.”

Dia langsung tersenyum.

“Date.”

Aku menoleh cepat.

Raka melihat jalan.

“Apa?”

“Enggak ada.”

“Wajah lo.”

“Diam.”

Akhirnya.


Dia membawaku ke kedai kecil.

Bukan tempat mahal.

Bukan nostalgia persis.

Tempat baru.

Aku menyukai pilihan itu.

Kami makan, bicara tentang hal-hal bodoh.

“Dion masih single?” tanyaku.

“Kenapa?”

“Curious.”

“Jangan.”

“Aku punya teman.”

“Kasihan teman lo.”

Aku tertawa.

“Maya?”

“Married to operations.”

“Serius.”

“Single.”

“Kalian bertiga enggak ada yang normal?”

Raka menatapku.

“Lo balik sama mantan tujuh tahun. Jangan judge.”

Aku tidak bisa membantah.

Kami makan, bicara tentang hal-hal bodoh, dan untuk pertama kalinya tidak membahas proyek atau tujuh tahun lalu selama hampir satu jam.

Aku tahu film favoritnya berubah.

Dia tahu aku sekarang minum kopi tanpa gula tambahan.

Aku tahu dia mulai olahraga karena Maya pernah mengatakan punggungnya akan rusak sebelum tiga puluh.

Dia tahu aku punya tanaman di condo dan sudah membunuh tiga.

“Kamu?”

“Tanaman kantor hampir mati.”

“Berarti cocok.”

“Jangan gabungkan tanaman.”

Aku tertawa.

Date.

Benar-benar date.

Aneh sekali.


Setelah makan kami berjalan.

Tangannya beberapa kali menyentuh tanganku.

Tidak menggenggam.

Aku mulai kesal.

Akhirnya aku berhenti.

Raka ikut berhenti.

“Apa?”

Aku mengangkat tangan.

Dia melihat.

“Kenapa?”

“Serius?”

Senyum muncul.

“Consent.”

Aku langsung diam.

Raka menyelipkan jemarinya ke jemariku.

“Boleh?”

Aku menggenggam keras.

“Telat tujuh tahun.”

Dia tertawa.

Kami berjalan lagi.

Aku tidak ingin melepas.


Di parkiran, sebelum masuk mobil, Raka berhenti.

“Lia.”

“Hm?”

Tatapannya turun ke bibirku.

Jantungku langsung tahu.

Aku tidak bergerak.

“Sekarang?” tanyanya.

Satu kata.

Pertanyaan.

Aku hampir menangis karena dia bertanya.

Aku mengangguk.

“Sekarang.”

Raka menyentuh sisi wajahku.

Tangannya hangat.

Aku menyadari sesuatu yang hampir lucu: kami pernah berciuman puluhan kali waktu muda, tetapi ini terasa seperti first kiss sungguhan karena sekarang kami tahu persis apa yang bisa hilang.

“Yakin?” tanyanya sekali lagi.

Aku mengangguk.

“Yakin.”

Raka menyentuh sisi wajahku.

Pelan.

Lalu menciumku.

Tidak seperti umur dua puluh dua.

Tidak terburu-buru.

Tidak malu-malu.

Ada tujuh tahun dalam cara kami sama-sama menahan napas.

Tanganku naik ke lehernya.

Ciuman kedua lebih dalam.

Aku merasakan tangannya di pinggangku menarikku mendekat.

Dunia di sekeliling menghilang.

Ketika kami berpisah, dahinya tetap menempel pada dahiku.

Aku membuka mata.

Raka masih menutup mata.

“Raka.”

“Hm?”

“Lihat aku.”

Dia membuka.

Aku tersenyum.

“Hi.”

Dia tertawa pelan.

“Hi.”

Aku menciumnya lagi.

Kali ini aku yang mulai.

Raka tertawa pelan ketika aku mundur.

“Apa?”

“Enggak.”

“Kenapa ketawa?”

“Lo masih sama.”

“Apanya?”

“Kalau sudah dapat satu, minta dua.”

Aku mencubit pinggangnya.

“Fitnah.”

“Historical data.”

Aku mencium dia lagi hanya untuk membuktikan tuduhannya benar.

Kali ini aku yang mulai.

Karena tentu saja.


Di mobil, aku masih memegang tangannya di konsol tengah.

“Jadi?”

Raka melirik.

“Jadi apa?”

“Kita.”

Dia sengaja.

Aku tahu.

“Raka.”

“Hm?”

“Status.”

“Due diligence?”

Aku mencubit tangannya.

Dia tertawa.

“Gue mau coba lagi.”

“Coba?”

“Pacaran.”

“Lebih bagus.”

“Dengan rule.”

Aku mengeluarkan ponsel.

Raka menatap.

“Ngapain?”

“Catat.”

“Serius?”

“Sangat.”

Aku membuat note berjudul:

Raka & Lia — Jangan Bodoh Lagi

Aku menambahkan rule:

4. Jangan pakai “demi kamu” untuk menutup diskusi.

Raka berhenti tertawa.

Dia mengangguk.

“Setuju.”

Aku menambahkan:

5. Kalau marah, tidak boleh menghilang.

“Setuju.”

6. Manja rule.

“Delete.”

Aku memeluk ponsel.

“Tidak.”

Dia tertawa sampai menutup wajah.

“Nama itu?”

“Accurate.”

“Gue keberatan.”

“Noted. Ditolak.”

Aku mengangguk.

“Tidak menghilang.”

“Tidak ambil keputusan yang berdampak ke hubungan sendirian.”

“Kalau butuh waktu, bilang.”

“Dan kembali.”

Raka mengangguk.

Aku menambahkan, “Satu lagi.”

“Apa?”

“Kalau aku mau manja, enggak boleh protes.”

Dia menatapku.

“Itu bukan relationship rule.”

“Sekarang iya.”

“Veto.”

“Tidak ada veto.”

Aku tertawa.

Raka mengangkat tangan kami dan mencium punggung tanganku.

Aku langsung diam.

Dia tersenyum.

Monster.

Benar-benar monster.

“Kenapa diam?”

Aku melihat jendela.

“Nyetir.”

“Kita lampu merah.”

“Diam.”

Dia tertawa.

Tujuh tahun lalu aku pikir mendapatkan Raka kembali akan terasa seperti memperbaiki masa lalu.

Ternyata tidak.

Kami tidak kembali ke tempat lama.

Kami memulai sesuatu yang baru dengan dua orang yang membawa bekas luka yang sama.

Dan ketika lampu berubah hijau, tanganku tetap berada di tangannya.

Di lampu merah, aku mengangkat tangan kami.

“Foto.”

“Kenapa?”

“Dokumentasi.”

Aku memotret jemari kami yang saling terkait.

Tidak wajah.

Tidak perlu.

Aku menyimpannya tanpa upload ke mana pun.

Beberapa kebahagiaan tidak perlu penonton.

Kali ini tidak ada yang melepaskan.

Sampai di condo, aku belum mau turun.

Raka juga tidak menyuruh.

Kami duduk dengan mesin mobil masih hidup.

“Aneh,” kataku.

“Apa?”

“Pacaran.”

“Lo menyesal?”

Aku langsung menggenggam tangannya lebih keras.

“Jangan geer. Maksudku rasanya baru.”

“Bagus.”

“Kenapa?”

“Gue enggak mau cuma ngulang yang lama.”

Aku tersenyum.

“Same.”

Aku mencium pipinya sebelum turun.

Kali ini kami bukan dua anak muda yang mencoba melanjutkan sesuatu yang putus.

Aku masuk lobby.

Sebelum lift menutup, pesan masuk.

Sudah masuk?

Aku membalas:

Belum lima detik.

Preparedness.

Aku tersenyum.

Pacarku cerewet.

Balasannya lama.

Kemudian:

Pacar.

Cuma satu kata.

Aku menatapnya sampai pintu lift terbuka di lantai rumahku.

Kami dua orang dewasa yang sengaja memilih mulai lagi.

Malam itu aku membaca note rules sekali lagi.

Raka menambahkan satu baris:

7. Tidak boleh menghukum versi sekarang untuk kesalahan versi dulu.

Aku menatap lama.

Lalu menambahkan:

Setuju. Tapi versi dulu tetap idiot.

Balasan:

Fair.

Aku tidur sambil tersenyum.

Sebelum tidur, pesan lain datang.

Besok dinner?

Aku sengaja menunggu satu menit.

Date?

Iya.

Aku tersenyum.

Jemput.

Jam 7.

Tidak ada keraguan kali ini.

Aku menaruh ponsel dan mematikan lampu.

Aku bahkan tidak memikirkan apakah ini terlalu cepat. Kami sudah kehilangan cukup waktu untuk takut pada hal-hal yang sebenarnya kami inginkan.

Besok adalah date kedua dari kehidupan kedua kami. Kedengarannya aneh. Aku menyukainya.

Sebelum benar-benar tidur, aku membuka foto tangan kami di lampu merah. Tidak kuunggah. Tidak perlu. Itu milik kami.

Aku tidak tahu ke mana hubungan ini akan pergi. Tapi malam ini aku tidak membutuhkan jawaban lebih jauh dari besok. Aku tersenyum dan tidur. Dengan tenang.