← Tujuh Tahun untuk Kembali

Chapter Sixteen

Meja yang Berbalik

POV: Raka

Makan siang Aurelia ternyata benar-benar soal kerja.

Aku hampir kecewa.

Hampir.

Kami bertemu di restoran dekat kantor Wijaya bersama Kevin, Vincent, dan dua direktur unit retail.

Vincent datang terakhir.

Ia menjabat tangan Dion.

Maya.

Kemudian aku.

“Raka.”

“Om.”

Ada jeda kecil.

Tujuh tahun lalu dia menawarkan mencarikan pekerjaan.

Sekarang timnya sedang meminta Nara menjadi partner teknologi untuk proyek terbesar mereka dalam lima tahun.

Aku menunggu rasa puas.

Datang.

Sedikit.

Aku manusia.

“Sudah lama,” katanya.

“Iya.”

“Selamat. Nara luar biasa.”

“Terima kasih.”

Tidak ada nada mengejek.

Justru itu membuat momen tersebut terasa lebih nyata.

Kami duduk.

Aku memperhatikan susunan meja tanpa sengaja.

Tujuh tahun lalu aku selalu memilih kursi ujung ketika bersama keluarga Wijaya.

Hari ini name card-ku ada di tengah, tepat di seberang Vincent.

Bukan karena siapa pacarku.

Karena pekerjaanku.

Aku duduk tanpa memikirkan apakah kursi itu pantas untukku.

Baru setelah duduk aku menyadari perubahan tersebut.

Vincent membuka pembicaraan tentang timeline.

“Kami ingin pilot tiga bulan.”

Aku melihat dokumen.

“Enggak bisa.”

Salah satu direktur langsung bicara, “Vendor lain bilang—”

“Kalau cuma launch, bisa.”

Aku memutar tablet agar mereka melihat.

“Kalau targetnya stabil dan bisa scale ke seluruh jaringan, enam bulan minimum. Kalau dipaksa tiga, kami enggak ambil.”

Ruangan sunyi.

Dulu aku akan khawatir apakah jawabanku terdengar terlalu keras.

Sekarang tugasku memang mengatakan tidak ketika perlu.

Vincent menatap diagram.

“Kalau lima?”

“Lima kalau scope pilot dipotong.”

Aurelia ikut masuk.

“Potong loyalty integration.”

Aku melihatnya.

Dia sudah memahami trade-off.

Aku mengangguk.

“Bisa.”

Vincent bersandar.

“Baik. Lima.”

Sederhana.

Aku melihat Kevin di ujung meja.

Dia menghindari mataku beberapa kali.

Ketika meeting break, dia akhirnya mendekat.

“Rak.”

“Hm?”

“Dulu gue banyak bacot.”

Aku menunggu.

“Gue minta maaf.”

Aku terkejut dia memilih sekarang.

“Kev.”

“Enggak usah jawab. Gue cuma harus bilang.”

Aku mengangguk.

“Gue dengar.”

Wajahnya terlihat sedikit lega.

Itu saja.

Tidak ada kemenangan dramatis.

Tidak ada yang membungkuk.

Tetapi aku tetap mengingat meja makan tujuh tahun lalu.

Kalau serius sama Lia, kamu harus lari lebih cepat.

Ternyata aku memang lari.

Terlalu jauh.


Setelah meeting, Vincent menahanku.

“Raka.”

Aku berhenti.

Yang lain keluar.

Aurelia sempat menoleh, tetapi aku mengangguk agar dia pergi dulu.

Vincent memasukkan tangan ke saku.

“Dulu saya pernah menawarkan pekerjaan.”

“Iya.”

“Saya kira kamu lupa.”

“Enggak.”

Ia tersenyum tipis.

“Sepertinya bagus kamu menolak.”

Aku ikut tersenyum.

“Mungkin.”

Aku mengingat diriku umur dua puluh dua menerima tawaran itu sambil tersenyum, lalu pulang dan bertanya apakah aku memang terlihat begitu tidak mampu.

Sekarang Vincent berdiri di depanku tanpa tahu satu kalimat kecilnya pernah ikut menjadi batu dalam tembok yang kubangun sendiri.

Aneh betapa besar sesuatu bisa terasa bagi orang yang menerima, sementara orang yang mengucapkan mungkin sudah lupa.

“Tidak perlu rendah hati. Jelas bagus.”

Ada sesuatu seperti malu di wajahnya.

Belum permintaan maaf.

Belum perlu.

“Om,” kataku, “yang dulu sudah lewat.”

Vincent menatapku.

Aku sendiri tidak yakin kalimat itu benar.

Tetapi setidaknya aku ingin benar.

Ia mengangguk.

“Baik.”

Kami keluar.

Saat keluar, salah satu direktur Wijaya mengejarku.

“Pak Raka, kartu nama.”

Aku menyerahkan.

Ia menerima dengan kedua tangan dan menyimpan hati-hati.

Gerakan biasa.

Tetapi ingatanku memilih saat tujuh tahun lalu aku berdiri di acara keluarga dan seseorang bertanya nama perusahaan kecil tempatku bekerja lalu menjawab, “Oh.”

Aku tidak merasa lebih tinggi sekarang.

Hanya lebih jauh.

Aurelia berdiri di ujung koridor menunggu.

Begitu Vincent masuk lift lain, dia mendekat.

“Dia ngomong apa?”

“Rahasia laki-laki.”

Matanya membesar.

Aku baru sadar.

Kalimat yang sama pernah kukatakan tujuh tahun lalu setelah ngobrol dengan Adrian.

Aurelia juga ingat.

“Serius?”

Aku tertawa kecil.

“Dia cuma bilang bagus dulu aku enggak ambil tawaran kerja.”

“Terus kamu?”

“Bilang sudah lewat.”

Aurelia menatapku.

“Sudah?”

Aku tahu dia tidak sedang bicara tentang pekerjaan.

Aku memandang pintu lift.

“Sebagian.”

Jawaban itu membuatnya diam.

“Kalau bagian yang belum?”

Aku melihatnya.

“Lia.”

“Aku cuma nanya.”

“Belum tahu.”

Dia mengangguk.

Tidak memaksa.

Dulu Aurelia akan mengejar jawaban sampai aku menyerah.

Versi sekarang tahu kapan berhenti.

Aneh sekali menyadari pertumbuhan seseorang melalui cara dia tidak melakukan sesuatu.

“Fair,” katanya.

Jawaban itu membuatnya diam.


Lift datang.

Kami masuk berdua.

Pintu menutup.

Aurelia berdiri di sampingku.

Tidak dekat.

Tidak jauh.

“Pak Raka.”

Aku menoleh.

“Apa?”

“Katanya sudah lewat.”

“Sebagian.”

Dia maju satu langkah.

Aku langsung curiga.

“Lia.”

“Hm?”

“Kita di kantor.”

“Terus?”

Jantungku melakukan sesuatu yang sangat tidak profesional.

Aurelia tersenyum.

Tujuh tahun hilang dari wajahnya.

Untuk satu detik dia kembali menjadi perempuan yang sengaja berdiri terlalu dekat di depan minimarket.

“Aku cuma mau lihat.”

“Lihat apa?”

“Masih gampang gugup enggak.”

“Aku enggak gugup.”

Dia melihat alis kananku.

Sial.

Pintu lift terbuka.

Ada empat orang menunggu.

Aurelia langsung berubah profesional.

“Terima kasih waktunya, Pak Raka.”

Dia keluar.

Aku berdiri di lift sendirian.

Salah satu orang yang masuk menekan tombol.

“Lantai berapa, Pak?”

Aku hampir menjawab salah.

Di lobby, Aurelia sudah berdiri bersama timnya.

Sebelum pergi, dia menoleh dan menangkap tatapanku.

Tidak ada senyum.

Hanya satu anggukan kecil.

Aku membalas.

Entah kapan kami mulai membangun bahasa tanpa kata lagi.

Ternyata tujuh tahun tidak menghapus semuanya.


Sore itu Dion masuk kantorku.

“Gimana lunch?”

“Kerja.”

“Bohong.”

“Keluar.”

Dia duduk.

“Aurelia ngejar lo lagi?”

Aku menatapnya.

“Jangan mulai.”

“Oh, jadi iya.”

“Dia cuma—”

Aku berhenti.

Cuma apa?

Berdiri terlalu dekat?

Menggodaku di lift?

Mengingat makanan?

Dion tersenyum seperti orang yang baru melihat api dekat bensin.

“Rak.”

“Hm?”

“Gue cuma mau bilang satu hal.”

“Apa?”

“Kalau lo kabur lagi, kali ini gue kasih alamat lo ke dia.”

Aku melempar pulpen.

Dia tertawa sambil keluar.

Aku kembali ke laptop.

Maya mengirim pesan:

Vincent meeting okay?

Okay.

You okay?

Aku berhenti.

Okay.

Tiga titik muncul.

Bohongnya kurang kreatif.

Aku tersenyum dan tidak membalas.

Tetapi fokusku hilang.

Aku membuka dashboard engineering, menutupnya, lalu membuka lagi.

Tujuh tahun lalu aku bermimpi suatu hari orang-orang itu akan membutuhkan keputusan dariku.

Hari ini terjadi.

Rasanya menyenangkan.

Aku tidak akan berbohong.

Hanya saja rasa puas itu jauh lebih kecil daripada yang kubayangkan ketika umur dua puluh dua.

Yang jauh lebih besar justru satu senyum Aurelia di lift.

Kesadaran itu mengganggu.

Lima menit kemudian email masuk dari Aurelia.

Subject:

Revised Pilot Scope

Aku membaca attachment dulu seperti orang waras.

Revisinya bagus.

Dia memangkas fitur yang tepat tanpa mengorbankan fondasi.

Aku mengetik:

Looks good. Proceed.

Kemudian melihat bagian bawah email.

Ada satu baris setelah signature.

Profesional.

Aku membukanya.

Di paling bawah, setelah signature resmi:

PS: alis kanan.

Aku menatap layar.

Lalu, tanpa bisa kutahan, tertawa.

Dinding pertama retak tanpa suara.

Aku bersandar ke kursi dan menatap langit Jakarta di balik kaca.

Dulu aku membayangkan comeback seperti adegan film.

Orang-orang terdiam.

Aku menang.

Mereka kalah.

Kenyataannya lebih sederhana.

Vincent mengucapkan selamat.

Kevin meminta maaf.

Aurelia menggodaku di lift.

Dan dari semuanya, justru bagian terakhir yang membuat hari itu terasa penting.

Mungkin tujuh tahun lalu aku salah memahami apa yang sebenarnya ingin kumenangkan.

Dinding pertama retak tanpa suara.