← Tujuh Tahun untuk Kembali

Chapter Twenty Seven

Kencan Pertama Kedua

POV: Raka

Pacaran lagi dengan mantan setelah tujuh tahun punya satu masalah.

Kami tidak tahu mana yang masih boleh dianggap first.

First date?

Sudah.

First kiss?

Sudah dua versi.

First time Aurelia mencuri kentang?

Terjadi dua puluh menit setelah kami duduk.

Aku melihat tangannya mengambil kentang dari piringku.

“Lo punya.”

“Punyamu lebih enak.”

Aku berhenti.

Aurelia juga.

Kemudian kami tertawa bersamaan.

“Masih,” kataku.

“Tradisi.”

Hari ini dia memilih restoran.

Sederhana.

Tidak ada proyek.

Tidak ada laptop.

Rule tambahan Aurelia: date tidak boleh membahas pekerjaan lebih dari sepuluh menit.

Kami gagal di menit tujuh.

Sebelum itu kami berhasil membahas hal penting seperti apakah nanas layak di pizza, kenapa Aurelia membeli bantal dekoratif yang tidak boleh dipakai, dan fakta bahwa aku punya robot vacuum yang kuberi nama Server.

“Server?”

“Dia kerja tanpa komplain.”

“Kasihan engineer kamu.”

“Engineer dibayar.”

“Server juga dibayar listrik.”

Aku menatapnya.

“Point.”

Kami gagal di menit tujuh.

“Pilot launch—”

Aurelia menunjuk.

“Denda.”

“Apa?”

“Satu compliment.”

Aku menatapnya.

“Ini aturan kapan?”

“Sekarang.”

“Abuse of power.”

“Bayar.”

Aku menghela napas.

“Lo cantik.”

Dia menatap.

“Itu malas.”

“Faktual.”

“Lebih spesifik.”

Aku memandangnya beberapa detik.

Gaun hijau gelap. Anting kecil. Rambut jatuh di satu sisi bahu.

“Gue suka kalau rambut lo begini.”

Senyumnya berubah.

Lebih kecil.

Lebih nyata.

“Accepted.”

Aku menunjuk gaunnya.

“Giliran lo.”

“Apa?”

“Compliment.”

“Aku enggak melanggar rule.”

“Lo tadi bilang pilot.”

Aurelia mengingat.

“Sial.”

Aku menunggu.

Dia menopang dagu.

“Aku suka tangan kamu.”

Aku hampir salah menelan.

“Apa?”

“Spesifik.”

“Kenapa tangan?”

Dia tersenyum nakal.

“Banyak fungsi.”

Aku menatapnya.

“Dewasa sedikit.”

“Kamu yang minta.”

Aku mengambil kentang.

Dia langsung merebut lagi.


Setelah makan kami pergi ke toko buku.

Aurelia membeli tiga buku yang mungkin tidak akan selesai dibaca.

Aku bilang begitu.

Dia tersinggung.

“Kamu masih judgemental.”

“Historical data.”

Di bagian teknologi, dia mengambil buku programming pemula.

“Ajari aku.”

“Buat apa?”

“Biar ngerti kalau kamu ngomong.”

“Lo sudah ngerti cukup.”

“Aku mau ngerti lebih.”

Aku menatapnya.

Aurelia membalik buku.

“Kenapa?”

“Enggak.”

Aku mengambil buku yang lebih bagus dan menaruh di tangannya.

“Yang ini.”

Aurelia membaca belakang buku.

“Kalau aku selesai, dapat sertifikat?”

“Enggak.”

“Reward?”

“Pengetahuan.”

Aurelia mengerucutkan bibir.

“Motivasi buruk.”

“Kalau selesai satu chapter, satu kiss.”

Aku mengucapkannya sebelum berpikir.

Aurelia membeku.

Aku juga.

Kemudian senyumnya muncul sangat pelan.

“Deal.”

Aku menutup mata.

Aku benar-benar menciptakan masalah sendiri.

“Reward?”

“Pengetahuan.”

“Boring.”

“Lo director.”

“Dan pacarmu.”

Aku menatapnya.

Dia tersenyum.

Masih aneh mendengar kata itu lagi.

Pacar.

Bukan mantan.

Bukan partner bisnis.

Aku menyukai bunyinya.

“Teacher?”

“Tarif mahal.”

Aurelia membuka halaman pertama.

“Lesson one.”

“Sekarang?”

“Iya.”

Aku menunjuk satu istilah.

“Variable.”

“Aku tahu.”

“Function.”

“Tahu.”

“Recursion.”

Dia diam.

Aku tersenyum.

“Mulai sini.”

“Kenapa kamu kelihatan bahagia lihat aku bodoh?”

“Rare event.”

Dia memukulku dengan buku.

“Teacher?”

“Tarif mahal.”

“Aku kaya.”

Aku tertawa.

“Bukan uang.”

Matanya langsung berubah nakal.

“Bayar pakai apa?”

Aku sadar jebakan terlambat.

“Baca bukunya.”

“Pengecut.”

Aku berjalan duluan.


Di mobil, Aurelia menyandarkan kepala ke bahuku saat kami parkir menunggu hujan reda.

“Capek?”

“Hm.”

Tangannya melingkar ke lenganku.

Manja.

Rule-nya ternyata bukan lelucon.

“Lia.”

“Hm?”

“Kita harus pulang.”

“Lima menit.”

Aku melihat jam.

“Mulai sekarang.”

Aurelia menekan timer di ponsel.

“Serius?”

“Accountability.”

Dia kembali menyandar.

Lima menit kemudian alarm berbunyi.

Aurelia mematikannya tanpa bergerak.

“Fraud.”

“Technical issue.”

Aku tertawa.

“Kemarin juga bilang lima menit ke Ibu, jadi empat puluh.”

“Waktu relatif.”

Aku tertawa.

Dia mengangkat kepala.

“Cium.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Cium.”

“Request langsung?”

“Efficient.”

Aku mencium keningnya.

Aurelia menatap tidak puas.

“Itu bukan.”

“Lo enggak spesifik.”

“Raka.”

Aku tertawa dan mencium bibirnya.

Singkat.

Dia menangkap kerahku ketika aku mundur.

“Belum selesai.”

“Lia.”

“Parkir.”

“Ada orang.”

Dia menatap kaca.

“Enggak ada.”

“Security camera.”

“Trauma CCTV?”

Aku tidak sempat menjawab karena dia menciumku duluan.

Beberapa detik kemudian aku lupa argumen.

Ketika kami berpisah, Aurelia tersenyum puas.

“Sekarang selesai.”

Aku mengatur napas.

“Lo bahaya.”

“Sudah tahu dari umur dua puluh satu.”

Benar.


Aku mengantarnya ke condo.

Di lobby, dia tidak langsung turun.

“Besok kerja?”

“Iya.”

“Datang?”

“Ke mana?”

“Condo.”

Aku menoleh.

Aurelia tersenyum polos.

“Dinner.”

“Kenapa wajah lo begitu?”

“Wajah gimana?”

“Kayak otak kamu enggak mikir dinner.”

Aku hampir tersedak.

“Lia.”

Dia tertawa keras.

“Dewasa sedikit, Pak CTO.”

“Lo yang—”

“Besok jam tujuh.”

Dia mencium pipiku dan keluar.

Sebelum dia turun, Aurelia mengangkat buku programming.

“Chapter one malam ini.”

“Ambisius.”

“Reward.”

Aku menatapnya.

Dia mengedip.

Aku melihatnya masuk lobby.

Lima detik kemudian dia berbalik dan berlari kecil kembali ke mobil.

Aku menurunkan kaca.

“Apa?”

Aurelia mencondongkan tubuh dan menciumku cepat.

“Lupa.”

Kemudian pergi lagi.

Aku tertawa sendiri.

Umur dua puluh sembilan.

CTO unicorn.

Dikalahkan satu ciuman di drop-off condo.

Aku melihatnya masuk lobby.

Ponselku berbunyi.

Dion.

Date sukses?

Aku membalas:

Lo dapat info dari mana?

Network.

Aku curiga network itu bernama Aurelia.

Kemudian pesan lain masuk.

Aurelia:

Besok jangan telat.

Aku tersenyum.

Tujuh tahun lalu kami punya terlalu banyak masa depan dan terlalu sedikit pengalaman.

Sekarang kami punya terlalu banyak pengalaman.

Aku menyalakan mobil.

Di kaca spion, Aurelia masih berdiri di lobby dan melambaikan tangan.

Aku membalas.

Hari ini tidak ada confession.

Tidak ada keluarga.

Tidak ada luka besar.

Hanya makan, buku, hujan, dan terlalu banyak ciuman di parkiran.

Dulu aku mungkin menganggap hari seperti ini tidak penting.

Sekarang justru inilah yang ingin kukumpulkan.

Bukan momen ketika keluarga Wijaya tahu valuasi sahamku.

Bukan ketika investor menunggu jadwalku.

Hari ini.

Aurelia mencuri kentang.

Memukulku dengan buku.

Meminta cium di parkiran.

Hal-hal yang tidak bisa dibeli setelah hilang tujuh tahun.

Sekarang justru inilah yang ingin kukumpulkan.

Mungkin tugas kami cuma belajar menikmati hari-hari biasa yang dulu tidak sempat kami dapat.

Pukul sebelas malam, foto halaman terakhir chapter one masuk.

Aurelia:

Done.

Aku:

Besok.

Scam.

Reward delivery during business hours prohibited.

Bukan business.

Aku tersenyum.

Besok.

Dia mengirim emoji marah.

Aku tidur dengan perasaan sangat puas.

Besok paginya, pesan pertama bukan good morning.

Chapter two susah.

Aku:

Belum jam kerja.

Teacher 24/7.

Aku tersenyum sambil membuat kopi.

Tarif naik.

Balasannya:

Bayar pakai apa?

Aku menatap layar.

Kali ini aku tidak lari.

Kemarin lo sudah tahu.

Tiga menit tidak ada jawaban.

Akhirnya.

Sekali-sekali aku menang.

Aku menaruh ponsel. Jam delapan pagi dan Aurelia sudah berhasil membuat hari terasa lebih ringan. Sangat mengganggu.

Aku membuka kalender dan, tanpa malu, memastikan soreku kosong.

Ternyata anticipation juga bagian dari pacaran. Aku lupa.

Besok aku akan menagih satu hal lain: waktu. Bukan tujuh tahun. Cukup satu malam biasa lagi.

Dan kali ini, menunggu tidak terasa menakutkan.

Aku tidak keberatan.