Chapter Twenty Three
Kamu
POV: Raka
Setelah makan malam di rumah Ibu, Aurelia menjadi lebih berbahaya.
Bukan karena flirting.
Karena dia mulai terasa seperti bagian hidupku lagi.
Ibu mengirim pesan kepadanya langsung.
Dion sudah punya nomor WhatsApp-nya entah dari mana.
Maya sesekali mengajaknya kopi.
Dunia yang kubangun tujuh tahun tanpa Aurelia mulai membuka tempat untuknya tanpa meminta izin dariku.
Aku tidak tahu apakah harus takut atau lega.
Ibu bahkan mengirim foto semur ke grup kecil yang entah bagaimana berisi aku dan Aurelia.
Lia, kapan ke sini lagi?
Aurelia membalas:
Kalau anak Ibu ngajak.
Ibu:
Datang sendiri aja.
Aku keluar dari grup.
Dua menit kemudian Ibu memasukkanku lagi.
Dion tertawa selama sepuluh menit setelah kuberi tahu.
Dunia jelas bersekongkol.
Hari Jumat, Aurelia datang ke kantor setelah jam kerja.
“Ada apa?”
“Dinner.”
“Lia.”
“Aku lapar.”
“Pesan.”
“Aku mau keluar.”
Aku menutup laptop.
“Kenapa gue?”
“Karena aku mau makan sama kamu.”
Tidak ada permainan.
Tidak ada alasan.
Aku berdiri.
Kami pergi ke warung nasi goreng.
Bukan warung yang sama.
Yang lama sudah tutup.
Aurelia terlihat kecewa.
“Sedih.”
“Bisnis punya lifecycle.”
“Jangan corporate-in nasi goreng.”
Aku tertawa.
Kami menemukan tempat lain.
Meja plastik.
Kipas.
Tidak ada valet.
Aurelia duduk dan terlihat lebih nyaman daripada di banyak restoran mahal yang pernah kami datangi untuk kerja.
Aku memesan sambal terpisah.
Dia menatap.
“Enggak usah ngomong.”
“Aku belum.”
“Mata lo.”
“Sekarang mata juga punya aturan?”
“Semua bagian wajah lo.”
Dia tertawa.
Setelah makan, kami berjalan tanpa tujuan.
Aurelia membeli es krim cookies and cream dari minimarket.
“Masih?”
“Masih.”
Dia menyodorkan.
Aku makan satu suap.
“Dulu harus dipaksa.”
“Umur.”
“Alasan semua perubahan.”
Kami duduk di bangku luar.
Bukan tempat yang sama.
Tetapi cukup mirip untuk membuat memori datang.
Aurelia tidak bersandar.
Aku justru sadar kehilangan berat kepalanya di bahuku.
“Lia.”
“Hm?”
“Kenapa lo ngelakuin ini?”
“Apa?”
“Semua.”
Dia tahu.
Pengejaran.
Kopi.
Lunch.
Datang ke kantor.
Masuk kembali ke hidupku.
Aurelia menatap es krim.
“Karena aku mau.”
“Jawaban bukan jawaban.”
Aurelia menjilat es krim.
“Kenapa kamu butuh alasan kompleks?”
“Karena tujuh tahun.”
“Justru.”
Aku menunggu.
“Selama tujuh tahun aku terlalu banyak mikir kenapa kamu pergi. Sekarang aku capek mikir.”
“Terus?”
“Kalau mau ketemu, aku ajak. Kalau kangen, aku bilang. Kalau pengin sentuh…”
Dia sengaja menyentuh lenganku.
“…aku sentuh.”
Aku menarik napas.
“Simple.”
“Berbahaya.”
“Buat siapa?”
Aku tidak menjawab.
Dia tersenyum.
“Jawaban bukan jawaban.”
“Pertanyaan kamu juga enggak spesifik.”
Aku menghela napas.
“Apa yang lo mau?”
Dia mengangkat mata.
Tidak ada senyum.
Tidak ada teasing.
“Kamu.”
Satu kata.
Aku berhenti bernapas.
Aurelia tetap menatapku.
“Aku mau kamu.”
Aku pernah membayangkan Aurelia mengatakan banyak hal kalau kami bertemu lagi.
Marah.
Benci.
Maaf.
Tidak pernah ini.
Jantungku berdetak terlalu keras untuk seorang laki-laki yang biasa mengambil keputusan ketika sistem jutaan transaksi bermasalah.
“Lia.”
“Bukan CTO Nara.”
Aku menelan ludah.
“Bukan uang kamu. Bukan versi sukses yang bikin semua orang sekarang sopan.”
Tangannya sedikit gemetar meski suaranya stabil.
“Aku mau laki-laki yang dulu lupa makan kalau coding. Yang sekarang ternyata masih lupa makan.”
Aku hampir tersenyum.
“Yang nyebelin. Yang sok kuat. Yang pergi tanpa izin.”
Kalimat terakhir menusuk.
“Aku enggak tahu kita bisa balik atau enggak.”
“Dan kalau enggak?”
Aurelia menarik napas.
“Aku akan sedih.”
Jawaban jujur.
“Tapi aku akan hidup.”
Aku menatapnya.
“Gue enggak mau hancurin lo lagi.”
“Kamu bukan pusat alam semesta, Raka.”
Aku hampir tertawa.
“Aku bisa patah hati dan tetap hidup.”
Dia mengangkat bahu.
“Sudah pernah latihan.”
Aku pantas menerima itu.
“Aku enggak tahu kita bisa balik atau enggak.”
Dia melanjutkan.
“Tapi aku tahu aku masih mau kamu ada di hidup aku.”
Aku melihat jalan.
Kalau tetap menatapnya, pertahananku akan runtuh.
“Gue enggak tahu bisa kasih apa.”
Aurelia tertawa kecil.
“Tujuh tahun dan kamu masih pakai kalimat itu?”
“Apa?”
“Kasih.”
Dia meletakkan es krim.
“Aku enggak minta kamu kasih aku hidup.”
Tangannya menyentuh punggung tanganku.
“Aku minta kamu jalanin bareng.”
Kalimat dari masa lalu.
Versi yang lebih dewasa.
Aku membalik tangan dan menggenggam jemarinya.
Pertama kali aku yang memulai sejak kami bertemu kembali.
Aurelia melihat tangan kami.
Matanya langsung basah.
“Jangan nangis.”
“Diam.”
Aku tertawa kecil.
Dia menggenggam lebih erat.
Kami duduk tanpa bicara.
Tidak ada keputusan besar.
Belum.
Aku mengusap ibu jarinya dengan ibu jariku tanpa sadar.
Aurelia melihat gerakan itu.
Aku hampir berhenti.
Tidak jadi.
Dia bergeser sedikit lebih dekat.
Bahu kami bersentuhan.
Tidak ada godaan.
Tidak ada permainan.
Hanya kehangatan yang sangat kukenal.
Aku baru sadar betapa lama aku hidup tanpa sentuhan yang tidak meminta apa pun dariku.
Belum.
Tapi tanganku tidak kulepas.
Saat mengantarnya ke mobil, Aurelia berhenti.
“Raka.”
“Hm?”
“Jawaban kamu?”
“Untuk?”
Dia menatapku tajam.
Aku tersenyum.
“Gue dengar.”
“Bukan jawaban.”
“Belum.”
Wajahnya sedikit jatuh.
Aku mengangkat tangannya dan mencium buku jarinya.
Aurelia membeku.
Aku sendiri terkejut melakukan itu.
“Kasih gue sedikit waktu.”
Dia menatapku.
“Berapa?”
“Enggak tujuh tahun.”
“Deadline.”
“Jangan.”
“Dua minggu?”
“Lia.”
“Satu?”
Aku tertawa.
Dia tersenyum.
“Aku bercanda.”
“Enggak lucu.”
“Sedikit.”
Aurelia tertawa sambil menghapus satu air mata.
“Bagus.”
Dia masuk mobil.
Aku berdiri sampai mobilnya pergi.
Tanganku masih mengingat jemarinya.
Aku masuk mobil sendiri dan duduk beberapa menit tanpa menyalakan mesin.
Dion menelepon.
“Lo di mana?”
“Keluar.”
“Sama Aurelia?”
Aku diam.
“Rak.”
“Dia bilang masih mau gue.”
Dion juga diam.
Keajaiban.
Lalu suaranya berubah serius.
“Dan lo?”
Aku melihat jalan tempat mobil Aurelia menghilang.
“Masih cari keberanian buat jawab.”
Dion tidak bercanda.
“Cari yang benar.”
Telepon selesai.
Tanganku masih mengingat jemarinya.
Tujuh tahun aku membangun hidup untuk membuktikan aku tidak membutuhkan siapa pun.
Satu kata dari Aurelia cukup untuk menunjukkan betapa bodohnya proyek itu.
Malamnya aku membuka dompet.
Foto lama itu masih di tempat yang sama.
Aku mengeluarkannya untuk pertama kali setelah bertahun-tahun.
Sudutnya kusut.
Wajah kami terlalu muda.
Aurelia mencium pipiku.
Aku terlihat seperti orang yang tidak tahu hidup bisa menjadi rumit.
Aku hampir mengirim foto itu kepadanya.
Tidak.
Belum.
Aku memasukkannya kembali.
Kalau aku membuka pintu ini, aku ingin melakukannya karena memilih masa depan.
Bukan karena tidak sanggup melepaskan masa lalu.
Sebelum tidur, pesan Aurelia masuk.
Thanks buat dinner.
Aku membalas:
Thanks sudah jujur.
Tiga titik muncul.
Takut?
Aku menatap kata itu.
Lalu mengetik:
Iya.
Balasannya hanya:
Good.
Aneh.
Untuk pertama kalinya mengakui takut tidak membuatku merasa lebih kecil.
Aku menaruh ponsel. Besok aku harus mulai mencari jawaban bukan tentang apakah aku masih mencintainya, tetapi apakah aku cukup berani mencintainya dengan cara yang berbeda.
Untuk pertama kalinya, ketakutan itu tidak terasa seperti alasan untuk pergi. Mungkin karena kali ini ada seseorang yang tahu aku takut dan tetap memberiku ruang.
Aku tidak menjawab pesan lain malam itu karena memang tidak ada. Anehnya, sunyi kali ini tidak terasa seperti ditinggalkan. Aku tahu besok dia masih ada. Itu sudah cukup untuk malam ini.
Aku mematikan lampu dan membiarkan rasa takut itu ada tanpa mencoba memperbaikinya. Untuk pertama kalinya, mungkin itu juga bentuk kemajuan.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu reading
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk