Chapter Thirty Nine
Mereka Datang ke Mejaku
POV: Raka
Dion meletakkan daftar tamu di meja.
“Lo akan suka ini.”
“Apa?”
“Investor dinner.”
Aku membaca nama.
Surya.
Dua kerabat Wijaya lain.
Seorang pengusaha yang dulu pernah menanyakan perusahaan tempatku bekerja lalu menjawab “oh”.
Aku menatap Dion.
“Lo sengaja?”
“Gue bahkan enggak tahu sejarah semuanya.”
“Bohong.”
“Sedikit.”
Aku melempar pulpen.
Dion tertawa.
Dinner itu bukan acara revenge.
Setidaknya bukan secara resmi.
Nara membuka strategic round kecil untuk ekspansi regional. Orang-orang datang karena ingin ikut.
Tujuh tahun lalu aku pernah membuat janji bodoh:
Suatu hari mereka yang akan datang ke mejaku.
Ternyata semesta punya selera humor.
Sebelum tamu datang, aku berdiri sendirian di ruang private dining.
Kursi-kursi masih kosong.
Aku teringat janji umur dua puluh dua.
Mereka yang akan datang ke mejaku.
Kalimat itu dulu terasa seperti sumpah.
Sekarang terdengar seperti anak muda yang terluka sedang mencoba menemukan bentuk harga diri yang bisa dihitung.
Aku tidak membenci anak itu.
Dia membawaku sampai sini.
Tapi dia tidak harus memimpin lagi.
Dion masuk.
“Ready?”
Aku mengangguk.
“Sekarang meja lo.”
Aku menatap kursi.
“Meja Nara.”
Dion tersenyum.
“Growth.”
Malam itu aku tiba lebih dulu.
Bukan untuk dramatic entrance.
Karena aku host.
Aurelia datang belakangan sebagai tamu dari Wijaya Group.
Dia mendekat dan berbisik, “Karma.”
“Jangan.”
“Aku cuma observasi.”
“Behave.”
“Enggak janji.”
Kami duduk.
Surya berada tiga kursi dariku.
Ia bicara tentang Nara seolah sudah mengikuti sejak awal.
Aku tidak mengoreksi.
Tidak perlu.
Surya bahkan menyebut satu artikel lama yang jelas baru dibacanya minggu ini.
Dulu kemunafikan itu akan membuatku marah.
Sekarang aku melihatnya sebagai hal biasa: orang menyusun ulang ingatan agar cocok dengan kenyataan baru.
Aku tidak punya kewajiban memperbaiki narasi di kepalanya.
Yang penting aku ingat narasiku sendiri.
Aku tidak mengoreksi.
Tidak perlu.
Ketika pembicaraan masuk investasi, Dion mengambil alih.
Aku hanya menjawab teknologi.
Aurelia beberapa kali menangkap mataku dari seberang meja.
Sekali dia mengangkat alis ketika Surya terlalu memuji.
Aku menahan senyum.
Pesan masuk di ponsel:
Dulu sudah lihat potensi.
Aku membalas di bawah meja:
Behave.
Sulit.
Aku:
Manja rule tidak berlaku di investor dinner.
Bikin rule baru terus.
Aku hampir tertawa.
Aku hanya menjawab teknologi.
Salah satu tamu berkata, “Raka, luar biasa ya. Dari programmer sampai begini.”
Aku tersenyum.
“Masih programmer.”
Aurelia menunduk menyembunyikan tawa.
“Ya maksud saya sekarang founder.”
“Masih nulis code kadang.”
“Hebat.”
Dulu aku akan mendengar hierarki dalam setiap kata.
Sekarang aku cuma ingin dessert datang.
Di tengah dinner, seorang founder muda yang diundang Dion duduk di sampingku.
Namanya Faris.
Perusahaannya baru dua tahun.
Ia terlihat tidak nyaman.
Jasnya sedikit kebesaran.
Aku mengenali tatapan itu.
Cara matanya melihat sendok.
Harga jam.
Nama orang.
Aku bertanya, “Produk lo buat apa?”
Wajahnya langsung hidup.
Dia menjelaskan sistem logistik untuk petani.
Aku mendengar.
Benar-benar mendengar.
Kemudian salah satu investor memotong.
“Revenue masih kecil?”
Faris langsung mengecil sedikit.
Aku masuk.
“Retention mereka bagus.”
Investor menoleh.
“Lo lihat?”
“Iya.”
Aku tidak perlu menambahkan apa pun.
Percakapan pindah.
Faris berbisik, “Thanks.”
Aku menggeleng.
“Produk lo memang bagus.”
Faris menatap jasnya sendiri.
“Gue agak salah kostum.”
Aku tahu persis perasaan itu.
“Enggak.”
“Semua orang di sini—”
“Lo datang bawa perusahaan, bukan jas.”
Dia diam.
Aku hampir tertawa mendengar kalimat yang seharusnya seseorang katakan kepadaku tujuh tahun lalu.
“Kalau produk lo jelek, jas mahal juga enggak nolong.”
Faris akhirnya tertawa.
Saat itu aku sadar revenge bisa punya bentuk lain.
Menjadi orang di meja yang dulu kubutuhkan.
Setelah dinner, Surya mendekat.
“Raka, kalau ada allocation—”
“Dion yang handle, Om.”
“Bisa dibantu?”
Aku melihat Dion di ujung ruangan.
Dion melihatku.
Senyumnya jahat.
Tujuh tahun lalu, aku membayangkan momen seperti ini.
Mereka meminta.
Aku menentukan.
Aku bisa membuat mereka menunggu.
Aku bisa mengatakan tidak hanya karena bisa.
Ada bagian kecil dalam diriku yang ingin.
Aku mengakuinya.
Kemudian melepaskannya.
“Prosesnya sama untuk semua, Om.”
Surya sedikit kecewa.
“Baik.”
Ia pergi.
Aurelia muncul di samping.
“Kenapa enggak bikin dia tunggu tujuh tahun?”
Aku tertawa.
“Karena gue sibuk.”
“Boring.”
“Dewasa.”
“Sayang sekali.”
Dia menggenggam tanganku.
Dion datang.
“Allocation?”
“Lo yang putuskan.”
“Enggak mau revenge?”
Aku menatapnya.
“Sudah.”
“Di mana?”
Aku menunjuk meja.
Faris masih bicara dengan investor lain, sekarang jauh lebih percaya diri.
Dion mengikuti pandanganku.
Kemudian mengangguk.
“Fair.”
Aku melihat meja panjang itu.
Tujuh tahun lalu aku ingin orang-orang yang merendahkanku berada di bawah.
Sekarang aku tidak ingin ada orang berada di bawah hanya supaya aku merasa tinggi.
Aku cuma ingin meja yang cukup besar untuk orang yang layak duduk di sana.
Setelah acara, Faris mendekat lagi.
“Kalau boleh, kapan-kapan gue mau minta feedback architecture.”
“Email.”
“Beneran?”
“Iya.”
Dia tersenyum.
Aku melihat diriku yang lebih muda sedikit di sana.
Bukan karena background kami sama.
Karena rasa lapar untuk membangun sesuatu.
Mungkin itulah hal yang seharusnya kuukur dari awal.
Bukan harga jas.
Bukan mobil.
Bukan keluarga.
Apa yang seseorang bangun ketika belum ada yang melihat.
Aku cuma ingin meja yang cukup besar untuk orang yang layak duduk di sana.
Di mobil, Aurelia membaca pesan.
“Papa bilang Om Surya dapat allocation kecil.”
“Dion.”
“Kamu enggak veto.”
“Kenapa harus?”
“Enggak.”
Dia menyandarkan kepala ke bahuku.
“Aku bangga.”
“Karena gue enggak petty?”
“Sedikit.”
Aku tertawa.
“Yang lain?”
“Karena kamu menang tanpa berubah jadi mereka.”
Aku diam.
Kalimat itu masuk lebih dalam daripada award mana pun.
Aku mencium keningnya.
Tujuh tahun lalu aku ingin mereka notice.
Sekarang perempuan di sampingku melihatku.
Ternyata itu cukup.
Aurelia mengambil ponsel.
“Apa?”
“Foto.”
“Kenapa?”
“Dokumentasi revenge selesai.”
Aku menghela napas.
Dia mengambil selfie kami.
Di belakang, meja investor masih terlihat.
“Caption?” tanyaku.
“Enggak upload.”
Aku menatapnya.
Dia tersenyum.
“Beberapa kemenangan enggak butuh penonton.”
Kalimatku sendiri dari minggu lalu.
Aku mencium keningnya.
“Stalker.”
“Pacar.”
Ternyata itu cukup.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku reading
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk