← Tujuh Tahun untuk Kembali

Chapter Thirty Four

Nama yang Muncul Lagi

POV: Raka

Masalah datang hari Selasa dalam bentuk nama di layar.

Vincent Wijaya.

Bukan namanya yang membuatku berhenti.

Angkanya.

Pilot Wijaya sudah berjalan baik. Terlalu baik, menurut sebagian orang. Karena itu unit Vincent ingin mempercepat rollout nasional tiga bulan lebih cepat.

Aku membaca proposal dua kali.

Kemudian membuka dashboard.

Maya masuk tanpa mengetuk.

“Sudah lihat?”

“Iya.”

“Opinion?”

“Jangan.”

“Technical?”

“Jangan rollout.”

“Political?”

Aku menatapnya.

“Lebih jangan.”

Maya duduk.

“Vincent push keras.”

“Kenapa?”

“Retail numbers turun. Mereka butuh story buat board.”

Aku mengusap wajah.

Tujuh tahun lalu, masalah keluarga Wijaya membuatku merasa kecil.

Sekarang masalah mereka muncul dalam bentuk risiko sistem yang memang menjadi tanggung jawabku.

Ironis.

“Kalau dipaksa?”

“Blast radius terlalu besar.”

“Bisa ditahan?”

“Bisa.”

“Dengan?”

“Gue bilang enggak.”

Maya mengangguk.

“Good.”

Dia tidak pergi.

“Ada satu lagi.”

“Apa?”

“Kalau Wijaya ancam cari vendor lain?”

“Biar.”

“Business answer?”

Aku menghela napas.

“Nara enggak butuh kontrak yang bikin kita sengaja mengambil risiko bodoh.”

“Personal answer?”

Aku menatap proposal.

“Sama.”

Maya mengangguk.

Itu penting.

Aku tidak akan memakai posisi sekarang untuk menghukum mereka.

Tapi aku juga tidak akan menurunkan standar hanya supaya terlihat sudah memaafkan.

“Good.”

Aku menutup proposal.

Masalahnya bukan mengatakan tidak.

Masalahnya aku sudah tahu siapa yang akan berada di tengah.

Aurelia.


Dia menelepon satu jam kemudian.

“Sudah lihat?”

“Iya.”

“Bad?”

“Lumayan.”

“Bisa?”

“Bisa bukan berarti harus.”

Sunyi.

Aku tahu dia sedang berada di kantor. Suaranya lebih formal.

“Papa minta acceleration.”

“Vincent?”

“Dia yang push.”

Aku bersandar.

“Lia, kalau rollout sekarang dan inventory sync gagal, kalian bukan cuma kehilangan transaksi. Bisa oversell nasional.”

“Aku tahu.”

“Terus?”

“Aku lagi cari cara.”

Kalimat itu membuatku waspada.

“Cara apa?”

“Belum tahu.”

“Jangan janji apa pun.”

Dia diam.

“Aurelia.”

“Aku dengar.”

Bukan setuju.

Aku mengenalnya terlalu baik.


Sore, meeting gabungan diadakan.

Vincent membuka dengan angka penurunan revenue.

Aku mendengar.

Kemudian menampilkan risk assessment.

“Recommendation Nara: jangan percepat.”

Salah satu direktur Wijaya langsung menyela.

“Kalau tambah resource?”

“Bukan masalah jumlah orang.”

“Budget?”

“Bukan.”

Vincent menatapku.

“Kalau harus lima bulan?”

“Minimum.”

“Empat?”

“Tidak.”

Ruangan sunyi.

Aurelia duduk dua kursi dari Vincent.

Dia tidak membelaku.

Bagus.

Ini kerja.

Vincent menarik napas.

“Board meeting Jumat. Saya butuh opsi.”

“Gue kasih opsi,” kataku. “Rollout bertahap per region. Revenue story lebih lambat, risiko jauh lebih kecil.”

“Tidak cukup.”

“Berarti problem-nya bukan teknologi.”

Tatapan kami bertemu.

Tujuh tahun lalu aku mungkin akan mengucapkan kalimat itu sambil memikirkan semua komentar Vincent.

Sekarang tidak.

Aku hanya CTO yang tidak mau sistemnya dipakai sebagai plester masalah bisnis.

Meeting selesai tanpa keputusan.

Dion menahanku setelah semua orang keluar.

“Personal history bikin judgement lo bias?”

Pertanyaan itu kasar.

Karena Dion, aku menjawab.

“Mungkin.”

“Ke arah?”

“Lebih keras atau lebih lunak. Gue belum tahu.”

“Then check.”

Kami membuka risk matrix lagi.

Tanpa nama Wijaya.

Tanpa Vincent.

Hanya data.

Dua puluh menit kemudian hasilnya sama.

Lima bulan minimum untuk full rollout.

Aku bersandar.

“Okay.”

Dion menutup laptop.

“Sekarang kalau mereka marah, setidaknya lo tahu bukan umur dua puluh dua yang ngomong.”

Aku mengangguk.

Itulah gunanya orang yang berani mempertanyakan kita bahkan ketika kita CTO.

Meeting selesai tanpa keputusan.


Di parkiran, Aurelia menungguku.

“Marah?”

“Enggak.”

“Bohong?”

“Enggak.”

Dia mempelajari wajahku.

“Alis normal.”

“Terima kasih.”

Kami berjalan ke mobil.

“Aku mungkin harus present ke board.”

“Present.”

“Mereka akan push.”

“Push balik.”

Aurelia tersenyum kecil.

“Pacar suportif.”

Aku membuka pintu untuknya.

“Tapi jangan bilang gue bisa deliver sesuatu yang gue bilang enggak.”

Senyumnya hilang.

“Aku tahu.”

“Lia.”

“Aku tahu.”

Aku menutup pintu.

Di sisi pengemudi, aku berhenti sebentar.

Ada sesuatu yang tidak kusukai.

Bukan Vincent.

Bukan board.

Nada Aurelia.

Nada orang yang mulai menghitung bagaimana caranya menanggung semuanya sendiri.

Aku mengenal nada itu.

Karena selama tujuh tahun, itu suaraku sendiri.


Malamnya dia tidak membalas pesan selama tiga jam.

Aku menulis:

Makan.

Tidak dibaca.

Jam sebelas:

Masih kantor?

Tidak dibaca.

Aku menelepon.

Tidak diangkat.

Dulu, mungkin aku akan bilang dia sibuk dan menunggu.

Sekarang relationship rule kami punya arti.

Aku mengambil kunci mobil.

Saat lift apartemen turun, pesan masuk.

Sorry. Meeting. Aku aman.

Aku berhenti.

Mengetik:

Call.

Dia menelepon.

Wajahnya muncul di video. Lelah.

“Aku aman.”

“Gue tahu.”

“Terus?”

“Gue mau dengar suara lo.”

Aurelia diam.

Kemudian tersenyum kecil.

“Manja?”

“Rule.”

Dia tertawa.

Aku tidak.

“Lia, jangan tanggung ini sendiri.”

“Aku director.”

“Dan?”

“Ini kerjaanku.”

“Gue enggak bilang jangan kerja.”

“Terus?”

“Jangan ubah semua masalah jadi ujian apakah lo cukup kuat.”

Dia terdiam.

Aku tahu kalimat itu karena pernah hidup di dalamnya.

“Kalau butuh bantuan, minta.”

“Ke kamu?”

“Ke siapa pun yang tepat. Gue, Papa lo, tim. Jangan jadi single point of failure.”

Aurelia hampir tersenyum.

“Romantis sekali.”

“System design.”

“Lia, jangan tanggung ini sendiri.”

“Aku enggak.”

Aku menatapnya.

Alis kirinya bergerak.

Dia punya tell juga.

“Bohong.”

Senyumnya hilang.

Aku tidak memaksa malam itu.

Tapi ketika telepon selesai, aku tahu masalah terbesar bukan rollout.

Aku kembali ke apartemen tanpa jadi berangkat.

Di kamar mandi, sikat gigi Aurelia berdiri di samping milikku.

Aku menatap dua benda itu.

Domestic intimacy ternyata punya efek samping.

Sekarang setiap keputusan yang kubuat tidak lagi hanya mengenai hidupku.

Dulu pemikiran itu membuatku takut dan pergi.

Sekarang seharusnya membuatku bicara.

Aku mengirim satu pesan:

Besok breakfast. No work talk 30 menit.

Balasan datang:

Bossy.

Accepted?

Lama.

Accepted.

Setidaknya satu pintu masih terbuka.

Masalahnya adalah kami berdua punya kebiasaan lama yang sangat pandai menyamar sebagai tanggung jawab.

Sebelum tidur, Aurelia mengirim satu pesan: Aku akan bicara kalau ada perubahan. Aku membalas: Gue juga. Dua kalimat sederhana. Aku berharap kami cukup dewasa untuk benar-benar menepatinya ketika keadaan makin buruk.