← Tujuh Tahun untuk Kembali

Chapter Twenty Five

Jawaban yang Terlambat

POV: Raka

Tiga hari setelah lift, aku tidak mencium Aurelia.

Aku juga tidak menghindarinya.

Ternyata berada di tengah jauh lebih melelahkan.

Kami tetap bertukar pesan. Tetap meeting. Tetap bicara. Aurelia benar-benar berhenti mengejar seperti yang dia janjikan tanpa pernah mengucapkannya.

Tidak ada lunch invitation.

Tidak ada kopi tiba-tiba.

Tidak ada alasan untuk datang ke kantor.

Ruang yang dulu terasa terlalu penuh mendadak kosong.

Hari ketiga, Dion masuk ruanganku.

“Lo nyesel?”

“Apa?”

“Wajah lo.”

“Keluar.”

“Berarti iya.”

Aku menutup laptop.

“Dia berhenti.”

Dion mengangkat alis.

“Bukannya itu yang lo minta?”

“Gue enggak minta.”

“Lo minta waktu.”

Aku diam.

Dion duduk.

“Rak, waktu itu bukan bunker.”

Aku menatapnya.

“Kalau mau mikir, mikir. Jangan pakai mikir sebagai cara baru buat kabur.”

Sialnya, kadang Dion benar.

Jarang.

Tapi menyebalkan.


Malam itu aku pergi ke rumah Ibu.

Tanpa memberi tahu.

Ibu membuka pintu, melihat wajahku, lalu berkata, “Lia?”

Aku menutup mata.

“Kenapa semua orang—”

“Masuk.”

Di meja makan ada semur.

Tentu.

Aku makan.

Ibu duduk di depan.

“Takut?”

Aku mengangguk.

Tidak ada gunanya bohong.

“Bagus.”

Aku menatapnya.

“Kok bagus?”

“Berarti kamu ngerti ada yang bisa hilang.”

Aku meletakkan sendok.

“Kalau gue salah lagi?”

“Ya jangan salah dengan cara yang sama.”

“Sederhana sekali.”

“Memang.”

Ibu mengambil kerupuk.

“Kamu dulu pergi karena merasa harus melindungi Lia.”

Aku mengangguk.

“Sekarang jangan kembali cuma karena merasa harus menebus.”

Aku diam.

“Kalau kembali, karena mau.”

Aku menatap piring.

“Bu, kalau dia nanti nyesel?”

“Lia?”

“Iya.”

Ibu berpikir.

“Ya dia bisa bilang.”

“Sesederhana itu?”

“Kamu suka bikin hidup rumit.”

Aku tertawa pendek.

Ibu menunjukku dengan kerupuk.

“Raka, orang dewasa itu boleh salah pilih. Yang enggak boleh, kamu curi hak orang buat milih karena takut dia salah.”

Kalimat itu hampir sama dengan yang Aurelia katakan.

Ternyata semua orang memahami pelajarannya kecuali aku yang membutuhkan tujuh tahun.

“Kalau kembali, karena mau.”

Kalimat itu tinggal.


Besoknya aku meminta Aurelia bertemu.

Bukan di kantor.

Bukan restoran.

Taman.

Tempat yang sama.

Dia datang mengenakan jeans dan kemeja putih, tanpa pakaian kerja formal.

Begitu melihat lokasi, langkahnya melambat.

“Serius?”

“Gue tahu.”

“Pilihan tempat kamu buruk.”

“Gue tahu.”

Kami duduk di bangku yang berbeda dari tujuh tahun lalu.

Aku sengaja.

“Lia.”

“Hm?”

“Gue mau cerita semuanya.”

Dia tidak menyela.

Aku mulai dari malam di rumahnya.

Percakapan Adrian.

Ketakutanku.

Spreadsheet bodoh.

Cara aku melihat tawarannya meninggalkan rumah sebagai bukti bahwa aku akan mengambil terlalu banyak darinya.

Aku ceritakan bagaimana aku datang ke depan kompleks beberapa tahun kemudian lalu pulang.

“Kenapa tahun berapa?”

“Year three Nara.”

Aurelia menghitung cepat.

“Empat tahun setelah putus.”

“Iya.”

“Aku masih tinggal di rumah waktu itu.”

Aku menutup mata.

Informasi yang tidak berguna sekarang.

Tetap sakit.

“Kalau kamu masuk, mungkin aku akan nampar kamu.”

“Fair.”

“Terus peluk.”

Aku menatapnya.

Aurelia melihat lurus ke depan.

Kami membiarkan versi hidup yang tidak terjadi lewat tanpa mengejarnya.

Aku ceritakan bagaimana rasa malu tumbuh setelah waktu lewat.

Bagaimana rasa malu tumbuh setelah waktu lewat.

Tidak ada pembelaan.

Ketika selesai, Aurelia menatap lurus ke depan.

“Aku ngerti.”

Aku menahan napas.

“Tapi aku tetap enggak setuju.”

“Gue tahu.”

“Kamu pikir pengorbanan kamu mulia.”

“Iya.”

“Padahal kamu mengambil pilihan aku.”

“Iya.”

Dia akhirnya menatapku.

“Dan bagian paling menyebalkan?”

“Apa?”

“Aku mungkin memang akan kesulitan.”

Aku diam.

“Kalau waktu itu kita lanjut, mungkin kita berantem soal uang. Mungkin aku kaget. Mungkin kamu insecure. Mungkin Papa bikin hidup kita susah.”

Dia mengangkat bahu.

“Tapi itu seharusnya masalah kita.”

Bukan masalahku.

Bukan masalahmu.

Kita.

Aku mengangguk.

“Aku tahu sekarang.”

“Bagus.”

“Ada lagi.”

“Apa?”

“Gue masih cinta lo.”

Aurelia menutup mata.

Aku hampir panik.

“Lia?”

“Diam.”

Aku diam.

Dia tertawa kecil sambil menangis.

“Aku nunggu kalimat itu tujuh tahun.”

Rasa bersalah datang.

Aurelia langsung melihat wajahku.

“Jangan.”

“Apa?”

“Jangan rusak dengan rasa bersalah.”

Aku menarik napas.

Benar.

Hari ini bukan tentang menebus.

“Aku cinta lo,” ulangku.

Kali ini tanpa maaf di belakangnya.

Aurelia tersenyum.

Tidak ada musik.

Tidak ada hujan.

Hanya satu anak kecil berteriak mengejar bola di kejauhan.

Aurelia tidak bergerak.

Aku melanjutkan.

“Gue enggak tahu apakah cinta yang sama atau sesuatu yang tumbuh lagi sejak ketemu.”

Matanya mulai basah.

“Tapi gue tahu gue mau cari tahu.”

“Raka.”

“Dan gue enggak mau pergi.”

Air matanya jatuh.

Aku menghapusnya dengan ibu jari.

Akhirnya.

Sentuhan yang kutahan sejak reunion.

Aurelia memegang pergelangan tanganku.

“Kalau kali ini kamu takut?”

“Gue bilang.”

“Kalau mau pergi?”

Aku menarik napas.

“Gue bilang dulu.”

Dia menatap tajam.

“Jawaban salah.”

Aku tertawa kecil.

Benar.

Aku menggenggam tangannya.

“Gue enggak mau pergi.”

“Bukan demi aku?”

“Bukan.”

“Bukan karena Ibu?”

“Enggak.”

“Bukan karena merasa bersalah?”

Aku menggeleng.

“Karena gue mau ada.”

Aurelia menatapku lama.

“Bagus.”

“Interogasi selesai?”

“Belum.”

“Apa lagi?”

“Kamu harus traktir.”

Aku tertawa.

“Kenapa?”

“Emotional damages.”

“Berapa?”

“Tujuh tahun.”

“Bangkrut.”

“Katanya unicorn.”

Aku tertawa lebih keras.

Wajahnya runtuh menjadi senyum dan tangis sekaligus.

Dia memukul dadaku.

“Bodoh.”

“Iya.”

“Tujuh tahun.”

“Iya.”

“Aku masih marah.”

“Boleh.”

“Lama.”

“Boleh.”

Dia mendekat.

Aku tidak mencium.

Belum.

Aku membuka kedua tangan.

Bukan menarik.

Menawarkan.

Aurelia melihat gerakan itu dan wajahnya kembali bergetar.

Dia maju sendiri.

Aku memeluknya.

Aurelia langsung melingkarkan tangan di pinggangku dan menyembunyikan wajah di dada.

Aku menutup mata.

Tujuh tahun lalu aku melepaskan tangannya di taman.

Hari itu, di taman yang sama, aku memilih menggenggamnya lagi.

Kami tetap berpelukan cukup lama sampai Aurelia berkata dari dadaku, “Aku lapar.”

Aku tertawa.

“Tentu.”

“Emotional conversation boros energi.”

Kami membeli bakso dari pedagang dekat taman.

Aurelia menambahkan sambal terlalu banyak.

Aku otomatis mengambil mangkuknya.

“Raka.”

“Lo akan nangis.”

“Aku dewasa.”

“Historical data.”

Dia membiarkanku mengurangi sambal.

Hal kecil.

Bodoh.

Tapi setelah semua kata besar, makan bakso di sampingnya membuat keputusan ini terasa nyata.

Saat mengantarnya ke mobil, Aurelia berhenti.

“Besok chat aku duluan.”

Aku tertawa.

“Rule baru?”

“Tes.”

“Kalau lupa?”

“Aku marah.”

“Fair.”

Aku mengangguk.

Hal kecil lagi.

Tetapi aku mengerti maksudnya.

Tinggal bukan keputusan satu kali.

Tinggal adalah muncul lagi besok.

Kami tidak memperbaiki tujuh tahun.

Kami hanya mulai menjalani hari berikutnya.

Pukul tujuh pagi besoknya, aku mengirim:

Morning.

Balasan Aurelia datang:

Lulus.

Aku:

Tes apaan?

Apakah kamu masih ada besok.

Aku menatap layar cukup lama.

Kemudian:

Ada.

Tidak ada jawaban beberapa detik.

Lalu satu hati merah.

Aku tidak pernah terlalu suka emoji.

Yang itu kusimpan di kepala sepanjang hari.

Dion melihatku tersenyum pada ponsel.

“Menjijikkan.”

“Kerja.”

“Baru jadian tiga hari sudah begitu.”

Aku menatapnya.

“Lo tahu dari mana?”

“Network.”

Aku tidak perlu menebak siapa.

Aneh sekali. Dulu aku menjaga Aurelia jauh dari dunia ini.

Sekarang aku tidak keberatan orang-orang terdekatku tahu dia kembali.

Aku kembali ke laptop. Hari biasa dimulai. Bedanya, sekarang ada seseorang yang akan kutemui lagi setelah hari selesai. Ternyata sesederhana itu bisa terasa sangat besar.

Dan untuk pertama kalinya sejak umur dua puluh dua, aku tidak takut pada besok. Aku memilih tinggal. Dan besok aku akan memilih lagi.