Chapter Four
Candaan yang Terlalu Murah
POV: Raka
Aku seharusnya tahu pesta ulang tahun Tasha bukan tempat yang cocok untukku ketika valet menatap motorku seperti sedang mencari kamera tersembunyi.
Aurelia turun dari belakang, melepas helm, lalu menyerahkannya kepadaku.
“Kamu senyum kenapa?”
“Valet-nya bingung.”
“Kasihan.”
“Dia mungkin belum pernah menerima kunci motor dengan gantungan bengkel.”
Aurelia tertawa.
Dia mengenakan gaun biru tua yang membuat percakapan di dekat pintu terhenti sesaat ketika kami masuk.
Dua laki-laki menoleh.
Seorang perempuan menyentuh lengan temannya dan berbisik.
Aurelia tidak melihat.
Tangannya justru mencari tanganku.
“Jangan lepas.”
“Kenapa?”
“Aku males nyari kamu.”
“Tempatnya enggak sebesar rumahmu.”
Dia mencubit tanganku.
Tasha menyambut kami dengan pelukan.
“Finally. Gue kira Lia batal karena pacarnya telat lagi.”
“Aku punya reputasi buruk yang tidak adil,” kataku.
Aurelia menatapku.
“Sangat adil.”
Tasha tertawa.
Aku suka Tasha karena sejak awal tidak pernah bicara kepadaku seperti aku sedang menjalani wawancara kerja.
Masalahnya, tidak semua orang di sana seperti Tasha.
“Ini Raka?” seorang laki-laki bernama Jeremy bertanya.
Aurelia mengangguk.
“Pacarku.”
“Yang programmer itu?”
Aku tersenyum.
“Iya.”
“Gila, Lia. Konsisten juga.”
Aurelia mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
Jeremy tertawa seolah kalimat berikutnya pasti lucu.
“Ya, investasi jangka panjang. Sekali nikah langsung naik beberapa kelas sosial.”
Beberapa orang tertawa.
Tidak banyak.
Cukup.
Aku ikut tersenyum kecil karena tidak tahu ekspresi lain yang lebih aman.
Aurelia tidak.
“Apa lucunya?” tanyanya.
Tawa berhenti.
Jeremy mengangkat tangan.
“Bercanda, Lia.”
“Jelasin.”
“Ya ampun. Jangan serius.”
“Aku enggak serius. Aku cuma pengin tahu bagian lucunya.”
Aku menyentuh punggung tangannya.
“Lia.”
Dia menoleh kepadaku.
“Minum?”
Tatapannya masih keras.
Aku mengangguk ke arah bar.
Akhirnya dia ikut.
“Kamu kenapa diem?”
Kami berdiri di balkon venue.
“Aku enggak diem.”
“Dari tadi jawab tiga kata.”
“Sekarang enam.”
“Raka.”
Aku tertawa kecil.
Dia berdiri di depanku.
“Aku benci kalau kamu begitu.”
“Begitu gimana?”
“Seolah enggak terjadi apa-apa.”
“Memang enggak terjadi apa-apa.”
“Dia menghina kamu.”
“Dia bikin candaan jelek.”
“Bedanya?”
“Kalau aku marah setiap ada orang ngomong bodoh, hidupku capek.”
Aurelia menghela napas.
Aku mengangkat dagunya sedikit.
“Jangan rusak malam Tasha gara-gara itu.”
“Aku enggak suka.”
“Aku tahu.”
“Kamu sakit hati?”
Pertanyaannya sederhana.
Jawabannya tidak.
“Sedikit.”
Aurelia diam.
Aku tersenyum.
“Nah. Jujur.”
Dia memukul dadaku pelan.
“Bukan lucu.”
“Aku tahu.”
Tangannya tetap di dadaku.
“Kadang aku pengin kamu marah.”
“Kenapa?”
“Supaya aku tahu aku enggak marah sendirian.”
Kalimat itu membuatku berhenti bercanda.
Aku memegang tangannya.
“Aku enggak mau kamu berantem sama semua orang gara-gara aku.”
“Biarin.”
“Lia.”
“Aku bisa berantem.”
“Aku tahu. Itu yang menakutkan.”
Dia hampir tersenyum.
Aku menariknya sedikit lebih dekat.
“Dengar. Aku enggak pacaran sama Jeremy.”
“Syukurlah.”
“Aku pacaran sama kamu.”
“Hm.”
“Jadi yang penting kamu tahu aku enggak numpang naik kelas.”
Aurelia menatapku.
Kemudian ekspresinya berubah nakal.
“Kalau numpang naik aku boleh.”
Aku berkedip.
“Apa?”
Dia maju sampai tubuhnya hampir menempel.
“Motor.”
“Oh.”
“Pikiranmu ke mana?”
“Enggak ke mana-mana.”
“Wajahmu merah.”
“Panas.”
“Di balkon ber-AC?”
Aku mengusap wajah.
Dia tertawa puas.
“Aku tadi lagi serius.”
“Aku juga serius. Aku suka naik motor kamu.”
“Kenapa?”
“Bisa peluk.”
Dia melingkarkan kedua tangan ke pinggangku, mendemonstrasikan.
“Begini.”
“Ini bukan motor.”
“Latihan.”
“Lia.”
“Hm?”
“Ada orang.”
“Lagi.”
Dia meniru suaraku dengan buruk.
Aku menahan tawa.
“Suatu hari kamu bakal kena akibatnya.”
“Ancaman?”
“Janji.”
Senyumnya berhenti sepersekian detik.
Aku sendiri sedikit terkejut dengan kalimatku.
Lalu dia mendekat ke telingaku.
“Aku tunggu.”
Sekarang benar-benar panas.
Kami kembali ke dalam.
Tasha menarik Aurelia ke kelompok temannya, dan untuk beberapa menit aku berdiri sendiri dekat meja makanan.
Jeremy datang membawa dua gelas.
“Bro.”
Aku menerima satu meski tidak berniat minum.
Sebelum Jeremy bicara lagi, aku melihat sekeliling ruangan.
Jam mahal. Sepatu yang harganya mungkin sama dengan semester kuliahku. Percakapan tentang liburan ke Jepang seperti orang membicarakan pergi ke Bandung.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Mereka hanya hidup seperti ini.
Masalahnya, untuk pertama kalinya aku sadar aku sedang berdiri di sebuah ruangan tempat hidupku sendiri bisa terdengar seperti punchline kalau diceritakan dengan nada yang tepat.
Jeremy menarik napas.
“Gue tadi kebablasan.”
“Enggak apa-apa.”
“Serius, gue cuma becanda.”
“Iya.”
Dia tampak lega.
Kemudian menambahkan, “Lia emang sensitif kalau soal lo.”
Aku melihat ke arah Aurelia.
Dia sedang tertawa dengan Tasha.
“Bagus,” kataku.
Jeremy ikut melihat.
“Lo hoki sih.”
Aku tersenyum tipis.
“Iya.”
Untuk pertama kalinya malam itu, kami sepakat dalam sesuatu.
Aurelia kembali beberapa menit kemudian.
Dia langsung memandang gelas di tanganku.
“Kamu minum?”
“Belum.”
“Bagus.”
“Kenapa?”
“Kamu bawa motor.”
“Aku tahu.”
Dia mengambil gelas itu dari tanganku dan menyerahkannya ke meja tanpa izin.
Jeremy melihat kami, lalu tertawa kecil.
“Gue cabut dulu.”
Setelah dia pergi, Aurelia menatapku.
“Dia minta maaf?”
“Iya.”
“Terus?”
“Ya sudah.”
“Segampang itu?”
Aku mengangkat bahu.
Aurelia menghela napas, tetapi kali ini tidak berdebat.
Tangannya menyelip ke tanganku.
“Kalau aku masih kesel?”
“Itu hak konstitusionalmu.”
Dia hampir tertawa.
Setidaknya malam itu kami berhasil kembali menjadi kami.
Saat kami pulang, Jeremy kebetulan lewat di parkiran.
“Lia, driver lo mana?”
Aurelia menunjukku.
“Ini.”
Jeremy tertawa canggung.
Aurelia mengambil helm, memasangnya, lalu naik ke belakangku.
Tangannya melingkar ke pinggangku.
Sebelum aku menyalakan motor, dia sengaja berkata cukup keras, “Aku suka driver yang ini.”
Aku menoleh.
“Jangan mulai.”
“Apa?”
“Kamu tahu.”
Dia tertawa.
Di jalan, kepalanya bersandar di punggungku.
Aku memikirkan candaan Jeremy lagi.
Naik kelas.
Dua kata yang seharusnya mudah dibuang.
Tetapi malam itu untuk pertama kalinya aku bertanya pada diriku sendiri apakah orang lain melihat sesuatu yang tidak kulihat.
Bukan tentang uang Aurelia.
Tentang jarak.
Aku menepis pikiran itu.
Di lampu merah, Aurelia mengetuk dadaku dari belakang.
“Masih kepikiran?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Aku tersenyum kecil meski dia tidak bisa melihat.
“Sedikit.”
Pelukannya mengencang.
“Kalau nanti ada yang ngomong kayak gitu lagi, jangan senyum cuma buat bikin aku tenang.”
“Terus harus gimana?”
“Ya kalau kesel bilang kesel.”
“Kalau enggak mau?”
“Aku akan ganggu sampai bilang.”
“Itu bukan solusi.”
“Itu metode.”
Aku tertawa.
Lampu berubah hijau.
Saat motor bergerak lagi, aku sadar ada sesuatu yang berubah malam itu. Bukan pada Aurelia. Bukan juga pada kami.
Pada caraku melihat dunia di sekeliling hubungan kami.
Sebelumnya, perbedaan itu cuma angka yang tidak penting.
Sekarang aku tahu orang lain bisa mengubah angka menjadi ukuran manusia.
Aku belum tahu seberapa sering aku akan mendengar ukuran itu disebut.
Tangannya masih memelukku.
Untuk malam itu, itu cukup.
Besok paginya Tasha mengirim pesan.
*Jeremy masih hidup. Lia tidak membunuhnya.*
Aku tertawa sendiri di meja kerja.
Lima detik kemudian pesan Aurelia masuk.
*Jangan ketawa. Aku tahu kamu lagi ketawa.*
Aku menatap layar.
*Stalker.*
Balasannya cepat.
*Pacar.*
Satu kata itu berhasil membuat sisa malam kemarin terasa sedikit lebih ringan.
Tetapi candaan Jeremy tetap tinggal di tempat yang tidak bisa dijangkau pesan lucu Aurelia.
Aku menyimpan ponsel dan kembali ke laptop.
Beberapa menit aku menatap kode tanpa benar-benar membaca.
Kalimat itu datang lagi.
*Naik kelas.*
Aku menghapus satu baris, mengetik ulang, lalu memaksa pikiranku kembali bekerja.
Aku belum marah.
Belum.
Tapi untuk pertama kalinya, aku mulai mengingat siapa yang mengatakannya.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah reading
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk