Chapter Twenty One
Dunia yang Dibangun Tanpaku
POV: Aurelia
Aku sudah pernah masuk kantor Nara beberapa kali.
Hari itu berbeda.
Raka mengajakku melihat lantai engineering.
“Biar ngerti kenapa requirement kalian bikin orang sini mau resign.”
“Aku merasa disambut.”
“Bagus.”
Kami berjalan melewati deretan meja.
Tidak ada ruangan mewah.
Whiteboard penuh tulisan.
Monitor.
Bean bag.
Orang-orang yang terlihat terlalu muda untuk menangani transaksi sebesar itu.
Yang paling menarik adalah cara mereka bereaksi pada Raka.
Bukan takut.
Mereka memanggilnya tanpa gelar.
Menghentikannya di lorong untuk bertanya.
Seorang engineer perempuan bahkan berkata, “Rak, keputusan lo kemarin salah.”
Aku hampir berhenti.
Raka justru mendekat ke monitornya.
“Kenapa?”
Mereka berdebat tiga menit.
Raka akhirnya berkata, “Okay. Gue salah. Rollback keputusan gue.”
Engineer itu mengangguk dan kembali bekerja.
Aku menatapnya saat kami berjalan lagi.
“Apa?”
“Kamu bilang salah di depan orang.”
“Karena salah.”
“Papa butuh workshop.”
Raka tertawa.
Aku tersenyum.
Dunia ini dibangun tanpa aku.
Dan aku ingin mengenalnya.
Dion menemukan kami di pantry.
“Mbak Aurelia.”
“Aurelia aja.”
“Finally.”
Raka langsung menatapnya.
“Jangan.”
Aku duduk.
“Lanjut.”
Dion terlihat seperti anak kecil diberi korek api.
“Tahun pertama Nara—”
“Dion.”
“—ada orang tidur di kantor tiga hari karena deployment.”
Aku melihat Raka.
“Serius?”
“Enggak tiga.”
“Empat,” kata Maya yang baru masuk.
Aku tertawa.
Raka mengusap wajah.
Maya membuat kopi.
“Dia juga pernah pingsan.”
Aku berhenti tertawa.
“Kapan?”
“Year two.”
“Kurang tidur,” kata Raka.
“Dan makan,” tambah Maya.
Aku menatapnya.
Raka melihat langit-langit.
“Kenapa semua orang hari ini pengkhianat?”
Dion menunjukku.
“Karena akhirnya ada orang yang mungkin bisa bikin lo makan.”
Kalimat itu membuat ruangan sunyi sepersekian detik.
Dion sendiri sadar terlalu jauh.
Aku menyelamatkannya.
“Dari dulu susah.”
Raka menatapku.
Aku menatap balik.
Maya tersenyum kecil.
Setelah Dion pergi, Maya tetap di pantry.
Raka dipanggil engineer lain.
Sekarang kami berdua.
“Aku dulu marah sama kamu,” katanya.
Aku mengangguk.
“Fair.”
“Bukan karena breakup. Karena efeknya.”
Aku menunggu.
“Dia pernah ngomong soal aku?”
Maya menatapku.
“Jarang.”
Entah kenapa itu menyakitkan.
“Tapi?”
“Kalau ada orang mau buang barang lama, dia selalu bilang jangan kalau masih berfungsi.”
Aku mengerutkan kening.
Maya tersenyum kecil.
“Gue enggak tahu itu ada hubungannya sama lo atau dia memang pelit.”
Aku tertawa.
“Probably both.”
Maya memutar mug.
“Gue enggak akan kasih restu atau apa pun. Kalian bukan anak SMA.”
“Syukurlah.”
“Tapi satu hal.”
Aku menunggu.
“Kalau lo masuk lagi, jangan biarin dia pakai kerja sebagai tempat kabur.”
Aku mengangguk.
“Deal.”
“Dan jangan lo juga.”
Aku hampir protes.
Kemudian sadar adil.
“Deal.”
“Raka kerja seperti kalau berhenti lima menit sesuatu akan mengejarnya.”
Dadaku mengencang.
“Aku enggak tahu.”
“Memang.”
Tidak ada tuduhan.
Justru itu lebih sakit.
Maya menyesap kopi.
“Tapi gue juga tahu itu keputusan dia.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih.”
“Buat?”
“Enggak bikin aku villain.”
Maya hampir tersenyum.
“Gue terlalu tua buat drama begitu.”
“Kita seumuran.”
“Exactly.”
Aku tertawa.
Ketika Raka kembali, dia melihat kami.
“Apa yang dibicarakan?”
“Rahasia perempuan,” kataku.
Wajahnya pasrah.
Bagus.
Sore hari kami pergi ke warehouse.
Di perjalanan, Raka duduk di sebelahku.
Tidak ada kursi kosong di tengah kali ini.
Kemajuan.
Aku membuka tablet.
Tangannya tiba-tiba mengambil sesuatu dari rambutku.
Aku membeku.
“Apa?”
“Debu.”
Dia menunjukkan serpihan kecil.
“Oh.”
Raka kembali ke laptop.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku menatap profil wajahnya.
“Raka.”
“Hm?”
“Kamu sengaja?”
“Apa?”
“Sentuh rambut.”
Dia menoleh.
“Debu.”
“Bisa bilang.”
“Lebih cepat ambil.”
Aku menyipitkan mata.
Dia kembali bekerja.
Tapi aku melihat sudut bibirnya.
Monster.
Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan ke Tasha di bawah meja.
Emergency.
Apa?
Dia bisa flirting sekarang.
Balasan:
THANK GOD.
Aku:
Bukan respons yang benar.
Itu respons seluruh umat manusia.
Aku mengunci layar.
Monster.
Aku memang menciptakannya sendiri.
Di warehouse, aku sengaja berdiri terlalu dekat ketika kami membaca dashboard yang sama.
Raka tidak bergerak.
Bahu kami bersentuhan.
“Lia.”
“Hm?”
“Lo tahu layarnya cukup besar.”
“Aku rabun.”
“Lo pakai kontak.”
Aku tersenyum.
Dia akhirnya menoleh.
Wajah kami dekat.
“Kalau terus begini, gue anggap consent buat balas.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
“Ancaman lagi?”
“Reminder.”
Aku mempertahankan tatapan.
“Silakan.”
Aku tidak tahu dari mana keberanian itu datang.
Mungkin karena selama tujuh tahun aku terlalu sering membayangkan momen ini dan dalam semua bayangan, Raka tetap laki-laki muda yang mudah kugoda.
Sekarang tatapannya membuatku sadar medan permainan berubah.
Raka diam.
Aku juga.
Kemudian seorang supervisor memanggil.
“Pak Raka?”
Kami langsung menjauh.
Aku mendengar Raka menghela napas.
Aku menang.
Mungkin.
Malamnya, setelah pulang, aku membuka laptop dan mencari foto lama Nara.
Ruko kecil.
Dua belas orang.
Raka berdiri di ujung memakai kemeja hitam.
Aku memperbesar.
Kemeja itu.
Yang kubantu pilih.
Tanganku menutup mulut.
Aku tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis.
Tujuh tahun aku tidak ada dalam hidupnya.
Tapi ternyata ada serpihan kecil dariku yang ikut berdiri di foto awal dunia barunya.
Aku menyimpan foto itu.
Kemudian rasa bersalah datang.
Aku membuka chat Raka.
Boleh tanya sesuatu?
Apa?
Aku mengirim foto.
Tiga titik muncul lama.
Dapat dari mana?
Internet.
Stalker.
Aku tersenyum.
Itu kemeja yang dulu?
Lama.
Iya.
Aku menatap jawaban satu kata itu.
Kenapa masih dipakai?
Balasannya:
Waktu itu cuma punya empat.
Aku tertawa sambil menangis sedikit.
Tidak ada pengakuan romantis.
Justru itu yang membuatnya lebih Raka.
Aku menyimpan foto itu.
Lalu aku membuka satu artikel lama tentang pendanaan pertama Nara.
Raka tidak ada di foto utama.
Tentu.
Di paragraf bawah ada kutipan pendek:
We want small merchants to have tools previously available only to large companies.
Aku membaca dua kali.
Raka dulu membuat aplikasi kasir untuk warung teman Bu Ratih.
Tiba-tiba jalur hidupnya terasa sangat jelas.
Dia tidak berubah menjadi orang lain.
Dia hanya menjadi versi lebih besar dari laki-laki yang kukenal.
Aku menyimpan foto itu.
Ada rasa aneh melihat tujuh tahun hidupnya sebagai sesuatu yang bukan sekadar kehilangan bagiku.
Raka membangun lapangan kerja.
Membantu merchant.
Membuat teman.
Menjadi seseorang yang dihormati.
Aku tidak boleh memandang tujuh tahun itu hanya sebagai waktu yang dicuri dariku.
Itu hidupnya.
Aku juga sadar sesuatu yang lain.
Dulu aku mencintai Raka sebagian karena dia tidak terkesan oleh nama Wijaya.
Sekarang aku melihat orang-orang di Nara tidak terkesan oleh nama Raka juga.
Mereka menghormatinya, tetapi berani bilang dia salah.
Mungkin itu sebabnya dia terlihat nyaman di sini.
Dia membangun dunia yang tidak membutuhkan seseorang menjadi kecil agar orang lain terlihat besar.
Kalau aku ingin kembali, aku harus mencintai bagian yang tumbuh tanpa aku juga.
Aku menyimpan foto itu.
Bukan untuk nostalgia.
Setidaknya itu kebohongan yang kupilih malam itu.
Ponselku berbunyi.
Raka:
Besok jangan datang ke kantor.
Aku:
Kenapa?
Gue harus kerja.
Aku tersenyum.
Takut terganggu?
Lama.
Iya.
Aku tertawa sampai Tasha menelepon untuk bertanya apa yang terjadi.
Aku tidak menjawab telepon Tasha. Beberapa kemenangan terlalu kecil dan terlalu menyenangkan untuk langsung dijelaskan.
Tetap saja, sebelum tidur aku membuka foto kemeja hitam itu sekali lagi. Hanya sekali. Lalu dua.
Aku tersenyum sendiri. Pelan-pelan ternyata cukup. Dan aku tidak keberatan.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku reading
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk