← Tujuh Tahun untuk Kembali

Chapter Thirty One

Hari Minggu

POV: Aurelia

Hari Minggu, aku bangun di sofa apartemen Raka dengan kaki berada di pahanya.

Bukan karena menginap.

Aku datang jam sepuluh pagi untuk brunch. Kemudian satu episode serial menjadi dua.

Sekarang jam dua siang.

Raka membaca tablet sambil satu tangan memegang pergelangan kakiku.

“Bangun?”

“Belum.”

“Lo ngomong.”

“Sleep talking.”

Aku menarik selimut sampai dagu.

Sikat gigiku masih di kamar mandi.

Phase 1 berhasil.

Hari ini aku membawa Phase 2.

Satu pouch skincare.

Masih di dalam tas.

Aku tersenyum sendiri.

“Apa?”

“Enggak.”

“Bahaya.”

“Fitnah.”

Aku bangun dan melihat meja kopi.

Ada dua mug.

Buku programming yang kubeli waktu first date kedua masih terbuka di chapter tiga.

Raka menunjuknya.

“Homework.”

“Hari Minggu.”

“Teacher 24/7.”

Aku menatapnya.

“Kamu ingat.”

“Tarif juga ingat.”

Aku langsung tahu maksudnya.

“Scam.”

“Contract.”

Aku mengambil buku dan membaca satu halaman dengan dramatis.

Raka tertawa.

“Kalau selesai chapter?”

“Reward.”

“Sekarang?”

“Belum selesai.”

Aku menutup buku.

“Benci pendidikan.”

“Fitnah.”


Kami memasak makan siang.

Lebih tepatnya Raka memasak.

Aku memotong sayur.

“Tipis.”

“Ini tipis.”

“Itu balok.”

“Rustic.”

Raka mengambil pisau.

“Geser.”

Aku berdiri di belakangnya dan melingkarkan tangan ke pinggang.

Dia berhenti.

“Lia.”

“Aku enggak ganggu tangan.”

“Familiar.”

Aku menempelkan pipi ke punggungnya.

“Manja.”

“Rule.”

“Abuse.”

Aku tertawa.

“Kalau tiap Minggu begini?” tanyaku.

“Gimana?”

“Enggak ngapa-ngapain.”

“Kita masak.”

“Itu hampir enggak ngapa-ngapain.”

“Lo menghina domestic labor.”

“Serius.”

Raka mematikan kompor lalu berbalik dalam pelukanku.

“Gue suka.”

“Apa?”

“Minggu begini.”

Senyumku muncul.

“Good.”

Kami makan di meja kecil dekat jendela.

Aku melihat kursinya.

Empat.

“Kenapa?”

“Apa?”

“Mejanya empat kursi.”

Raka mengerti.

“Apartment standard.”

“Bohong.”

“Lia.”

Aku tersenyum.

Meja empat kursi yang dulu kami pilih di toko furnitur mungkin sudah tidak dijual.

Tetapi simbolnya berdiri di sini tanpa pernah kami rencanakan bersama.

Aku tidak menyebutnya lagi.

Belum.

Dia mencium keningku.

Aku mengerucutkan bibir.

“Jangan serakah.”

“Manja rule.”

Dia tertawa lalu mencium bibirku.

Menang.


Setelah makan, aku sengaja memercikkan air saat mencuci piring.

“Jangan,” katanya.

Aku melakukannya lagi.

Kesalahan.

Lima menit kemudian dapur basah.

Aku terpeleset sedikit.

Raka langsung menangkap pinggangku.

Tawa berhenti.

Wajah kami dekat.

“CCTV?” bisikku.

“Rumah gue.”

“Terus?”

Dia menciumku.

Aku melingkarkan tangan ke lehernya.

Ciumannya lebih lama.

Ketika tangannya bergerak sedikit di pinggangku, tubuhku merespons sebelum otak.

Aku mundur setengah langkah.

Raka langsung berhenti.

“Okay?”

Aku mengangguk.

“Okay.”

Tidak ada rasa canggung.

Dia mengambil handuk dan menaruh di kepalaku.

“Beresin air.”

Aku mengambil handuk lain dan mengeringkan rambut Raka.

Dia membiarkan.

“Dulu kamu enggak bisa diam begini.”

“Dulu lo lebih agresif.”

“Sekarang juga.”

“Sekarang gue lebih siap.”

Aku berhenti mengusap.

“Bahaya.”

“Sudah bilang.”

Aku menarik handuk menutupi wajahnya.

“Beresin air.”

Aku tertawa.

Itu juga intimacy.

Bisa berhenti lalu tetap baik-baik saja.


Sore, Raka tidur di sofa dengan kepala di pahaku.

Aku mengusap rambutnya.

Aku mengambil foto.

Tidak upload.

Hanya simpan.

Raka membuka satu mata.

“Nyolong?”

“Dokumentasi.”

“Delete.”

“Enggak.”

“Jelek.”

“Cute.”

“Lia.”

“Aku butuh bukti CTO Nara bisa tidur.”

Aku menunjukkan foto.

Raka menatap.

Wajahnya memang sangat damai.

Ekspresinya berubah sedikit.

“Kirim.”

Aku tersenyum.

“Katanya delete.”

“Changed requirement.”

Aku mengirim.

Tangannya mencari tanganku.

Aku menggenggam.

Jam lima, aku mengambil pouch skincare dan menaruhnya di kamar mandi.

Phase 2.

Ketika keluar, Raka berdiri di lorong.

“Lia.”

“Hm?”

“Ini apa?”

“Skincare.”

“Gue tahu.”

“Bagus.”

“Kenapa di sini?”

“Efficiency.”

Dia menghela napas.

Aku berjalan melewatinya.

Raka menangkap pinggangku dari belakang.

“Invasi.”

“Ekspansi strategis.”

“Phase berapa?”

Aku membeku.

“Dua.”

“Phase 1 sikat gigi.”

“Iya.”

“Phase 2 skincare.”

“Iya.”

“Phase 3?”

Aku menatapnya polos.

“Baju.”

“Berapa?”

“Satu.”

“Lo bohong.”

“Dua.”

“Lia.”

“Tiga maksimal.”

Raka mengusap wajah.

Aku tertawa.

Raka mencium belakang kepalaku.

“Gue takut Phase 10.”

Aku berbalik dalam pelukannya.

“Lemari.”

Dia menutup mata.

Aku tertawa sampai perut sakit.


Sebelum pulang, aku melihat dua sikat gigi dan pouch kecil itu lagi.

Barang sepele.

Aku pernah tinggal di rumah dengan kamar sebesar apartemen orang lain.

Aneh bahwa tiga benda kecil di tempat Raka justru membuatku merasa memiliki ruang.

Bukan karena dia memberiku lemari.

Karena dia tidak memindahkan apa pun yang kutaruh.

Di lift, aku menyandarkan kepala ke bahunya.

“Capek?”

“Enggak.”

“Terus?”

“Manja.”

Dia tertawa dan mencium rambutku.

Saat sampai lobby, aku baru sadar ponselku tertinggal.

“Naik lagi?”

Aku mengangguk.

Kami kembali ke apartemen.

Ponsel ada di sofa.

Aku mengambilnya.

Raka berdiri di pintu.

Aku melihat jam.

“Kalau aku tinggal sampai dinner?”

“Lo tadi bilang pulang.”

“Changed requirement.”

Dia tertawa.

“Lapar?”

“Sedikit.”

Akhirnya kami memesan makanan.

Aku tidak pulang sampai hampir jam sembilan.

Tidak ada rencana.

Tidak ada rasa bersalah karena menghabiskan satu hari penuh tanpa produktivitas.

Dulu aku dibesarkan dengan kalender yang selalu penuh.

Raka membangun perusahaan dengan kalender yang lebih penuh lagi.

Mungkin ini pertama kalinya kami sama-sama belajar bahwa waktu yang tidak menghasilkan apa pun tetap bisa berharga.

Di pintu, aku memeluknya.

“Next Sunday?”

“Lo booking recurring?”

“Iya.”

“Calendar invite?”

“Bisa.”

“Jangan.”

Aku tertawa.

“Berarti yes.”

Raka menghela napas, lalu mencium keningku.

“Yes.”

Aku masuk mobil.

Sebelum jalan, aku membuka kalender dan membuat recurring event:

Sunday — Jangan Kerja

Invite: Raka.

Lima detik kemudian statusnya muncul.

Tentative.

Aku langsung menelepon.

Raka mengangkat dari lobby.

“Apa?”

“Kenapa tentative?”

“Karena hidup punya uncertainty.”

“Accepted.”

“Lia.”

“Accepted.”

“Kalau ada incident?”

“Kalau production terbakar, boleh.”

“Terima kasih, Yang Mulia.”

“Accepted.”

Telepon mati.

Sepuluh detik kemudian status berubah.

Accepted.

Aku tersenyum.

Kami tidak benar-benar akan punya setiap Minggu.

Aku tahu.

Tapi menyisihkan ruang dengan sengaja terasa penting untuk dua orang yang pernah membiarkan kerja, takut, dan keluarga mengambil terlalu banyak.

“Yes.”

Hari Minggu biasa.

Aku tidak pernah tahu sesuatu yang biasa bisa terasa semewah ini.

Di mobil pulang, aku membuat recurring event di kalender: Sunday — Jangan Kerja. Raka membalas invite dengan Tentative. Aku menelepon sampai dia mengubahnya menjadi Accepted.