← Tujuh Tahun untuk Kembali

Chapter Thirty Three

Sekarang Giliranku

POV: Raka

Setelah Aurelia menemukan foto, sesuatu berubah.

Bukan pada dia.

Padaku.

Sulit mempertahankan citra CTO dingin setelah seseorang melihatmu menangis sambil memegang foto photo booth tujuh tahun lalu.

Jadi aku berhenti mencoba.


Hari Senin Aurelia datang ke kantor.

Aku menunggunya di lobby.

Dia berhenti.

“Kenapa turun?”

“Jemput.”

“Bisa naik sendiri.”

“Gue tahu.”

Aku mengambil tas laptopnya.

Aurelia menatap.

“Apa?”

“Enggak.”

“Kok senyum?”

“Progress.”

Kami masuk lift.

Ada orang lain.

Aku menggenggam tangannya.

Aurelia langsung melihat.

Dulu dia yang selalu mulai.

Sekarang aku.

Pipinya sedikit merah.

Menarik.

Seorang staf Nara masuk di lantai sebelas.

Dia melihat tangan kami.

Kemudian wajahku.

Kemudian panel lift.

Aku tidak melepas.

Aurelia justru menggenggam lebih erat.

Begitu staf itu keluar, dia berbisik, “Berani sekarang?”

“Katanya jangan lihat orang lain.”

Dia diam.

Aku menang lagi.

Pipinya semakin merah.

Menarik.


Setelah meeting, dia masuk ruanganku.

“Lunch?”

“Sudah pesan.”

Aku menunjukkan dua kotak makanan.

“Kamu pesan buat aku?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Manusia makan.”

Kalimatnya sendiri.

Dia tertawa.

Kotaknya tidak pedas.

“Historical data,” kataku.

“Stalker.”

Selesai makan, dia menyandarkan kepala ke bahuku.

Aku menutup laptop.

“Lima menit?”

“Hm.”

Aku memasang timer.

“Serius?”

“Accountability.”

Dia memukul perutku.

Aku menariknya ke pelukan.

Dia langsung diam.

“Raka.”

“Hm?”

“Ada orang bisa masuk.”

“Pintu tutup.”

“CCTV?”

“Enggak ada.”

Dia menatapku.

Aku tersenyum.

Aurelia menyembunyikan wajah di dadaku.

Akhirnya.

Timer berbunyi.

Aurelia tidak bergerak.

Aku mematikan.

“Fraud,” kataku.

“Technical issue.”

“Historical pattern.”

Dia mengangkat wajah.

“Tambah lima?”

Aku pura-pura berpikir.

“Denda.”

“Compliment?”

Aku menggeleng.

“Kiss.”

Sekarang dia yang membeku.

Aku tertawa.

“Wajah lo.”

“Monster.”

“Lo bikin.”

Akhirnya.


Sore itu kami pergi ke condo-nya.

Di mobil, tangannya ada di pahaku.

Lampu merah.

Aku mengambil tangannya dan mencium telapak tangannya.

Aurelia membeku.

“Kenapa?”

“Enggak.”

“Wajah lo merah.”

“Nyetir.”

“Lampu merah.”

Dia memukul lenganku.

Aku tertawa.

Tujuh tahun lalu dia membuatku seperti ini hampir setiap hari.

Keadilan akhirnya datang.

Lampu masih merah.

Aku mencium punggung tangannya kali ini.

“Raka.”

“Hm?”

“Hijau.”

Aku melihat depan.

Benar.

Mobil belakang klakson.

Aurelia tertawa sampai membungkuk.

Aku jalan sambil mengumpat pelan.

Kemenangan dibatalkan.

Keadilan akhirnya datang.


Di condo, Aurelia membuka lemari es.

“Dinner?”

“Gue masak.”

Dia menoleh.

“Kenapa?”

“Karena terakhir lo masak.”

“Pasta aku enak.”

“Edible.”

Dia melempar lap.

Aku memasak nasi goreng.

Ponsel Aurelia berbunyi.

Tasha video call.

Aurelia mengangkat.

Wajah Tasha muncul.

“Di mana?”

“Rumah.”

“Rumah siapa?”

Aurelia memutar kamera ke arahku.

Aku mengangkat spatula.

Tasha menjerit.

“Domestic!”

Aku menutup wajah.

“Tasha.”

“Raka masak?”

“Iya.”

“Lia, jangan lepas.”

Aku menunjuk layar.

“Gue dengar.”

“Bagus.”

Aurelia mematikan video sambil tertawa.

“Teman lo mengganggu.”

“Teman kita.”

Aku berhenti.

Aurelia juga sadar kalimatnya.

Teman kita.

Dua dunia yang dulu terpisah mulai bercampur tanpa dipaksa.

Aku kembali mengaduk nasi.

Aurelia duduk di counter sambil mengayunkan kaki.

“Raka.”

“Hm?”

“Kamu akhir-akhir ini agresif.”

Aku hampir menjatuhkan spatula.

“Bahasa lo.”

“Maksudku affection.”

“Oh.”

Dia tersenyum.

“Pikiranmu ke mana?”

Aku mematikan kompor.

Kemudian berdiri di antara kedua lututnya.

Senyumnya perlahan hilang.

“Lia.”

“Hm?”

“Lo yang ngajarin.”

Aku mencium keningnya.

Pipinya.

Lalu berhenti sebelum bibir.

Aurelia menatapku.

“Kenapa berhenti?”

“Manja rule?”

Dia langsung menarik kerahku dan menciumku.

Aku tertawa di dekat bibirnya.

“Masih gampang.”

“Apa?”

Aku mundur dan kembali ke kompor.

Aurelia turun dari counter.

Dia memelukku dari belakang.

“Jangan sombong.”

“Kenapa?”

“Masih ada banyak waktu.”

Kalimat itu sederhana.

Dulu kami selalu bicara seolah waktu tidak terbatas.

Lalu kehilangan tujuh tahun.

Sekarang mendengar banyak waktu terasa seperti harapan yang tidak ingin kusepelekan.

Aku menutup tangannya dengan tanganku.

“Bagus.”

“Apa?”

“Gue mau banyak.”

Dia diam sebentar.

Lalu memeluk lebih erat.

“Diam.”

“Dipancing.”

“Diam.”


Setelah makan, kami duduk di balkon.

Aurelia menyandarkan kepala.

Aku menggenggam tangannya.

“Foto sudah print?” tanyanya.

“Besok.”

“Jangan lupa.”

“Enggak.”

“Dompet juga ganti.”

“Belum rusak.”

“Pinggirnya sudah menyerah.”

“Masih fungsi.”

Aurelia menghela napas.

Aku tersenyum.

“Kalau ganti, foto ikut.”

Dia mengangkat kepala.

“Dua-duanya?”

“Dua-duanya.”

“Foto lama enggak bikin kamu stuck?”

Aku berpikir.

“Dulu mungkin.”

“Sekarang?”

“Sekarang cuma bagian cerita.”

Aurelia mengangguk.

“Bagus.”

Aku melihatnya.

“Foto baru juga belum ending.”

“Jelas.”

“Kenapa jelas?”

“Aku belum punya foto wedding.”

Aku tersedak air.

Aurelia tertawa sangat puas.

“Lia.”

“Aku cuma bilang belum.”

“Dua minggu pacaran.”

“Informasi kalender.”

Aku mengusap wajah.

Senyumnya lembut.

“Good.”

Kami diam.

Aku melihat kota.

Dulu gedung-gedung seperti ini terasa seperti ukuran manusia.

Sekarang hanya lampu.

“Apa yang kamu pikirin?” tanya Aurelia.

“Gue buang banyak waktu.”

Dia langsung duduk tegak.

“Jangan.”

“Apa?”

“Rule tujuh.”

Aku ingat note kami.

Tidak boleh menghukum versi sekarang untuk kesalahan versi dulu.

Aku mengangguk.

“Okay.”

“Sekarang?”

Aku melihatnya.

“Sekarang gue di sini.”

“Bagus.”

“Dan besok?”

Aurelia menatapku.

Aku tahu pertanyaan itu bukan benar-benar tentang jadwal.

“Besok juga.”

“Lusa?”

“Lia.”

Dia tersenyum.

“Due diligence.”

Aku mengusap ibu jarinya.

“Selama lo masih mau gue ada, gue akan bilang kalau ada sesuatu yang berubah. Bukan hilang.”

Wajahnya menjadi serius.

“Deal.”

“Sekarang gue di sini.”

“Bagus.”

Aku mencium keningnya.


Saat hendak pulang, Aurelia berdiri di pintu.

Biasanya dia yang meminta lima menit.

Kali ini aku yang tidak bergerak.

“Apa?” tanyanya.

Aku menariknya ke pelukan.

Aurelia tertawa kecil.

“Manja?”

“Hm.”

“Rule.”

“Gue tahu.”

Dia memeluk balik.

Lima menit.

Mungkin lebih.

Aku tidak menghitung.

Ketika akhirnya mundur, aku mencium bibirnya sekali.

“Good night.”

Aurelia menatapku dengan wajah puas.

“Progress.”

Aku tertawa.

Sekarang giliranku.

Bukan mengejar untuk menebus tujuh tahun.

Bukan membuktikan aku pantas.

Di lift pulang, aku melihat pantulan sendiri.

Aku memang berubah.

Bukan karena jas, mobil, atau jabatan.

Dulu setiap kali Aurelia mendekat, aku senang tetapi selalu ada bagian yang takut tidak bisa mempertahankan.

Sekarang aku mulai memahami mempertahankan bukan berarti menggenggam paling kuat.

Berarti hadir.

Bicara.

Memulai.

Meminta.

Dan membiarkan dia melakukan hal yang sama.

Hanya menunjukkan, sedikit demi sedikit, bahwa kali ini aku juga tahu cara mendekat.

Ponselku berbunyi sebelum sampai parkiran. Aurelia: Besok juga, kan? Aku membalas: Besok juga. Kali ini jawabannya tidak terasa seperti janji yang menakutkan. Hanya rencana.