Chapter Ten
Tembok
POV: Raka
Aku tidak berniat mendengar percakapan itu.
Kalau boleh memilih, sampai sekarang aku berharap tidak pernah mendengarnya.
Malam itu aku datang ke rumah Aurelia untuk mengembalikan tablet yang tertinggal di kosku.
Hanya itu.
Aku bahkan tidak berniat masuk.
Helena yang membuka pintu.
“Raka? Masuk dulu.”
“Saya cuma mau titip ini, Tante.”
“Lia masih di jalan. Sebentar lagi sampai.”
Aku ragu.
Helena sudah memanggil staf untuk membuat teh.
Akhirnya aku masuk.
Rumah itu tidak lagi terasa sebesar kunjungan pertama.
Aku sudah tahu toilet di mana.
Sudah tahu pintu menuju taman.
Sudah tahu sofa mana yang biasanya diduduki Aurelia sambil menyelipkan kaki di bawah tubuhnya.
Mungkin itu sebabnya aku berjalan ke arah ruang baca tanpa berpikir ketika mendengar suara Adrian.
Aku hendak menyapa.
Lalu mendengar namaku.
Aku berhenti sebelum belokan.
“Raka anak baik.”
Suara Adrian.
Vincent menjawab, “Saya enggak bilang dia jahat.”
“Cara kamu bicara ke dia kadang seperti itu.”
Ada jeda.
“Aku realistis, Dri.”
Aku seharusnya pergi.
Kakiku tidak bergerak.
Vincent melanjutkan, “Lia serius. Itu yang bikin saya khawatir.”
“Dia dua puluh satu.”
“Justru.”
Suara kursi bergeser.
“Apa kamu benar-benar lihat mereka sampai menikah?”
Sunyi beberapa detik.
Kemudian Adrian berkata, “Saya tidak tahu.”
Tiga kata.
Tidak kejam.
Tidak merendahkan.
Tetapi dadaku mengencang.
Vincent menghela napas.
“Lia dari lahir enggak pernah mikir biaya rumah sakit. Enggak pernah mikir cicilan rumah. Kalau mau sekolah ke luar negeri, tinggal pilih. Nanti punya anak, sekolahnya bagaimana? Lingkungannya? Security? Semua itu nyata.”
“Saya tahu.”
“Anak itu mungkin pintar. Mungkin lima tahun lagi sukses. Tapi sekarang?”
Aku menatap lantai.
Sekarang.
Kata itu terasa lebih tajam daripada seharusnya.
Adrian menjawab, “Saya tidak menilai dia dari uang.”
“Semua orang bilang begitu sampai konsekuensinya datang.”
Ada langkah.
Aku mundur sedikit agar tidak terlihat.
Kemudian suara Helena masuk.
“Kalian bicara seolah Lia enggak punya pekerjaan.”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
Adrian diam cukup lama.
Ketika ia bicara lagi, suaranya lebih rendah.
“Saya cuma tidak ingin Lia suatu hari harus memilih antara orang yang dia cintai dan kehidupan yang selama ini dia kenal.”
Aku menutup mata.
Vincent berkata, “Kalau Raka benar-benar sayang, dia juga harus memikirkan itu.”
Tidak ada yang bicara.
Aku seharusnya marah.
Mungkin akan lebih mudah kalau aku marah.
Kalau mereka mengatakan aku sampah.
Gold digger.
Tidak pantas.
Aku bisa membenci mereka.
Masalahnya, yang kudengar justru hal-hal yang sudah mulai kutanyakan sendiri.
Motor rusak.
Saldo menipis.
Ibu membutuhkan bantuan.
Apartemen yang uang mukanya terasa seperti angka dari planet lain.
Rumah kecil yang dibayangkan Aurelia.
Kalau suatu hari hidup sama kamu lebih susah, itu masalah aku juga.
Kalimatnya datang kembali.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak mendengarnya sebagai janji cinta.
Aku mendengarnya sebagai bukti bahwa dia memang siap kehilangan sesuatu demi aku.
Aku mundur sebelum ada yang melihat.
Di lorong, tanganku dingin.
Aku hampir sampai pintu ketika suara Helena memanggil.
“Raka?”
Aku berhenti.
Ia berdiri beberapa meter di belakang.
Wajahnya berubah.
Aku tahu dia langsung mengerti.
“Sejak kapan kamu di situ?”
Aku tersenyum.
“Baru, Tante.”
Bohong buruk.
Helena mendekat.
“Raka.”
“Saya cuma mau titip tablet Lia.”
Aku menyerahkannya.
Dia tidak mengambil langsung.
“Jangan ambil hati semua yang kamu dengar.”
Aku tertawa kecil.
“Berarti saya dengar lumayan banyak.”
Helena menutup mata sebentar.
“Saya minta maaf.”
“Enggak perlu.”
“Perlu.”
Aku memandang tablet di tanganku.
“Tante.”
“Hm?”
“Om Adrian benci saya?”
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat untuk diragukan.
“Vincent?”
Helena hampir tersenyum.
“Vincent mencurigai semua orang.”
Aku tertawa kecil.
Lalu pertanyaan sebenarnya keluar.
“Om Adrian pikir Lia akan susah kalau sama saya?”
Helena tidak langsung menjawab.
Itu sudah cukup.
Aku mengangguk.
“Raka, Lia sayang kamu.”
“Aku tahu.”
“Dan dia berhak menentukan hidupnya.”
Aku mengangkat mata.
Kalimat yang hampir sama dengan yang Aurelia katakan.
Entah kenapa, justru membuatku semakin berat.
Karena kalau Aurelia diberi pilihan, aku sudah tahu apa yang akan dia pilih.
Aku.
Pertanyaannya berubah.
Apakah aku sanggup menerima semua yang mungkin harus dia lepaskan untuk pilihan itu?
Sebelum keluar, aku melewati foto keluarga di lorong.
Aurelia masih remaja di sana, berdiri di antara Adrian dan Helena. Tersenyum lebar, aman di tengah dunia yang sudah disiapkan jauh sebelum dia lahir.
Aku berhenti terlalu lama.
Bukan iri.
Aku hanya tiba-tiba takut menjadi orang yang meminta dia meninggalkan semua keamanan itu tanpa bisa menjanjikan pengganti apa pun.
Aku tidak menunggu Aurelia pulang.
Di luar kompleks, aku berhenti di tempat yang dulu sering kugunakan menunggu dia.
Dari sana salah satu gedung milik Wijaya Group terlihat di kejauhan.
Lampunya memenuhi langit malam.
Aku pernah melewatinya tanpa memikirkan apa-apa.
Malam itu gedung itu terlihat seperti ukuran.
Bukan kekayaan.
Jarak.
Ponselku bergetar.
Lia calling.
Aku membiarkannya dua kali.
Panggilan ketiga kujawab.
“Halo.”
“Kamu di mana?”
“Jalan pulang.”
“Mama bilang kamu tadi ke rumah.”
“Iya.”
“Kenapa enggak tunggu?”
“Besok kerja.”
Dia diam.
“Raka.”
“Hm?”
“Kamu kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Jangan.”
Satu kata itu membuatku menutup mata.
Aku mendengar suara mobil di sisinya.
“Kamu dengar sesuatu?”
Aku tidak menjawab.
“Raka.”
“Besok kita ketemu.”
“Sekarang.”
“Lia.”
“Sekarang.”
Aku tahu nada itu.
Tidak ada gunanya menolak.
Aku mengirim lokasi.
Dua puluh menit kemudian mobil Aurelia berhenti.
Dia turun sebelum driver sempat membukakan pintu.
“Apa yang kamu dengar?”
Tidak ada salam.
Aku bersandar pada motor.
“Cukup.”
Wajahnya langsung memerah karena marah.
“Aku akan bicara sama Papa.”
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Karena dia enggak salah.”
Aurelia menatapku tidak percaya.
“Raka.”
“Dia khawatir.”
“Bukan urusan dia menentukan—”
“Aku tahu.”
“Enggak, kamu enggak tahu. Kalau tahu, kamu enggak akan pasang wajah begini.”
Aku tertawa pendek.
“Wajah gimana?”
“Kayak kamu sudah memutuskan sesuatu tanpa aku.”
Kalimat itu menghantam terlalu tepat.
Aku mengalihkan pandangan.
Aurelia mendekat.
“Aku enggak peduli.”
“Aku tahu.”
“Kalau harus tinggal di apartemen kecil, aku enggak peduli.”
Aku menggertakkan rahang.
“Lia.”
“Kalau harus kerja, aku memang akan kerja.”
“Lia.”
“Kalau enggak punya driver, aku bisa naik motor kamu.”
“Berhenti.”
Dia berhenti.
Aku tidak pernah bicara kepadanya dengan nada itu.
Wajahnya berubah.
Aku menyesal seketika.
“Aku bukan minta kamu membuktikan bisa hidup susah.”
“Aku juga enggak sedang membuktikan.”
“Terus?”
“Aku sedang bilang aku pilih kamu.”
Itulah masalahnya.
Aku memandang perempuan di depanku.
Cantik. Marah. Yakin.
Siap memilihku.
Dan sesuatu di dalam diriku goyah.
Aku ingin menariknya ke pelukan.
Mengatakan persetan dengan semuanya.
Kami akan cari cara.
Tetapi suara Adrian kembali datang.
Saya cuma tidak ingin Lia suatu hari harus memilih.
Aurelia sudah memilih.
Aku tiba-tiba tidak yakin aku punya hak menerima harga pilihannya.
“Aku butuh waktu,” kataku.
Matanya langsung berubah.
“Buat apa?”
“Pikir.”
“Kita pikir bareng.”
Aku menggeleng.
“Raka.”
“Besok.”
Dia menatapku lama.
Kemudian mengangguk pelan.
“Besok.”
Dia maju dan memelukku.
Aku memeluk balik.
Erat.
Terlalu erat.
Seolah tubuhku sudah tahu sesuatu yang kepalaku belum berani akui.
Di atas bahunya, aku melihat gedung itu lagi.
Tembok yang selama ini kupikir hanya ada di kepala orang lain.
Malam itu, untuk pertama kalinya, tembok itu berdiri di dalam kepalaku sendiri.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok reading
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk