Chapter Thirty Eight
Kursi di Ujung Meja
POV: Raka
Makan malam di rumah Wijaya dimulai jam tujuh.
Aku tiba jam enam lima puluh dua.
Aurelia menunggu di tangga depan.
Pemandangan itu membuatku berhenti beberapa detik.
Tujuh tahun lalu, aku pernah datang ke rumah ini dengan kemeja nomor satu dari tiga dan rasa takut salah memilih garpu.
Sekarang Aurelia turun menghampiriku.
“Kamu datang.”
“Katanya jam tujuh.”
Dia tersenyum.
“Dan pakai kemeja yang bagus.”
Aku melihat kemeja hitamku.
“Sekarang punya lebih dari empat.”
“Progress.”
Tangannya merapikan kerahku.
Gerakan lama.
Kali ini aku menangkap pinggangnya dan menarik sedikit mendekat.
Aurelia langsung melihat pintu rumah.
Aku tertawa.
“Sekarang siapa yang lihat orang?”
“Papa.”
“Takut?”
“Sedikit.”
“Bagus.”
Aku mencium keningnya.
“Masuk.”
Helena memelukku.
Benar-benar memeluk.
“Raka.”
“Tante.”
“Kamu kurusan.”
Aku tertawa.
“Kenapa semua ibu bilang begitu?”
“Karena benar.”
Adrian menunggu di ruang keluarga.
Vincent juga ada.
Kevin duduk dekat jendela.
Susunan orangnya hampir seperti malam pertama.
Hanya kami semua lebih tua.
Dan meja makan itu tidak lagi terlihat seperti ruang ujian.
Aku duduk di kursi yang disiapkan.
Bukan ujung.
Di sebelah Adrian.
Aku hampir tertawa melihat ironi tersebut.
Di depan piring ada tiga jenis garpu.
Aku melihat Aurelia.
Dia langsung tahu.
“Jangan.”
“Apa?”
“Jangan bilang.”
Aku mengambil garpu paling luar dengan sengaja.
“Gue sudah upgrade.”
Aurelia menahan tawa.
Adrian melihat kami.
“Ada apa?”
“Enggak ada, Pa.”
Tujuh tahun lalu Aurelia diam-diam menggeser garpu yang benar kepadaku.
Malam ini kami bisa menertawakan memori itu.
Makan malam dimulai normal.
Helena bertanya tentang Ratih.
Kevin membahas pilot.
Aurelia beberapa kali menyentuh lututku di bawah meja.
Bukan untuk menenangkan.
Hanya karena dia bisa.
Setelah dessert, Adrian berkata, “Raka, nanti bicara sebentar.”
Aku mengangguk.
Aurelia menatapku.
Aku meremas tangannya satu kali.
Aman.
Di ruang baca, Adrian menuangkan teh.
Aku duduk.
Tujuh tahun lalu aku berdiri di lorong luar ruangan ini dan mendengar hidupku dibicarakan.
Sekarang pintunya terbuka.
Adrian duduk di seberang.
“Saya minta maaf.”
Tidak ada pembukaan.
Aku diam.
“Bukan karena saya khawatir waktu itu.”
Ia menatapku.
“Sebagai ayah, saya mungkin tetap akan khawatir kalau waktunya diulang.”
Aku mengangguk.
“Tapi saya salah karena membiarkan kekhawatiran itu membuat kamu merasa harus membuktikan nilai diri.”
Dadaku mengencang.
Adrian melanjutkan.
“Saya juga salah karena tidak bicara langsung.”
Aku menatap cangkir.
Tujuh tahun lalu, kalimat ini mungkin akan mengubah hidupku.
Sekarang rasanya berbeda.
Tetap penting.
Tapi tidak menyelamatkan.
Karena aku sudah belajar menyelamatkan diriku sendiri.
“Om,” kataku, “saya juga salah.”
Adrian menggeleng.
“Kamu dua puluh dua.”
“Saya tetap ambil keputusan sendiri.”
“Dan saya orang dewasa yang seharusnya tahu kata-kata punya berat.”
Sunyi.
Aku tersenyum tipis.
“Kalau saya bilang saya sudah enggak marah, itu bohong.”
Adrian mengangguk.
“Wajar.”
“Tapi saya juga enggak mau marah terus.”
“Bagus.”
Aku tertawa kecil.
“Om masih suka kasih jawaban pendek.”
“Umur.”
Aku tertawa lebih keras.
Ketegangan pecah.
Sebelum keluar, Adrian berkata, “Ada satu hal.”
“Hm?”
“Dulu Vincent bilang kalau kamu sayang Lia, kamu harus memikirkan apakah dia akan kehilangan sesuatu.”
Aku diam.
“Saya sekarang pikir kami bertanya ke orang yang salah.”
Aku mengerutkan kening.
“Seharusnya kami bertanya ke Lia apa yang dia mau.”
Kalimat itu datang terlambat tujuh tahun.
Tetapi untuk pertama kalinya, terlambat tidak berarti tidak berguna.
“Dia akan jawab keras,” kataku.
Adrian hampir tersenyum.
“Saya tahu.”
Vincent menungguku di teras belakang.
Tentu.
“Raka.”
“Om.”
Ia memasukkan tangan ke saku.
“Saya juga harus minta maaf.”
Aku tidak menyelamatkannya dari rasa canggung.
Biar.
Sedikit revenge manusiawi.
Vincent menghela napas.
“Dulu saya menganggap hidup seperti spreadsheet. Background, network, aset. Saya pikir saya realistis.”
Aku menatapnya.
“Om memang realistis.”
Ia tertawa pendek.
“Dengan data yang tidak lengkap.”
Bagus.
Aku suka kalimat itu.
“Saya merendahkan kamu.”
Langsung.
Tidak ada “kalau kamu merasa”.
Tidak ada alasan.
“Saya minta maaf.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih.”
Vincent mengangguk, lalu menatap taman.
“Saya pernah bilang akses itu penting.”
“Iya.”
“Sekarang saya minta akses ke Nara.”
Aku menoleh.
Ia tersenyum pahit.
“Ironis.”
“Sedikit.”
“Saya pantas dapat itu.”
Aku tertawa kecil.
“Om, saya enggak akan pura-pura enggak menikmati ironinya.”
“Bagus.”
“Tapi keputusan Nara tetap keputusan bisnis.”
“Saya tahu.”
Vincent terdiam sebentar.
“Dan proposal rollout kemarin…”
“Sudah selesai.”
“Saya juga salah.”
Aku mengangguk.
“Yang itu Maya lebih marah daripada saya.”
Vincent tertawa.
“Dia menakutkan.”
“Betul.”
Untuk pertama kalinya kami bicara bukan sebagai paman pacarku dan anak yang dinilai.
Hanya dua profesional yang pernah saling salah membaca.
Itu penting.
Aku tidak memaafkan dengan cara menghapus konsekuensi.
Aku hanya berhenti menjadikan konsekuensi sebagai hukuman.
“Terima kasih.”
“Hanya itu?”
Aku hampir tertawa.
“Om berharap saya pidato?”
Vincent ikut tertawa.
“Tidak.”
Aku memandang taman.
“Dulu saya pengin suatu hari Om tahu saya sukses.”
“Saya tahu sekarang.”
“Iya.”
Aku menoleh.
“Anehnya, sekarang enggak terlalu penting.”
Vincent diam.
Itulah revenge yang sebenarnya.
Bukan membuatnya merasa kecil.
Membuat penilaiannya tidak lagi punya kuasa atas caraku melihat diri sendiri.
Saat pulang, Aurelia menunggu di tangga.
“Gimana?”
Aku turun satu anak tangga dan berdiri di depannya.
“Papa minta maaf.”
Matanya langsung basah.
“Om Vincent juga.”
“Terus?”
“Gue terima.”
Aurelia memelukku.
Aku memeluk balik.
Di belakangnya, rumah besar itu masih sama.
Terlalu banyak pintu.
Tapi tidak lagi terasa seperti tembok.
Aku mencium rambutnya.
“Pulang yuk.”
Aurelia membeku.
Aku juga sadar.
Dua kata itu.
Dulu dia mengucapkannya saat memilih pergi dari ballroom bersamaku.
Sekarang aku yang mengucapkan.
Dia mengangkat wajah.
“Pulang ke mana?”
Aku tersenyum.
“Rumah.”
Aurelia menatapku lama.
“Condo aku atau apartemen kamu?”
“Lapar?”
“Sedikit.”
“Ibu kasih makanan?”
“Tante Helena kasih dessert.”
Aku tertawa.
“Berarti apartemen gue.”
“Kenapa?”
“Skincare lo ada di sana.”
Senyumnya muncul perlahan.
“Phase 2 berguna.”
“Jangan mulai Phase 3 malam ini.”
“Sudah.”
Aku berhenti.
“Apa?”
“Baju.”
“Berapa?”
Aurelia berjalan menuju mobil.
“Rahasia.”
“Lia.”
Dia tertawa.
Untuk pertama kalinya, kata itu tidak menunjuk bangunan tertentu.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja reading
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk