Chapter Nineteen
Makan Siang yang Bukan Meeting
POV: Aurelia
Aku datang jam dua belas lima puluh tiga.
Tujuh menit lebih awal.
Raka sudah duduk di restoran.
Tentu saja.
Dia sedang membaca sesuatu di tablet ketika aku mendekat. Kemeja hitam, lengan digulung sampai siku, jam sederhana di pergelangan tangan.
Kemeja hitam.
Aku berhenti sepersekian detik.
Bukan yang dulu. Jelas bukan.
Tetapi tubuhku tetap mengingat sebuah toko pakaian, satu kancing yang kubuka, dan Raka dua puluh dua tahun yang langsung menangkap pergelangan tanganku.
“Kenapa berdiri?”
Aku tersadar.
“Enggak ada.”
Aku duduk.
Raka melihat jam.
“Early.”
“Aku bisa tepat waktu.”
“Historical data disagrees.”
Aku menyipitkan mata.
“Tujuh tahun dan kamu masih nyebelin.”
“Consistency.”
Pelayan datang.
Aku belum membuka menu ketika Raka berkata, “Satu latte, satu americano. Air putih dua.”
Aku menatapnya.
Dia berhenti.
“Sorry. Kebiasaan.”
“Enggak.”
“Apa?”
“Lanjut.”
Aku menutup menu.
“Pesanin.”
Alisnya naik.
“Kamu yakin?”
“Tes.”
Dia melihat menu beberapa detik.
“Grilled chicken. Dressing dipisah. Kentangnya jangan terlalu asin.”
Aku menahan senyum.
“Masih ingat.”
“Sayangnya.”
Kalimat lama.
Aku langsung tertawa.
Raka juga sadar.
Sudut bibirnya naik.
Untuk beberapa detik rasanya seperti kami baru bertemu empat hari lalu, bukan tujuh tahun.
“Ada agenda?” tanyanya setelah makanan datang.
“Enggak.”
“Jadi ini bukan meeting.”
“Sudah kubilang.”
“Terus?”
“Makan siang.”
“Kenapa?”
Aku meletakkan garpu.
“Karena manusia makan.”
“Lia.”
Aku meletakkan siku di meja.
“Fine. Aku juga pengin tahu satu hal.”
“Apa?”
“Kamu bahagia?”
Raka tidak langsung menjawab.
Pertanyaanku terlalu besar untuk makan siang pertama.
Aku hampir menariknya.
“Secara umum,” tambahku.
Dia berpikir.
“Iya.”
Aku mengangguk.
Jawaban itu seharusnya menyakitkan—dia bisa bahagia tanpa aku.
Anehnya, justru melegakan.
“Bagus.”
“Kok kayak interview exit?”
“Karena kalau jawabannya enggak, aku akan merasa bersalah.”
“Jangan.”
“Aku tahu.”
Raka memandangku.
“Lo?”
Aku tersenyum tipis.
“Sebagian besar.”
“Sebagian kecil?”
Aku memainkan garpu.
“Masih suka muncul kalau ketemu mantan brengsek.”
Dia menahan tawa.
“Fair.”
“Lia.”
Aku tersenyum.
“Aku mau kenal kamu lagi.”
Dia menatap piring.
“Gue masih orang yang sama.”
“Bohong.”
“Kenapa?”
“Dulu kamu enggak bisa bikin satu lantai engineer diam cuma dengan masuk ruangan.”
“Sekarang juga enggak.”
“Aku lihat sendiri.”
“Itu karena meeting mulai.”
“Denial.”
Raka menghela napas.
Aku mulai bertanya.
“Rumah?”
“Apartemen.”
“Sendiri?”
“Iya.”
“Masak?”
“Kadang.”
“Pacar?”
Tangannya berhenti.
Aku mengambil air seolah pertanyaan itu biasa.
“Enggak.”
“Dalam tujuh tahun?”
“Pernah dekat.”
Dadaku mengencang.
Aku benci reaksi itu.
“Berapa?”
Raka menatapku.
“Apa ini due diligence?”
“Jawab.”
“Dua.”
Sial.
“Serius?”
“Satu lumayan.”
Aku mengunyah terlalu keras.
Raka melihat.
“Apa?”
“Enggak ada.”
“Jealous?”
Aku hampir tersedak.
Dia tersenyum kecil.
Ini baru.
Raka lama akan menghindari pertanyaan seperti itu.
Raka sekarang sengaja menunggu jawabanku.
“Enggak.”
“Alis kiri.”
“Aku enggak punya aturan alis.”
“Sekarang punya.”
Aku menendang kakinya di bawah meja.
Dia tertawa.
“Kenapa enggak jadi?”
Aku bertanya lebih pelan.
“Yang mana?”
“Yang serius.”
Raka berpikir.
“Namanya Clara.”
Aku langsung menyesal bertanya.
“Kerja di?”
“Product.”
“Tentu.”
“Apa maksudnya tentu?”
“Kalian pasti flirting lewat Jira.”
Raka tertawa.
“Enggak.”
“GitHub?”
“Lia.”
Aku tersenyum tipis.
“Dia tahu soal aku?”
“Sedikit.”
Aku berhenti.
“Gue bilang pernah punya hubungan yang belum selesai dengan baik.”
“Terus dia tetap mau?”
“Dia orang dewasa.”
“Ouch.”
“Bukan maksud—”
“Aku bercanda.”
Sedikit.
“Yang serius.”
Raka berpikir.
“Karena gue enggak benar-benar hadir.”
Jawaban itu menghapus kecemburuan.
Aku menatapnya.
“Karena aku?”
“Sebagian.”
Jujur.
Tidak romantis.
Justru itu membuatnya terasa lebih berat.
“Aku minta maaf.”
“Bukan salah lo.”
“Aku tahu. Tapi tetap sedih.”
Raka memandangku.
“Dia baik?”
“Siapa?”
“Yang hampir.”
Aku hampir tertawa karena dia berusaha terdengar netral.
“Baik.”
“Terus?”
“Raka.”
“Apa?”
“Jealous?”
Dia mengambil air.
“Due diligence.”
Aku tertawa keras.
“Sedikit,” katanya akhirnya.
Aku berhenti.
Raka tidak melihatku.
Pengakuan kecil itu jauh lebih efektif daripada semua flirting-ku minggu ini.
“Bagus,” kataku.
Dia menatap.
“Kenapa bagus?”
“Berarti aku enggak sendirian yang masih bodoh.”
Sudut bibirnya naik.
“Kalau kamu masih—”
“Lia.”
Nada suaranya menghentikanku.
“Gue yang milih hidup begitu.”
Aku mengangguk.
Rule kedua.
Kalau tidak nyaman, berhenti.
Aku berhenti.
Setelah makan, kami berjalan ke luar.
Mobilku belum datang.
Raka berdiri di sampingku.
“Sekarang giliran gue.”
“Apa?”
“Due diligence.”
Aku tertawa.
“Silakan.”
“Rumah?”
“Condo.”
“Sendiri?”
“Iya.”
“Masak?”
“Bisa.”
“Bohong.”
“Aku bisa bikin telur.”
“Itu survival.”
“Pacar?”
Aku menatapnya.
Raka memasukkan tangan ke saku.
Berusaha terlihat santai.
Lucu.
“Dua.”
Rahangnya bergerak sedikit.
Aku hampir tersenyum.
“Serius?”
“Satu hampir.”
Dia melihatku.
“Hampir apa?”
“Katanya due diligence, bukan interogasi.”
“Lia.”
Aku menikmati ini terlalu banyak.
“Hampir dikenalin keluarga sebagai calon.”
Wajahnya tetap tenang.
Alis kanan turun.
Aku menang.
“Enggak jadi,” tambahku.
“Kenapa?”
“Karena aku enggak cinta.”
Tatapan kami bertemu.
Suara jalan terasa menjauh.
Aku tidak menambahkan apa pun.
Tidak perlu.
Mobil datang.
Sebelum masuk, aku berkata, “Besok?”
Raka menghela napas.
“Kita baru selesai.”
“Besok kan hari baru.”
“Gue kerja.”
“Aku juga.”
“Terus?”
“Kopi.”
Dia menatapku lama.
“Jam empat.”
Aku tersenyum.
Sebelum mobil datang, kami masih punya dua menit.
Aku menunjuk jam tangannya.
“Baru?”
“Sudah tiga tahun.”
“Bagus.”
“Kenapa?”
“Yang dulu aku kasih jelek.”
Raka tertawa kecil.
“Enggak jelek.”
“Mana?”
“Rusak.”
“Dibuang?”
Dia diam sepersekian detik.
“Disimpan.”
Aku menatapnya.
Raka terlihat menyesal sudah menjawab.
Aku memilih tidak mengejar.
Hari ini sudah cukup.
“Jam empat.”
Aku tersenyum.
“Good boy.”
Aku membayar bagian makananku sebelum dia sempat mengambil bill.
Raka melihat receipt.
“Split?”
“Independent woman.”
“Dulu lo rebutan bayar.”
“Dulu kamu juga stres kalau aku bayar.”
“Sekarang?”
“Aku masih bisa bikin kamu stres dengan cara lain.”
Raka mendekat setengah langkah.
Aku otomatis diam.
“Lia.”
“Hm?”
“Jangan terlalu senang.”
Nada suaranya rendah.
“Kenapa?”
“Gue sudah bilang. Kalau lo main begini, suatu hari gue balas.”
Aku masuk mobil sebelum wajahku mengkhianati.
Begitu pintu tertutup, aku mengipas wajah dengan tangan.
Driver melihat lewat kaca spion.
Aku pura-pura sibuk dengan ponsel.
Pesan dari Raka masuk.
Jam empat. Jangan telat.
Aku tersenyum.
Aku membuka chat Tasha.
Lunch done.
Result?
Aku mengetik:
Dia jealous.
PROOF.
Alis kanan.
Tasha membalas:
Scientific.
Aku tertawa.
Lalu berhenti ketika sadar aku sedang bahagia karena hal sangat kecil.
Mungkin pengejaran ini tidak sehat kalau tujuannya sekadar membuat Raka cemburu.
Bukan itu.
Aku ingin dia memilih mendekat tanpa didorong rasa bersalah atau kompetisi.
Hari ini, setidaknya, dia memilih makan bersamaku.
Dan aku mendapat sesuatu yang tidak kudapat tujuh tahun lalu: kesempatan bertanya, mendengar jawaban yang mungkin tidak kusukai, lalu tetap duduk di sana.
Tidak ada yang pergi.
Ternyata kedewasaan kadang sesederhana itu.
Pursuit hari pertama.
Sejauh ini, korbannya mulai melawan.
Malamnya, pesan Raka masuk lebih dulu.
Besok kopi jadi.
Bukan pertanyaan.
Aku membalas:
Takut aku lupa?
Historical data.
Aku tertawa.
Jam empat. Aku akan early.
Impossible.
Aku meletakkan ponsel sambil tersenyum.
Pengejaran ternyata bukan selalu berlari.
Kadang cukup membuat seseorang mulai menunggumu datang.
Aku mematikan lampu kamar.
Besok hanya kopi.
Bukan deklarasi.
Bukan keputusan hidup.
Aku suka ritme ini.
Untuk pertama kalinya dengan Raka, kami tidak sedang berlari menuju sesuatu atau menjauh darinya.
Kami hanya punya besok.
Dan untuk seseorang yang pernah kehilangan tujuh tahun, punya besok ternyata terasa mewah.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting reading
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk