← Tujuh Tahun untuk Kembali

Chapter Twenty Two

Kamu Kurusan

POV: Aurelia

Aku tidak merencanakan bertemu Bu Ratih hari itu.

Kalau tahu, mungkin aku akan kabur.

Raka mengajakku makan setelah kunjungan warehouse.

“Tempat Ibu.”

Aku berhenti memasang seat belt.

“Apa?”

“Kalau enggak mau—”

“Mau.”

Jawabanku terlalu cepat.

Raka menatapku.

Aku memperbaiki nada.

“Maksudku… boleh.”

Dia mengangguk.

Sepanjang perjalanan tanganku dingin.

Aku pernah menghadapi board meeting dengan puluhan orang.

Pernah mempresentasikan restrukturisasi di depan Papa dan komisaris.

Tidak ada yang membuatku setakut kemungkinan satu perempuan sederhana membenciku.

“Raka.”

“Hm?”

“Ibu kamu tahu?”

“Gue bilang bawa tamu.”

“Tamu?”

“Kalau bilang nama lo, dia masak terlalu banyak.”

Aku menatap jendela.

“Dia benci aku?”

Raka langsung menjawab.

“Enggak.”

“Kamu tahu?”

“Ibu tahu gue yang pergi.”

Aku menelan ludah.

“Dia marah sama kamu?”

“Lumayan.”

“Seberapa?”

“Dua minggu enggak mau angkat telepon.”

Aku menatapnya.

“Bagus.”

“Lia.”

“Kurang lama.”

“Dia juga kirim makanan tiap tiga hari.”

Aku tertawa.

“Bu Ratih banget.”

Raka tersenyum.

“Dia bilang kalau gue mau jadi idiot, minimal jangan kelaparan.”

Dadaku hangat sekaligus sakit.

“Lumayan.”

“Bagus.”

Raka tertawa.


Rumahnya masih di tempat yang sama.

Lebih rapi. Sudah direnovasi.

Tapi terasnya sama.

Aku berdiri di depan pintu dengan jantung tidak masuk akal.

Bu Ratih membuka.

Dia melihat Raka.

Lalu aku.

Tidak ada yang bicara.

Aku membuka mulut.

“Bu—”

Bu Ratih memegang kedua lenganku.

Matanya bergerak dari wajah ke tubuhku.

Kemudian berkata:

“Kamu kurusan.”

Selesai.

Aku menangis.

Benar-benar menangis seperti idiot.

Bu Ratih langsung panik.

“Lho? Lia?”

Aku memeluknya.

Dia memeluk balik.

Di belakang, Raka diam.

Aku tidak peduli.

“Maaf,” kataku.

“Buat apa?”

“Aku enggak tahu.”

“Ya jangan minta maaf kalau enggak tahu.”

Aku tertawa di tengah tangis.

Sama.

Dia masih sama.

Bu Ratih menarikku masuk.

“Sudah. Makan.”

Aku melihat Raka.

Matanya sedikit merah.

Dia cepat-cepat mengambil tas dari tanganku.

Pengecut.


Makan malam terasa seperti tujuh tahun tidak pernah terjadi dan sekaligus terasa di setiap jeda.

Bu Ratih bertanya pekerjaanku.

Aku bercerita.

Dia bangga seolah aku masih pacar anaknya.

“Raka sekarang juga kerjanya kebanyakan.”

“Bu.”

“Apa? Benar.”

Aku mengangguk serius.

“Saya sudah lihat.”

Raka menunjuk kami.

“Jangan bikin aliansi.”

“Terlambat,” kataku.

Bu Ratih tertawa.

Setelah makan, aku otomatis membantu membawa piring.

Raka berdiri di pintu dapur.

Aku mengambil lap.

Dia menatap.

“Apa?”

“Enggak.”

“Kenapa lihat?”

“Déjà vu.”

Aku juga merasakannya.

Dapur yang sama.

Hanya meja lebih baru.

Aku menyentuh permukaan kabinet.

“Masih katering?”

“Sedikit,” jawab Bu Ratih. “Kalau bosan.”

“Dulu saya salah tempel label.”

“Masih ingat?”

“Raka kena label nasi box.”

Bu Ratih tertawa keras.

Raka menutup mata.

“Aku pulang.”

Aku dan Bu Ratih menjawab bersamaan.

“Enggak boleh.”

Kami saling lihat lalu tertawa.

Bu Ratih menunjukku dengan lap.

“Lia, dulu kamu paling suka semur, kan?”

“Iya.”

“Besok saya bikin.”

“Bu, saya bisa datang besok.”

Raka langsung menyela, “Jangan kasih ide.”

Aku menatapnya.

“Kenapa? Takut aku pindah?”

“Ke rumah Ibu?”

“Bisa.”

Bu Ratih mengangguk. “Kamarnya ada.”

Raka menatap langit-langit seperti meminta kesabaran.

Kami saling lihat lalu tertawa.

Raka terlihat kalah total.

Aku bahagia.

Setelah makan, Bu Ratih tiba-tiba menyentuh pipiku.

“Dulu kamu lebih berisi.”

“Bu.”

“Apa?”

Aku tertawa.

Raka membela, “Dia memang suka lupa makan kalau kerja.”

Aku menoleh.

“Stalker.”

“Public information.”

Bu Ratih melihat kami bergantian dan tersenyum dengan cara yang membuat kami sama-sama diam.

Aku bahagia.

Bu Ratih mengeluarkan album lama dari lemari.

“Bu,” protes Raka.

“Apa?”

Ada foto Raka waktu wisuda.

Foto pertama kantor Nara.

Foto ketika dia menerima penghargaan.

Aku membalik halaman pelan.

Tujuh tahun hidup seseorang bisa muat dalam belasan lembar dan tetap terasa seperti jurang.

“Ini waktu kantor pertama,” kata Bu Ratih.

Raka berdiri di depan ruko bersama Dion dan Maya.

Kemeja hitam lagi.

Aku menyentuh tepi foto.

Raka melihatku.

Kami tidak berkata apa-apa.

Dan justru karena itu dadaku sakit.

Aku kehilangan tujuh tahun dari rumah ini juga.


Saat Bu Ratih ke kamar, aku dan Raka duduk di teras.

Tempat yang sama.

“Gue bilang dia enggak benci.”

“Aku tahu sekarang.”

“Kok nangis?”

Aku memukul lengannya.

“Diam.”

Dia tertawa kecil.

Aku menyandarkan kepala ke bahunya tanpa berpikir.

Baru setelah melakukannya aku sadar.

Tubuh Raka menegang.

Aku hampir menjauh.

Kemudian dia rileks.

Tidak memeluk.

Tidak juga menolak.

Kami duduk begitu.

“Lia.”

“Hm?”

“Thanks sudah datang.”

Aku menutup mata.

“Thanks sudah ngajak.”

Aku memainkan ujung lengan baju.

“Waktu kamu pergi, aku sempat mau datang ke Bu Ratih.”

Raka menoleh.

“Kenapa enggak?”

“Takut.”

“Lo?”

“Aku juga bisa takut.”

“News.”

Aku menyikutnya.

“Takut beliau lihat aku dan aku makin enggak bisa move on.”

Raka diam.

“Aku menyesal enggak datang.”

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Ibu enggak pergi ke mana-mana.”

Aku melihat pintu rumah.

Kalimat sederhana.

Kesempatan kedua yang lain.

Bu Ratih muncul di pintu membawa wadah makanan.

“Lia, buat sarapan.”

Aku mengangkat kepala.

Tujuh tahun lalu dia melakukan hal yang sama.

Aku menerima dengan dua tangan.

“Terima kasih, Bu.”

Bu Ratih menahan tanganku.

“Lia.”

“Iya?”

“Dulu saya marah sama Raka.”

Aku diam.

“Bukan karena dia putus. Orang bisa putus.”

Matanya melihat anaknya di dalam rumah.

“Karena dia pikir menanggung sakit sendirian itu sama dengan jadi kuat.”

Dadaku mengencang.

“Kalau sekarang dia mulai begitu lagi…”

Bu Ratih tersenyum.

“Marahin.”

Aku tertawa kecil.

“Dengan senang hati.”

“Bagus.”

Di mobil, aku memeluk wadah itu di dada.

Raka melihat.

“Jangan habisin malam ini.”

Aku menatapnya.

Kalimat yang sama.

Aku tertawa sampai air mata keluar lagi.

“Kenapa?”

Aku menggeleng.

“Enggak ada.”

Untuk pertama kalinya sejak Raka kembali, aku tidak hanya merasa sedang mengejar masa depan.

Aku menatap wadah semur.

Tujuh tahun lalu aku pernah membawa wadah yang sama dari rumah ini dan bercanda tentang masa tua.

Sekarang aku mendapat kesempatan baru, bukan untuk mengulang masa itu, tetapi untuk melihat apa yang masih bisa tumbuh setelahnya.

Aku seperti menemukan satu bagian rumah yang kukira sudah hilang.

Sebelum mobil bergerak, Bu Ratih mengetuk kaca.

Aku menurunkannya.

“Lia.”

“Iya, Bu?”

“Datang lagi. Enggak harus sama Raka.”

Aku tertawa sambil menahan air mata baru.

“Siap.”

Raka di kursi pengemudi menghela napas.

“Ini rumah gue.”

Bu Ratih menatapnya.

“Terus?”

Aku tertawa lebih keras.

Raka menyalakan mobil.

Aku memandang profilnya.

“Raka.”

“Hm?”

“Ini bukan date, kan?”

Aku sebenarnya tahu jawabannya.

Belum.

Tapi aku ingin melihat reaksinya.

Dia hampir tersedak.

“Apa?”

“Aku cuma klarifikasi.”

“Kenapa?”

“Due diligence.”

Dia menatapku, lalu tertawa.

“Pulang, Lia.”

Aku tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, ada undangan yang tidak terasa seperti ujian.

Aku menatap wadah semur.

Tujuh tahun lalu aku pernah membawa wadah yang sama dari rumah ini dan bercanda tentang masa tua.

Sekarang aku mendapat kesempatan baru, bukan untuk mengulang masa itu, tetapi untuk melihat apa yang masih bisa tumbuh setelahnya.

Aku seperti menemukan satu bagian rumah yang kukira sudah hilang.

Dan kali ini, pintunya benar-benar terbuka.

Di rumah, aku memasukkan semur Bu Ratih ke kulkas dengan hati-hati. Wadah sederhana itu terasa lebih berharga daripada banyak hadiah mahal yang pernah kuterima.

Aku tersenyum sepanjang perjalanan. Untuk sekali ini.