Chapter Three
Dunia yang Muat untuk Berdua
POV: Aurelia
Kos Raka panas.
Bukan panas biasa. Panas yang membuatku mempertanyakan kenapa manusia menemukan komputer lebih dulu daripada pendingin ruangan murah.
Aku berbaring di karpet tipis sambil mengipasi wajah dengan printout tugasnya.
“Jangan pakai itu.”
Aku menoleh ke meja.
“Kenapa?”
“Itu revisi.”
“Bagus. Jadi punya fungsi.”
“Fungsinya dibaca.”
“Sekarang fungsinya menyelamatkan pacarmu dari kematian.”
“Kipas ada.”
“Mati.”
“Colokannya longgar.”
“Terus kenapa belum dibenerin?”
Raka berhenti mengetik, berdiri, lalu menendang bagian bawah colokan sekali.
Kipas menyala.
Aku menatapnya.
“Serius?”
“Serius.”
“Kamu tahu dari tadi?”
“Iya.”
“Kenapa baru sekarang?”
“Kamu enggak bilang.”
Aku melempar bantal kecil ke arahnya.
Dia menangkapnya tanpa melihat.
Menyebalkan.
Aku datang membawa dua gelas kopi, roti, dan niat mengganggu Raka menyelesaikan pekerjaan freelance. Menurutnya, bagian terakhir berjalan sangat sukses.
“Kamu dibayar berapa buat kerjaan itu?” tanyaku.
“Lumayan.”
“Jawaban orang yang enggak mau kasih angka.”
“Jawaban orang yang pacarnya terlalu kepo.”
Aku bangkit dan berdiri di belakang kursinya.
Di layar ada baris kode yang bagiku terlihat seperti manusia sedang bertengkar dengan tanda kurung.
“Kamu ngerti semua ini?”
“Enggak.”
Aku mencubit telinganya.
“Bercanda. Iya.”
Aku menyandarkan dagu di bahunya.
“Ajari.”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Kamu lima menit lagi bosan.”
“Aku bisa fokus.”
“Kemarin kamu buka laporan keuangan sendiri terus tiga menit kemudian nonton video kucing.”
“Itu riset.”
“Riset apa?”
“Kebahagiaan.”
Dia tertawa kecil.
Aku suka suara itu.
Raka tidak sering tertawa keras. Kalau sesuatu benar-benar lucu, dia justru menunduk dan bahunya bergerak pelan.
Aku melingkarkan tangan ke bahunya dari belakang.
“Lia.”
“Hm?”
“Aku harus selesai.”
“Aku enggak ganggu.”
“Kamu peluk aku.”
“Aku bisa peluk tanpa ganggu.”
“Secara ilmiah meragukan.”
Aku menempelkan pipi ke pipinya.
Tangannya berhenti di keyboard.
“Nah,” kataku. “Sekarang baru ganggu.”
Dia memutar kursi.
Aku belum sempat mundur sehingga sekarang berdiri di antara kedua lututnya.
Tatapannya naik.
Aku tersenyum.
“Apa?”
“Enggak ada.”
“Kenapa lihat begitu?”
“Begitu gimana?”
Aku tahu dia sengaja.
Tanganku bertumpu di bahunya.
“Kalau mau cium, cium.”
Alisnya naik.
“Aku enggak bilang mau.”
“Matamu bilang.”
“Kamu terlalu percaya diri.”
“Dan kamu terlalu lama lihat bibirku.”
Raka diam.
Aku menang.
Setidaknya sampai tangannya menyentuh pinggangku dan menarikku setengah langkah lebih dekat.
Sekarang giliranku diam.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
“Oh,” katanya. “Ternyata bisa diam.”
Aku mencubit bahunya.
Dia tertawa dan menciumku.
Singkat.
Sengaja terlalu singkat.
Ketika dia mundur, aku menatap tidak percaya.
“Cuma itu?”
“Aku kerja.”
“Pelit.”
“Deadline.”
Aku mencium pipinya keras-keras lalu kembali ke karpet.
“Sekarang aku ganggu dari jauh.”
“Terima kasih.”
Sore itu kami pergi ke rumah ibunya.
Rumah Bu Ratih jauh lebih kecil daripada rumahku, tetapi selalu terasa penuh.
Bau bawang goreng dari dapur. Televisi menyala. Ada wadah katering bertumpuk dekat meja makan. Sebuah kipas tua berputar sambil mengeluarkan suara kecil setiap tiga detik.
“Lia!”
Bu Ratih langsung menarikku ke dapur.
“Pas banget. Coba ini.”
Satu sendok semur masuk ke mulutku sebelum aku sempat menjawab.
“Enak.”
“Kurang manis?”
“Pas.”
Raka muncul di pintu.
“Jangan percaya. Dia makan apa aja.”
Aku menunjuknya dengan sendok.
“Fitnah.”
Bu Ratih memukul lengan anaknya dengan lap.
“Bantu angkat kotak sana.”
Raka menurut.
Aku tersenyum.
Di kantor, katanya dia pernah berdebat dengan senior engineer selama satu jam. Di rumah, satu lap dapur dari ibunya cukup membuat dia diam.
Aku membantu menempel label pada kotak katering.
Setengah jam kemudian tanganku sudah lengket oleh selotip.
Bu Ratih tertawa melihat hasil pekerjaanku.
“Lia, labelnya miring semua.”
“Aesthetic, Bu.”
“Alasan.”
Raka lewat membawa dua kardus.
“Makanya tadi saya bilang jangan kasih kerjaan presisi.”
Aku mengambil satu label dan menempelkannya ke punggungnya.
BU RATIH — NASI BOX.
Dia berhenti.
Bu Ratih tertawa sampai harus berpegangan pada meja.
Raka mencoba meraih label di punggungnya tapi tidak sampai.
“Lia.”
Aku mundur satu langkah sambil tertawa.
“Jangan bergerak. Cocok.”
Dia meletakkan kardus, berjalan ke arahku, dan aku kabur mengitari meja makan.
Rumah kecil itu mendadak penuh suara.
Aku bahkan lupa udara di dalamnya panas.
Aku membantu menempel label pada kotak katering.
“Capek?” tanya Bu Ratih.
“Enggak.”
“Kamu enggak harus bantu.”
“Aku mau.”
Bu Ratih menatapku sebentar.
“Raka enggak pernah ngajak teman perempuannya ke sini.”
Aku menoleh ke pintu dapur.
“Memangnya banyak?”
Bu Ratih tertawa.
“Enggak ada.”
“Bu.”
Suara Raka terdengar dari ruang tengah.
Aku tersenyum lebar.
“Berarti saya spesial.”
“Jangan gede kepala,” teriak Raka.
Bu Ratih berbisik, “Dia malu.”
Aku suka rumah ini.
Tidak ada yang bertanya jam tanganku merek apa. Tidak ada yang bertanya siapa yang mengantarku. Tidak ada yang mengomentari baju yang kupakai.
Aku cuma Lia.
Pacar Raka yang salah menempel tiga label.
Setelah pesanan katering selesai, aku dan Raka duduk di teras.
Dia membuka aplikasi bank di ponselnya.
“Kamu kenapa?”
“Motor harus servis.”
“Berapa?”
Dia menyebut angka.
Aku refleks berkata, “Aku bayarin.”
Raka berhenti.
Aku langsung tahu kalimat itu salah.
Bukan dari wajahnya.
Dari diamnya.
“Enggak usah.”
“Kan gampang.”
“Lia.”
“Aku cuma—”
“Aku tahu.”
Nada suaranya tidak marah.
Itu justru membuatku merasa lebih buruk.
“Aku enggak bermaksud bikin kamu ngerasa…”
Aku tidak melanjutkan.
Raka mengunci layar ponselnya.
“Aku tahu.”
“Kalau aku butuh bantuan, kamu juga bantu.”
“Iya.”
“Terus kenapa aku enggak boleh?”
Dia berpikir cukup lama.
“Aku belum terbiasa.”
Aku tahu apa yang tidak dia katakan.
Belum terbiasa dibantu dengan uang oleh pacar yang keluarganya bisa menganggap angka itu tidak berarti.
Aku pernah membayar makan malam untuk teman tanpa berpikir.
Aku pernah membeli sepatu karena warnanya bagus lalu lupa memakainya.
Tetapi di depan Raka, uang mendadak punya berat.
Bukan karena dia membuatku merasa bersalah.
Justru karena dia membuatku sadar bahwa sesuatu yang ringan di tanganku belum tentu ringan di tangan orang lain.
Dan mungkin mencintai seseorang bukan berarti semua yang bisa kuberikan otomatis harus kuberikan.
Aku menyandarkan kepala ke bahunya.
“Oke.”
“Oke?”
“Aku enggak maksa.”
Aku mengangkat kelingking.
“Tapi bikin perjanjian.”
Raka melihat jariku. “Apaan?”
“Kalau kamu benar-benar butuh bantuan, kamu bilang. Jangan sok kuat cuma karena aku punya uang.”
Dia menatapku lama.
“Dan kamu?”
“Aku kenapa?”
“Kalau kamu butuh bantuan, kamu juga bilang. Jangan merasa semua masalah bisa diberesin sendiri cuma karena kamu punya uang.”
Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Menyebalkan.
Dia benar.
Aku mengaitkan kelingking kami.
“Deal.”
“Deal.”
“Terima kasih.”
“Tapi kalau motormu mogok pas aku dibonceng, aku akan mengingatkan percakapan ini sampai kita tua.”
Dia tertawa.
“Sampai tua?”
Aku baru sadar apa yang kukatakan.
Aku mengangkat kepala.
Raka menatapku.
Aku memutuskan tidak mundur.
“Iya. Kenapa?”
Dia menggeleng pelan.
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Tuh. Alis kanan.”
Dia tertawa lagi.
Aku menyelipkan jemari ke tangannya.
Malam itu aku memikirkan dua rumah.
Satu rumah punya terlalu banyak pintu.
Satu rumah punya dapur kecil, kipas tua, dan tumpukan kotak katering.
Anehnya, ketika duduk di teras bersama Raka, aku tidak merasa sedang turun kelas.
Aku cuma merasa sedang berada di tempat yang ingin kudatangi lagi.
Sebelum pulang, Bu Ratih membungkuskan semur untukku.
“Buat sarapan.”
Aku menerimanya dengan dua tangan.
“Terima kasih, Bu.”
Raka mengantar sampai pagar.
Aku menunjukkan wadah makanan itu. “Lihat. Aku punya bekal.”
“Jangan habisin malam ini.”
“Aku enggak seburuk itu.”
Dia menatapku.
Aku memeluk wadah ke dada. “Oke, mungkin setengah.”
Dia tertawa dan mencium keningku sebelum aku masuk mobil.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua reading
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk