Chapter Forty Two
Pulang Yuk
POV: Aurelia
Enam bulan kemudian, aku berdiri di kamar pengantin dan Tasha sedang memaki resleting gaunku.
“Siapa desain begini?”
“Kamu yang rekomendasi.”
“Gue lupa.”
Aku tertawa.
Mama berdiri di belakangku sambil menangis sejak dua puluh menit lalu.
“Ma.”
“Saya enggak nangis.”
Tasha menatapku.
Aku menatap Tasha.
Kami tidak membantah.
Ponselku berbunyi.
Raka.
Masih ada waktu buat kabur.
Aku tersenyum.
Rule.
Balasannya cepat.
Bercanda. Rule 8.
Good boy.
Tiga titik.
Careful. Malam ini gue tagih semua balance.
Aku langsung mematikan layar.
Tasha melihat wajahku.
“Apa?”
“Enggak.”
“Merah.”
“Panas.”
“AC dua puluh.”
“Diam.”
Dia tertawa sangat keras.
Monster.
Enam bulan bertunangan membuatnya lebih buruk.
Aku suka.
Pernikahan kami tidak sebesar yang keluarga Wijaya bisa buat.
Itu keputusan pertama yang Papa coba debat.
Kemudian Mama mengingatkan bahwa ini pernikahanku.
Papa menyerah.
Keluarga.
Teman.
Tim Nara.
Beberapa orang Wijaya.
Tidak ada media.
Tidak ada sponsor.
Raka sempat menawarkan ballroom hotel karena praktis.
Aku menolak.
Kami akhirnya memilih taman venue kecil dengan banyak pohon.
Bu Ratih bilang bagus karena fotonya tidak akan terlihat seperti conference.
Dion tersinggung karena menurutnya conference Nara sangat aesthetic.
Tidak ada sponsor.
Dion tetap berhasil membuat speech terlalu panjang.
Maya mengambil mikrofon darinya.
Bu Ratih menangis paling keras ketika Raka masuk.
Aku hampir ikut sebelum waktunya.
Kemudian aku melihat Raka.
Kemeja—bukan, jas hitam.
Tentu.
Dia berdiri di depan dengan wajah yang berusaha tenang.
Alis kanan turun.
Aku tersenyum.
Masih.
Ketika berjalan mendekat, aku melihat beberapa wajah.
Papa.
Mama.
Bu Ratih.
Dion.
Maya.
Kevin.
Tasha.
Orang-orang yang pernah berada di sisi berbeda dari cerita kami sekarang duduk dalam satu ruangan.
Tetapi pandanganku selalu kembali ke Raka.
Begitu sampai, dia mengambil tanganku.
Hangat.
Sama seperti tujuh tahun lalu di ruang meeting Nara.
Sama seperti lebih dari tujuh tahun lalu di bawah meja makan keluargaku.
Hanya kali ini tidak disembunyikan.
“Hi,” bisikku.
Raka tersenyum.
“Hi.”
Aku tidak ingat seluruh upacara.
Aku ingat sebelum janji, Raka berbisik, “Takut?”
Aku menjawab, “Sedikit.”
Dia tersenyum.
“Bagus.”
Aku hampir tertawa di depan penghulu.
Callback bodoh kami sekarang ikut masuk pernikahan.
Aku ingat bagian-bagian kecil.
Tangan Raka sedikit gemetar saat memasang cincin.
Dion bersin pada saat paling sunyi.
Bu Ratih tertawa sambil menangis.
Papa menghapus mata lalu pura-pura membetulkan kacamata.
Dan ketika kami dinyatakan menikah, Raka melihatku seperti dunia mendadak terlalu kecil untuk semua yang ingin dia katakan.
Aku berbisik, “Sekarang.”
Dia mengerti.
Ciumannya lembut.
Tidak lama.
Tasha tetap bersiul.
Aku akan membunuhnya nanti.
Resepsi berlangsung sampai malam.
Aku mencuri Raka keluar ke balkon.
“Capek?”
“Banget.”
Aku melepas heels.
Raka tertawa.
“Masih.”
“Tradisi.”
Aku berdiri di atas sepatunya agar kakiku tidak menyentuh lantai dingin.
Tangannya langsung memegang pinggangku.
“Manja.”
“Rule.”
“Sekarang legal?”
“Dari dulu.”
Aku menyandarkan kepala ke dadanya.
Dari dalam terdengar suara orang tertawa.
“Aneh,” kataku.
“Apa?”
“Kita nikah.”
“Due diligence selesai.”
“Belum.”
Raka menghela napas.
“Apa lagi?”
“Seumur hidup.”
Dia diam.
Kemudian mencium rambutku.
“Okay.”
Tidak ada takut dalam jawabannya.
Atau mungkin ada.
Tapi sekarang kami tahu takut boleh ikut selama tidak memegang kemudi.
Tiga bulan setelah pernikahan, Phase 10 akhirnya terjadi.
Kami akhirnya memilih unit yang Raka tunjukkan saat melamar.
Bukan karena dia sudah membelinya.
Karena setelah melihat enam tempat lain, aku tetap paling suka meja empat kursi itu.
Aku memaksa satu perubahan besar: ruang kosong menjadi walk-in closet setengah dan guest room setengah.
Raka menyebutnya hostile compromise.
Aku menyebutnya demokrasi.
Lemari.
Aku mendapat enam puluh persen.
Raka menyebutnya hostile takeover.
Aku menyebutnya keadilan.
Rumah kami tidak selalu rapi.
Ada mug Nara di meja.
Skincare-ku memenuhi kamar mandi.
Robot vacuum bernama Server sering tersangkut di bawah sofa.
Dua tanaman mati.
Raka bilang tiga.
Fitnah.
Satu hanya sedang dormant.
Server si robot vacuum juga akhirnya punya stiker nama karena Dion merasa benda dengan nama butuh branding.
Aku membuang stikernya.
Raka memasang lagi.
Rumah tangga ternyata penuh konflik besar.
Meja makan empat kursi akhirnya terpakai.
Dion dan Maya datang hampir setiap bulan.
Tasha datang tanpa undangan.
Bu Ratih membawa makanan terlalu banyak.
Papa kadang datang dan tetap mengubah makan malam menjadi diskusi bisnis sampai Mama memarahinya.
Biasa.
Berisik.
Penuh.
Rumah.
Suatu Minggu sore, aku menemukan Raka di ruang kerja.
Dia sedang melihat dompet lama.
“Ngapain?”
“Ganti.”
Aku langsung mendekat.
Di meja ada dompet baru.
Aku mengambil yang lama.
“Finally.”
“Masih bisa dipakai.”
“Tidak.”
Raka mengeluarkan dua foto.
Photo booth lama.
Selfie setelah dia menangis.
Aku tersenyum.
“Ada satu lagi,” kataku.
“Apa?”
Aku mengambil foto pernikahan kecil dari laci.
Kami berdua tertawa di sana, bukan melihat kamera.
Raka menerima.
“Tiga?”
“Phase 3.”
“Foto juga ada phase?”
“Semua ada.”
Dia memasukkan ketiganya ke dompet baru.
Aku melihat dompet lama.
“Buang?”
Raka berpikir.
Kemudian menggeleng.
“Simpan.”
Aku tidak protes.
Tidak semua yang lama harus dibuang untuk membuat ruang bagi yang baru.
Malam itu kami duduk di teras kecil balkon.
Raka membuka laptop.
Aku langsung menutupnya.
“Sunday.”
“Incident.”
“Production terbakar?”
“Enggak.”
“Berarti besok.”
Dia menghela napas.
Aku merebahkan kepala di pahanya.
Raka mengusap rambutku.
“Lia.”
“Hm?”
“Kita dulu kehilangan tujuh tahun.”
Aku membuka mata.
“Rule tujuh.”
“Gue enggak menghukum.”
“Terus?”
Dia menatap kota.
“Kadang masih kepikiran.”
Aku menggenggam tangannya.
“Aku juga.”
“Kalau waktu itu gue enggak pergi…”
“Jangan.”
Dia melihatku.
“Kita enggak tahu.”
Aku duduk.
“Mungkin kita nikah umur dua puluh lima.”
“Maybe.”
“Mungkin cerai umur dua puluh enam karena kamu nyebelin.”
Raka tertawa.
“Lia.”
“Aku serius. Kita enggak tahu.”
Aku menyentuh pipinya.
“Aku enggak suka kehilangan tujuh tahun.”
“Gue juga.”
“Tapi aku suka kamu yang sekarang.”
Tatapannya melembut.
“Gue juga suka lo yang sekarang.”
“Cuma suka?”
Dia menutup mata.
“Mulai.”
Aku tertawa.
Raka menarikku ke pangkuannya.
“Aku cinta kamu,” katanya.
Aku diam.
Bukan karena kaget.
Karena setelah semua yang terjadi, kalimat itu masih bisa terasa baru.
“Aku juga.”
Aku mencium keningnya.
Pipinya.
Lalu bibirnya.
Ketika aku hendak mundur, Raka menahan pinggangku.
“Belum selesai.”
Aku tertawa di dekat bibirnya.
“Serakah.”
“Historical data.”
Beberapa saat kemudian aku kembali bersandar di dadanya.
Lampu kota menyala.
Tidak ada gedung yang perlu dibandingkan.
Tidak ada meja yang perlu dimenangkan.
Tidak ada keluarga yang harus dikalahkan.
Aku hanya mendengar detak jantung Raka.
“Raka.”
“Hm?”
“Pulang yuk.”
Dia melihat sekeliling.
“Kita di rumah.”
Aku tersenyum.
“Iya.”
Akhirnya.
Bukan rumah besar tempat aku dibesarkan.
Bukan kos panas tempat kami dulu bermimpi.
Bukan gedung Nara yang menjadi bukti kerja keras Raka.
Rumah adalah meja empat kursi.
Dua sikat gigi.
Tiga foto di dompet.
Pertengkaran yang diselesaikan.
Ketakutan yang diucapkan.
Dan seseorang yang ketika diminta tinggal, akhirnya tahu bagaimana caranya.
Raka mencium rambutku.
“Aku di sini.”
Kali ini, aku percaya tanpa takut bertanya sampai kapan.
Karena jawabannya tidak lagi sebuah janji besar.
Jawabannya ada dalam setiap hari biasa yang kami pilih bersama.
Dan besok, kami akan memilih lagi.
Di meja makan, ponsel Raka berbunyi.
Dia melihat.
Lalu membalik layar.
“Incident?”
“Bisa besok.”
Aku tersenyum.
“Progress.”
“Hm.”
“Sunday rule?”
“Accepted.”
Aku kembali menyandar.
Tidak ada musik penutup.
Tidak ada dunia yang berhenti bergerak karena kami akhirnya bahagia.
Besok akan ada meeting.
Tagihan.
Keluarga.
Mungkin pertengkaran baru.
Mungkin tanaman keempat yang menurut Raka akan kubunuh.
Hidup tetap hidup.
Justru itu yang kuinginkan.
Bukan akhir sempurna.
Hari-hari biasa yang cukup aman untuk kami jalani tanpa takut salah satu akan menghilang.
Raka menggenggam tanganku.
Aku menggenggam balik.
Besok, kami akan memilih lagi.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk reading