← Tujuh Tahun untuk Kembali

Chapter Fourteen

Tujuh Tahun

POV: Aurelia

“Raka.”

Namanya keluar lebih pelan daripada yang kuinginkan.

Dia berdiri di dekat pintu.

“Lia.”

Akhirnya.

Bukan Bu Aurelia.

Satu kata itu justru membuat semua kemarahanku kembali.

Aku berjalan mendekat dan menamparnya.

Tidak keras.

Tanganku sendiri lebih sakit daripada pipinya.

Raka tidak bergerak.

Aku menatap bekas merah tipis yang mulai muncul.

“Tujuh tahun, Raka.”

Suaraku pecah.

Dia menurunkan mata sebentar.

“Aku tahu.”

“Enggak. Kamu enggak tahu.”

Aku berjalan menjauh dua langkah karena kalau tetap dekat, aku tidak yakin akan memukul atau memeluknya.

Keduanya memalukan.

“Aku ulang tahun dua puluh dua tanpa kamu. Dua puluh tiga. Dua puluh empat. Aku berhenti menghitung setelah itu.”

Raka menutup mata.

“Aku enggak butuh kamu merasa bersalah karena ulang tahun. Aku cuma mau kamu ngerti waktu tetap jalan.”

“Aku ngerti.”

“Sekarang mungkin. Waktu itu enggak.”

“Aku—”

“Jangan.”

Aku tertawa kecil, pahit.

“Kamu ganti nomor. Pindah. Hilang. Aku datang ke kos kamu, tahu?”

Wajahnya berubah.

Sedikit.

Cukup.

“Pemilik kos bilang kamu sudah pergi.”

“Lia.”

“Aku cari kamu lewat teman kampus. Lewat kantor. Aku bahkan tanya Dion.”

“Dion enggak tahu waktu itu.”

“Aku tahu. Karena kamu pintar. Kamu memastikan semua pintu tertutup.”

Dia menerima setiap kalimat tanpa membela diri.

Itu membuatku semakin marah.

“Bilang sesuatu.”

“Maaf.”

Aku tertawa.

“Wow.”

“Enggak ada kalimat yang cukup.”

“Benar.”

Aku berjalan ke jendela kecil.

Di bawah, Jakarta bergerak seperti biasa.

“Aku pernah mikir kamu mati.”

Raka membeku.

“Serius. Minggu pertama.”

“Lia…”

“Terus aku berharap kamu mati sedikit.”

Sudut bibirnya bergerak meski matanya sakit.

“Aku pantas.”

“Jangan setuju.”

“Okay.”

Aku hampir tertawa.

Hampir.

“Enggak ada kalimat yang cukup,” ulangku lebih pelan.

“Benar.”

Sunyi.

Aku menyeka air mata sebelum jatuh.

Aku benci menangis di depannya.

Lebih benci karena bagian diriku masih mengingat bagaimana dulu dia akan langsung menghapusnya dengan ibu jari.

Sekarang tangannya tetap di sisi tubuh.

Benar.

Dia tidak punya hak.

Aku juga tidak ingin dia punya.

Setidaknya seharusnya begitu.

Di pergelangan tangannya tidak ada lagi jam murah yang dulu kupilihkan saat ulang tahunnya. Konyol bahwa aku sempat mencari benda itu di tengah kemarahanku.

Tujuh tahun benar-benar terjadi.

Setidaknya seharusnya begitu.

“Kenapa?”

Aku menunggu.

Raka masih punya kebiasaan yang sama ketika mencari kata sulit: telunjuknya mengetuk sisi paha dua kali.

Aku melihat gerakan itu.

Tujuh tahun lenyap lagi.

Aku benci bahwa aku masih tahu.

“Kenapa?” ulangku.

Raka menarik napas.

“Kita sudah tahu kenapa.”

“Enggak.”

“Lia.”

“Yang aku tahu cuma kamu dengar Papa bicara, terus kamu memutuskan hidup aku buat aku.”

Dia menatapku.

“Kamu benar.”

Jawaban itu membuatku kehilangan momentum.

“Apa?”

“Aku salah.”

Aku menatapnya lama.

“Segampang itu?”

“Enggak.”

“Terus?”

“Gue bisa jelasin seribu alasan dan tetap salah.”

Aku ingin membenci jawaban itu.

Tidak bisa.

Karena itulah Raka yang kuingat: kalau akhirnya mengakui sesuatu, dia jarang mencari jalan keluar.

Aku sudah membayangkan perdebatan ini tujuh tahun.

Dalam semua versinya, Raka membela keputusan itu.

Dia tidak.

“Aku pikir waktu itu—”

“Aku enggak peduli apa yang kamu pikir waktu itu.”

Dia mengangguk.

“Aku tahu.”

“Berhenti bilang kamu tahu.”

“Okay.”

Aku memejamkan mata.

Menyebalkan.

Masih menyebalkan.

“Kenapa enggak balik?”

Pertanyaan itu lebih sulit.

Aku bisa melihatnya.

Raka memandang meja kecil di samping.

“Awalnya karena kupikir keputusan itu benar.”

“Terus?”

“Lalu karena malu.”

Aku diam.

“Semakin lama, semakin sulit mengakui aku mungkin salah.”

“Pernah mau balik?”

Raka diam.

Jawaban ada di wajahnya.

“Berapa kali?”

“Lia.”

“Berapa kali?”

“Beberapa.”

Dadaku sakit dengan cara baru.

“Kamu sampai mana?”

Dia menatap lantai.

“Sekali sampai depan kompleks.”

Aku tertawa kecil lalu menutup mulut karena hampir menangis lagi.

“Dan?”

“Pulang.”

“Tentu.”

“Gue pengecut.”

Aku tidak menyangkal.

“Pernah sampai depan rumah?”

“Kompleks.”

“Kenapa enggak masuk?”

“Takut lo sudah bahagia.”

Aku menelan sesuatu di tenggorokan.

“Kalau aku sudah bahagia?”

“Gue pulang.”

“Kalau belum?”

Raka tertawa pendek tanpa humor.

“Itu yang lebih gue takut.”

Aku mengerti.

Kalau aku belum bahagia, dia harus menghadapi kemungkinan bahwa kepergiannya memang menghancurkan sesuatu.

Aku benci karena aku mengerti.

“Aku sempat tunangan hampir,” kataku.

Wajah Raka berubah sebelum dia bisa menyembunyikannya.

Aku hampir menikmati itu.

“Hampir?”

“Enggak jadi.”

“Kenapa?”

“Bukan urusan kamu.”

“Fair.”

Aku tidak menjelaskan bahwa “hampir” sebenarnya hanya pembicaraan keluarga yang kubiarkan berjalan terlalu jauh sebelum kuhentikan.

Dia tidak berhak tahu semuanya hari ini.

Tetapi melihat bahwa informasi itu masih bisa melukainya memberiku jawaban kecil yang belum berani kutanyakan.

“Aku enggak akan bilang itu mulia.”

“Jangan.”

“Bagus.”

Aku menatapnya.

Ada kejujuran di sana yang tidak membuat apa pun lebih mudah.

“Jadi kamu memilih tujuh tahun?”

“Enggak terasa seperti memilih.”

“Buat aku terasa.”

Dia mengangguk.

“Aku tahu.”

Aku menatap tajam.

Dia hampir tersenyum.

Hampir.

Aku ingin memukulnya lagi.


Pintu diketuk.

Suara Maya terdengar.

“Sorry. Lima menitnya sudah jadi dua puluh. Ada meeting lain pakai ruangan ini.”

Aku menarik napas.

Raka membuka pintu.

Maya berdiri di luar, wajah profesional sempurna.

Aku berjalan melewatinya.

Sebelum keluar, Raka berkata, “Lia.”

Aku berhenti.

“Kalau kerja sama ini bikin kamu enggak nyaman, gue bisa mundur dari sisi operasional.”

Aku berbalik.

Tentu.

Tentu solusi pertamanya masih pergi.

“Jangan berani.”

Dia terdiam.

“Kamu enggak akan menghilang lagi cuma karena situasinya susah.”

“Bukan maksud—”

“Aku tahu maksud kamu.”

Sekarang giliranku menggunakan kalimat itu.

Aku mengambil tablet dari meja utama.

Tanganku masih gemetar.

Raka melihat.

Dulu dia akan menggenggamnya.

Sekarang dia hanya berkata, “Driver lo sudah datang?”

Aku menatapnya.

“Masih ingat aku enggak suka nunggu sendiri?”

“Masih.”

Satu kata lagi yang tidak kubutuhkan.

“Sudah.”

Aku berbohong.

Driver masih sepuluh menit.

Aku lebih memilih menunggu di lobi daripada memberinya kesempatan menjaga aku lagi terlalu cepat.

“Besok jam sepuluh kita ada technical workshop.”

Raka mengangguk.

“Gue datang.”

“Bagus.”

Aku berjalan ke lift bersama tim.

Di lobi, aku akhirnya membiarkan air mata jatuh satu kali.

Niken tidak berkata apa-apa. Dia hanya berdiri sedikit di depanku agar orang yang lewat tidak terlalu melihat.

Aku menghapusnya.

“Terima kasih.”

“Tidak lihat apa-apa, Bu.”

Aku tersenyum.

Aku berjalan ke lift bersama tim.

Kevin menunggu sampai pintu tertutup.

Kemudian:

“Lo nampar dia?”

Aku menoleh.

“Kenapa?”

“Pipinya merah.”

Niken menatap lantai.

Aku mengabaikan Kevin.

Ponselku berbunyi.

Email dari Nara.

Workshop confirmed.

Nama pengirim:

Raka Adinata.

Aku membaca email lengkapnya.

Tidak ada kalimat personal.

Tidak ada “maaf soal tadi”.

Raka selalu tahu kapan harus memberi ruang setelah terlambat tujuh tahun belajar.

Aneh, tetapi aku menghargainya.

Aku membaca tanda tangannya.

Raka Adinata Co-Founder & CTO, Nara Technologies

Tujuh tahun lalu aku pernah menunggu pesan dari nomor yang tidak pernah aktif lagi.

Sekarang namanya masuk inbox kerjaku seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Aku ingin marah.

Di lift, Kevin diam hampir satu menit sebelum berkata, “Gue dulu brengsek.”

Aku menatapnya.

“Sekarang baru sadar?”

“Sudah lama.”

“Bagus.”

“Gue mau minta maaf ke dia.”

“Bukan sekarang.”

Kevin mengangguk.

Aku tahu kenapa.

Hari ini bukan hari untuk menumpuk tujuh tahun penyesalan semua orang di atas bahu Raka.

Aku ingin marah.

Masih marah.

Tetapi di bawah semua itu ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Lega.

Dia ada.

Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, aku tahu besok aku akan melihatnya lagi.