Chapter Thirty Five
Kebiasaan Lama
POV: Aurelia
Aku berbohong kepada Raka.
Bukan tentang hal besar.
Itulah cara semua kebohongan berbahaya mulai.
Aku bilang aku tidak menanggung semuanya sendiri.
Padahal selama tiga hari berikutnya, itulah yang kulakukan.
Papa tertekan board.
Om Vincent tertekan angka.
Tim retail takut target.
Nara menolak acceleration.
Dan aku, dengan kecerdasan luar biasa, memutuskan tugasku adalah menemukan kompromi yang membuat semua orang senang.
Tasha menyebutnya penyakit anak sulung.
Aku anak tunggal.
Jadi mungkin hanya penyakitku.
Kamis malam aku masih di kantor jam sepuluh.
Niken sudah pulang setelah kupaksa.
Aku membuka proposal keempat.
Regional rollout.
Additional QA.
Manual reconciliation.
Kalau kami menambah tim internal, mungkin empat bulan bisa.
Aku tahu Raka bilang lima.
Tapi empat bukan tiga.
Aku membuka chat.
Mengetik:
Kalau Wijaya tambah QA sendiri, empat bulan?
Tidak kukirim.
Karena aku tahu jawabannya.
Ponsel berbunyi.
Raka.
Dinner di lobby.
Aku menatap.
Apa?
Turun.
Aku turun.
Dia berdiri membawa dua kantong makanan.
Kemeja kantor, lengan digulung, wajah lelah.
“Kamu ngapain?”
“Dinner.”
“Aku bisa pesan.”
“Gue tahu.”
Kami duduk di area lounge.
Raka membuka makanan.
Tidak ada ceramah.
Itu lebih menakutkan.
“Kamu marah?”
“Belum.”
“Belum?”
“Makan.”
Aku menurut.
Lima menit.
Sepuluh.
Akhirnya aku berkata, “Kalau empat bulan?”
Raka meletakkan sendok.
“Nah.”
“Apa?”
“Ini yang lo kerjain.”
“Aku cuma cari opsi.”
“Gue sudah kasih.”
“Lima bulan enggak akan lolos board.”
“Terus?”
“Aku butuh sesuatu.”
“Lia, gue enggak bisa ubah risiko karena board lo enggak suka angka.”
“Aku tahu.”
Aku menyandarkan punggung.
“Kadang aku benci kamu benar.”
“Mutual.”
“Aku serius.”
“Gue juga.”
Aku melihat makanan.
“Dulu semua orang bilang aku enggak ngerti hidup susah.”
Raka diam.
“Sekarang setiap ada masalah di keluarga, aku merasa harus jadi orang yang paling bisa menyelesaikan. Kalau enggak, seolah mereka benar bahwa aku cuma anak kaya yang dikasih posisi.”
Wajah Raka berubah.
“Lia.”
“Aku tahu itu bodoh.”
“Enggak bodoh.”
Aku menatapnya.
“Cuma enggak harus lo buktikan setiap hari.”
Aku menelan sesuatu di tenggorokan.
“Enggak. Kalau tahu, lo enggak akan duduk sampai jam sepuluh nyari cara bikin jawaban gue berubah.”
Aku menegang.
“Aku enggak maksa.”
“Belum.”
Nada suaranya tetap tenang.
Aku justru mulai panas.
“Jadi aku harus apa? Duduk diam?”
“Enggak.”
“Papa bisa kehilangan dukungan board.”
“Itu masalah governance.”
“Om Vincent bisa kehilangan unit.”
“Itu masalah bisnis.”
“Dan aku bagian dari bisnis itu!”
“Aku tahu.”
“Enggak kedengarannya.”
Raka diam.
Aku langsung menyesal.
Dia mengusap wajah.
“Okay.”
Aku benci kata itu ketika dipakai begitu.
“Raka.”
“Gue ngerti lo mau bantu keluarga.”
“Bukan cuma keluarga. Ribuan pekerja.”
“Dan justru itu alasan gue enggak mau ambil risiko bodoh.”
Aku tahu dia benar.
Aku tetap kesal.
Karena kadang orang yang benar datang pada waktu paling menyebalkan.
Kami keluar hampir jam sebelas.
Di mobil, aku menatap jendela.
Raka tidak menyalakan mesin.
“Lia.”
“Hm?”
“Lo mau gue cuma jadi pacar sekarang atau CTO juga?”
Aku menoleh.
Pertanyaan bagus.
“Susah.”
“Iya.”
“Pacar aku pengin bilang dukung aku.”
“Gue dukung.”
“CTO aku bilang jangan.”
“Iya.”
Aku menghela napas.
“Benci.”
“Fair.”
Aku hampir tertawa.
Raka mengambil tanganku.
“Gue juga susah.”
“Kenapa?”
“Karena bagian gue yang umur dua puluh dua pengin bilang biarin aja mereka kena.”
Aku menatapnya.
Jujur.
Gelap sedikit.
Manusia.
“Terus?”
“Bagian gue sekarang tahu kalau sistem gagal, yang kena bukan Om Vincent doang.”
Aku menggenggam tangannya.
“Terima kasih sudah jujur.”
“Hm.”
Aku menyandarkan kepala ke kursi.
“Empat setengah?”
Raka menatapku.
Aku tertawa.
“Bercanda.”
“Enggak lucu.”
“Sedikit.”
Di condo, aku membuka laptop lagi.
Pesan Raka masuk.
Tidur.
Aku:
Bossy.
Pacar.
Aku tersenyum.
Lalu layar email berbunyi.
Subject:
Board Option — Accelerated Rollout
Dari Vincent.
Ada draft yang mencantumkan Nara sebagai “technically feasible with additional safeguards”.
Aku membeku.
Itu bukan bahasa Raka.
Bukan persetujuan Nara.
Aku menelepon Om Vincent.
“Om, ini dari mana?”
“Draft.”
“Nara belum setuju.”
“Makanya draft.”
“Jangan kirim ke board.”
Sunyi.
“Aurelia, kita butuh leverage.”
“Bukan pakai nama Raka.”
“Ini bisnis.”
“Justru karena bisnis, wording harus benar.”
“Board perlu tahu ada opsi.”
“Bukan opsi kalau pihak yang disebut belum setuju.”
Vincent menghela napas.
“Aurelia, jangan campur hubungan personal.”
Aku langsung marah.
“Aku bicara sebagai director.”
“Bagus. Maka pahami tekanan yang kita hadapi.”
“Aku paham. Itu tidak membuat fakta berubah.”
“Ini bisnis.”
Kalimat itu membuat dadaku dingin.
“Justru.”
Telepon selesai.
Aku seharusnya langsung menghubungi Raka.
Aku berjalan ke jendela kantor.
Gedung Nara terlihat dari kejauhan.
Dulu gedung keluarga menjadi tembok di kepala Raka.
Sekarang aku takut membuat perusahaan Raka menjadi alat untuk menyelamatkan keluargaku.
Ironis.
Aku tidak ingin hubungan kami mencemari keputusan bisnis.
Tetapi merahasiakan masalah justru melakukan hal yang lebih buruk: membuat Raka kehilangan kesempatan menentukan bagaimana bisnisnya dipakai.
Aku tahu itu.
Tetap saja aku ragu.
Relationship rule.
Tidak menanggung sendiri.
Tidak mengambil keputusan yang berdampak hubungan sendirian.
Aku melihat jam.
Hampir tengah malam.
Raka pasti lelah.
Besok pagi, pikirku.
Aku akan bicara besok pagi.
Aku bahkan membuka chat.
Om Vincent pakai wording Nara tanpa approval.
Jempolku berada di tombol send.
Kemudian aku membayangkan Raka yang tadi datang membawa dinner, wajahnya lelah.
Aku menghapus.
Itu keputusan kecil.
Terlihat penuh perhatian.
Sebenarnya pengecut.
Karena sebagian diriku juga ingin punya waktu menyelesaikan masalah sebelum Raka melihatnya.
Aku akan bicara besok pagi.
Kebiasaan lama jarang datang sambil berteriak.
Kadang ia datang sebagai kalimat yang terdengar masuk akal:
Besok saja.
Aku menaruh ponsel di meja, tetapi tidak bisa tidur. Untuk pertama kalinya aku memahami betapa mudahnya keputusan sepihak terasa seperti kasih sayang dari sisi orang yang membuatnya. Pemahaman itu tidak membuatnya benar.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama reading
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk