Chapter Twenty Eight
Invasi Strategis
POV: Raka
Aku tiba di condo Aurelia jam tujuh tepat.
Dia membuka pintu memakai shorts rumah dan kemejaku.
Aku berdiri diam.
Aurelia melihat bajunya.
“Apa?”
“Itu…”
“Kemeja.”
“Gue tahu.”
“Bagus.”
“Kok ada di lo?”
“Dulu.”
Aku langsung mengenali.
Bukan kemeja hitam.
Kemeja putih lama yang pernah tertinggal di rumahnya.
“Tujuh tahun?”
Dia mengangkat bahu.
“Masih bagus.”
Aku masuk.
Di rak dekat pintu ada foto Aurelia dengan Helena.
Foto lain dengan Tasha.
Tidak ada foto laki-laki.
Aku benci bahwa aku memperhatikan.
Aurelia menangkap tatapanku.
“Due diligence?”
“Interior assessment.”
“Pengecut.”
Aku melepas sepatu.
Tidak akan menang debat itu.
Condo-nya elegan, rapi, dan jauh lebih kecil daripada rumah Wijaya.
Ada tanaman di dekat jendela.
Dua sehat.
Satu mencurigakan.
“Yang itu mati?”
“Sedang healing.”
“Cokelat.”
“Jangan judge.”
Aku tertawa.
Dinner ternyata pasta buatan Aurelia.
Aku melihat piring.
Dia langsung defensif.
“Aku bisa masak.”
“Kita lihat.”
“Kalau enggak enak jangan makan.”
Aku mencoba.
Lumayan.
“Gimana?”
“Edible.”
Dia memukul lenganku.
“Enak.”
Aurelia tersenyum bangga.
“Aku belajar.”
“Sejak kapan?”
“Waktu pindah sendiri.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Awalnya marah sama Papa.”
Dia memutar garpu.
“Terus sadar kalau mau bilang aku bisa hidup sendiri, minimal harus bisa makan tanpa delivery tiap hari.”
Aku tertawa.
“Reasonable.”
“Aku juga pernah bikin pasta sampai panci gosong.”
“Foto?”
“Dihapus.”
“Coward.”
Dia menendang kakiku.
“Enak.”
“Telat.”
Aku menarik tangannya dan mencium punggungnya.
“Enak.”
Dia langsung diam.
Aku mulai menyukai tombol baru ini.
Setelah makan, kami duduk di sofa.
Aurelia bekerja lima belas menit meski dia sendiri yang membuat rule.
Aku menunjuk laptop.
“Denda.”
Dia berhenti.
“Sial.”
“Compliment.”
Aurelia menatapku lama.
“Kamu seksi kalau lagi serius.”
Aku hampir tersedak air.
“Itu bukan—”
“Compliment.”
“Normal sedikit.”
“Dewasa.”
Dia tersenyum.
Aku mengambil laptopnya dan menutup.
“Cukup kerja.”
“Terus?”
Aku menaruh laptop di meja.
Aurelia bergeser mendekat.
“Film.”
“Bohong.”
Aurelia mengambil remote.
“Pilih.”
Aku memilih thriller.
Dia protes.
“Aku mau romance.”
“Kita sudah romance.”
Dia menatapku.
Aku baru sadar kalimatku.
Senyumnya muncul perlahan.
“Wah.”
“Film.”
“Pak CTO bisa juga.”
“Film.”
Dia tertawa dan memilih thriller hanya karena berhasil membuatku malu.
“Film.”
“Bohong.”
“Apa?”
“Wajah lo.”
Dia tertawa dan menyandarkan kepala di bahuku.
Kami benar-benar menonton film.
Sekitar dua puluh menit.
Kemudian tangannya masuk ke tanganku.
Sepuluh menit berikutnya dia menyelipkan kaki di bawah pahaku.
Lima menit kemudian kepalanya pindah ke dada.
“Nyaman?”
“Hm.”
“Filmnya tahu ceritanya?”
“Enggak.”
“Bagus.”
Dia mendongak.
Aku mencium keningnya.
Aurelia naik sedikit dan mencium rahangku.
Aku menatap.
“Apa?”
“Ganggu.”
“Boleh.”
Ciuman berikutnya di bibir.
Pelan.
Tidak terburu.
Tanganku berada di pinggangnya.
Dia mendekat sampai hampir duduk di pangkuanku, lalu berhenti sendiri.
Kami saling melihat.
Aurelia tersenyum kecil.
“Ceiling.”
Aku tertawa.
Kami memang tidak pernah menuliskan rule itu, tetapi sama-sama tahu.
Tidak perlu buru-buru membuktikan kedekatan dengan melampaui sesuatu yang belum kami siap.
Aurelia menyentuh bibirku dengan ibu jari.
“Masih mau?”
“Jelas.”
“Good.”
Dia menciumku sekali lagi, lembut, lalu benar-benar kembali ke film.
Aneh.
Batas tidak membuat momen kehilangan panas.
Justru membuatku lebih percaya padanya.
“Ceiling.”
Aku tertawa.
“Bagus masih ingat.”
“Sayangnya.”
Dia kembali bersandar.
Beberapa menit kemudian tangannya mencari tanganku lagi.
Aku menggenggam.
Tidak ada percakapan.
Aku menyadari domestic intimacy ternyata jauh lebih berbahaya daripada ciuman.
Ciuman punya awal dan akhir.
Duduk seperti ini membuatku ingin membayangkan rutinitas.
Film tetap tidak kami pahami.
Jam sebelas aku berdiri.
“Pulang?”
“Iya.”
Aurelia mengerucutkan bibir.
“Manja rule.”
“Apa?”
“Enggak boleh protes.”
“Gue enggak protes.”
“Berarti tinggal.”
Aku menatapnya.
“Lia.”
“Lima belas menit.”
Aku tahu jebakan.
Tetap duduk.
Aurelia langsung memeluk pinggangku dan merebahkan kepala.
“Ini extortion.”
Aurelia mengangkat wajah.
“Dulu kamu suka kalau aku manja.”
“Dulu?”
“Sekarang?”
Aku menatapnya.
Tanganku otomatis mengusap rambutnya.
“Masih.”
Senyumnya langsung muncul.
“Bagus.”
“Jangan gede kepala.”
Terlambat.
“Affection.”
“Tipis bedanya.”
Dia tertawa.
Dua puluh menit kemudian dia hampir tidur.
Aku mengusap rambutnya.
Ada ketenangan yang sudah lama tidak kurasakan.
Bukan euforia reunion.
Bukan revenge.
Hanya seseorang yang percaya cukup untuk tertidur di dadaku.
Akhirnya aku membangunkannya.
“Gue pulang.”
“Hm.”
“Lia.”
Dia membuka mata setengah.
“Besok?”
“Kerja.”
“Lusa?”
Aku tersenyum.
“Lihat nanti.”
Dia langsung bangun.
“Jawaban salah.”
Aku tertawa.
“Lusa.”
“Bagus.”
Di pintu, Aurelia memelukku lagi.
Aku mencium rambutnya.
“Good night.”
“Good night.”
Ketika sampai apartemen, aku membuka tas kerja.
Ada satu benda yang bukan milikku.
Sikat gigi baru.
Masih dalam kemasan.
Di atasnya sticky note.
Strategic expansion. Phase 1.
Aku membuka kabinet kamar mandi.
Kosong di sisi kanan.
Aku tidak tahu kenapa detail itu terasa seperti undangan.
Aku meletakkan sikat gigi Aurelia di sana.
Kemudian menatap dua sikat gigi berdampingan.
Terlalu domestik untuk hubungan yang baru resmi beberapa hari.
Aku tetap tidak memindahkannya.
Aku tertawa sendirian.
Ponselku berbunyi.
Ketemu?
Aku:
Invasi.
Ekspansi.
Aku memotret sikat gigi.
Ditolak.
Balasannya:
Board approval already secured.
Aku tidak tahu board mana.
Yang lebih buruk, aku tidak membuang sikat gigi itu.
Aku menaruhnya di kamar mandi.
Kemudian mengirim satu pesan lagi.
Phase 1 approved.
Aurelia:
Excellent.
Jangan phase 2 dulu.
No promises.
Aku tertawa.
Aku menaruhnya di kamar mandi.
Kemudian melihat apartemenku.
Minimal.
Terlalu rapi.
Tidak ada barang yang tidak perlu.
Selama bertahun-tahun tempat ini cuma lokasi tidur di antara pekerjaan.
Untuk pertama kalinya aku membayangkan ada barang Aurelia di meja, sofa, kamar mandi.
Aneh.
Bayangan itu tidak membuat ruang terasa penuh.
Justru hidup.
Lima menit kemudian pesan lain masuk.
Besok foto bukti sudah dipasang.
Aku:
Audit?
Compliance.
Aku memotret dua sikat gigi.
Balasan Aurelia hanya satu emoji hati.
Aku menatapnya lebih lama daripada perlu.
Aku menaruhnya di kamar mandi.
Kemudian mengirim satu pesan lagi.
Phase 1 approved.
Aurelia:
Excellent.
Jangan phase 2 dulu.
No promises.
Aku tertawa.
Aku menaruhnya di kamar mandi.
Aku berdiri di kamar mandi beberapa detik lagi.
Dua sikat gigi.
Hal paling biasa di dunia.
Tetapi setelah tujuh tahun membangun hidup yang hanya membutuhkan satu orang, benda kecil itu terasa seperti perubahan arsitektur.
Aku mematikan lampu.
Untuk pertama kalinya apartemen ini terasa seperti mungkin suatu hari bisa disebut rumah.
Pagi berikutnya foto masuk dari Aurelia.
Dia sedang menyikat gigi di condo-nya sendiri.
Phase 1 duplicate inventory.
Aku membalas foto sikat giginya di apartemenku.
Redundancy.
Good architecture.
Aku tertawa.
Dia bahkan berhasil mengubah domestic invasion menjadi system design.
Aku menyimpan foto itu. Mungkin besok akan ada Phase 2. Anehnya, aku tidak terlalu ingin mencegahnya.
Untuk sekarang, satu sikat gigi sudah cukup.
Aku tidur lebih cepat malam itu. Apartemen tetap sunyi, tapi tidak lagi terasa kosong.
Mungkin itu inti semua ini: membiarkan seseorang meninggalkan jejak kecil tanpa merasa hidupku sedang diambil alih.
Aurelia menyebutnya ekspansi. Mungkin aku mulai menyebutnya tempat.
Aku tidak keberatan sama sekali.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis reading
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk