Chapter Twelve
Tujuh Tahun Kemudian
POV: Raka
Tujuh tahun kemudian, aku masih memakai dompet yang sama.
Dion menganggap itu penyakit.
“Valuasi perusahaan kita lebih dari satu miliar dolar dan CTO-nya masih pakai dompet yang pinggirnya ngelupas.”
Aku tidak mengangkat kepala dari laptop.
“Masih bisa dipakai.”
“Lo juga masih bisa pakai Nokia.”
“Kalau authenticator jalan, boleh.”
Dion menjatuhkan diri ke sofa kantorku.
Dulu dia mengirim pesan menawarkan equity imajiner untuk prototype akhir pekan. Sekarang namanya tercetak sebagai CEO Nara Technologies di dinding lobi dua puluh lantai di bawah kami.
Equity-nya ternyata tidak imajiner.
Sayangnya mulutnya juga tidak berubah.
“Jam sebelas investor call.”
“Tahu.”
“Jam satu product review.”
“Tahu.”
“Jam tiga Wijaya.”
Jariku berhenti.
Hanya sebentar.
Cukup untuk Dion melihat.
Dia duduk lebih tegak.
“Oh.”
Aku kembali mengetik.
“Oh apaan?”
“Enggak ada.”
“Keluar.”
“Gue bahkan belum ngomong.”
“Wajah lo ngomong.”
Dia tertawa.
Tujuh tahun lalu aku pindah kota dengan empat kemeja, satu laptop, dan kemarahan yang kukira bisa dipakai sebagai bahan bakar selamanya.
Ternyata bisa.
Setidaknya cukup lama.
Prototype Dion tumbuh menjadi sistem inventory untuk puluhan toko. Maya masuk enam bulan kemudian dan memaksa kami berhenti mengelola operasional lewat spreadsheet berantakan. Tiga tahun setelah itu kami menangani ribuan merchant.
Lalu puluhan ribu.
Sekarang Nara menghubungkan commerce, fulfillment, pembayaran, dan analytics untuk jutaan transaksi setiap hari.
Aku tidak pernah merencanakan unicorn.
Tahun pertama kami bekerja dari dua meja pinjaman di atas ruko. Tahun kedua server utama pernah mati saat aku sedang mandi dan Dion menelepon dua belas kali. Tahun ketiga Maya mengancam keluar kalau kami tidak mulai tidur seperti manusia.
Aku pernah menjual motor tua untuk membayar kebutuhan pribadi saat kami berhenti mengambil gaji beberapa bulan.
Aneh.
Motor yang dulu begitu sering membuatku merasa kecil akhirnya hanya menjadi satu barang yang kulepas tanpa upacara.
Ibu menangis pertama kali melihat kantor Nara yang baru.
Bukan karena gedungnya.
Karena di pantry ada makan siang gratis.
“Dulu kamu suka lupa makan karena enggak punya waktu,” katanya.
Sekarang aku tetap lupa makan meski makanannya tersedia.
Beberapa masalah tidak bisa diselesaikan valuasi.
Aku tidak pernah merencanakan unicorn.
Aku hanya terus membangun.
Server berikutnya.
Tim berikutnya.
Masalah berikutnya.
Sampai suatu pagi media bisnis mulai menyebut namaku sebagai salah satu CTO terbaik di kawasan dan ibuku menelepon untuk bertanya kenapa fotoku di internet kelihatan kurang tidur.
Tidak semua hal berubah.
Pukul satu, ruang product review penuh.
Seorang engineering manager baru mempresentasikan migrasi sistem yang menurutku terlalu agresif.
“Kalau traffic naik tiga kali?”
Dia menjawab.
“Kalau payment provider utama down?”
Jawabannya lebih lambat.
Aku menunggu.
Tidak memotong.
Ketika dia selesai, aku menunjuk diagram.
“Pisahkan failure domain ini. Jangan deploy Jumat. Sisanya lanjut.”
Dia mengangguk.
“Siap, Pak.”
Aku menahan napas.
“Raka aja.”
Ruangan tertawa kecil.
Aku belum terbiasa dipanggil Pak oleh orang yang usianya hanya tiga tahun di bawahku.
Maya masuk setelah meeting selesai.
“Board pack.”
Dia meletakkan tablet di meja.
“Dan jangan kabur dari meeting jam tiga.”
“Aku enggak pernah kabur.”
Maya menatapku.
“Tahun lalu lo pura-pura kena migraine supaya enggak datang ke gala.”
“Itu bukan meeting.”
“Itu kabur.”
Aku mengambil tablet.
Logo Wijaya Group ada di halaman pertama.
Kerja sama ini besar.
Wijaya Retail punya jaringan fisik yang Nara inginkan. Mereka butuh infrastruktur commerce yang kami bangun.
Secara bisnis, mudah.
Aku membuka halaman delegasi.
Nama pertama:
Aurelia Wijaya — Director of Strategic Development.
Dunia menjadi sangat sunyi.
Aku membaca nama itu sekali lagi.
Tujuh tahun.
Aku tahu dia masuk bisnis keluarga. Beberapa tahun pertama aku masih sesekali mencari namanya di internet. Lalu berhenti ketika sadar itu tidak membuat siapa pun lebih sehat.
Sekarang namanya ada di jadwalku.
Maya duduk di seberang.
Aku membaca profil delegasi lainnya.
Kevin Wijaya.
Nama itu juga kukenal.
Vincent tidak tercantum untuk meeting awal, tetapi unit yang dipimpinnya akan menjadi stakeholder utama.
Tujuh tahun seperti sedang mengantre masuk ke kalenderku satu per satu.
“Lo oke?”
Aku menutup tablet.
“Kenapa enggak?”
“Dion cerita.”
Aku menatap pintu.
“Gue akan bunuh dia.”
“Antre.”
Maya tidak tersenyum.
“Kalau mau gue ambil meeting-nya—”
“Enggak.”
“Raka.”
“Ini kerjaan.”
Dia mengamati wajahku beberapa detik.
“Okay.”
Aku menghargai dia tidak bertanya lagi.
Dua puluh menit sebelum meeting, aku turun ke lantai bawah.
Aku jarang datang lebih awal.
Hari itu aku datang terlalu awal.
Di pantry, aku membuat americano tanpa gula.
Tanganku stabil.
Itu menggangguku.
Aku mengharapkan sesuatu yang lebih dramatis.
Aku pernah menghadapi outage saat kampanye terbesar tahun lalu. Tiga puluh persen checkout gagal dan puluhan orang menunggu keputusan dariku. Aku tetap tenang.
Aku pernah duduk di depan investor yang mengancam menarik term sheet. Tetap tenang.
Nama Aurelia seharusnya hanya nama.
Ternyata tubuh punya arsip sendiri.
Jantung berdebar.
Tangan gemetar.
Tidak ada.
Hanya satu nama yang membuka ruangan dalam kepalaku yang sudah kukunci bertahun-tahun.
Motor tua.
Cookies and cream.
Meja empat kursi.
“Pulang yuk.”
Aku menutup mata.
Ponselku berbunyi.
Pesan Ibu.
Jangan lupa makan.
Aku membalas foto kopi.
Ibu sekarang tinggal di rumah yang lebih nyaman dan usaha kateringnya tinggal menerima pesanan yang dia suka. Pertama kali aku menawarkan rumah lebih besar, dia menolak tiga kali.
“Buat apa kamar banyak? Kamu aja jarang pulang.”
Akhirnya aku menyerah dan merenovasi rumah lama.
Aku bisa membeli hal-hal yang dulu harus kuhitung berbulan-bulan.
Lucunya, orang yang paling ingin kubahagiakan tetap lebih senang kalau aku datang makan malam tepat waktu.
Balasan datang:
Itu bukan makan.
Beberapa hal benar-benar tidak berubah.
Dion masuk pantry.
“Delegasinya sudah datang.”
Aku mengangguk.
Dia tidak bercanda kali ini.
“Rak.”
“Hm?”
“Lo enggak perlu buktiin apa-apa.”
Aku menatapnya.
Kalimat itu hampir membuatku tertawa.
Karena selama tujuh tahun, mungkin itulah satu-satunya hal yang kulakukan.
“Ayo.”
Sebelum keluar, Dion berhenti.
“By the way, kalau lo pengin gue yang lead, gue bisa.”
Aku menatapnya.
Dia mengangkat bahu. “Bukan kasihan. Risk management.”
“Gue CTO.”
“Dan?”
“Technical partnership. Gue lead.”
Dion mengangguk.
“Good.”
Aku tahu apa yang dia lakukan.
Memastikan keputusan datang dariku.
Tujuh tahun lalu aku mengambil keputusan terbesar dalam hidup tanpa memberi orang lain pilihan.
Ironis bahwa sekarang orang-orang terdekatku justru selalu berusaha mengembalikan pilihan kepadaku.
Kami berjalan menuju ruang rapat.
Di dekat pintu, aku memasukkan tangan ke saku untuk mengambil access card.
Dompet lamaku ikut tertarik keluar dan jatuh.
Terbuka.
Sebuah foto kecil terlihat di dalam.
Aku dan Aurelia di photo booth.
Tujuh tahun tidak cukup membuatku membuangnya.
Dion melihat.
Tidak berkata apa-apa.
Aku memasukkan dompet kembali.
“Masih?” tanya Dion pelan.
Aku tahu maksudnya.
“Jangan.”
Dia mengangguk.
Tidak ada lelucon.
Aku menghargainya.
Foto itu bukan tanda aku menunggu. Aku tidak menunggu.
Setidaknya begitulah penjelasan yang kupakai selama bertahun-tahun.
Aku hanya tidak sanggup membuang satu bukti bahwa pernah ada masa ketika aku bahagia tanpa harus membuktikan apa pun.
Kemudian pintu ruang rapat terbuka.
Dan untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, aku mendengar suara yang selama ini hanya hidup di ingatan.
“Selamat siang.”
Aku mengangkat kepala.
- 1 Perempuan yang Salah Naik Motor
- 2 Rumah dengan Terlalu Banyak Pintu
- 3 Dunia yang Muat untuk Berdua
- 4 Candaan yang Terlalu Murah
- 5 Tiga Kemeja dan Satu Masa Depan
- 6 Harga Sebuah Kursi
- 7 Angka-Angka Kecil
- 8 Pulang Yuk
- 9 Rumah Kecil yang Belum Ada
- 10 Tembok
- 11 Yang Melepaskan Tangan
- 12 Tujuh Tahun Kemudian reading
- 13 Nama yang Tidak Pernah Hilang
- 14 Tujuh Tahun
- 15 Orang Asing yang Terlalu Mengenal
- 16 Meja yang Berbalik
- 17 Aku Tidak Membencimu
- 18 Kali Ini Giliranku
- 19 Makan Siang yang Bukan Meeting
- 20 Jarak Aman
- 21 Dunia yang Dibangun Tanpaku
- 22 Kamu Kurusan
- 23 Kamu
- 24 Kalau Mau Tinggal
- 25 Jawaban yang Terlambat
- 26 Sekali Lagi
- 27 Kencan Pertama Kedua
- 28 Invasi Strategis
- 29 Pacar CTO
- 30 Di Sampingku
- 31 Hari Minggu
- 32 Foto yang Tidak Dibuang
- 33 Sekarang Giliranku
- 34 Nama yang Muncul Lagi
- 35 Kebiasaan Lama
- 36 Kamu Belum Belajar
- 37 Jangan Pergi, Bicara
- 38 Kursi di Ujung Meja
- 39 Mereka Datang ke Mejaku
- 40 Bukan Lagi Anak Dua Puluh Dua
- 41 Tempat yang Kalau Kamu Datang
- 42 Pulang Yuk